Imperferct Partner

Imperferct Partner
Malam indah


__ADS_3

"Aku aneh ya kak.." Tanya Naya tak percaya diri. Pasalnya sejak tadi Al terus menatap dirinya.


Al menggeleng dengan senyum merekah dibibir sensualnya. Astaga Kanaya..otaknya sudah Benar-benar terkontaminasi hal liar.


"Terus kenapa kakak dari tadi liatin aku?". Tanya Naya lagi.


" Kamu cantik Kay..cantik banget". Panas terasa menjalar diwajah Naya mendengar pujian Al. Selama ini dirinya sudah biasa mendengar pujian dari lawan jenisnya, tapi di puji oleh Al mengalirkan perasaan asing yang membuat dirinya tersipu.


"Nggak usah berlebihan kak.." Naya menjawab setenang mungkin. Meski jantungnya tak bisa diajak tenang.


"Aku serius Kay..kamu cantik banget". Al menghela nafas panjang


" Kita nggak usah jadi pergi kesana ya?". Naya langsung menatap Al dengan tatapan bingung.


"Kenapa?? Kakak malu ya bawa aku.." Cicit Naya menunduk.


"Bukan..sama sekali bukan". Al menggenggam tangan Naya dan mengelusnya lembut.


" Kakak nggak rela banyak mata laki-laki liatin kecantikan kamu Kay.." Naya mendongak, menatap Al yang juga menatap dirinya. Ah..lagi-lagi Naya dibuat salah tingkah oleh perlakuan lembut Al.


"Kakak kenapa sih.."


"Nanti jangan jauh-jauh dari kakak..mengerti??". Sudah kepalang tanggung, lagipula akan tidak sopan jika Al tidak menghadiri acara yang tuan rumahnya mengundang dirinya secara langsung.


" Hmm.."


"Jangan lepas dari tangan kakak. Ngerti??". Tegas Al lagi dijawab anggukan kepala oleh Naya.


" Kakak udah dong liatin aku nya.." Lama-lama Naya bisa pingsan jika Al terus menatap dirinya begitu intens. Jantungnya sudah seperti bermarathon sejak tadi.


"Lagian tumben sih pake supir..biasanya nyupir sendiri". Tanya Naya yang tahu kebiasaan Al yang lebih suka mengendarai mobilnya sendiri.


" Biar bisa gini.." Al mengangkat tangannya yang sejak tadi tak lepas menggenggam tangan Naya.


"Ish..dasar batu es kepanasan". Cibir Naya mengalihkan tatapannya keluar jendela mobil.


Al tersenyum tipis melihat sikap malu-malu Naya. Wajah merona nya membuat Naya terlihat semakin cantik dan menggemaskan.


 


Tak lama keduanya sampai dihotel tempat diadakannya acara pesta kolega bisnisnya. Al menghela nafas, membuang segala kekhawatirannya tentang banyak nya lelaki yang akan menatap Naya nya ketika didalam nanti.


" Siap??". Tanya Al dijawab anggukan kepala beserta senyum manis Naya.


Al menggeleng-gelengkan kepalanya hingga membuat Naya menatapnya bingung.


"Kenapa kak??". Tanya Naya khawatir.


" Didalem..kamu nggak boleh senyum kaya barusan. Bisa diabetes semua tamu nya pak Brata.. " Naya terkekeh pelan, sejak kapan batu es itu bisa menggombal seperti ini.


"Sejak kapan kakak jago gombal gini??". Tanya Naya masih dengan kekehannya.


" Sejak kenal kamu.." Bisik Al begitu dekat dengan telinga Naya, hingga Naya bisa merasakan hangat hembusan nafas Al yang membuatnya kesulitan bernafas.


"Udah siap princess???". Entah kapan Al turun, lelaki itu sudah berdiri disamping pintu Naya dan mengulurkan tangannya dengan badan sedikit membungkuk, seolah siap menyambut putri raja.


Naya menyambut uluran tangan Al dengan senang hati. Keluar dari mobil, Naya mengalungkan tangannya dilengan kekar Al. Keduanya terlihat sangat serasi, apalagi pakaian keduanya benar-benar semakin membuat keduanya seperti pasangan kekasih.


" aku beneran aneh ya kak??". Bisik Naya


"Kenapa?". Tanya Al.


" Kenapa pada liatin aku kak.." Naya semakin mengeratkan pegangannya dilengan Al. Al menatap sekelilingnya, dan benar saja..saat ini ia dan Naya menjadi pusat perhatian. Namun bukan itu yang mengganggunya. Tatapan liar para pria disana yang membuatnya merasa geram.

__ADS_1


"Kamu cantik Kay. Makanya mereka liatin kamu". Al melepaskan tangan Naya. Kemudian tangannya meraih pinggang ramping Naya dan memeluknya posesif.


Jantung Naya seakan mau copot merasakan tangan kekar itu merengkuh pinggangnya. Bahkan Al memeluknya cukup erat hingga tubuhnya dan Al menempel sempurna.


" Jangan hiraukan mereka..anggap mereka tidak ada Kay". Naya mengangguk, tubuhnya terasa kaku akibat ulah Al yang merengkuh pinggangnya begitu erat.


Al terus melangkah mendekati si empunya acara tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Naya. Baru ketika mereka sampai dihadapan pak Brata dan istrinya, Al melepaskan rengkuhannya dipinggang Naya.


"Nak Yohan..bapak kira kamu tidak akan datang". Al disambut ramah oleh pak Brata dan juga istrinya.


" Saya pasti datang pak..ini suatu kehormatan hadis di acara penting anda". Al tersenyum sopan.


"Selamat ulang tahun pernikahan anda pak..semoga tuhan selalu memberikan kebahagiaan pada anda berdua". Suara lembut Naya membuat pak Brata dan istrinya menoleh pada Naya dan tersenyum ramah.


Pandangan pak Brata beralih pada Kanaya yang berdiri disamping Al. Ia menatap keduanya bergantian kemudian tersungging senyum menggoda dibibirnya.


" Apakah dia Kanaya??". Tanya Pak Brata dijawab anggukan kepala oleh Al.


"Cantik sekali kamu..kalian sangat cocok". Ucapan Bu Brata membuat keduanya terlihat salah tingkah.


" Yohaaan..." Tak lama setelah teriakan itu, tubuh Naya terhuyung ke samping. Tiba-tiba hatinya terasa panas ketika melihat seorang gadis yang sudah memeluk Al.


"Kemana aja..lama banget kita nggak ketemu. Aku kangen.." Suara manja itu membuat Naya jengah. Siapa gadis itu? Menyebalkan sekali.


"Ya..cukup lama". Sahut Al seadanya. Ia beberapa kali melirim Naya yang kini berdiri cukup berjarak dengannya.


" Kita dansa yuk.." Wanita itu kembali membuat ulah, bahkan kini ia bergelayut manja dilengan Al.


"Siapa perempuan ini?? Kenapa menyebalkan sekali". Batin Naya kesal.


" Maaf aku nggak bisa.." Tolak Al halus.


"Jesi..jangan ganggu Yohan. Biarkan dia menikmati pesta yang papi buat ini.." Peringat pak Brata pada putrinya.


"Ayolah pi..aku cuma kangen sama Yohan". Jesi tak mau kalah.


Jesi berbalik, sesaat matanya terpaku menatap kecantikan Naya yang ia akui sangat menonjol. Apalagi senyuman itu, menambah kadar kecantikan Naya.


"Memang siapa dia?". Tanya Jesi sinis.


" Perkenalkan..saya Kanaya. Saya se----"


"Dia calon istriku, Jes.."


"Calon istri??". Beo Naya dan Jesi bersamaan.


Mata Jesi membola mendengar penuturan Al, bahkan bukan hanya Jesi, tapi juga Naya yang terkejut mendengar Al mengakuinya sebagai calon istri.


"A-apa?? Ng-nggak mungkin. Kamu pasti bohong Han". Jesi menggeleng kuat. Tak percaya dengan apa yang Al katakan.


" Untuk apa aku berbohong..dia memang calon istriku". Al menarik Naya hingga menempel kembali padanya. Ia juga melingkarkan kembali tangannya dipinggang ramping Naya yang masih diam membisu.


"Sudah lah Jes..jangan buat masalah. Kamu tidak kasian sama mami sama papi??". Bu Brata memegang lengan putrinya saat melihat putrinya hendak bersuara kembali.


" Pak..Bu, kami permisi kalau begitu.." Pamit Al pada pemilik acara.


"Nikmati pesta nya nak.." Pak Brata tersenyum tulus dijawab anggukan kepala oleh Al dan Naya.


Al membawa Naya duduk disalah satu meja dipojok ruangan. Ia tahu gadisnya itu pasti terkejut karena ulahnya yang mengakui Naya sebagai calon istrinya.


"Hey..kok ngelamun sih??".


" Hah?? Apa kak??". Tanya Naya linglung.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngelamun terus?? Hm??". Al menggenggam tangan Naya. Sungguh Naya merutuki sikap romantis Al yang selalu membuatnya kelabakan sendiri.


" Eh..ng-nggak apa-apa kak". Naya berusaha melepaskan tangannya. Namun Al menggenggam nya erat hingga Naya tak bisa melepaskannya.


"Kamu marah??". Pertanyaan Al membuat Naya segera menoleh.


" Marah kenapa??". Naya balik bertanya dengan bingung.


"Karna kakak bilang kamu calon istri kakak?".


Naya diam, tak menjawab lagi ucapan Al. Entahlah, ia bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia senang Al mengakui dirinya sebagai calon istri, tapi kenapa?? Kenapa dirinya harus senang diakui sebagai calon istri oleh lelaki itu.


" Haus??". Tanya Al yang paham jika Naya enggan membahas hal yang tadi lagi.


Naya mengangguk membuat Al tersenyum dan mengelus pucuk kepala Naya.


"Kakak ambilin dulu ya..sebentar". Al meninggalkan Naya untuk mengambilkan gadis itu minum dan camilan.


" Hai Kanaya..kita ketemu lagi". Sapaan Itu membuat Naya menolehkan kepalanya. Ia melihat lelaki yang ia kenal sebagai asisten pak Brata, Dion.


"Oh..ya. Hai". Balas Naya kaku. Wajahnya juga tak menampakkan senyuman.


" Mau berdansa??". Tanya Dion tanpa ragu mengulurkan tangannya pada Naya.


"Tidak, terimakasih. Aku tidak bisa berdansa". Tolak Naya halus.


" Aku akan mengajarkanmu.." Desak Dion membuat Naya tidak nyaman.


"Aku---"


"Dia akan berdansa denganku". Dion menoleh, tatapannya bertemu dengan mata tajam Al yang menatapnya penuh amarah.


" Oh pak Yohan..haha. Harusnya saya tahu jika Kanaya pasti datang bersama anda". Kekeh Dion terlihat menyebalkan dimata Al.


"Silahkan cari pasangan dansa yang lain. Karna Kanaya akan berdansa dengan saya". Usir Al secara halus.


" Tidak bisakah saya meminjamnya barang sebentar, hanya berdansa sebentar. Saya benar-benar tertarik pada sekretaris anda dan ingin mengenalnya lebih jauh.. Sungguh Al ingin merobek mulut lancang Dion.


"Sayangnya dia bukan hanya sekretaris saya. Dia adalah calon istri saya. Jadi simpan saja rasa tertarik anda pada calon istri saya!". Al sengaja menekankan kata calon istri untuk memperjelas bahwa Kanaya adalah miliknya, hanya miliknya.


Al dapat melihat raut wajah terkejut dari Dion. Dan Al menyukainya. Ia tidak akan membiarkan lelaki manapun melirik apalagi menyentuh Kanayanya.


" C-calon istri?". Beo Dion masih tak percaya.


"Ya..calon istri saya. Bukan begitu sayang??". Al mengelus pipi Naya yang tersentak kaget dengan belaian lembut Al. Ia reflek mengangguk karena tidak memahami situasi. Yang jelas ia tidak nyaman ada Dion disana.


" Ooh..ka-kalau begitu saya permisi pak Yohan. Mari". Dion segera berlalu dari hadapan Al yang menyeringai puas melihat Dion pergi.


"Jangan harap bisa mendekatinya ba jingan. Jangankan mendekati apalagi menyentuhnya, membayangkannya saja haram bagimu". Batin Al tersenyum puas.


" Kita dansa yuk.." Al mengulurkan tangannya pada Naya.


"Kakak tahu kan..aku nggak bisa dansa". Bisik Naya.


" Kakak yang bakal ajarin kamu".


"Kalo keinjek kakinya jangan salahin aku. Kakak yang paksa". Naya menerima uluran tangan Al. Lelaki itu membawanya ketengah ruangan pesta, dimana beberapa pasangan sudah lebih dulu berdansa disana termasuk raja dan ratu pemilik pesta ini.


Al meraih pinggang Naya agar lebih merapat padanya, ia kemudian membawa kedua tangan Naya agar mengalung dilehernya. Kemudian kedua tangan Al kembali meraih pinggang Naya hingga tubuh keduanya menempel sempurna.


" Maaf kalo keinjek.." Lirih Naya.


"Kamu injek sepanjang malam juga kakak rela.." Bisik Al begitu dekat dengan Naya. Naya merasa tubuhnya menegang merasakan tubuhnya dan Al rapat tanpa celah. Bahkanmereka bisa merasakan hembusan nafas dari masing-masingnya.

__ADS_1


Semakin lama, Naya semakin mahir berdansa. Ia menikmati moment bersama Al malam ini. Malam indah yang tak akan Naya lupakan.


Sementara Jesi dan Dion hanya bisa menatap keduanya dengan tangan terkepal kuat.


__ADS_2