
Setelah kejadian beberapa waktu lalu di kantor Tama, Inneke bukannya sadar dan bertaubat, namun malah justru semakin menggila. Ia bahkan dengan terang-terangan menyatakan permusuhan dengan Kirei. Dan ia bersumpah akan merebut Tama dari Kirei.
Seperti saat ini, dengan tidak tahu malunya, Inneke mendatangi Kirei dirumah sakit dan langsung memakinya dihadapan banyak orang.
"Dokter.." Seorang perawat masuk kedalam ruangan Juan dengan nafas tersengal. Ia bahkan masuk tanpa mengetuk pintu karena saking paniknya.
"Ada apa sus?". Tanya Juan heran melihat wajah suster itu panik.
" Dokter Kirei, dok--" Suster yang tidak Juan ketahui namanya masih terlihat panik hingga ucapannya tidak Juan mengerti.
"Mbak Kirei? Ada apa dengan mbak Kirei?". Tanya Juan penasaran.
" Perempuan..huh huh." Terlihat suster itu kesusahan mengatur nafasnya.
"Tenanglah dulu. Tarik nafas yang dalam". Ucap Juan tenang. Ia masih menunggu apa yang akan perawat itu sampaikan padanya. Sepertinya hal yang sangat penting.
Setelah berhasil mengatur nafasnya, perawat itu melanjutkan ucapannya yang terpotong karena dirinya yang terlalu panik hingga membuatnya kesulitan mengatur nafas.
" Perempuan yang minggu lalu datang lagi dok". Suster bername tag Sania itu akhirnya bisa menyampaikannya dengan baik.
"Perempuan?". Beo Juan yang belum memahami siapa wanita yang dimaksud Sania.
" Perempuan yang selalu mengganggu dokter Kirei, dok". Jelas Sania lagi.
"Mantan kekasih pak Tama". Cicit Sania kemudian, membuat Juan langsung bangkit dari tempatnya duduk.
" Tunjukkan!". Perintah Juan yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Sania.
Sania berjalan cepat hampir seperti berlari, diikuti Juan dibelakangnya yang berjalan sambil menelpon sang kakak. Membeeitahunya jika wanita yang pernah begitu ia cintai itu datang mengganggu kakak iparnya.
"Kamu yang udah rebut Aksa dari aku!!! Dasar perempuan murahan!!". Sarkas Inneke dengan suara tinggi.
Dari kejauhan saja, Juan bisa mendengar suara Inneke meninggi dan memaki kakak iparnya. Jika ayah dan ibunya sampai tahu, sudah dapat ia pastikan jika kakaknya akan berada dalam masalah besar.
" Kalau saja kamu tidak hadir, pasti Aksa akan kembali padaku!!!". Teriaknya lagi.
Juan yang sudah dekat bisa melihat jika kakak iparnya terlihat sangat tenang. Bahkan ketika tangan Inneke terus menunjuk padanya, Kirei tetap terlihat tenang. Tak sedikitpun terpancing dengan provokasi yang Inneke lakukan.
"Tidak ada istri yang merebut suaminya dari siapapun, nona". Jawab Kirei tenang. Kini keduanya menjadi bahan tontonan semua orang yang ada disekitar sana.
" Aksa tidak menginginkanmu!". Sinis Inneke, membuat Tania yang sejak tadi berusaha menahan amarahnya ikut terpancing. Padahal bukan suaminya yang diinginkan wanita dihadapannya ini. Tapi justru dirinya yang sangat marah
"Heh lo!!! Yang murahan itu elo beg*!!!! Ngemis cinta sama laki orang! Kaga waras lo? Hah!!!!". Sarkas Tania yang hendak maju untuk memberi pelajaran pada Inneke. Tapi Kirei langsung menahan tangan sahabatnya itu.
" Kamu nggak usah ikut campur!!!". Inneke semakin menjadi, ia bahkan menunjuk wajah Tania dengan telunjuknya hingga membuat Tania semakin geram.
"Aku mau kamu tinggalin Aksa!!! Jangan paksa dia untuk mencintai kamu!". Inneke seolah sudah kehilangan akal sehatnya.
" Atas dasar apa anda meminta saya meninggalkan suami saya?". Tanya Kirei tenang.
"Karena aku adalah cinta pertamanya Aksa. Aku masih mencintainya dan aku yakin dia masih mencintaiku!". Ucap Inneke tak mau kalah.
Kirei tersenyum miring, cinta membuat wanita berpendidikan sekalipun menjadi bodoh rupanya.
" Benarkah?". Tanya Kirei maaih dengan tenang.
"Kamu hanya pelarian untuknya saja!! Jadi jangan terlalu percaya diri. Bahkan sepertinya dia tidak akan pernah menyentuhmu". Inneke begitu percaya diri mengatakannya. Dia yakin jika Tama belum pernah menyentuh istrinya.
" Jadi menjauhlah dari Aksa. Dia milikku". Tukas Inneke menatap tajam Kirei.
__ADS_1
Tania yang hendak maju segera ditahan oleh Kirei. Kirei tersenyum dan menggeleng pelan.
"Menurutmu seperti itu nona?". Tanya Kirei.
" Tentu saja. Dan pasti seperti itu!". Jawab Inneke yakin membuat senyum Kirei semakin lebar. Ia menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah Inneke.
"Kenapa mbak Kirei diem aja sih. Aku gregetan sendiri". Gumam Juan yang masih setia menjadi penonton. Sesekali ia menoleh kanan kiri untuk memastikan kehadiran kakaknya.
" Aku yakin Aksa ku tidak pernah sekalipun menyentuh tubuhmu ini. Dasar murahan! Tidak diinginkan tapi masih bertahan". Inneke menatap Kirei dari kepala hingga ujung kakinya. Tingkahnya semakin menjadi hingga membuat orang yang sedang melihat perdebatan mereka menatapnya jijik.
" Jadi menurut anda, istri sah adalah sosok murahan dan mantan kekasih adalah wanita suci. Jadi kapanpun dia inginkan, dia bisa bersama pria itu lagi. Begitu?". Tanya Kirei tenang membuat Inneke sedikit gelagapan.
"Lalu anda? Begitu tingginya rasa percaya diri anda nona Inneke. Anda menghancurkan harkat dan martabat anda sendiri dengan terus mengejar cinta suami saya. Sangat disayangkan, wanita dengan pendidikan tinggi seperti anda tidak bisa menjaga harga diri anda". Kirei berucap santai sambil menggelengkan kepalanya.
" Dan maaf..sepertinya keinginan anda untuk mendengar bahwa suami saya tidak menginginkan saya tidak akan pernah anda dengar". Imbuhnya membuat Inneke semakin meradang.
"Dia pasti tidak pernah mau menyentuhmu!". Teriaknya membuat Kirei menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Kesabarannya benar-benar diuji berhadapan dengan wanita yang gila karena cintanya.
" Lalu anak siapa yang saat ini ada dirahimku? Apakah mungkin saya bisa membuatnya berada didalam sini sendiri?". Kirei mengelus perutnya yang masih rata. Ia sama sekali tidak memperdulikan semua orang yang memperhatikan mereka. Toh dirinya tidak bersalah sama sekali. Tanpa ia sadari, seorang yang baru saja datang mematung setelah mendengar ucapan Kirei.
"Tidak..tidak mungkin". Inneke menggeleng kuat. Air mata yang sejak tadi coba ia tahan akhirnya keluar juga.
" Mengertilah jika segala sesuatu tidak akan berjalan hanya sesuai keinginanmu, nona. Sadarlah jika lelaki yang masih anda inginkan sudah bersama wanita lain. Berhenti mempermalukan diri anda sendiri. Dan berhentilah menyiksa diri dengan mencintai orang yang sudah tidak mengharapkan anda". Kirei memegang bahu Inneke dan menasehatinya. Setelahnya ia berjalan meninggalkan Inneke yang mematung dengan deraian air mata.
"WANITA JA LANG!!!!!". Teriakan Inneke membuat Kirei berbalik, matanya melebar melihat Inneke berjalan cepat ke arahnya dengan sebuah balok. Entah darimana wanita gila itu mendapatkan balok kayu yang cukup besar. Jarak yang begitu dekat membuat Kirei tidak sempat menghindar. Ia melindungi kepalanya dengan tangan sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Hingga beberapa saat Kirei tidak merasakan apapun, ia hanya merasakan pelukan hangat dan mendengar teriakan-teriakan dari orang yang masih berkerumun disana.
Perlahan Kirei membuka matanya, hal yang pertama yang ia lihat adalah da da bidang yang berdiri tegap melindungi tubuhnya. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang melindunginya dari kegilaan Inneke.
" Ma--mas". Mata Kirei melebar begitu melihat jika suaminya lah yang memasang badan untuk melindungi dirinya.
" Mas nggak papa kan?". Kirei justru balik bertanya. Pasalnya tadi ia melihat Inneke sudah berada sangat dekat dengannya.
Tama menggeleng dengan senyum manis dibibirnya. Ia merangkul pundak Kirei kemudian berbalik. Kini Kirei dapat melihat Inneke yang tengah dipegangi oleh dua sahabat Tama dan juga Juan.
"Bawa dia ke kantor polisi! Bawa cctv rumah sakit untuk bukti". Ucapan Tama langsung membuat Inneke melotot tak percaya. Bukan hanya Inneke, Kirei pun sama terkejutnya dengan ucapan Tama.
" Mas.." Ucap Kirei. Tama menoleh sesaaat dan tersenyum. Namun Kirei dapat melihat kemarahan yang besar dari mata suaminya itu.
"Aksa.." Lirih Inneke.
"Aku nggak ngelakuin sesuatu yang salah. Apa salahnya jika aku hanya ingin kamu kembali". Inneke masih belum menyadari kesalahan besarnya. Hampir saja perempuan gila itu mencelakai istri dan calon anaknya yang bahkan ia baru ketahui saat Kirei memberitahu Inneke tadi.
" Nggak salah?! Lo bilang nggak salah?!!!". Bentak Tama membuat Kirei sedikit berjingkat.
"Baru kali ini mas Tama semarah ini sama perempuan". Batin Kirei menatap suami yang masih merangkul pundaknya.
" Lo hampir bikin istri gue celaka INNEKE!!! Apa yang bakal istri gue alami kalo sampe balok itu kena dia hah!!!". Teriak Tama marah.
"Bawa dia. Bikin dia menerima akibat dari perbuatannya". Tukas Tama tak ingin dibantah.
" Mas..nggak perlu sampe kaya gini". Ucap Kirei pelan membuat Tama menoleh.
"Dia harus diberi pelajaran sayang. Dia urusan mas". Ucapan Tama membuat Kirei memilih diam dan membiarkan suaminya melakukan apapun yang menurutnya benar.
" Nggak..nggak mau. Aksa aku mohon jangan. Karier aku bakal hancur. Aku mohon jangan". Pinta Inneke penuh permohonan. Tama tersenyum miring mendengar ucapan Inneke.
"Harusnya lo sadar, kalo perbuatan gila lo ini bakal bikin lo ancur". Tama tak lagi mendengarkan permintaan Inneke. Ia berjalan menggandeng mesra tangan istrinya dan membawanya keluar dari rumah sakit. Namun sebelum pergi, ia menatap adiknya dan menepuk bahunya.
__ADS_1
" Mas minta tolong sama kamu urus semuanya, Ju. Jangan biarin dia lolos sekalipun ada orang yang mau jamin dia".
"Serahin semua sama kita mas". Ucap Juan membuat Tama mengangguk. Setelah mendengar jawaban Juan, ia benar-benar membawa istrinya pergi meninggalkan rumah sakit tempat dimana istrinya bekerja.
Sesampainya dimobil, Tama membukakan pintu untuk istrinya. Tama memberikan kode pada istrinya untuk masuk kedalam mobil.
" Tapi tas aku masih didalam mas.." Ucap Kirei sebelum akhirnya menurut dan masuk kedalam mobil.
"Biar Saga atau Gery yang membawakannya". Ucap Tama lembut mengelus kepala istrinya.
Tama memutari mobilnya dan duduk dibelakang kemudi. Wajahnya masih terlihat suram meskipun saat bersitatap dengan Kirei, Tama akan tersenyum.
" Wanita gila! Hampir saja dia mencelakai istriku dan anak didalam kandungannya". Batin Tama.
"Tunggu..!!" Tama menginjak rem secara mendadak hingga membuat Kirei terhuyung dan hampir membentur jika tidak tertahan sabuk pengaman.
"MAAAASS.." Ucap Kirei sedikit kesal.
"Maaf..maaf sayang. Ada yang sakit?". Tanya Tama khawatir. Kirei menggeleng pelan dan kembali duduk dengan benar.
" Mas kenapa sih?". Tanya Kirei.
"Kamu nggak pengen ngomong apa gitu ke mas?". Tanya Tama penasaran.
" Ngomong? Ngomong apa mas?". Bukannya menjawab, Kirei justru balik bertanya pada Tama.
"Nggak ada sayang". Tama mengelus pucuk kepala istrinya, kemudian ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Tadi gue yakin kalo Kirei bilang hamil. Apa itu cuma caranya dia buat bikin Inneke mundur? Padahal aku sudah sangat berharap. Mungkin memang belum rejeki kami. Atau mungkin Allah menghukumku karena sempat membuat Kirei menderita karena kebodohanku". Tama terus berperang dengan pikirannya sendiri. Sementara Kirei yang sesekali melirik suaminya hanya tersenyum manis.
"Aku tahu kamu tadi denger mas..tapi aku mau kasih kejutan buat kamu. Aku mau kasih tau kamu secara pribadi. Hanya kita dan janin didalam perutku ini. Ini yang aku tunggu selama ini mas.." Batin Kirei menatap dalam suaminya yang sedang fokus dengan kemudinya.
Beberapa jam lalu Kirei dikejutkan dengan ucapan Tania yang mengatakan jika dirinya tengah mengandung saat ini.
Pagi tadi di rumah sakit
"Muka lo pucet banget Ki". Ucap Tania. Tanpa permisi, Tania menempelkan punggung tangannya.
" Gue cuma masuk angin doang, Tan". Kirei menyingkirkan tangan sahabatnya yang masih bertengger didahinya.
Bukan Kirei tidak menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya. Namun ia selalu menepis pikiran itu, takut jika akan kecewa nantinya. Pun dengan Tania yang sudah 1minggu belakangan sering memperhatikan Kirei yang beberapa kali ia pergoki tengah berjuang mengeluarkan isi perutnya.
"Lo dokter Ki. Lo kaga bego..lo tau tanda-tanda orang hamil ada sama lo sekarang. Kita keruangan gue sekarang. Kita pastiin". Ucap Tania to the point.
Kirei menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Tania menuju ruang prakteknya.
Jantung Kirei berdebar kencang, matanya berkaca-kaca menatap monitor yang ada disampingnya.
" Gue beneran hamil Tan". Suara Kirei terdengar bergetar. Sementara Tania menggenggam sebelah tangan sahabatnya dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menahan alat usg.
"Selamat Ki..gue ikut seneng".
" Makasih Tan". Kirei menerima selembar foto hasil usg dengan tangan bergetar.
"Ini bakal jadi kejutan besar buat mas Tama". Ucap Kirei mengelus foto yang tengah ia pegang. Sebelah perutnya mengelus perutnya yang masih rata.
Semua euphoria kebahagiaan itu lenyap seketika kala seorang perawat masuk kedalam dengan wajah panik dan nafas terengah.
Keduanya segera keluar saat perawat itu selesai menjelaskan apa yang terjadi didepan ruangan praktek Kirei.
__ADS_1