Imperferct Partner

Imperferct Partner
Aku mohon..


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak kepergian Akbar. Hari-hari yang dilalui Naya dipenuhi kesedihan dan air mata. Hingga satu minggu ini, Naya masih terus meratapi kepergian Akbar. Ia tahu jika apa yang ia lakukan adalah salah. Agama nya pun tak mengijinkan dirinya meratap seperti ini. Namun apalah daya, ia hanya seorang gadis yang hancur karna kepergian orang tercinta nya.


Naya hanya berbicara seperlu nya, Ia tak akan berbicara jika tak ada yang bertanya. Makan pun ia tak selera, hanya sedikit makan hingga tubuhnya kini terlihat kurus, bahkan kuliahnya kini terbengkalai.


"Nay..abang masuk ya.." Setelah mengetuk pintu, Ken masuk kedalam. Seperti sebelum-sebelumnya, ia akan melihat adiknya sedang melamun di balkon kamarnya. Menatap langit dengan tatapan kosong. Sungguh Ken tak sanggup melihatnya.


Ken menoleh ketika merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang. Senyum terkembang dibibir Ken ketika matanya melihat siapa yang datang.


"Biar gue coba.." Ken mengangguk mengiyakan permintaan teman baiknya yang sepertinya baru saja sampai itu.


Ken memilih keluar dari kamar adiknya. Setiap hari melihat Naya yang tak punya semangat hidup benar-benar membuatnya terluka.


"Kay.."


Naya langsung menoleh begitu mendengar panggilan itu. Bahkan tanpa ia repot-repot menoleh pun sebenarnya ia tahu siapa yang memanggilnya.


"Udah balik kak?". Tanya Naya lirih, sangat lirih. Sudah 3hari Al tidak datang untuk sekedar melihatnya. Biasanya lelaki itu akan setiap hari mendatangi rumah Naya untuk melihat kondisi Naya. Namun karena pekerjaan, Al terpaksa kembali ke perusahaannya beberapa hari.


" Hmm.." Al berjongkok didepan Naya yang sedang duduk dikursinya.


"Makan yuk.." Ajak Al yang dijawab gelengan kepala oleh Naya.


"Yaudah..aku temenin disini deh". Al bangkit, kemudian duduk dikursi lain yang ada disana.


Naya menatapnya. Menatap mata yang selalu memancarkan kasih sayang untuk dirinya. Ia pun menyayangi Al, sama seperti sayangnya pada Ken dan Kai. Entah mengapa, dirinya merasa lebih nyaman kini menangis didekat Al daripada kedua kakaknya.


Bukan karena apa, Naya sadar jika kedua kakaknya sudah menikah. Ia tak ingin menjadi beban bagi keduanya, meski kedua kakak iparnya pun tak akan mempermasalahkannya.


"Kakak belum makan?". Tanya Naya yang jelas tau jika lelaki itu belum makan, terbukti dari suara cacing di perut Al yang berbunyi cukup nyaring hingga terdengar oleh Naya.


Al menggelengkan kepalanya. Senyum tak pernah luntur dari wajahnya saat menatap wajah Naya.


" Kamu makin kurus sih Kay.." Al mengelus punggung tangan Naya yang terlihat sangat kurus.


"Makan yaaa.." Bujuk Al


Naya menatap mata itu. Kenapa ia seolah melihat tatapan penuh cinta yang sering ia lihat dari mata Akbar. Matanya memanas, secepat kilat ia memalingkan wajahnya.


"Makan ya..dikit juga gapapa". Al masih mencoba membujuk


" Mau keluar?". Tanya Al yang langsung membuat Naya menatapnya.


"Kita makan terus kakak anter ke Akbar..ya??". Inilah jurus jitu Al. Dengan ini, Al yakin Naya akan mau makan. Dan benar saja, Naya mengangguk dengan senyum tipis.


" Oke..mari sekarang kita makan princess Kanaya.." Al mengulurkan tangannya dan disambut Naya. Al menggenggam tangan Naya dan membawanya turun keruang makan.


Sementara kedua orang tua dan kakak Naya menghela nafas lega melihat Naya mau keluar dari kamarnya dan makan bersama mereka. Karena biasanya Naya hanya akan makan didalam kamar.


"Duduk sayang.." Kirei cepat menyambut anaknya. Ia menggeser kursi untuk Naya. Kemudian ia segera mengisi piring Naya dengan nasi goreng yang sudah dimasak oleh mbok Ning. Nasi goreng kesukaan Naya.


"Cukup mom.." Naya memegang tangan Kirei yang hendak menambahkan nasi kedalam piringnya.


"Tapi itu sedikit sayang. Ini nasi goreng kesukaan kamu.." Bujuk Kirei namun Naya menggeleng.


Tama memegang tangan istrinya saat melihat Kirei akan membujuk Naya lagi. Ia menggeleng, mengisyaratkan istrinya untuk diam dan melanjutkan makannya.


Al menghela nafas berat, sudah satu minggu, dan Naya masih asyik dengan kesedihan dan kehilangannya atas Akbar.


"Makan yang banyak ya..." Al mengelus pucuk kepala Naya yang hanya mengangguk lemah. Perlahan tangan kurus itu menyendok nasi gorengnya dan memasukkannya kedalam mulut. Ingatannya kembali berputar pada memori tentang hari-hari yang ia lalui bersama Akbar.


Naya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalau air matanya. Ia tak ingin terus membuat orang tua dan kakaknya khawatir. Ia sudah berusaha, ia mencoba mengikhlaskan kepergian Akbar. Namun semua itu tak semudah yang orang lain ucapkan. Ia belum sanggup mengikhlaskannya. Terlalu banyak kenangan indah antara dirinya dan Akbar.


Meski terasa hambar, Naya memaksakan diri menghabiskan nasi goreng nya. Ia harus cepat menyelesaikannya, Al sudah berjanji akan mengantarnya ke makam Akbar setelah ini.

__ADS_1


"Aku tunggu diluar ya.." Al berjalan ke teras rumah, sedangkan Naya kembali kamar nya untuk berganti pakaian.


"Al.." Suara Tama membuatnya menoleh. Saat ini dirinya tengah berada diteras menunggu Naya yang sedang bersiap.


"Mau ke makam lagi?". Tanya Tama yang dijawab anggukan kepala oleh Al.


" Apa tidak apa-apa jika seperti ini terus? ". Tanya Tama khawatir. Pasalnya memang hanya jika ada Al saja Naya pergi ke makam. Orang tua dan kedua kakaknya enggan mengantar Naya karena berpikir kalau Naya akan sulit melupakan Akbar jika sering mengunjungi makam.


" Sekarang yang Naya butuhkan adalah ini om..Biarkan dia luapkan semua kesedihannya dimakam Akbar. Al yakin lambat laun dia akan bisa mengikhlaskan nya". Ucap Al yakin, walau sejujurnya ia sendiri tak yakin dengan ucapannya.


Tama menghembuskan nafas beratnya sebelum menepuk pundak Al beberapa kali.


"Om titip Naya padamu Al. Kembalikan dia seperti dulu". Al dapat melihat keputusasaan dari nada suara dan wajah Tama. Meski ragu, Al menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Tak lama Naya keluar dengan baju hitamnya serta selendang hitam yang menutupi kepalanya.


" Sudah siap??". Tanya Al dijawab anggukan kepala oleh Naya.


"Nay pergi dad". Naya mencium punggung tangan Tama dan dibalas Tama dengan memeluk Naya.


" Kembalilah menjadi Naya kami, nak. Daddy menunggu". Tama melepas pelukannya dan menghapus air mata yang ada disudut mata putrinya.


"Assalamualaikum.." Naya berbalik dan berjalan mendahului Al yang berpamitan dengan Tama.


Dan disinilah mereka berdua, menaburkan bunga diatas gundukan tanah yang masih belum terlalu kering seraya memanjatkan doa untuk orang terkasih mereka. Dengan sabar Al menunggu Naya yang hanya diam disamping makam Akbar sambil sesekali mengelus foto lelaki itu yang masih ada disana.


Bahkan setelah satu jam berlalu pun Al tak sedikitpun mengeluh dengan panasnya matahari yang mulai meninggi. Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Naya bangkit. Seperti biasa, gadis itu akan berpamitan dulu dengan Akbar.


"Gue balik Bar..lo tenang disana. Gue bakal jaga Kanaya kita bahkan dengan nyawa gue sendiri". Al berjongkok sejenak dan mengelus batu nisan Akbar sebelum akhirnya berbalik dan mengejar Naya yang berjalan lebih dulu.


" Ikut aku bentar ya.." Al yang baru saja masuk langsung memasang sabuk pengamannya.


"Kemana? Nay mau pulang aja.." tolak Naya


" Maaf Kay..nggak nerima alasan apapun dan nggak nerima penolakan". Potong Al cepat sebelum Naya berhasil mengutarakan keinginannya.


"Kenapa kakak jadi bawel sih". Gerutu Naya yang justru membuat Al tergelak.


Sepanjang jalan Naya hanya memperhatikan jalanan, otaknya masih belum bisa lepas dari bayang-bayang Akbar yang terus menari indah didalam memori otaknya.


" Oke..turun yuk". Naya tersadar dari lamunan panjangnya ketika Al menepuk pundaknya. Ia mengedarkan pandangan ketempat yang masih terasa asing untuknya.


"Ini dimana kak?". Tanya Naya ragu, namun tak urung ia mengikuti Al membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


Matanya menatap takjub danau buatan yang ada didepan matanya. Pemandangan disekitar danau pun sangat indah hingga membuatnya berdecak kagum.


" Indah banget.." Ucap Naya yang masih menatap takjub pada pemandangan yang tersuguh didepan matanya.


"Masih lebih indah kamu Kay..apalagi kalo kamu senyum". Gumam Al


" Apa kak?". Al gelagapan, ia tak menyangka Naya akan mendengar gumamannya.


"Ng-nggak..nggak ada apa-apa". Elak Al menutupi kegugupannya.


" Suka?". Tanya Al yang melihat sedikit binar kebahagiaan dimata sayu itu.


"Hmm..ini indah banget". Ucap Naya menatap sekelilingnya sekali lagi. Hati dan pikirannya tiba-tiba terasa lebih damai dan tenang sekarang. Ia menoleh cepat kala melihat Al duduk diatas hamparan rumput hijau tanpa alas apapun. Ia kemudian mengikutinya dan duduk disamping Al yang juga tengah menatap jernihnya air danau.


" Kakak sering kesini?". Tanya Naya tanpa melihat Al.


"Hmm..dulu banget". Jawab Al


" Sekarang udah jarang. Dulu aku sering kesini kalau sedang sedih, banyak masalah atau sedang merasa kalut". Ucapan Al membuat Naya menoleh. Ditatapnya wajah tampan itu dari samping, masih sama..tetap tampan.

__ADS_1


Naya langsung mengalihkan pandangannya kala Al tiba-tiba menoleh padanya dengan senyum manis, semanis madu. Dulu..untuk melihat senyum itu, bermimpi pun Naya tak mampu. Karna memang lelaki disampingnya ini begitu dingin dan hampir tak tersentuh. Lalu kenapa sekarang ia harus tersenyum semanis itu.


"Aku tau ini sulit Kay..bahkan sangat---" Naya kembali menoleh, dan mendapati Al sudah kembali menatap danau. Ia tahu kemana arah pembicaraan lelaki ini.


"Aku belum bisa kak..ini seperti mimpi buruk bagiku". Lirih Naya yang menatap hampa danau dihadapannya itu.


" Pasti..aku tau pasti ini sulit. Bahkan sangat sangat sulit.." Al kembali menghela nafasnya, seolah mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen yang terasa cepat habis.


"Bagiku pun ini mimpi buruk Kay. Aku ingin cepat bangun dari mimpi buruk ini". Naya kembali menatap Al yang ternyata juga tengah menatapnya.


" Kak.." Lirih Naya membuat Al tersenyum sedih.


"Disini--' Al menunjuk tepat didadanya'. Disini sangat sakit Kay..sakit ini semakin terasa saat melihat kamu terpuruk seperti ini". Al kembali membuang pandangannya. Menghindari mata indah yang sudah mulai berembun itu.


" Aku takut Kay..takut jika tiba-tiba aku pergi menyusul Akbar--"


"Kak.!!!" Seru Naya cepat sebelum Al selesai dengan kalimatnya.


"Aku takut Akbar akan bertanya kenapa aku tidak menjaga dan membuat dirimu tersenyum lagi". Meskipun Al tahu Naya tak ingin mendengar, namun ia tetap menyelesaikan kalimatnya.


" Aku tidak sanggup menghadapi kekecewaannya Kay.." Al memiringkan tubuhnya. Menangkup wajah Naya yang rupanya sudah basah oleh air mata.


"Aku mohon Kay..aku mohon bangkit lah. Jika bukan untuk dirimu..setidaknya bangkitlah untuk orang-orang yang mencintai dan menyayangimu Kay". Al menghapus air mata Naya dengan ibu jarinya.


" Kamu boleh menangis sepuasmu sekarang Kay..tapi setelah ini--"


"Setelah ini aku mohon bangkitlah. Hiduplah lagi sebagai Kanaya kami..Kanaya yang ceria yang selalu membuat kami tersenyum".


" Akbar akan sangat sedih melihatmu seperti ini Kay..ia akan menyalahkan dirinya yang membuat dirimu seperti sekarang ini". Kata demi kata yang keluar dari mulut Al semakin membuat air mata Naya mengalir deras.


"Jadi aku mohon..tolong jadi Kanaya kami yang dulu lagi.." Pinta Al sarat akan permohonan.


Naya sudah tak sanggup, ia menghambur kedalam pelukan Al dan memeluknya erat. Ia menumpahkan segala kesedihan yang selama beberapa hari ini tak bisa ia ungkapkan dengan air mata. Ia takut membuat semua orang khawatir..rupanya benar, orang-orang terkasihnya begitu terluka dan bersedih dengan kondisinya yang seperti ini.


"Huaaaaa....kenapa kak. Kenapa kak Biru tega ninggalin aku". Tangis Naya pecah dalam pelukan Al yang hanya bisa mengelus punggung Naya.


" Kenapa bukan aku ajaaa...kenapa kak Bi-ru".


"Aku sayang sama kak Biru, kak. Aku cinta sama dia..kena-pa...kenapa dia tega tinggalin a-ku". Sakit, hati Al berkali-kali sakit, rasanya seperti ada puluhan anak panah yang menghujam tepat diulu hatinya. Wanita yang ia cintai begitu mencintai lelaki lain. Kuatkah ia? Mampukah ia mengisi hati gadis yang rupanya hati itu sudah terisi penuh oleh sebuah nama.


" Kenapa kaaaak???". Naya semakin membenamkan wajahnya kedada bidang Al yang hanya bisa meringis pilu mendengar tangisan Naya. Beruntung danau dalam kondisi sepi karna memang hari ini adalah hari kerja biasa.


Cukup lama Naya menangis dalam pelukan Al. Dan yang dilakukan lelaki itu hanya diam dan mendengarkan semua kata yang terucap dari bibir mungil itu. Al berharap setelah tangisan Naya mereda, gadis itu mau mencoba menjalani kembali kehidupannya, menata kembali hidupnya yang sempat porak poranda karena kepergian Akbar.


Al mendengar nafas teratur dari gadis yang masih ia dekap dengan hangat itu, menandakan gadis cantik itu sudah tertidur. Mungkin lelah karena sudah terlalu lama menangis dan terus berbicara.


"Ini pasti berat banget buat kamu ya, Kay??"


"Ini juga berat buat aku Kay. Melihat kamu, wanita yang aku cintai hancur berkeping-keping seperti ini karena lelaki yang kamu cintai". Al terkekeh pelan sambil membelai pipi Naya.


" Kenapa kisah cinta kita bisa serumit ini, Kay. Mungkinkah..Mungkin kah aku bisa membuatmu bahagia seperti dia membuatmu bahagia?? Atau memang statusku hanya bisa menjaga dan melindungimu sebagai seorang kakak". Al terus berbicara sendiri. Menumpahkan sesak yang membelenggu hatinya.


"Apapun itu..aku berharap kamu bangkit Kay. Kembali menjadi Kanaya yang kuat dan ceria. Meski bukan aku yang kelak membuat senyum itu kembali menghiasi wajah cantikmu, tapi aku berharap kamu akan kembali bisa tersenyum seperti dulu".


" Aku hancur melihatmu seperti ini..lebih hancur daripada kehancuran yang kamu rasakan Kay". Al menangis, lelaki itu kembali menjadi lelaki cengeng.


"Kak..." Lirih Naya membuat Al membeku. Apakah Naya mendengar semuanya?? Apakah setelah ini Naya akan menjauhinya? Al dihantui pransangka-prasangka buruk yang membuat hatinya semakin tak menentu.


Lama ia diam, menanti ucapan apa yang akan keluar dari bibir mungil Naya, namun nihil. Al memberanikan melonggarkan pelukannya. Melihat Naya masih terlelap dengan nafas teratur membuat Al bernafas lega. Setidaknya Naya tak mengetahui tentang perasaannya yang sebenar-benarnya.


"Kita pulang ya Kay.." Al membopong tubuh Naya. Entah sudah berapa kali ia membopong tubuh gadis itu.


Siang itu Kanaya Benar-benar tertidur pulas setelah menumpahkan segala rasa yang menghimpit dadanya. Wajahnya terlihat lebih tenang dalam tidurnya. Tak seperti tidur yang sebelum-sebelumnya, ia akan selalu mengigau dan berakhir bangun dengan keringat membasahi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2