Ilusi

Ilusi
BAB 35 (Part 1)


__ADS_3

Besoknya, saat aku bangun. Keadaanku masih terlihat sama seperti kemarin. Aku merasa masih bermimpi namun kenyataannya aku sudah bangun. Greysie merasa bersalah atas perbuatannya padaku sehingga ia terus merawatku selama berhari-hari.


"Ra kamu inget gak lagu ini? Kita sering nyanyin bareng. Kita sering main musik dan sering latihan bela diri juga" ujar Greysie, memperlihatkan foto-foto dan juga memutar musik.


Melihat itu, aku memang mengingatnya. Tetapi perasaan takut dan aneh dari pikiranku tak pernah hilang. Aku takut kalau semua ini hanyalah mimpiku belaka.


"Kamu beneran Grey kan?" tanyaku, lirih dan gemetar.


"Iya, ini aku Raa... Lihat muka aku, apa beda?" jawab Greysie.


Aku menatap wajah Greysie dan mulai gemetar. Keringat dinginku mengalir, sementara aku memegang kuat tangan Greysie.


"Huhuuuu.... Jangan tinggalin aku, aku takuutt" ujarku lirih dengan isak tangis.


Greysie lalu memelukku dan air matanya pun mengalir lagi. Setelah itu, keadaanku tetap sama sampai berhari-hari.


#


Seminggu kemudian. Greysie masih berusaha untuk merawatku, ia terus mengajak ngobrol dan mengatakan hal-hal bahagia. Namun hari ini Greysie nampak putus asa dengan keadaanku.


"Raa...." ucap Greysie lirih dan gemetar.


"Maafin aku" batin Greysie.


Greysie pun menunduk sambil menangis. Beberapa saat kemudian, Greysie teringat tentang janji yang kami buat bersama sekitar dua tahun lalu. Setelah teringat hal itu, Greysie lalu mengangkat kepalanya dan menatapku penuh harap.


"Ra, kamu inget gak? Kita pernah buat janji dua tahun yang lalu kalau kita bakal sama-sama untuk nyelesaiin semuanya. Kamu inget gak kenapa kita buat janji itu?" tanya Greysie, menatap harap.


Mendengar perkataan Greysie, membuat suara-suara perlahan memasuki kepalaku sampai terasa sangat berisik. Aku pun memgang telinga, sementara mataku terpejam.


Kamu, kamu, kamu janji, janji, janji, janji. Iya, aku, aku, janji, janji.


Ingat, ingat, ingat ini. Ingat ini, ingat baik-baik ini. Kamu udah janji, udah janji, sama aku, sama aku.


Janji, janji, janji. Iya, aku janji (Greysie). Kamu juga harus janji, aku, aku, aku, janji, janji (aku).


Janj.... Hehahahaha.... Hahahahaaa.... Benci, ben... Janji, janji.... Benci kamu! Bunuh, bunuh, bunuuuuhhh..... Hahahaa.... Hahahaa....


Napasku terengah. Ingatanku terasa menyerang kepalaku sedang rasa takut, benci, marah, sedih, kecewa, sakit hati, dan trauma seakan tersalur ke seluruh pembuluh darahku secara bersamaan.


Ayahh......! Tiya sayang.... Ini bunda, ini bunda.... Huhuuuuuu..... I love you dad! Hahahaha..... I love you, love you.... Hahaha.... Bunuh ayahmu juga.... Hahahahaa.... Aaaaassrghhhhahaaaa (teriakan Ayahku). Hahahahaaaaa.... Aaaaaarrghhhhhh....! Huhuu....... Aaaaargghh.............!


"Ra? Ra? Kamu kenapa?" tanya Greysie, memegang pundakku.


Ini adalah mobil pengeluaran perusahaan Electrik. Waaahhh... Perusahaan keluarga Miltone dan Walker semakin maju, mereka bahkan menjodohkan anak-anak mereka. Hahaaha.... Hahahaha..... Fuuuuckk! Your **** up my family! Fuckk, fuckk, fuckk you.....!


Suara penjelasan di tv menggema di dalam kepalaku sampai aku berteriak. Tanganku mengepal, secara bersamaan air mata kiriku juga ikut menetes.


"Ra?"


Kemudian mataku perlahan melirik Greysie dengan tatapan marah.


"Fu*k You! Lo apain gua Grey, hah?!" tanyaku, membentak.


"Maafin aku, Ra. Aku lakuin semua itu demi kamu" jawab Greysie.


"Fuc*k Grey! Gua udah pernah bilang ke elo kalau gua gak lagi main-main! Gua gak punya waktu untuk jadi kek gini anj*ing!" ujarku mencela.


Sementara itu Greysie hanya menatap sedih dengan tatapan bersalah padaku.


"Grey, kita udah janji buat ngelakuin semuanya sama-sama, kalau aku gak balik lagi kek dulu, gimana? Gimana Greyyyy?" tanyaku, menatap sedih padanya.


"Aku tau Ra, maafin aku... aku gak tau kalau perbuatan aku bisa bener-bener buat kamu trauma kek gini, maafin aku" ucap Greysie, langsung memeluk erat diriku.


"Aku seneng banget kamu bisa balik jadi diri kamu lagi Raaa" ungkap Greysie, ia menutup mata sambil memeluk erat.


"Sekali lagi maafin aku. Aku lakuin semua ini demi kamu" ujar Greysie.


Tanganku mengepal, sementara aku tak membalas pelukannya. Lalu aku mendorongnya menjauh dari tubuhku.


"Shut your mouth up!" ucapku, munjuk mulutnya.


Kemudian aku segera beranjak dari tempat tidur. Lalu aku segera pergi dari rumah Greysie, meninggalkan ia sendiri.


Motorku melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara perasaanku seakan tercampur aduk, sepertinya ada sesuatu yang menjanggal di dalam hatiku, namun aku sedang marah saat ini sehingga tak memedulikannya.


Sementara itu, di rumah Greysie. Ia hanya membiarkan diriku pergi begitu saja. Kemudian, ia berbaring di tempat tidur karena merasa sangat kelelahan.


Semua rasa lelahnya selama dua minggu terakhir terkumpul pada saat ini. Matanya sesekali terpejam sampai ia pun tertidur.


#


Sesampainya di rumahku, aku juga langsung masuk ke dalam kamarku dan berbaring di atas ranjang. Sementara aku menatap lurus ke depan, aku terus teringat wajah Greysie.


"Aaah, pusing banget" gumamku, memegang kepala.


"Sialan, kenapa gua ke ingat muka Grey terus" batinku.


"Ckk! Sialan" ucapku.


Semakin aku mencoba untuk melupakan tatapan Greysie, maka aku akan semakin mengingatnya. Hal itu membuat perasanku menjadi gelisa dan tidak tenang.


"Di tangga... Tatapannya saat itu kek benci banget, tapi ada yang aneh... Tapi kenapa? Kenapa dia natap gua kek gitu terus? Sialan! Apa dia benci sama gua? Tadi itu serius gak ngomongnya? Tapi tatapannya kenapa harus gituu?? Sialan, gua harus ikut kata hati gua atau otak gua?" batinku.


Selama berjam-jam aku berbaring dengan tak melakukan apapun sampai tertidur kembali.


Besoknya, sebelum aku terbangun. Aku merasakan kejanggalan di hatiku, tetapi otakku selalu mengatakan jangan lemah karena aku melihat sendiri jika Greysie menatap benci padaku.


Beberapa menit kemudian, aku terbangun duduk di tempat tidur sambil memegang kepala.


"Kenapa perasaan gua gak enak banget dari kemarin, apa ada yang salah?" batinku.


"Gua pikir ada sesuatu, wait... Gua baru ingat Ayahnya Grey kan meninggal? What the fuckk?! Kok gua bisa lupa? Sialan!" umpatku, dalam hati.


Kemudian, aku segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Greysie. Setelah mandi, aku pun berganti pakaian dan berangkat menggunakan motorku.


"Gua harus ngalah kah kali ini? Tapi gua masih kesel banget soal kemarin, kenapa dia nyuruh gua minum obat tidur? Terus Papanya... Papanya kenapa bisa meninggal?" batinku.


"Lo sebenarnya nyembunyiin apa sih Grey dari gua? Kok sampai segitunya" lanjutku, membatin.


Beberapa saat kemudian, setelah sampai di rumah Greysie. Waktu sudah menunjukan pukul 15:00 sore. Aku segera masuk ke dalam kamar Greysie dan melihatnya masih tertidur.


"Tidur? Tumben banget jam segini tidur" batinku.


"Ckk! Sialan! Lebih baik gua ambil semua baju gua sekarang" batinku.


Setelah itu, aku langsung memasukan semua bajuku ke dalam koper. Lalu aku memesan taksi online untuk membawa pakaianku.


Bi, aku mau minta tolong. Tolong ambilin baju aku di taksi online. Aku harus pergi buat ngurus sesuatu (mengirim chat pada bibi).


Kemudian aku melihat Greysie, ia masih tak bergerak sedikitpun.


"Dia itu tau gak sih kalau gua ada di sini?" batinku.


"Ckk! Tau ahh, males gua" lanjut batinku.


Aku langsung pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata padanya.


Di depan rumah Greysie, aku menunggu taksi sekitar beberapa menit lamanya. Taksi pun datang.


"Nanti bapak anter ke alamat itu aja, simpen aja di depan gerbang pak, nanti ada bibi yang ambilin" pintaku pada supir taksi.


"Iya neng, kalau gitu saya pamit" ujar pak sopir.


"Ckk! Gak tenang banget gua. Mending gua pamit dulu kali ya" batinku.


Setelah itu aku masuk lagi ke dalam untuk berpamitan pada Greysie. Di dalam kamar Greysie masih tertidur.


"Dari kemarin tidur mulu. Hnh, jangan pikir gua bakal kejebak lagi" batinku.


"Hey, gua mau pulang sekarang" pamitku, melangkah pergi.


Namun Greysie tak menjawab. Sementara itu aku juga sudah melangkah keluar kamar. Namun persaanku rasanya sangat aneh.


Setelah sampai di depan lift, aku segera memencet tombolnya dan berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiranku.


"Aarrgh...! Gak, gak. Loe jangan ketipu lagi Cara" batinku.


"Tapi kalau dia sakit gimana?" gumamku.


Saat pintu lift terbuka, kakiku melangkah masuk. Namun perasaan ini membuatku gila, aku menjadi sangat gelisah, sehingga aku berhenti dan langsung berlari ke kamar Greysie.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung mengecek keninya. Dan ya, seperti kata perasaanku, dia sedang sakit.


"Lo beneran sakit?" tanyaku. Namun tak ada jawaban dari Greysie.


"Apa Grey sakit gara-gara ngerawat gua terus selama seminggu? Waktu gua sakit saat itu... dia... Oh may god! Gua lupa. Grey keknya lemes banget, dia terus ngasih gua obat, tapi.. mukanya lesu banget kek gak tidur berhari-hari. Kelihatan kecapean banget, kok bisa gua gak sadar? aaaahh fuckk...! Gua gak suka sama semua yang terjadi sekarang, berantakan! kacau!" batinku, meronta-ronta.


Setelah memeriksa dirinya, aku pergi mengambil baskom yang berukuran sedang bersama dengan handuk kecil. Lalu aku mengompres handuk dengan air hangat, segera ku letakan di keningnya.


"Grey..." panggilku, menepuk tangannya.


"Hmm" jawabnya.


"Kamu udah makan?" tanyaku.


"Hmm" jawabnya.


"Beneran?" tanyaku, memastikan.


"Hm, udah" jawab Greysie pelan, aku hampir tak mendengar suaranya.


"Kalau gitu kamu minum obat dulu" ucapku, memberikan.


Greysie kemudian bangun dan mengambil sebutir obat dari tanganku, lalu meminumnya.

__ADS_1


"Gua baru inget semuanya sekarang. Kondisi kamu waktu itu gak jauh beda dari aku, muka kamu kek udah capek banget, mungkin karena itu kamu nampar aku kali ya? Maafin aku Grey, tapi aku masih belum ngerti kenapa kamu ngasih aku obat tidur terus-terusan" batinku, masih bertanya.


Setelah selesai meminum obat, aku menyuruh Greysia untuk berbaring kembali. Namun aku tak sengaja mengendus bau Greysie dan memasang wajah heran saat menciumnya.


"Kenapa ni anak bau alkohol dan rokok?" batinku.


"Lo ngerokok lagi?" bisikku.


Greysie tak menjawbku dan langsung memejamkan matanya.


"Kalau udah sembuh awas aja, bakal gua kasih pelajaran" lanjutku, masih berbisik.


Greysie masih tak menjawab, kemudian aku pergi ke depan rumahnya untuk memasukan motorku ke dalam garasi. Namun tiba-tiba saja ada seseorang datang dan langsung menyapaku.


"Permisi mbak. Mbak saya mau antar paket atas nama mbak Greysie, mbak Greysienya ada?" tanya Kurir.


"Hmm, dia lagi sakit. Sini biar aku yang kasih ke dia" ucapku, mengambil paket.


Di dalam Kamar,


"Grey, ada paket buat lo" ujarku, memberikan barang tersebut.


"Hmm" sahut Greysie. Matanya masih tertutup.


"Lo masih demam?" tanyaku, mengejek sambil memegang keningnya.


"Bersikk!" bentak Greysie.


"Sihh anjiirrr, buat kesel aja ni anak" batinku.


"Hmm, masih panas badan loe" ucapku, memeriksa lehernya.


"Kamu gak mau buka paket ini?" tanyaku.


"Paket apa, Ra" tanya Greysie pelan, masih dengan mata tertutup.


"Ck, giliran gua panggilnya gak pake loe gua, jawabnya kek gitu, menyenyeyeyeye" gerutuku, dalam hati.


"Ini paket buat kamu, ni apaan? Kamu gak mau buka?" tanyaku, dengan mimik wajah penasaran.


"Hmm" ujar Greysie.


"Yaelah, ni anak buat kesel aja njirrr, hnh" batinku.


Kemudian aku mulai membuka paket tersebut, ternyata ada flashdisk di dalamnya.


"Hm, flashdisk?" batinku, mengrytkan kening.


"Grey, ini flash. Aku simpan di atas meja" ujarku, sambil menaruh flashdisk tersebut ke atas meja.


"Hmm" jawab Greysie.


"Hm, flashd...." batin Greysie.


"Hah?" ucap Greysie, terbangun.


Sementara itu, aku yang sedang berjalan keluar kamar langsung terhenti dan melihatnya.


"Kanapa lo?" tanyaku.


Greysie hanya diam. Ia kemudian kembali berbaring ke tempat tidur. Sementara aku menatapnya heran dan merasa kesal.


"Kenapa sih? Akhir-akhir ini gak je banget" batinku.


Setelah itu aku menutup pintu dan pergi ke dapur. Tentu saja aku ingin memasak untukk diriku sendiri karena dari kemarin aku belum makan.


Selesai memasak, aku kembali ke kamar Greysie. Ia masih terbaring, sementara aku langsung makan sambil sesekali melirinya.


"Nanti udah sembuh aja kali gua tanya soal Papanya" batinku.


Setelah itu, aku memeriksa hpku. Di pesan whattsap banyak sekali chat dari Riska.


P


P


P


P


Udah sembuh lo?


P


P


P


P


P


Kalau udah buka hp balas chat gua cepetan


Ra?


(Beberapa panggilan tak terjawab)


Gua ke situ ya?


Lo udah mendingan?


(Beberapa panggilan tak terjawab)


Kemarin lo kenapa? Kok tiba-tiba pingsan?


Chat gua kalau lo udah baikkan


JANGAN CHAT! TAPI TELP!


(Beberapa panggilan tak terjawab).


Membaca semua pesan masuk membuatku menghela napas pelan. Lalu aku segera membalas chatnya.


Iya, thank u (mengirim chat)


Sementar itu, di rumah Riska. Ia sedang gabut dan terus memainkan game offline. Notifikasi pesan masuk, mata Riska membulat ketika membacanya. Ia merasa senang dan segera menelponku.


Tuut.... Tuut.... Tuut.... Tuut..... Tuut......


"Wahh, nantangin banget lo Ra. Orang nelpon gak di angket-angket" gumam Riska, dengan mimik kesalnya.


Tuut.... Tuut.... Tuut..... Tuut.... Tuut......


"Iya, kenapa?" sahutku, di telpon.


"Lama banget ngangkatnya" ucap Riska, emosi.


"Sorry, tadi gua lagi nyimpen piring ke dapur" jelasku.


"Emang lo gak denger bunyinya?" tanya Riska.


"Hp gua mode geter. Lo kenapa nelpon? Gak usah marah-marah mulu napa, heran gua" ujarku.


"Lo gimana udah mendingan?" tanya Riska.


"Hmm" jawabku.


"Ngirit amat lo ngomong!" ucap Riska, kesal.


"Huuff, iya udah gak pp. Thank u udah khawatirin gua" ujarku.


"Geer banget" ucap Riska, pelan.


"Hmm" ucapku.


"Besok berarti lo udah sekolah?" tanya Riska.


"Emm," melirik Greysie, "Keknya enggak. Soalnya gua mau jagain Grey" jawabku.


"Si Grey sakit juga? Solid banget kalian berdua sampai sakitnya ganti-gantian" ujar Riska.


"Iya, dia kecapean ngurus gua keknya" ujarku, merasa bersalah sambil menghela napas.


"Emm, btw si Cassie udah masuk..." ujar Riska, tak selesai.


"Hm, nanti ajalah gua bilangin Cara" batin Riska.


"Masuk?" tanyaku.


"Gak, gak jadi. Ntar gua bilangin kalau lo udah sekolah" jawab Riska.


"Hmm... Jangan terlau berurusan sama dia, Ka. Gua gak mau lo kenapa-napa" ujarku.


"Hmmm... Cie khwatir" ucap Riska.


Tutt...!


"Anj*ng di matiin telpon gua" gumam Riska, sambil melihat layar hpnya.


Riska lalu tersenyum kecil, lalu kembali berbaring di tempat tidurnya.


"Pengen banget kalau si Cara aja yang masuk geng gua. Tapi... Ckk! Mereka semua itu sebenarnya ada masalah apasih? Sampai segitunya benci sama Cara" batin Riska.


Sementara itu, di rumah Greysie. Aku memerikasa keningnya dan kembali mengompres air hangat untukknya.

__ADS_1


Besoknya, Greysie bangun. Ia melihatku tak ada di tempat tidur. Kemudian ia segera mengambil laptopnya untuk melihat isi flashdick yang di kirimkan oleh Bryan untukknya.


Sementara itu, di dapur. Aku sedang memasak makanan untukku dan Greysie. Setelah selesai, aku membawanya ke dalam kamar.


(Membuka Pintu).


Greysie terkejut dan langsung menutup laptopnya. Sementara aku nampak heran dengan kelakuannya yang mencurigakan.


"Ni anak kenapa lagi?" batinku.


Aku berjalan masuk dan segera duduk di tempat tidur. Sementara itu wajah terlihat Greysie sangat datar. Ia pun segera beranjak dari tempat tidur namun aku langsung menhannya.


"Mau kemana lo?" tanyaku, serius.


"Ckk!" ucap Greysie, menepis kasar tanganku.


"Kasar banget sih anying" ujarku, heran.


Greysie tak peduli dan hanya berjalan keluar kamar. Namun aku langsung berlari dan menghalangi langkahnya.


"Berani lo sama gua?" tanyaku, datar.


Greysie nampak tak peduli, wajahnya terlihat sangat kesal bukan main. Ia hanya sedikit mendorongku agar menjauh darinya. Kemudian ia segera melangkah pergi. Namun aku langsung menarik tangannya lagi sampai menyuruhnya duduk paksa di tempat tidur.


"Ni anak, kenapa malah dia yang marah ke gua? Harusnya kan gua yang marah" batinku.


"Makan" perintahku, menyodorkan sesendok nasi ke mulut Greysie.


Namun Greysie hanya membuang muka dariku dan tak mau memakan makananya. Karena tak mau membuka mulut, aku pun memegang wajahnya untuk melihatku dan segera membuka paksa mulutnya untuk makan.


Setelah selesai makan.


"Hmf, gua ngalah aja dulu" batinku.


"Marah ke aku Grey?" tanyaku, menatapnya.


"Kamu marah?" tanyaku, lagi.


"Apa ini karena Papanya? Tapi kenapa marahnya ke gua? Emang gua salah apa?" batinku.


"Grey mau cerita gak soal itu?" tanyaku.


"Grey...?" panggilku, lembut.


"Senyum dong, iiiiiiii...," memeragakan dan memperlihatkan gigi.


"Cemberut banget mukanya" ujarku.


"Malah dia yang silent treatment" batinku, keheranan.


Greysie kemudian beranjak dari tempat tidur, ia berlari kecil sampai di depan rumahnya, lalu melaju dengan mobilnya dan pergi entah kemana.


"Grey......!" panggilku.


"Grey, mau kemana? Grey....!" teriakku.


"Sialan!" umpatku, lalu memeriksa telpon milikku.


Aku segera mengecek lokasi di handphone Greysie. Namun ia tak membawa satupun handphone miliknya.


"Anjirr!" batinku.


Beberapa jam kemudian. Waktu sudah menunjukan pukul 02:30 tengah malam. Greysie beru pulang ke rumahnya. Ia membuka pintu kamar secara perlahan, sementara itu kamar terlihat gelap gulita. Namun lampu tiba-tiba saja menyala, akulah yang telah menyalakan lampu dan melihatnya dengan tatapan marah.


"Dari mana lo?" tanyaku, kesal.


Greysie tak menjawab. Ia hanya berjalan ke tempat tidur dan segera tidur.


"Anying di kacangin gua" batinku.


"Hm, gua biarin aja dulu. Grey mungkin masih butuh waktu" batinku.


Setelah itu, aku naik ke tempat tidur dan tidur membelakanginya, begitupun dengannya.


Besoknya, sikap Greysie masih sama seperti biasanya. Ia selalu menghindariku dan tak pernah menjawab pertanyaanku ataupun berbicara sepatah katapun padaku.


Beberapa hari berlalu dengan sikap Greysie yang seperti itu. Aku tetap mencoba untuk bersabar menghadapi sikapnya dengan cara memberikan dirinya ruang dan waktu untuk sendiri.


Namun aku juga sering mendapati Greysie menonton sesuatu di laptopnya, meskipun ia selalu menutupnya jika aku datang.


Saat ini, hari minggu. Tepatnya pada jam 14:40 siang. Greysie sedang memakai skincare miliknya di depan cermin. Aku baru saja masuk dan segera menghampirinya.


"Gua rasa udah cukup. Ini udah kelamaan, gua harus nanya soal Papanya" batinku.


"Grey, aku...." ujarku, tak selesai.


Greysie langsung pergi meninggalkan aku sendiri di dalam kamarnya.


"Nying, sakit hati gua" batinku.


"Grey... Grey... Hey, hey why are you ignoring me?" tanyaku, memegang pundaknya dari belakang.


Namun Greysie segera melepas tanganku dari pundaknya dan segera mempercepat langkahnya.


"Grey... Grey... Mau kemana sih?" tanyaku, mengejar.


Di depan rumahnya. Greysie melaju dengan mobilnya, hal itu membuatku mengibas rambut kebelakang dan merasa cemas terhadapnya.


Beberapa jam kemudian. Greysie pulang saat sudah larut malam. Ia membuka pintu perlahan dan melihatku sudah tertidur, padahal aku hanya pura-pura tidur saja.


Kemudian Greysie segera berjalan ke arah tempat tidur dan tidur dengan membelakangiku. Sementara itu, mataku terbuka namun aku memilih untuk diam.


"Gak biasanya Grey kek gini. Ini bukan sikapnya banget, mana bisa dia gak ngomong sama gua selama berhari-hari gini? Orang temen ngobrolnya cuman gua doang. Ckk!" batinku.


Beberapa saat kemudian, aku pun tertidur. Besonya, Greysie bangun terlebih dulu dan ia telah siap dengan seragam sekolah miliknya.


"Haah," aku terbangun, duduk.


"Kenapa mimpi itu lagi?" batinku, sedang tanganku memegang kepala.


Setelah itu aku melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 07:01 pagi. Mataku membulat karena terkejut, aku pun segera beranjak dari tempat tidur.


"Grey....!" teriakku.


"Ngeselin banget, gak bangunin orang" ujarku, kesal sambil berlari ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, setelah aku selesai mandi. Aku melihat Greysie tak ada di kamar.


"Ngeselin banget sumpahh.... Gua di tinggalin" ujarku, kesal.


Kemudian, aku segera memakai baju seragam sekolahku dan pergi menggunakan motor milikku.


Sesampainya di sekolah. Pintu gerbang telah di tutup, tetapi untung saja satpam membiarkan aku untuk masuk. Namun aku di hukum oleh guru dengan berjalan jongkok. Hal itu membuat bekas operasi di perutku teras nyeri.


Sesampainya di dalam kelas. Guru sedang menjelaskan, dan aku memohon maaf karena datang terlambat. Namun gurunya mengayomi dan mengijinkan aku untuk masuk.


Semua mata tertuju padaku kecuali Greysie. Ia nampak tak begitu peduli.


"Ckk!" batinku, sambil melirik Greysie.


Beberapa jam kemudian. Setelah bell istrahat berbunyi. Beberapa siswa pergi ke kantin, namun ada juga yang tetap berada di kelas.


"Katanya Papanya di bunuh oleh pembunuh berantai" bisik sisiwa di dalam kelas.


"Iya bener," mereka sahut- menyahut.


Aku melirik siswa-siswa yang berbisik itu, sementara Greysie merasa sangat marah. Ia mengepalkan tangan, lalu memukul meja miliknya dan bergegas pergi.


Aku melihat Greysie dan segera menahan tangannya. Namun ia melepaskan genggaman tangannku secara kasar dan pergi begitu saja.


"Harusnya gua yang marah, kok malah dia" batinku, aku menatapnya keluar kelas.


Beberapa menit kemudian, Greysie kembali ke dalam kelas. Bola matanya melirik sekitar mencari keberadaanku. Greysie kemudian duduk di tempatnya. Sementara itu Cassie sedang berbicara dengan Riska serta teman-temannya.


"Si Cara yang udah bunuh Vanya" ujar Cassie.


"Lo kalau mau ngefitnah orang harus ada buktinya dulu" ujar Riska, emosi.


"Coba lo bully Cara sekarang, si Greysie bakalan diam aja. Mereka lagi marahan karena Greysie udah tau kalau si Cara itu ternyata gak sebaik yang kalian kira" bisik Cassie pada Riska dan teman-temannya.


"Lo kalau ketahuan bohong. Gua robek mulut lo" ujar Mindy.


"Cobain aja dulu bully dia sekarang. Gua jamin 100% Grey gak bakalan bantuin si Cara" bisik Cassie lagi.


"Ka? Gimana? Lo gak akan cari-cari alesan lain lagi kan? Kalau lo terus cari-cari alesan berarti selama ini elo takut sama Cara" ujar Zey.


"Atau gak lo emang sengaja belain dia secara gak langsung" sambung Mindy.


"Iya, gue juga udah mulai curiga sama sikap lo itu Ka. Aneh banget, kek ngebelain si Cara tau gak? Ya kan Ray?" lanjut Putri.


"Ah? Eeehh... Emm iy-ya" jawab Raya, kaku.


"Sialan! Maafin gua, Ra. Tapi gua juga kepengen tau apa omongan si Cassie ini bener?" batin Riska.


"Ka?" ucap Putri, Zey, Mindy bersamaan.


Tak lama setelah itu, aku masuk ke dalam kelas. Sementara itu tanpa basa basi dan tanpa di suruh, Riska langsung berdiri dan menghampiriku sedang tangannya ia layangkan ke arah wajahku.


Plaaaaaak......!


tamparan keras melayang di wajahku. Hal itu membuat aku memalingkan wajah, lalu meliriknya perlahan.


"Fuuuckk, bunuh gak ya?" batinku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2