
Seorang dokter tengah duduk bersama beberapa perawat didalam ruang IGD. Mereka tengah berbincang sekedar mengisi waktu luangnya malam ini. Malam ini IGD terasa sedikit sepi, membuat suasana terasa sedikit mencekam.
"Dokter cantik jaga malam lagi ya?". Seorang perawat pria menghampiri gadis yang memakai jas dokter.
"Iya dong..kalo ngga jaga malam, terus ngapain saya disini?". Tanya balik si dokter sambil tersenyum.
"Pacarnya nggak marah dok? Malam minggu begini masih siap siaga aja di IGD". Goda perawat yang lain.
Belum sempat sang dokter itu menjawab, pintu ruang IGD terbuka, seorang dengan tubuh penuh darah didorong masuk kedalam ruang IGD oleh petugas ambulance.
"Korban laka..luka robek pada lengan dan pelipis. Tidak ada fraktur dan cedera parah". Jelas petugas ambulance yang mengantar korban kecelakaan.
"Lakukan cek menyeluruh". Perintah dokter pada perawat yang senantiasa mendampinginya.
Dokter yang tak lain adalah Kirei mulai bekerja membersihkan darah pada luka korban kecelakaan yang berjenis kelam*n laki-laki itu.
Meskipun wajahnya tertutup oleh noda darah, Kirei dapat melihat bahwa lelaki itu sangat tampan. Rahang tegas, alis tebal dan kulitnya yang bersih membuat Kirei membayangkan seperti apa rupa lelaki itu jika tidak sedang terluka seperti saat ini. Ia segera menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran anehnya dan memfokuskan diri merawat luka pasiennya itu.
Kirei dengan terampil menjahit luka robek dilengan kanan dan pelipis pasien. Sudah 1tahun ini dirinya mengabdikan diri sebagai dokter dirumah sakit yang lumayan besar dikota tempatnya menimba ilmu.
"Pasien tidak membawa identitas dok.." Seorang perawat wanita menghampiri Kirei yang baru saja menyelesaikan tugasnya merawat luka korban.
Kirei menghela nafas panjang dan menatap pasiennya yang belum sadarkan diri.
"Lakukan seperti biasa sus". Kirei berjalan meninggalkan ranjang dimana pasiennya masih terbaring tak sadarkan diri.
***
Pagi ini seperti biasa, sebelum Kirei mengakhiri shift jaga malamnya ia akan melakukan visite untuk melihat kondisi pasien-pasiennya yang sedang rawat inap.
"Pasien yang semalam kecelakaan sudah sadar? Apa sudah ada kabar tentang keluarganya?". Tanya Kirei pada suster yang mendampinginya.
"Sudah dok..sepertinya keluarga pasien juga sudah ada untuk mendampingi". Kirei mengangguk paham.
"Dokter tau nggak?". Bisik suster disebelah Kirei.
"Kamu kan belum ngomong apa-apa sama saya Mirna. Jadi mana bisa saya tahu". Kirei terkekeh geli mendengar pertanyaan konyol suster yang selalu setia menemani dirinya visite.
"Ish dokter mah..ini serius". Gadis yang berusia 1tahun lebih muda dari Kirei itu nampak begitu bersemangat membuat Kirei tersenyum. Entah apa yang dimakan oleh gadis itu, hingga sepertinya energi gadis itu tidak pernah habis. Padahal Kirei sudah merasa tubuhnya remuk dan ingin segera merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya.
"Iya..iya..ada gosip apa memangnya?". Tanya Kirei menanggapi ucapan Mirna.
"Korban laka yang semalam dokter tolong ituuu..." Mirna sengaja menggantung ucapannya, berharap Kirei akan penasaran. Namun Kirei bersikap biasa dan tidak merespon.
Setelah mendengus, Mirna kembali melanjutkan ucapannya
"Anak dari direktur rumah sakit dok. Waaah..nggak nyangka semalam saya bantuin dokter nolongin anak yang punya rumah sakit". Mirna sampai geleng-geleng kepala ketika mendengar berita dari teman sejawatnya pagi ini.
"Heh? Yang bener kamu?". Tanya Kirei tak percaya.
"Ihh..serius dok. Masa saya boong sama dokter sih". Cebik Mirna membuat Kirei mematung ditempatnya berdiri. Kini keduanya tengah berdiri didepan ruang VVIP dimana korban laka yang semalam ia tolong berada didalam.
Itu artinya dirinya harus bertemu dengan pewaris rumah sakit tempatnya bekerja, atau lebih parahnya malah bertemu dengan direktur yang sekaligus pemilik rumah sakit ini?
Kirei menghela nafas panjang, sejujurnya dirinya lebih senang berurusan dengan pasien biasa daripada harus mendapat pasien seperti sultan begini.
Kirei memutar knop pintu dan mendorongnya perlahan, takut mengganggu istirahat pasiennya dan juga yang menungguinya.
"Selamat pagi.." Sapa Kirei ramah. Matanya langsung bertemu dengan mata tajam yang semalam tertutup rapat. Kini Kirei dapat melihat betapa tampannya lelaki yang semalam ia tolong.
__ADS_1
"Selamat pagi dokter..." Sahut perempuan paruh baya yang sepertinya ibu pasien, Kirei menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah pada si ibu.
"Bagaimana kondisinya pak Aksa?". Tanya Kirei pada pasien yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Lo..jadi lo dokter yang semalam nolongin gue?". Suara pasien Kirei ini tidak terdengar seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan, justru lebih terdengar seperti singa yang mengaum. Kirei mengernyitkan alisnya mendapat pertanyaan konyol seperti itu.
"Tamaaa!". Peringat wanita yang menungguinya.
"Iya..saya yang semalam menolong anda. Ada yang salah pak Aksa?". Tanya Ara masih mencoba bersabar menghadapi pasien konyolnya ini.
"Kenapa lo nolongin gue hah?! Harusnya lo biarin gue mati aja". Bentak Aksa membuat Kirei sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia memulihkan ekspresi wajahnya.
"TAMA!!!". Bentak seorang lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari toilet didalam kamar tersebut yang Kirei ketahui sebagai direktur rumah sakit ini, tuan Akmal Mahendra.
"Itu sudah kewajiban saya pak Aksa. Sesuai sumpah yang saya ucapkan, saya akan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan saya". Jawab Kirei menahan amarahnya yang siap meledak.
"Tapi gue nggak butuh bantuan dari lo!!". Suara Aksa naik satu oktaf membuat Kirei benar-benar harus bersabar menghadapinya.
"Tama!!! Kamu seperti manusia tidak berpendidikan! Jaga sikap kamu!". Suara tuan Akmal tidak kalah keras dengan putranya.
Suster Mirna berkali-kali mengelus dadanya lantaran terkejut mendengar suara orang-orang meninggi.
"Bisa mati muda aku kalo gini". Batin Mirna menjerit.
"Maafkan putra saya dokter". Tepat seperti dugaan Kirei, wanita yang sejak tadi menunggui manusia menyebalkan itu adalah ibunya.
"Tidak masalah bu..mungkin pak Aksa sedang lelah dan kurang istirahat saja". Jawab Kirei mengelus lengan si ibu yang belum ia ketahui namanya.
"Saya akan memeriksa kondisi bapak terlebih dahulu". Kirei mengesampingkan emosinya, dan memilih mempercepat tugasnya memeriksa kondisi pasiennya.
Tiba-tiba tangan Aksa sudah mencengkeram pergelangan tangan Kirei yang memegang stetoskop yang akan ia gunakan untuk memeriksa kondisi pasiennya itu.
"Tama, jaga sikap kamu. Biarkan dokter Kirei memeriksa kondisimu". Desis ayah Aksa.
Dengan gerakan cepat, Kirei balik memelintir tangan Aksa yang mencengkeram tangannya, membuat lelaki itu sedikit meringis.
"Jangan halangi saya melakukan tugas saya bapak Aksa. Saya tidak akan lama dan tidak ingin berlama-lama berurusan dengan anda". Ucap Kirei penuh penekanan kemudian melepaskan pelintirannya pada tangan Aksa.
Aksa mendengus kesal, merasa kalah dengan dokter yang hanya seorang perempuan namun bisa membuatnya tak mampu berkutik. Entah apa yang sudah dialami lelaki itu hingga emosinya menjadi tidak stabil.
"Harusnya kalau anda ingin mati, anda harus mengendarai motor anda dengan lebih kencang. Atau kalau boleh saya berikan saran, ruangan anda dirawat ini cukup tinggi kalau hanya untuk membuat anda kehilangan nyawa". Ucap Kirei santai sambil terus memeriksa kondisi Aksa, membuat bibir pasangan paruh baya yang mendengarkannya melengkung keatas.
"Tapi seperti yang anda tahu, kami akan tetap berusaha menyelamatkan nyawa anda dengan segala kemampuan kami". Kirei tersenyum penuh arti menatap Aksa yang mengeraskan rahangnya mendapati wanita yang berani melawan ucapannya.
"Dan kalau anda merasa gedung ini masih kurang tinggi, saya masih banyak rekomendasi gedung bertingkat yang lebih tinggi jika anda ingin mencoba menemui malaikat Izrail lagi. Saya permisi". Tanpa menunggu respon dari Aksa, Kirei memilih pamit undur diri.
"Kondisi tuan Aksa sudah stabil tuan..hanya perlu menunggu luka-lukanya membaik. Saya permisi tuan, nyonya". Setelah menjelaskan sedikit kondisi Aksa pada kedua orang tuanya, Kirei akhirnya berpamitan pada kedua orang yang tersenyum ramah padanya.
"Waaaaaa..dokter memang benar-benar spesialis pasien rewel". Suster Mirna yang sejak awal mendampingi Kirei sampai menganga melihat keberanian Kirei terhadap putra direktur rumah sakit.
"Boleh disuntik mati nggak sih?". Tanya Kirei membuat tawa suster Mirna meledak.
"Ishh..jangan dok. Masa ganteng-ganteng mau disuntik mati sih". Ucap Mirna masih dengan tawanya.
Kirei hanya menggeleng melihat kelakuan suster yang mendampinginya itu.
"Ganteng tapi nggak waras. Kalo boleh mah udah gue cekek tadi didalem". Gumam Kirei.
"Dokter bilang sesuatu?". Tanya Mirna yang masih mengikuti Kirei hingga kedalam ruangannya.
__ADS_1
"Nggak..nggak ada. Saya cape, pengen cepet pulang terus tidur". Sahut Kirei cepat dan segera bergegas merapikan barang-barangnya.
****
Wiratama Aksa Mahendra, putra sulung dari pasangan Akmal Mahendra dan Riana Mahendra. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Juanda Xavier Mahendra yang umurnya terpaut 5 tahun dengannya, yang kini tengah menempuh pendidikannya untuk menjadi seorang dokter.
Tidak seperti ayahnya yang seorang dokter, Aksa atau lebih sering dipanggil Tama lebih memilih menekuni hobinya pada dunia photography, namanya sudah dikenal banyak orang karena hasil jepretannya yang tidak diragukan lagi.
Pria berusia 26 tahun itu memiliki sikap cenderung keras, memiliki paras yang rupawan dengan nama belakang Mahendra membuatnya dengan mudah mendapatkan gadis manapun yang diinginkannya. Bahkan hingga usianya yang sudah bisa dibilang matang itu, dirinya lebih senang berganti-ganti pacar daripada harus serius dengan satu wanita saja.
"Selamat pagi pak Aksa.." Suara itu membuat Tama menoleh dan mendapati dokter cantik yang menolongnya semalam kembali kesana. Tidak ada raut kebencian dari wajah cantik Kirei ketika harus kembali berhadapan dengan Tama.
"Ni cewe lupa apa b*go ya?". Batin Tama.
"Bagaimana kondisinya pak Aksa? Sudah lebih baik?". Kirei mengeluarkan stetoskopnya untuk memulai pemeriksaannya.
"Nama gue Tama. Dan satu lagi, gue bukan bapak elo!". Sinis Tama membuat Kirei tersenyum tipis.
"Kalo gue boleh milih, gue milih manggil lo kunyuk!". Batin Kirei geram.
"Oke..kondisinya sudah bagus. Jahitannya juga oke..mungkin lusa pak Tama sudah bisa pulang". Jelas Kirei tanpa melihat wajah Tama.
"Ada maksud apa lo sebenernya?". Tanya Tama memicingkan mata membuat Kirei mengangkat kepala untuk melihat orang yang berbicara dengannya.
Mirna yang selalu setia mendampingi Kirei sempat menahan napas mendengar suara Tama yang terdengar sangat dingin.
"Saya? Apa yang anda maksud?". Tanya Kirei balik dengan alis berkerut. Bingung dengan arah pembicaraan Tama.
"Cih..gue tau cewe model elo tu sama aja kaya cewe yang lain. Berapa yang lo mau?". Kirei semakin dibuat bingung dengan arah pembicaraan Tama yang menurutnya sangat tidak jelas.
Tama mengeluarkan selembar kertas yang Kirei tahu pasti bahwa itu adalah sebuah cek. Tapi untuk apa lelaki itu mengeluarkan cek dan menyodorkannya pada dirinya.
"Apa maksud anda tuan Tama?!". Tanya Kirei
"Segini cukup kan? Gue tau maksud lo baik sama gue, karna lo tau kalo gue anak pemilik rumah sakit kan? Makanya lo baik sama gue supaya lo bisa deketin gue". Tama berbicara dengan penuh percaya diri.
Kirei tersenyum dan mendorong tangan Tama yang menyodorkan cek padanya. Kemudian dengan berani Kirei menatap langsung mata tajam Tama.
"Saya tidak menerima hadiah apapun dari pasien tuan. Semua sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter, tidak peduli siapapun itu". Tolak Kirei sehalus mungkin. Meski dalam hatinya ingin sekali ia membuat lelaki itu c*cat sekalian.
"Alaaah..kaga usah pura-pura lo. Ambil! Atau segini kurang?". Tantang Tama.
Mirna yang hendak membuka mulutnya segera dilarang oleh Kirei dengan mengangkat sebelah tangannya.
"Baik kalau memang ini keinginan anda. Saya ambil, dan terimakasih". Tanpa mengucapkan apapun lagi, Kirei keluar dari kamar yang semakin lama semakin menyedot habis kesabarannya.
"Dokter". Sebuah elusan dibahunya membuat Kirei menoleh.
"Berikan ini pada dokter Mala dibangsal anak, katakan ini sumbangan dari tuan Tama untuk pembangunan panti sosial yang sedang mereka kerjakan". Perintah Kirei membuat Mirna mengembangkan senyumnya. Inilah mengapa ia begitu betah menemani dokter muda itu.
"Siiap..laksanakan dok". Mirna meletakkan tangannya dipelipisnya, seolah sedang memberi hormat pada komandan pasukan.
Kirei terkekeh melihat kelakuan Mirna yang selalu penuh semangat. Ia memejamkan matanya setelah kepergian Mirna untuk mengurangi amarah yang hampir saja menghanguskan dirinya.
######
Hallo readers..semoga suka sama cerita baru ini yaaaa..
Jangan lupa kasih saran ya..kritik dan saran sangat membantu othor yang masih amatiran ini😁
__ADS_1