Imperferct Partner

Imperferct Partner
tersiksa


__ADS_3

Sudah tiga hari lamanya Kirei dan Tama berada dikediaman Dev. Masih ada waktu beberapa hari untuk Kirei menikmati waktunya dengan ibu dan ayahnya. Namun semua itu sepertinya hanya akan menjadi angannya saja. Karena malam ini Tama harus kembali ke kota nya untuk bekerja.


"Gue kudu balik ke Jogja Ki. Kalo elo masih mau disini gapapa". Tama mengeluarkan kopernya, memasukkan beberapa potong baju yang ia bawa.


"Kenapa? Nggak betah disini?". Tanya Kirei duduk ditepi ranjang.


Tama menghentikan kegiatannya mengemas pakaian, menoleh pada sang istri kemudian menggeleng.


"Ada kerjaan yang nggak bisa gue tunda. Lo bisa disini dulu kalo masih pengen. Nanti gue jemput minggu depan". Kirei turun, membantu sang suami mengemas pakaian dan mengeluarkan koper miliknya.


"Lo mau ngapain?". Tanya Tama heran ketika melihat Kirei mulai memasukkan pakaiannya kedalam koper.


"Gue ikut pulang". Jawab Kirei masih sibuk menata pakaiannya kedalam koper miliknya. Sementara Tama diam mematung melihat Kirei sibuk dengan koper dan pakaiannya.


"Gue istri elo. Ya kali gue disini elo disana". Ucap Kirei menjawab kebingungan Tama.


"Lo disini aja gapapa Ki. Lagian disana ntar gue tinggal terus. Gue banyak job minggu ini". Tama memegang tangan Kirei yang masih sibuk menata pakaian.


Kirei menghentikan aktivitasnya, dan balik menatap sang suami.


"Gue bisa ke rumah sakit kalo bosen". Setelah menyingkirkan tangan Tama, Kirei menyelesaikan kegiatannya menata pakaian. Sementara didepan pintu kamar Kirei, Ara dan Dev tersenyum mendengar Kirei yang tetap memilih mengikuti kemana sang suami pergi. Mereka berharap, Kirei dan Tama akan bisa saling menerima dan mencintai.


"Oke..kita pergi sekarang?". Kirei berdiri setelah menyelesaikan kegiatannya.


"Lo yakin??". Tanya Tama memastikan. Dijawab Kirei dengan anggukan mantap.


"Kita mau naik apa? Udah malem juga. Pasti kaga ada kendaraan". Tanya Kirei mengerutkan keningnya. Pasalnya jika mereka menggunakan kereta, pasti mereka sudah tertinggal kereta.


"Kita naik jet pribadi. Client yang mau pake jasa gue udah kirim jet pribadinya". Tama mengacak rambut Kirei sebelum keluar dari kamar untuk berpamitan pada kedua mertuanya.


Kirei mengikuti Tama dari belakang, otaknya sedang berpikir keras tentang se kaya apa client suaminya itu hingga memiliki jet pribadi.


"Ayah, buna.." Panggil Tama pada kedua mertuanya yang tengah duduk diruang keluarga.


Dev dan Ara menoleh. Mendapati menantunya sudah rapi, diikuti putrinya dibelakang pria tampan itu.


"Kalian akan pergi??". Tanya Ara berpura-pura tak tahu.


"Hm..Tama ada pekerjaan. Jadi harus pulang hari ini".


"Tama sudah mengatakan pada Ki, jika dia masih ingin disini maka Tama akan menjemputnya minggu depan. Tapi Ki memaksa ikut pulang bersama Tama". Tama langsung menjelaskan pada kedua mertuanya.


Ara dan Dev menoleh, menatap putri semata wayangnya yang sejak tadi diam tak bersuara.


"Iya..Ki mau ikut Tama pulang ke Jogja". Menyadari tatapan kedua orang tuanya, Kirei memberi jawaban atas keingintahuan kedua orang tuanya.


"Udah ayo buruan. Kata lo tadi udah ditungguin". Kirei melirik sang suami. Sementara sang ibu sudah melotot horor mendengar Kirei memanggil Tama dengan nama saja.


"Kirei..Buna kan sudah bilang. Biasakan memanggil suamimu dengan mas, kak atau apapun yang membuatmu nyaman tapi tetap sopan dan terlihat menghargai suamimu. Dan biasakan mulai sekarang hilangkan kebiasaan memanggil kalian dengan kata 'lo gue'. Tidak pantas nak". Ara langsung dalam mode ustadzahnya.


"Huft.."


"Jangan membantah jika kamu ingin cepat pulang Ki". Peringat Dev sedikit berbisik pada putrinya.

__ADS_1


"Kamu akan membantah ucapan buna? Buna mengatakannya untuk kebaikan kalian Ki". Ara mendekati Kirei dan mengelus lengan putrinya.


"Enggak bunaaaa..Ki cuma belum terbiasa panggil Tama pake 'mas'. Berasa aneh bun". Rengek Kirei membuat Dev tersenyum geli. Putrinya benar-benar seperti Ara saat muda.


"Belajar. Kalau kamu selalu memanggil suami kamu dengan sebutan 'lo'. Terus nanti pas kalian punya anak, anak-anak kalian akan ikut memanggil ayah ibunya 'lo gue' begitu??". Kirei yang sedang minum tersedak karena ibunya membicarakan soal anak.


"Boro-boro anak bun. Bikin juga belom pernah". Batin Kirei kesal.


"Kenapa? Apa yang salah dari omongan buna??". Tanya Ara seolah tak mengerti ada apa dengan putrinya.


"Buna cuma pengen cepet punya cucu Ki. Lihat tuh mami kamu, bentar lagi udah punya cucu". Ara meminta seorang cucu seolah meminta dibelikan mainan yang jelas ada di toko.


"Iya buna..iyaaaaa. Nanti Kirei bikinin cucu yang banyak buat buna sama ayah. Yang lucu-lucu ama gemesin". Kesal Kirei yang justru membuat Tama melotot.


"Lo kata beli boneka". Batin Tama menatap Kirei tak percaya.


"Ish..buna serius Ki". Cebik Ara mendengar jawaban Kirei yang asal-asalan.


"Sudahlah..kenapa kalian selalu berdebat". Ucap Dev menengahi pertikaian istri dan anaknya.


"Jadi kapan kalian akan berangkat?". Tanya Dev pada menantunya.


"Sekarang yah. Tama sudah dikejar sama client, dia nggak mau ditangani sama fotographer yang ada di studio Tama. Dia ingin Tama langsung yang turun tangan". Jelas Tama membuat Dev dan Ara mengangguk paham.


"Kita pamit dulu yah, bun". Tama mencium punggung tangan kedua mertuanya dengan takzim. Sementara Kirei masih bermanja dengan ayahnya hingga membuat Ara memutar bola matanya. Selalu seperti ini jika suami dan anaknya bertemu, dirinya seolah transparan tidak terlihat.


"Kenapa kamu masih manja sama ayah. Dia suami buna, kamu kalo mau manja-manjaan ya sana sama suami kamu". Sungut Ara membuat Tama tersenyum geli melihat kecemburuan ibu mertuanya terhadap putrinya sendiri.


"Buna kalo mau cemburu ya kira-kira dong. Ya kali cemburu ama anak sendiri". Ledek Kirei semakin memeluk manja ayah tersayangnya.


"Ki pamit dulu ya yah". Kirei mencium punggung tangan sang ayah, kemudian memeluknya. Selanjutnya Kirei memeluk Ara dan berpamitan.


Ara dan Dev melambaikan tangannya pada anak dan menantunya yang diantar oleh supir Dev menuju bandara.


"Semoga mereka bisa secepatnya saling mencintai". Ucap Ara dalam dekapan Dev.


"Kita doakan yang terbaik untuk mereka sayang". Dev membawa sang istri masuk kedalam rumah setelah mobil yang ditumpangi Kirei menghilang dari pandangan.


###


"Gue langsung pergi ya". Tama berpamitan pada Kirei setelah mengantar sang istri ke apartemen miliknya. Keduanya memutuskan untuk tinggal di apartemen Tama. Sementara apartemen Kirei akan dibiarkan sementara waktu.


"Kaga mandi dulu?". Tanya Kirei melihat Tama terburu-buru.


"Nanti aja. Pergi dulu". Tama hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Kirei. Namun tangannya dicekal oleh Kirei.


Tama mengangkat sebelah alisnya, menatap bingung pada sang istri yang menahan tangannya.


"Ati-ati". Kirei mencium punggung tangan Tama. Kehangatan menjalar dalam hati keduanya. Tama mengangguk dan tersenyum, mengelus pucuk kepala Kirei sesaat lalu segera berlalu meninggalkan Kirei di apartemennya seorang diri.


Saat ini Kirei masih berada diruang tamu dengan dua koper disampingnya. Bahkan ia belum mengamati sekelilingnya. Ketika matanya menyapun seluruh ruangan, ia memekik lantaran terkejut dengan kondisi apartemen yang akan ia tampati malam ini.


"Astagfirullah..allahuakbar". Kirei menepuk keningnya melihat penampakan apartemen Tama. Lebih mirip kapal hampir karam daripada apartemen.

__ADS_1


"Kaga bisa tidur gini ceritanya mah". Kirei melepaskan jaketnya, mencepol asal rambutnya hingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus.


Kirei memilih memindahkan kopernya dulu setelah mencari kamar utama di apartemen ini. Mengganti celananya dengan celana rumahan yang akan membuatnya nyaman membersihkan sarang buaya milik suaminya.


"Oke Kirei..let's go. Itung-itung olahraga". Kirei meregangkan otot tangan dan lehernya sebelum beraksi membereskan apartemen yang akan menjadi tempat tinggal untuk dirinya ke depannya.


Hampir tiga jam Kirei bergelut dengan debu dan sampah yang mengisi setiap sudut apartemen suaminya. Jam di dinding pun sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tubuh Kirei pun sudah sangat lelah, sekali lagi ia menatap seluruh hasil jerih payahnya selama hampir 3jam itu. Sudut bibirnya terangkat, merasa puas dengan hasil kerjanya sendiri.


"Tamia udah makan kali ya. Udah tengah malem juga lagian". Gumam Kirei melirik jam dinding diapartemen itu. Kirei beranjak dari ruang tamu, masuk kedalam kamar dan mengambil pakaiannya yang sudah ia tata bersebelahan dengan pakaian Tama. Kirei benar-benar merubah apartemen Tama.


"Mandi dulu seger kayanya". Kirei masuk kedalam kamar mandi, berendam dalam bathup yang sudah ia isi dengan aromatherapy yang menenangkan.


Selesai membersihkan tubuhnya, Kirei membilas tubuhnya dibawah guyuran shower. Tubuhnya sudah terasa lebih ringan, walaupun masih terasa pegal disekujur tubuhnya.


Kirei memilih kembali ke ruang tamu, menyalakan tv setelah sebelumnya membuat teh untuk ia nikmati sendiri. Ia merebahkan tubuh lelahnya diatas sofa yang lumayan besar diruang tamu itu. Hingga tanpa sadar matanya terpejam karena terlalu lelah dengan kegiatannya sebagai ART dadakan di apartemen suaminya sendiri.


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 2 dini hari ketika pintu apartemen terbuka dari luar dan menampakkan wajah lelah seorang lelaki tampan.


Alisnya mengerut mendapati lampu diruang tamunya masih menyala, pun dengan tv yang masih menyala. Tatapan matanya berhenti pada sesosok tubuh indah yang dibalut dengan kaos dan hotpants yang tengah meringkuk diatas sofa.


Perlahan Tama melangkahkan kakinya mendekati Kirei yang sudah terlelap diatas sofa. Tama berjongkok didepan Kirei, menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi wajah cantik istrinya itu.


"Lo tu cantik kalo gini, imut pula.." Tama mengelus pipi mulus istrinya yang masih nampak tenang dalam tidurnya. Bahkan kehadiran Tama tidak membuatnya terganggu.


Tama mengedarkan pandangannya disemua sudut apartemennya. Ia langsung berdiri ketika melihat apartemennya sudah sangat rapi dan wangi. Kakinya melangkah menuju dapur, membuka kulkas yang ternyata sudah berisi banyak bahan makanan serta buah-buahan.


"Ini beneran apartemen gue?". Tanya nya pada dirinya sendiri.


"Lo yang bersihin ini Ki. Pantes aja lo nyenyak banget..pasti lo cape". Tama kembali berjongkok didepan Kirei yang masih belum terbangun walau Tama sudah beberapa kali mengelus wajah cantiknya.


Tama mengangkat tubuh Kirei dan membawanya kedalam kamar, merebahkan tubuh langsing istrinya diatas ranjang king size miliknya yang sangat empuk, lalu menyelimutinya.


"Bahkan nyampe ke kasur juga lo bersihin". Sudut bibir Tama terangkat melihat segala jerih payah istrinya. Bibirnya semakin menyunggingka senyuman manis melihat baju rumahan miliknya sudah tersedia diujung ranjang, lengkap dengan dalam*nnya. Kirei benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang menyiapkan segala keperluan suaminya.


Tama bergegas masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuh kotornya. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya disamping sang istri dan sepertinya memeluk Kirei saat tidur bukan hal yang buruk.


Selesai membersihkan tubuhnya, Tama ikut masuk kedalam selimut. Merapatkan tubuhnya pada Kirei yang masih terlihat nyenyak tanpa merasa terganggu sedikitpun.


Perlahan Tama mengangkat kepala Kirei dan menyusupkan lengannya dibawah leher sang istri. Merasa tidurnya terganggu, Kirei bergerak mencari posisi paling nyaman untuknya.


Kirei menyembunyikan wajahnya didada bidang Tama dan merapatkan tubuhnya pada Tama hingga membuat Tama kesulitan menelan salivanya.


"Kalo elo kaya gini sih gue yang kesiksa namanya". Gumam Tama merasa tubuh bagian bawahnya tiba-tiba menegang.


Kirei terus bergerak mencari posisi ternyamannya, membuat Tama semakin tersiksa karena juniornya semakin meronta dibawah sana.


Tama menatap wajah tenang istrinya yang mulai berhenti bergerak, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Kirei. Ibu jarinya membelai pipi kemudian turun ke bibir pink milik istrinya itu.


Bibirnya mengecup lembut bibir mungil yang selalu ketus dan galak padanya itu. Meskipun begitu, bibir itu tetap terasa manis ketika ia rasa. Kecupan lembut itu semakin lama berubah menjadi sebuah lum***n lembut, Tama meng****p pelan bibir Kirei. Mencari kenikmatan dalam ciumannya namun tetap tidak ingin membangunkan Kirei. Kirei melenguh dalam alam bawah sadarnya merasakan ciuman lembut yang Tama berikan.


Tama segera melepaskan ciumannya ketika melihat Kirei kesulitan bernafas. Ia tidak ingin dihajar Kirei jika sampai istrinya itu bangun karena ulahnya. Tama mengusap bibir pink natural milik Kirei dan mengecup keningnya dengan lembut.


Sekuat tenaga Tama menahan hasrat yang sudah sampai diubun-ubun itu. Berkali-kali ia menghela nafas dan menghembuskannya lewat bibir untuk mengurangi ketegangannya.

__ADS_1


Ia memeluk tubuh Kirei, tubuh yang lelah akhirnya membawanya ikut terlelap dengan masih mendekap wanita yang sama sekali tidak pernah terpikir olehnya akan menjadi istrinya.


"Good night". Gumam Tama kemudian benar-benar terlelap dengan saling memeluk bersama Kirei.


__ADS_2