Imperferct Partner

Imperferct Partner
penolong


__ADS_3

Satu minggu menyandang status sebagai murid SMA Garuda, Naya dengan mudah beradaptasi dengan teman-teman barunya. Ya, dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa satu kelas dengan kedua sahabatnya.


Selama itu pula, gadis itu tidak pernah berangkat bersama kedua kakaknya. Meski dipaksa oleh bapak ibu presiden sekalipun Naya tetap menolak. Ia akan lebih memilih naik angkot atau ojek online dibanding pergi bersama dua pengeran SMA Garuda yang akan membuatnya terjebak dalam masalah besar.


Seperti pagi ini, kedua orang tua dan kakak kembarnya memaksa gadis itu untuk pergi bersama. Pasalnya semalam Naya demam, dan Ken serta Kai sangat khawatir.


"Bareng abang ya". Bujuk Ken.


" Nggak mau abang. Nay mau pergi sendiri. Males ntar gue dilabrak ama nenek moyangnya mak lampir". Ucap Naya dengan bibir mengerucut.


"Nggak akan. Abang janji". Ken terus mencoba membujuk sang adik. Tapi bukan Naya namanya jika tidak keras kepala.


" Yaudah dianter supir". Kini Kai yang berusaha membujuk.


"Nggak ma--u". Naya menekankan kata-katanya hingga membuat orang tua dan kedua kakaknya gemas.


" Ikutin mau abangmu Nay. Semalam kamu demam". Kirei angkat bicara.


"Nggak mau mommy". Wajah cantik itu semakin memberengut kesal.


" Daddy nggak usah ikut-ikutan bujuk Nay. Nggak mempan". Sebelum Tama membuka mulutnya, sang putri sudah mengultimatum dirinya untuk diam.


"Dianter supir atau bareng abang. Cuma dua pilihan". Ucap Ken dengan tegas.


" Enggak mau abang..ish!".


"Kalo kaga mau dianter supir, abang gendong ke mobil sekarang". Ancam Ken sungguh-sungguh hingga membuat Naya semakin kesal.


" Iya-iya dianter supir. Dasar tukang maksa! Ngeselin!".


"Naya pergi mom, dad. Assalamualaikum". Naya menyalami kedua orang tuanya tanpa melirik kedua abangnya yang sangat bawel jika menyangkut dirinya.


" Pak Maaaaaaaan..ayo berangkat". Teriak Naya membuat seorang pria paruh baya berlari tergopoh mendekati anak majikannya.


"Maaf non..mobilnya bocor ban nya. Yang satu dibawa pak Pri ke bengkel pagi-pagi sekali. Non mau tunggu sebentar? Bapak ganti ban nya dulu. Ndak lama kok". Ucap sang supir lembut.


" Aku nanti telat pak..yaudah. Anter pake motor aja yuk". Sebuah ide konyol muncul dikepala Naya hingga membuat pria yang Naya panggil pak Man itu melotot tak percaya.


"Ja-jangan non. Saya mana berani". Ucap Pak Man gugup.


" Nggak ada yang tau pak. Anterin pake motor aja ya". Bujuk Naya.


"Nggak ada anter-anter pake motor KANAYA. Ikut abang sekarang". Tiba-tiba Ken sudah berdiri dibelakang Naya dan kemudian menarik tangannya.


" Nggak mau!!". Naya menghempaskan tangan Ken. Namun rupanya sang kakak menggenggamnya erat hingga tak terlepas.


"Ikut". Ucap Ken dingin hingga membuat Naya marah.


" Gue ama bang Kai aja". Melihat Kai mengeluarkan motor sport nya membuat Naya segera menepis tangan kakaknya dan menghampiri Kai.


"Lo ngapain onah?". Tanya Kai bingung karena Naya sudah nangkring di motornya.


" Bareng". Ucapnya ketus membuat Kai menatap Ken yang kemudian menganggukkan kepalanya.


Ken membuka pintu mobilnya dan mengambil jaket miliknya. Perlahan ia mendekat pada Naya dan dengan lembut memasangkan jaketnya pada tubuh sang adik.


"Maafin abang ya". Ken mengelus pucuk kepala sang adik dengan sayang.


" Pake jaketnya. Nanti sakit lagi". Ucapnya ketika melihat Naya hendak membuka jaket miliknya.


"Ati-ati Kai. Jangan ngebut". Peringat Ken pada kakak kembarny yang langsung dijawab acungan jempol oleh Kai.


" Tenang aja. Dia juga matahari gue. Nggak akan gue biarin kenapa-kenapa". Ucap Kai yakin.


"Helm nya pake dek". Ucap Kai lembut membuat Naya mengikuti perintahnya. Naya tahu jika kedua kakaknya sudah memanggilnya 'Dek' itu artinya kedua kakaknya sedang tak ingin dibantah.


Ken masuk kedalam mobil dan menyalakannya. Ia mengendarai mobil mengikuti motor Kai yang saat ini tengah membonceng Naya. Ia akan membunyikan klakson tiap kali Kai melajukan motornya dengan kencang.


Seperti yang Naya perkirakan. Sampai disekolah, ia menjadi pusat perhatian lantaran turun dari motor Kai. Belum lagi setelah kedatangannya, Ken pun sampai dan langsung turun membantu sang adik membuka helm dan jaketnya.


" Abang!!! Ish". Sungut Naya membuat Ken dan Kai gemas hingga bergantian mengacak rambut adiknya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, Naya dapat mendengar pembicaraan-pembicaraan tak mengenakkan mengenai dirinya yang datang bersama Kai dan juga perhatian kedua abangnya itu.


Sepanjang perjalanan itu pula mulutnya tak henti menggerutu dengan ulah kedua kakaknya yang membuat dirinya harus kembali menjadi bahan perbincangan seisi sekolah.


"Emang susah kalo punya abang ganteng. Apalagi gue cantik gini". Jiwa kenarsisannya kembali berkobar.


Tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan mata tajam yang sejak tadi memperhatikannya. Ya, Al sudah tiba lebih dulu dan melihat bagaimana Ken dan Kai memperlakukan Kanaya bak seorang putri.


Selama seminggu bersekolah, Naya tak pernah sehari pun melewatkan kesempatan untuk menggoda dan melancarkan gombalan-gombalan receh untuk kakak seniornya itu.


" Hai mas ganteng". Teriak Naya melambaikan tangannya pada Al. Namun lelaki itu hanya melengos dan berjalan meninggalkan Naya.


"Tumben". Gumam Naya bingung. Biasanya lelaki itu akan mendekat dan menyentil keningnya jika ia berteriak dan memanggilnya dengan sebutan 'mas ganteng' namun kali ini sepertinya Al sedang marah.


Naya kembali berjalan menuju kelasnya. Ia tidak menyadari jika ada tiga pasang mata yang menatapnya tajam. Semua yang Naya lakukan tak luput dari pandangan mereka.


" Cih..dasar cewe murahan. Semua cowo mau dia deketin. Nggak tahu malu". Ucap Monika sarkas dan disetujui oleh dua temannya.


"Kita kasih pelajaran aja Mo. Makin didiemin makin ngelunjak". Ucap Agatha memanasi.


" Kita liat nanti". Ucap Monika berlalu diikuti kedua sahabatnya.


Berkali-kali Naya menguap. Membuat teman nya tersenyum dan menggeleng melihat gadis itu. Bagaimana mungkin gadis disampingnya itu bisa memiliki nilai yang bagus, padahal selama satu minggu duduk dengannya, tak pernah sekalipun ia melihat Naya serius memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru.


Tak teras bel istirahat berbunyi, Naya berteriak kegirangan seolah mendapat hadiah besar membuat teman sebangkunya tersenyum.


"Aisha..mau ke kantin?". Tanya Naya pada gadis ayu berhijab yang duduk disampingnya.


" Aku bawa bekel, Nay". Ucap Aisha lembut.


Aisha mengeluarkan kotak bekalnya. Makanan sederhana yang justru membuat Naya hampir meneteskan air liurnya.


"Lo tiap hari bekel?". Tanya Naya membuat Aisha mengangguk.


" Kamu mau Nay?". Tanya Aisha yang melihat Naya seperti menginginkan bekal makannya.


"Ehm..pengen sih. Tapi jangan deh. Gue makannya banyak". Naya nyengir.


" Gapapa..kita makan berdua ya". Aisha menyodorkan sebuah sendok pada Kirei membuat Kirei menatapnya ragu.


" Tapi nanti lo masih laper". Ucap Naya membuat Aisha menggeleng.


"Temenin ke kantin beli minum ama cemilan dulu tapi". Pinta Naya. Aisha tampak ragu, namun kemudian ia tersenyum dan mengangguk.


Keduanya berjalan berdampingan menuju kantin. Sesampainya dikantin, Naya segera mengambil dua botol air mineral dan beberapa cemilan dan membayarnya. Sementara Aisha berada tak jauh dari dirinya, menunggu Naya menyelesaikan apa keinginannya.


Saat Naya berjalan mendekati Aisha, seseorang dengan sengaja menabraknya. Jus berwarna merah pekat yang dibawa orang itu tumpah mengenai baju putih milik Naya.


Kegaduhan kecil itu membuat seisi kantin memperhatikan Naya yang bajunya sudah kotor akibat tumpahan jus. Aisha yang melihatnya segera berlari mendekati Naya.


" Nay..kamu gapapa?". Tanya nya khawatir. Sementara yang menabrak Naya justru berdiri sombong didepan gadis yang terduduk didepannya dengan kondisi mengenaskan.


"Ooopsss..sorry. Sengaja". Suara yang berasal dari depannya membuat Naya mendongak. Dilihatnya wajah puas Monika dan kedua temannya. Kini ia tahu jika ini bukan kecelakaan, tapi memang rencana moyangnya lampir yang berdiri sambil tertawa didepannya.


Sementara Ken dan Kai yang melihat Naya dan memperhatikannya sejak memasuki kantin langsung berdiri ketika melihat apa yang Monika lakukan pada adik mereka.


Aisha membantu Naya bangkit dengan memegangi lengannya. Membantu sebisanya membersihkan baju Naya dengan tisu yang ada tak jauh darinya.


" Baju kamu kotor banget Nay". Ucap Aisha yang masih fokus membersihkan baju Naya.


"Maksud lo apa kak?". Tanya Naya menatap tajam Monika yang memasang wajah tanpa dosanya.


" Gue udah peringatin lo sebelumnya". Bisik Monika membuat Naya emosi.


"Kakak kenapa nggak minta maaf sama temen aku". Ucap Aisha tiba-tiba membuat Monika dan kedua temannya menatapnya sengit.


Monika mendorong tubuh Aisha dengan kuat hingga tubuh Aisha terhuyung kebelakang. Untung gadis itu masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga tidak terjatuh ke lantai.


Ken beranjak dari duduknya, hendak mendekati sang adik dan memberi pelajaran pada gadis yang berani mempermalukan sang adik. Namun lengannya ditahan oleh Kai.


" Jangan Ken. Nay bakal ngamok kalo lo kesana". Bisik Kai.

__ADS_1


Jika menyangkut Naya, Ken memang paling tidak bisa mengendalikan diri dan emosinya. Rasa ingin melindungi begitu besar. Ia tak ingin adiknya kembali terluka dan trauma. Ia tak ingin gagal lagi melindungi mataharinya.


"Nggak bisa Kai. Ini udah kelewatan!". Desis Ken berusaha melepaskan tangan Kai. Namun Kai tetap menahannya.


" Tahan Ken. Pasti ada yang bantu Naya". Ucap Kai meyakinkan.


Naya yang tak terima teman barunya didorong balas mendorong Monika hingga menabrak dua temannya dibelakang.


"Mending lo ama dayang-dayang lo ini pergi deh. Gue males ribut ama lampir kaya lo!". Amarah yang coba Naya redam akhirnya jebol juga. Ia tidak bisa menerima perlakuan Monika pada dirinya dan Aisha.


" Dasar nggak tahu diri!!". Monika menjambak rambut Naya kuat, ia berpikir Naya akan kalah. Namun ternyata Naya balas menjambaknya. Hingga akhirnyan terjadi aksi saling jambak antara Naya dan Monika.


Sementara teman yangblain berkerumun melingkari dua gadis yang sepertinya sedang adu kekuatan.


Melihat temannya bertengkar, Aisha mencoba melerainya. Meski sulit dan dirinya ikut terkena cakaran Monika, namun Aisha berhasil memisahkan mereka.


Monika meraih gelas diatas meja yang berisi jus jeruk. Ia hendak menyiramkan jus itu pada Naya sebelum ada punggung lebar yang menghalangi tubuh Naya.


Ken berjalan cepat ketika melihat Monika hampir menyiram adiknya lagi. Namun langkah kakinya dan Kai langsunh berhenti saat melihat teman baiknya berdiri tegap didepan sang adik dan menghalangi cairan manis itu mengenai adiknya.


"Kakak.." Ucap Naya yang tampak terkejut melihat lelaki tampan nan tinggi berdiri melindungi dirinya.


Lelaki itu tersenyum lembut kemudian berbalik menatap Monika dengan tajam.


"Lo apa-apaan sih Mon. Ini nggak bener kaya gini". Ucapnya sarat akan kemarahan.


" Lo juga ngapain sih ngelindungin ni bocah tengil satu!!". Monika menunjuk wajah Naya dengan geram. Sementara Naya menjulurkan lidahnya mengejek Naya dibalik punggung tegap Akbar. Ya, malaikat penolong bagi Naya adalah Akbar.


"Berani lo ngeledek gue!!". Monika hendak maju lagi. Namun teriakan melengkin dari seseorang yang dihindari oleh seluruh siswa siswi SMA Garuda.


" Apa-apaan kalian!!!". Seluruh mata mengarah pada sumber suara. Dipintu kantin, berdiri seorang wanita dengan tubuh sedikit gemuk dan wajah sangar. Beliaulah guru BK SMA Garuda yang sangat ditakuti oleh para siswa, bu Eka. Ia menatap tajam seluruh siswa hingga tatapan tajamnya berhenti pada Monika dan Naya yang terlihat paling berantakan.


Beliau berjalan mendekat pada dua gadis yang masih saling melempar tatapan tajam. Kemudian matanya mengawasi seluruh siswa yang ada disana.


"Kenapa masih berdiri disini? BUBAR!!". Perintahnya membuat semua murid yang sedari tadi melihat pertengkaran Naya dan Monika ngacir.


" Kalian berdua". Bu Eka menunjuk Monika dan Naya


"Ikut saya!". Perintahnya membuat Naya menelan ludah dengan susah.


" Maaf bu". Ucap Akbar menginterupsi ucapan bu Eka.


"Iya Akbar?".


" Kalau boleh, saya mohon ijin membawa Naya untuk membersihkan diri dan berganti baju lebih dulu. Dia bisa masuk angin jika dibiarkan". Ucapan Akbar membuat bu Eka menatap Naya dari atas hingga bawah. Berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan mengijinkan Akbar membawa Naya.


"Saya tunggu diruangan saya. Dan kamu, Monika". Ucap Bu Eka menatap Monika.


" Ikut saya sekarang!". Perintahnya membuat Monika mengikuti bu Eka yang berjalan didepannya.


Akbar sudah lebih dulu pergi dengan menggandeng tangan Naya. Membawa gadis itu ke kamar mandi.


"Kamu masuk dulu, kakak belikan seragam baru". Akbar berbalik hendak berjalan meninggalkan Naya. Namun tangan Naya menahan tangan lelaki itu hingga membuat Akbar memutar tubuhnya kembali.


" Tapi..baju kakak juga basah. Maaf kak". Ucap Naya lirih. Meskipun senang dibela oleh Akbar, namun melihat lelaki itu basah membuatnya merasa bersalah.


"Gapapa..kamu bersihin diri kamu dulu ya. Kakak pergi bentar". Akbar mengusap pucuk kepala Naya dan segera pergi. Namun baru beberapa langkah ia kembali berhenti dan berbalik.


" Tolong temani Naya dulu ya". Ucapnya pad Aisha yang terlihat terkejut, namun sedetik kemudian Aisha tersenyum dan mengangguk.


"Ayo Nay..aku bantu bersihkan bajumu". Aisha membawa Naya masuk kedalam bilik toilet. Dengan telaten ia membantu Naya membersihkan baju dan wajahnya dari jus buah naga yang berhasil ditumpahkan Monika ditubuh Naya.


" Emang bener-bener tu moyang lampir seneng nyari perkara ama gue". Gerutu Naya


Aisha mencoba menenangkan Naya dengan kalimat-kalimat bijaknya. Namun sepertinya gadis didepannya itu sedang diliputi emosi.


tok..tok..tok


Pintu toilet diketuk dari luar. Naya meminta Aisha untuk keluar dan melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Ini baju untuk Naya. Bilang padanya akan aku tunggu disini. Oh iya, ini kantong untuk bajunya yang kotor". Ucap Akbar memberikan baju seragam baru lengkap dengan roknya pada Aisha.

__ADS_1


Aisha hanya mengangguk menjawab semua perintah Akbar. Ia kembali masuk dan kembali membantu Naya.


"Lo keluar gapapa deh. Gue malu". Ucap Naya membuat Aisha mengangguk.


__ADS_2