Imperferct Partner

Imperferct Partner
berita


__ADS_3

"Lo bisa tidur sekarang Ki. Gue ngga akan lepasin elo kalo elo ngga tidur". Tama berusaha mengatur nafasnya. Saat ini Tama masih memeluk tubuh Kirei.


Tama sadar pernikahannya dengan Kirei bukan atas dasar cinta. Tidak ingin memaksakan kehendaknya meski Kirei sudah memberinya ijin, Tama memilih melepaskan Kirei saat ini. Meskipun Kirei sudah menjadi istrinya dan dirinya berhak atas Kirei, namun Tama takut jika Kirei melakukannya karena terpaksa.


Kirei mendongak, menatap wajah Tama yang sudah dipenuhi kabut gairah. Hatinya menghangat melihat Tama ingin melepasnya malam ini. Itu artinya Tama menghargai dirinya, Tama tidak memaksakan kehendaknya.


Tama berbalik, hendak mengambil bajunya yang tercecer dilantai sampai sebuah tangan memeluknya dari belakang. Tubuh yang memang masih panas terasa semakin panas akibat pelukan Kirei.


"Aku ikhlas melakukannya mas, aku istrimu dan kamu berhak memilikinya. Apapun yang ada padaku adalah milikmu". Suara lembut Kirei bagaikan bulu perindu yang membuat tubuh Tama semakin menegang. Bahkan bahasa Kirei berubah tanpa menggunakan kata 'lo gue' lagi pada Tama.


Tama melepas tangan Kirei dan berbalik. Tanpa membuang waktu, Tama mengangkat tubuh Kirei ke ranjang. Menindihnya dan kembali memainkan jemarinya diatas wajah ayu itu.


"Jangan pernah nyesel karena kamu yang nggak mau dengerin aku". Tama menyergap bibir mungil Kirei yang tengah terbuka hendak menjawab ucapannya. Tama mel***t lembut bibir pink natural milik Kirei, menghisap bibir atas dan bawah itu bergantian. Tama tersenyum dalam ciumannya menyadari Kirei masih begitu kaku dalam membalas ciumannya. Hatinya serasa diterbangkan, menyadari bahwa dirinya adalah yang pertama bagi istrinya.


"Nafas sayang". Bisik Tama menyadari Kirei tidak bernafas dalam ciumannya. Kirei meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ini adalah yang pertama baginya, wajar dirinya tidak tahu bagaimana melakukannya dengan baik.


Tama kembali mencium bibir Kirei, tangannya sudah menyusup masuk dibalik baju tidur kurang bahan yang Kirei kenakan. Mengelus punggung hingga perut Kirei, membuat gadis itu merasa tubuhnya semakin menegang. Tangan Tama semakin naik hingga sampai pada dua aset berharga milik Kirei, merem*snya perlahan hingga membuat Kirei melenguh. Tama melepaskan ciumannya, bibirnya semakin turun menyusuri leher jenjang istrinya, menghisap dan menggigit kecil hingga meninggalkan jejak kepemilikannya disana.


******* tertahan Kirei membuat Tama semakin bersemangat. Tanpa ragu, Tama menarik lingerie yang dikenakan Kirei hingga sobek, membuat Kirei membelalakkan mata melihat aksi Tama. Tama menatap tubuh indah istrinya dengan intens, membuat Kirei merona dengan kelakuan Tama. Bahkan tangan Kirei menyilang didepan d*** yang hanya tertutupi bra yang justru membuatnya terlihat seksi.


Belum sempat Kirei protes, Tama sudah kembali membungkam mulutnya dengan ciuman memabukkan hingga membuatnya terbuai.


Kirei mendesah ketika bibir Tama mulai menyesap d***nya, sebelah tangan Tama masih meremas pelan d*** satunya. Kirei menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara yang membuat dirinya malu.


"Kamu yakin?". Tanya Tama dengan nafas memburu. Kirei menatap langsung pada mata tajam yang saat ini terlihat sayu dipenuhi kabut gairah. Perlahan Kirei menganggukan kepalanya. Tama tersenyum, kemudian kembali memagut bibir mungil yang sudah menjadi candu bagi dirinya.


Kriing..kriiing..kriing


Ponsel Kirei berdering, nama sang ibu terpampang jelas dilayar ponselnya. Kirei dan Tama saling berpandangan sesaat hingga deringan ponsel Kirei berhenti dengan sendirinya.


Keduanya mengabaikan panggilan dari Ara. Tidak lama ponsel Tama ikut berdering, kini nama sang ibu yang ternyata memanggil dirinya. Masih enggan menerimanya, Tama memilih melanjutkan acara minumnya. Hingga akhirnya ketukan pintu yang terdengar seperti gedoran membuatnya bangkit kemudian menyelimuti tubuh Kirei yang setengah te***jang.

__ADS_1


Tama mendengus kesal karena hasratnya sudah sampai diubun-ubun dan diganggu oleh orang yang tidak mereka ketahui.


"Tunggu dan jangan keluar". Tama menyambar celana pendeknya dan segera memakainya kemudian dengan kesal membuka pintu kamar hotelnya.


"Suruh bini lo pake ini terus cepet turun ke loby. Sekarang jangan banyak tanya". Saga menyodorkan paperbag berisi pakaian Kirei. Tama mengernyit, menatap sangar sahabat sablengnya itu.


"Lo ngapain?". Tanya Tama dengan alis menyatu.


"Cepetan!". Saga sedikit menaikkan suaranya hingga membuat Tama semakin bingung.


"Embah nya si Kirei kecelakaan!". Saga menegaskan alasannya mengganggu malam pertama Tama dan Kirei ketika melihat Tama tidak bergerak.


"Becanda lo kaga lucu kunyuk!!". Geram Tama sedikit berbisik.


"Lo kira hal kaya gini pantes dibuat lelucon! Cepetan!". Saga memaksa Tama menerima paperbag yang ia bawa.


"Gue tunggu di lobby! Cepet!!". Saga berlalu dengan sedikit berlari. Sementara Tama mematung, apa yang akan ia katakan pada Kirei yang sedang menunggunya didalam.


Tama membawa masuk paperbag berisi pakaian sang istri. Kini dirinya bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan keadaan pada istrinya itu.


"Siapa? Terus itu apa?". Tanya Kirei penasaran. Sementara Tama sedang berpikir cara menyampaikan berita tidak mengenakkan ini pada Kirei.


"Tama?!". Seru Kirei ketika melihat Tama justru mematung dengan tatapan lurus kedepan. Tama menoleh, menatap Kirei yang menaikkan kedua alisnya meminta jawaban Tama.


"Ganti baju dulu, kita keluar. Gue juga ganti sekarang". Tama menyerahkan kantong belanja pada Kirei kemudian bergegas mencari pakaian gantinya didalam koper sebelum Kirei kembali mengajukan pertanyaan.


"Kita mau kemana Tam?". Tanya Kirei membuat Tama berhenti sejenak mencari pakaiannya.


"Lo ganti aja dulu ya. Nanti gue jelasin dijalan". Tama yang sudah menemukan pakaiannya segera berlalu ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Dengan kening berkerut, Kirei perlahan turun dari ranjang dan memakai blouse yang dibawakan untuknya, kemudian mengenakan celananya.

__ADS_1


"Sebenernya kita mau kemana sih?". Kirei kembali bertanya saat Tama keluar dari kamar mandi. Sepertinya suaminya itu mandi, rambutnya kembali basah setelah beberapa saat lalu terlihat sudah mengering.


Tama menoleh, meski sudah memikirkan cara menyampaikan berita tentang kecelakaan oma dan opa Kirei, masih saja Tama tidak menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkannya.


"Tamia!". Pekik Kirei kesal karena Tama tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Nanti dijalan gue jelasin ya". Tama meraih tangan Kirei, menggenggamnya lembut dan membawanya keluar dari kamar pengantin mereka. Siapa yang menyangka jika malam pertama yang harusnya panas menggelora justru menjadi malam yang akan membuat mereka menangis.


Akhirnya Kirei memilih bungkam dan mengikuti langkah Tama yang membawanya menuju lift. Didalam lift keduanya saling diam, Tama memikirkan cara untuk mengatakan tentang kabar buruk opa dan oma. Sedangkan Kirei diam dengan pemikirannya tentang apa yang membuat Tama memilih keluar dan menyudahi malam pertama mereka.


Pintu lift terbuka, Tama sedikit menarik Kirei berjalan cepat hingga lobby. Alis Kirei semakin berkerut ketika melihat Saga sudah menunggu keduanya disana. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang.


Kirei menoleh, menatap Tama yang kini tengah menatap lurus pada Saga. Keduanya seolah saling berbicara lewat tatapan mata mereka. Kirei semakin bingung melihatnya, namun memilih diam tak bersuara.


Tama membukakan pintu mobil untuk Kirei, kemudian dirinya ikut masuk dan duduk disebelah sang istri. Didalam mobil rupanya bukan hanya Saga. Gery sudah lebih dulu duduk manis disana.


Hanya keheningan yang mengisi seluruh udara yang ada didalam mobil. Tama berkali-kali menghela nafas, seolah ada suatu benda yang menghalangi tenggorokannya. Saga dan Gery memilih bungkam. Melihat ekspresi wajah Kirei, keduanya yakin jika Tama belum mengatakan apapun pada istri yang baru dinikahinya beberapa jam lalu itu.


Kirei menoleh pada sang suami ketika menyadari jalanan yang dilewati mengarah pada tempat kerja nya. Sadar dengan tatapan sang istri, Tama meraih tangan Kirei. Menggenggamnya erat dan menatap wajah penuh kebingungan sang istri. Tama kembali menghela nafasnya sebelum mengatakan kenyataan yang pasti akan membuat istrinya syok.


"Hemh..'Tama menghembuskan nafasnya berat sebelum melanjutkan ucapannya'. Oma sama opa kecelakaan, seka----"


"APAAA?!!". Pekik Kirei memotong ucapan Tama yang belum selesai.


"Tenang Ki.." Tama semakin mempererat genggaman tangannya. Ia melihat mata istrinya sudah memerah, mungkin sebentar lagi akan menangis.


Dan benar saja, Kirei sudah sesenggukan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun menandakan gadis itu menangis.


"Kenapa nggak bi--bilang dari ta--di". Suara Kirei putus-putus karena diselingi isakan.


"Gue bingung mau ngomongnya". Tama membawa Kirei kedalam pelukannya. Mengelus punggung bergetar sang istri.

__ADS_1


Kirei terus menangis sepanjang sisa perjalanan, sementara Tama mencoba menenangkan Kirei. Namun tangis Kirei tak kunjung reda. Bahkan semakin terdengar menyayat hati. Tama hanya bisa mendekap tubuh ringkih Kirei dengan erat, mencoba memberi kekuatan pada istrinya itu.


Sementara Gery dan Saga, keduanya merasa prihatin atas apa yang menimpa kakek nenek Kirei. Namun dalam hati keduanya pun mencibir Tama yang seolah ingin memamerkan keberuntungannya menikah. Ia bisa memeluk Kirei dengan leluasa.


__ADS_2