
Hari ini tekad Al sudah bulat. Ia akan menyatakan perasaannya pada Naya. Ia tak bisa lagi menunda untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu. Tiap hari hatinya makin panas saja mendengar para karyawan memuji dan mengagumi kecantikan Naya. Apalagi kolega bisnisnya yang juga melakukan hal sama. Benar-benar menyebalkan.
"Nanti malam kamu ada acara Kay??". Tanya Al saat Naya selesai membacakan jadwalnya.
" Nggak ada pak..apa ada pesta yang harus dihadiri lagi?". Tanya Naya formal. Ia benar-benar menjaga sikap ketika sedang bekerja.
Al menggeleng kan kepalanya membuat Naya terlihat bingung.
"Hanya ingin mengajakmu makan malam. Kamu mau?". Tanya Al penuh harap. Naya tersenyum lembut kemudian menganggukkan kepalanya hingga membuat Al senang.
" Oke..jam 7 aku jemput ya". Naya kembali menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak.." Naya membungkuk setelah Al mengangguk.
"Yess!!!". Seru Al ketika Naya sudah keluar dari ruangannya.
" Semoga malam ini adalah awal kebahagiaan kita Kay.." Doa tulus Al panjatkan. Besar harapannya Naya mau menerima dirinya.
****-----****
"Di.."
"Hmmm.." Diandra masih sibuk dengan ponselnya.
"Tadi ada yang telpon lagi ke kantor". Suara Naya Hampir tak terdengar.
" Siapa?? ". Tanya Diandra masih asyik dengan ponselnya.
" Di-dia bilang mama kamu". Cicit Naya membuat Diandra membeku.
"Di.." Panggil Naya karena Diandra hanya diam
"Biarkan saja". Jawab Diandra acuh. Namun Naya dapat melihat guratan sedih diwajah Diandra yang beberapa waktu ini sudah ceria.
" Kamu yakin??". Tanya Naya hati-hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Diandra.
"Sangat yakin Nay". Diandra menatap Naya dan tersenyum manis.
" Berceritalah padaku kalau kamu merasa terbebani Di..aku selalu ada untuk kamu dan Dimas. Kita keluarga". Naya menatap Diandra serius.
"Aku benar-benar nggak apa-apa Nay. Aku akan katakan jika aku kenapa kenapa". Diandra berusaha sekuatnya untuk tetap tenang.
" Yasudah kalo gitu..tapi janji ya. Kalo ada apa-apa bilang". Diandra mengangguk untuk menenangkan temannya.
"Kamu mau kemana sih?? Masih sore udah cantik banget". Diandra menelisik penampilan Naya yang sangat cantik dengan dress sederhana berwarna peach.
"Oh ini..mau makan malam sama kak Al". Ucap Naya pelan dengan wajah bersemu.
" Aaaa..mau kencan ama bos ternyata ". Goda Diandra semakin membuat Naya malu.
" Apa sih Di..cuma makan malam". Ucap Naya berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak menentu mendengar ucapan Diandra.
ting..tong..
"Tuh, pangeran kamu udah dateng". Makin kencang saja Diandra menggoda Naya.
" Apa sih..dasar nggak jelas". Gumam Naya berlalu meninggalkan Diandra yang terbahak melihat dirinya salah tingkah.
Naya menarik nafas panjang sebelum membuka pintu apartemen nya. Entah mengapa ia berdebar membayangkan kan bertemu dan makan malam bersama Al
"Hai kak.." Sapa Naya berbasa-basi.
Seperti biasa, Al selalu terpesona dengan penampilan Naya. Tidak terkecuali malam ini. Kanaya nya terlihat anggun dengan dress cantik berwarna peach yang membalut tubuh sempurnanya.
"Kamu cantik.." Puji Al yang membuat semburat merah muncul diwajah Naya.
"Makasih kak.."
"Udah siap??". Tanya Al menyodorkan lengannya untuk digandeng Naya.
" Siap.." Sahut Naya mengalungkan tangannya dilengan Al.
__ADS_1
Keduanya berlalu meninggalkan apartemen dan seorang penghuninya yang menatap nanar pada keduanya. Hatinya kembali perih, luka yang perlahan ia obati kembali terkoyak dan berdarah lagi.
"Untuk apa lagi kalian mencariku? Tidak cukupkah luka yang kalian berikan? Tidak puaskah kalian menghancurkan aku??". Diandra tergugu seorang diri, meratapi nasib percintaannya yang sangat menyakitkan untuk diingat.
" Kamu sangat beruntung Nay..lelaki yang kamu cintai bahkan membawa cintanya sampai akhir hidupnya. Dan sekarang, kamu dicintai oleh laki-laki sedemikian dalam. Betapa beruntungnya kamu.." Dalam tangisnya, Diandra tersenyum. Senyum penuh luka akibat ingatan masa lalu yang kembali membuka luka lamanya.
"Tapi aku bahagia melihat kamu bahagia Nay..aku tulus berdoa untuk kebahagiaan mu. Kamu orang yang sangat baik dan tulus, semoga kamu selalu bahagia". Diandra menatap foto dirinya dan Naya, serta Dimas. Ia tersenyum, ditengah peliknya permasalahan cinta nya, ia masih beruntung memiliki sahabat seperti Dimas dan Naya yang selalu ada saat dirinya membutuhkan.
" Sekarang kalian lah alasan senyumku.." Diandra mengambil bingkai foto mereka, lalu mengelusnya dan memeluknya dengan penuh sayang.
Sementara saat ini, Naya dan Al sudah sampai disebuah restoran tepi pantai. Mata Naya melebar melihat tempat yang dipilih Al untuk makan malam mereka.
"Kita makan disini kak??". Tanya Naya yang dijawab anggukan kepala oleh Al.
" Kenapa nggak bilang kalo direstoran sebesar ini kak?? Harusnya aku berpakaian lebih baik. Pakaianku sangat tidak pantas.." Naya tiba-tiba merasa tidak pantas untuk masuk karena hanya memakai pakaian sederhana.
"Kamu cantik Kay..apapun yang kamu pakai..itu tetap membuatmu cantik. Bahkan sangat.." Naya menoleh, menatap Al yang menggenggam tangannya erat.
"Kita masuk ya.." Al menarik Naya masuk kedalam restoran.
"Loh mau ke sebelah mana kak??". Tanya Naya bingung karena Al terus berjalan masuk kedalam restoran itu.
" Kak.." Naya tak bisa berkata-kata lagi. Tak jauh dari restoran, sebuah meja yang sudah ditata sedemikian romantis membuat Naya terpaku.
Apakah Al sudah menyiapkan ini semua?? Makan malam romantis ini?? Sungguh jika Naya tahu, ia akan berdandan lebih baik lagi dari ini. Tadinya Naya pikir hanya sekedar makan malam direstoran umumnya. Namun ternyata makan malam seperti ini yang Al berikan.
"Kamu suka??". Tanya Al ketika sudah berada didekat meja.
Hembusan angin laut menerbangkan surai panjang Naya hingga menutupi sebagian wajahnya. Al dengan lembut menyelipkan helaian-helaian rambut Naya kebelakang telinga gadis itu.
" Duduk.." Al bahkan sudah menarik kursi untuk calon ratu hatinya.
"M-makasih kak.." Naya tergagap. Sungguh ia tidak menyangka Al akan melakukan semua hal romantis seperti ini. Tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan, mungkinkah Al akan menyatakan cinta padanya?? Naya segera menggelengkan kepalanya ketika selintas pertanyaan konyol dan gila itu melintas diotaknya.
"Dia menganggapmu adik Kanaya. Astaga apa yang kamu pikirkan gadis gila". Naya benar-benar merutuki otaknya yang dengan lancang berani berpikir jika Al memiliki rasa padanya.
" Kamu nggak apa-apa Kay??". Tanya Al yang melihat Naya menggelengkan kepalanya.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan makanan yang sudah lebih dulu dipesan oleh Al. Makanan laut kesukaan Naya semua.
" Kakak beneran udah nyiapin ini semua??". Tanya Naya tak percaya. al hanya mengangguk sambil tersenyum manis..sangat manis dimata Naya.
"Makan dulu ya.." Perlakuan manis Al benar-benar membuat otak Naya semakin berpikiran jauh.
Demi menetralisir perasaan gundahnya, Naya memilih memakan makanan yang sudah terhidang didepannya itu.
"Pelan-pelan aja..kakak nggak akan minta". Al mengusap sudut bibir Naya yang terdapat saus.
" Plis jangan kaya gini kak..otak ama hati aku udah bener-bener nggak waras. Jangan bikin tambah gila.." Batin Naya berteriak.
Keduanya makan dalam diam, Naya dengan jantung yang berdebar tak jelas. Sementara Al sibuk merangkai kata untuk mengungkapkan perasaannya pada Naya.
"Huh..kenyang banget. Makasih makan malamnya ya kak.." Naya menyandarkan punggungnya dan mengelus perutnya yang terasa penuh.
"Kamu suka??". Tanya Al dijawab anggukan kepala Naya.
" Kay.."
Naya mendongak ketika Al memanggilnya begitu lembut. Tatapan mata Al yang begitu dalam membuat dirinya seolah kesulitan bernafas. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan lelaki itu? Mengapa baru ditatap saja dirinya sudah kelabakan.
Al menghela nafas panjang, mengumpulkan segala keberaniannya untuk menyatakan perasaannya pada Kanaya nya. Apapun nanti hasilnya, Al sudah menyiapkan mentalnya jika kemungkinan terburuk ia dapatkan.
Al membawa Naya berdiri hingga kini keduanya berdiri saling berhadapan. Sumpah demi apapun, jantung Naya seperti terlepas dari tempatnya.
"Aku nggak tau harus mulai dari mana.." Al kembali menghela nafas, seolah pasokan oksigen diparu-parunya cepat sekali habis.
"Aku nggak tahu gimana pastinya..dan kapan pastinya. Tapi disini.." Al menunjuk dada sebelah kirinya dengan tangannya.
"Disini..entah sejak kapan kamu menguasai seluruh sisi hatiku Kay.." Al diam sejenak, melihat reaksi apa yang ditunjukkan Naya. Dan benar saja, gadis itu terlihat terkejut.
"Maaf Kay..maaf kalau aku lancang mencintaimu. Maafkan cintaku yang tumbuh semakin lebat setiap harinya.."
__ADS_1
"Aku sudah tidak bisa lagi menahan perasaan ini sendiri Kay..bahkan jika kamu akan membenciku karena perasaan ini. Aku siap Kay..tapi ijinkan aku..ijinkan aku untuk menyatakan perasaan yang sudah membelengguku selama 6tahun ini Kay.." Dari raut wajahnya Al sangat yakin jika Naya sangat sangat terkejut dengan pengakuannya.
Al berjongkok didepan Naya, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah yang ternyata berisi sebuah cincin.
"Kanaya Laika Mahendra..maukah kau menjadi istriku? Ibu dari anak-anakku. Menghabiskan sisa umurmu bersama diriku?".
Naya melepaskan sebelah tangannya yang digenggam oleh Al. Meski sudah membayangkannya, namun mendengar langsung dari Al membuat jantungnya seolah berhenti bekerja. Al melamarnya?? Al baru saja melamarnya?? Naya seolah berada didunia fantasi. Dirinya tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya kini.
Dirinya bahagia, sangat bahagia. Entah bahagia karena apa Naya belum memahaminya. Namun ini terlalu mendadak baginya. Dirinya belum siap menjawabnya, kenapa hatinya begitu bimbang. Padahal dirinya juga merasakan perasaan asing yang selalu melingkupi hatinya ketika bersama pria yang masih bersimpuh dihadapannya ini.
Tiba-tiba sekelebat bayangan Akbar ketika melamar dirinya berputar diotaknya. Ia memundurkan langkahnya saat bayangan-bayangan dirinya dan Akbar semakin menguasai otaknya. Memori itu terus berputar tanpa bisa Naya hentikan.
" Kay.." Lirih Al yang melihat Naya berjalan menjauh. Meskipun sudah menyiapkan hatinya, namun melihat Naya menjauh membuat hatinya terasa tertusuk ribuan panah.
"Kay.." Al mencoba meraih tangan Naya. Namun gadis itu menghindar. Al tersenyum miris, seharusnya dia sadar jika sampai kapanpun dirinya tidak akan bisa menempati tempat Akbar di hati Naya.
"Maaf kak.." Naya menggelengkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca. Gadis itu berbalik dan berlari meninggalkan Al yang terpaku menatap punggung Naya semakin menjauh.
Al yang tersadar dengan keadaan segera meraih tas Naya diatas meja dan berlari keluar mengejar Naya. Beruntung kaki jenjangnya bisa membantu dirinya cepat menyusul Naya.
Al meraih lengan Naya. Nafas keduanya terangah lantaran berlari cukup jauh.
"Le-lepas kak.." Lirih Naya mencoba melepaskan lengannya dari cekalan Al.
"Maaf..maaf atas kelancangan aku Kay.." Ucap Al penuh penyesalan. Air mata yang coba Naya bendung akhirnya tumpah juga mendengar ucapan maaf Al yang sangat tulus.
"Aku janji..aku tidak akan mengulanginya Kay. Tolong..tolong jangan membenciku. Aku tidak akan sanggup.." Ucap Al mengiba membuat air mata Naya semakin deras. Betapa jahatnya ia membuat lelaki baik seperti Al jadi seperti ini.
"Aku mau pulang..tolong lepas". Lirih Naya dengan berurai air mata.
Hati Al sakit. Sangat sakit melihat Naya kembali menangis. Dan sialnya, ba jingan yang sudah membuat gadisnya menangis itu adalah dirinya sendiri. Ia benar-benar mengutuk dirinya yang tidak bisa menahan diri untuk menyatakan perasaannya pada Naya.
" Aku antar.." Ucap Al dijawab gelengan kepala Naya.
"Hanya mengantar. Aku mohon.." Al menarik tangan Naya. Membawa gadis itu ke mobilnya. Membukakan pintu dan menyuruh Naya masuk. Ia kemudian berlari memutari mobil dan duduk dibalik kemudi. Al membuka jasnya dan melonggarkan dasinya, berharap dengan demikian nafasnya akan lebih mudah. Saat ini dirinya seperti tengah dicekik hingga bernafas saja terasa sulit.
Sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan antara mereka. Al memilih diam demi menjaga perasaan Naya. Sementara Naya masih sibuk dengan pikiran dan hatinya. Apa yang sebenarnya hatinya inginkan?? Dirinya ingin Al. Tapi mengapa bayang-bayang Akbar tak pernah bisa ia enyahkan.
Tanpa Naya sadari, mobil Al sudah sampai digedung apartemen miliknya. Naya segera turun setelah Al mematikan mesin mobilnya tanpa sepatah katapun. Sementara Al hanya bisa menatap nanar punggung Naya yang semakin menjauh darinya.
"Bodoh..bodoh..bodoh!!!!". Teriak Al frustasi. Lelaki itu bahkan beberapa kali membenturkan kepalanya di stir mobil miliknya.
####****####
Naya menghela nafas panjang sebelum masuk kedalam ruangan Al. Sudah satu minggu sejak Al menyatakan cinta padanya. Sejak itu pula Naya selalu menghindar dari Al. Ia hanya berbicara sedikit dengan Al. Dan rupanya Al menyadari itu.
Hari ini Naya membulatkan tekadnya untuk mengundurkan diri dari perusahaan milik Al. Dirinya tak sanggup melihat Al setiap hari, perasaan bersalahnya karena membuat lelaki sebaik Al patah hati karena penolakannya yang diakibatkan dirinya belum mampu melupakan masa lalunya. Saat ini dirinya sudah berdiri didepan ruangan Al. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Naya mengetuk pintu ruangan Al. Setelah sang direktur menyahutinya dari dalam, Naya masuk setelah menghela nafasnya kembali.
" Maaf mengganggu pak.." Ucap Naya pelan.
"Ada apa Kay??". Tanya Al berusaha bersikap biasa. Jika boleh jujur, Al ingin merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Namun ia menahannya, tak ingin Naya semakin membencinya.
" Saya mau menyerahkan ini.." Naya mengulurkan amplop berwarna coklat yang berisi surat pengunduran dirinya.
Perlahan Al membukanya. Matanya membola membaca surat yang berisi surat pengunduran diri Naya. Ia menatap tak percaya kertas yang ia pegang dengan begitu erat hingga ujung kertasnya kusut.
"Ke-kenapa Kay??". Tanya Al menatap lekat wajah Naya yang menunduk.
" Tidak ada alasan apapun pak. S-saya hanya ingin pulang..dekat dengan keluarga saya". Jawab Naya tanpa berani mengangkat kepalanya. Ia tidak berani menatap mata Al, takut jika Al tahu dirinya berbohong.
"Apa karena ucapanku wak---".
" Bukan. Sama sekali bukan pak. Saya benar-benar hanya ingin pulang". Potong Naya cepat.
Al menghela nafas kasar. Ia tahu Kanaya nya berbohong. Terbukti selama satu minggu ini Naya selalu menghindari dirinya.
##########
double up lagi man teman..kisah ini bentar lagi mau end ya. Naya kan udah tertatih-tatih ditinggal Akbar. Kasian kalo yang sekarang sedihnya juga kelamaan..hehe
Tunggu next up nya yaaa...insyaallah dikasih lagi hari ini.
__ADS_1
Makasih semua buat dukungannya..