
Kini Kirei benar-benar berhenti dari pekerjaannya sebagai dokter dirumah sakit. Hari-harinya ia habiskan untuk mengurus kedua putranya, dibantu oleh dua orang pengasuh. Awalnya ia mengurus kedua putranya seorang diri, namun dengan kondisi perutnya yang sudah membuncit itu, ia tak bisa lagi menjaga kedua buah hatinya seorang diri. Apalagi kini Kaivan dan Kenzo sedang aktif-aktifnya.
"Kai..jangan lari-lari nak". Peringat Kirei pada bocah lelaki berumur 2tahun yang tengah asik berlari mengejar bolanya.
Sementara sang adik kembar tengah duduk anteng dengan gambar-gambar dan pensil warna didepannya. Meski masih kecil, kedua putranya memang sudah menunjukkan sikap dan sifat yang sangat bertolak belakang.
Kaivan dengan tingkahnya yang tak mau diam, bocah itu lebih senang bertanya ini itu. Banyak bicara seperti sang ayah, sedangkan adik kembarnya, Kenzo..bocah itu lebih irit bicara. Sama seperti sang ibu ketika muda dulu.
" Ken nggak mau main bola sama Kai?". Tanya Kirei mengelus kepala bocah kecil yang sibuk dengan pensil warna nya itu.
"Ndak.." Jawabnya irit. Kirei jadi gemas sendiri dan langsung menciumi pipi gembul putranya itu.
"Kamu irit banget sih ngomongnya. Mommy jadi gemes". Kirei terus menciumi wajah putranya hingga akhirnya Kenzo tak tahan untuk tak tertawa.
" Daddy pulang". Teriakan dari pintu membuat atensi dua bocah itu beralih. Menatap penuh binar pada sang ayah yang baru saja pulang.
"Daddy!!". Teriak keduanya dan langsung berlari menyongsong sang ayah.
" Jagoan daddy lagi apa hm?". Tama menggendong kedua putranya sekaligus sambil menciumi pipi gembul keduanya.
Tepat dihadapan Kirei, Tama menurunkan kedua putranya.
"Ada yang mau hadiah??". Tanya Tama mengangkat dua buah paperbag besar yang berisi mobil-mobilan untuk keduanya.
"mauuuuu.." Seru keduanya kompak. Meski selalu irit bicara, namun Kenzo tetaplah seorang anak yang akan suka jika dibawakan hadiah.
Kedua anak itu kembali sibuk dengan dunianya sendiri. Sedangkan Tama segera mendaratkan bokongnya di sebelah sang istri.
"Capek ya?". Tanya Tama dijawab gelengan kepala oleh Kirei.
" Hai baby..daddy pulang". Tama mencium perut buncit Kirei dan kemudian mengelusnya, hingga bayi didalam kandungan Kirei memberi respon dengan menendang perut sang mommy.
"Dia gerak sayang". Ucap Tama kegirangan.
Dua bocah yang tadinya sibuk dengan mobil mainan yang masih belum berhasil dibuka beralih menatap Tama yang sedang mengelus perutnya.
Keduanya mendekat, seakan ingin tahu apa yang kedua orang tuanya lakukan. Sementara Kirei dan Tama menatap gemas dua bocah gembul yang berjalan mendekati mereka.
" Kenapa sayang? Nggak jadi main mobil?". Tanya Kirei lembut membuat keduanya menggeleng.
"Adek.." Telunjuk mungil milik Kai dan Ken menunjuk perut buncit sang mommy.
"Kai sama Ken mau pegang adek?". Tanya Kirei dijawab anggukan kepala keduanya.
" Sini..duduk sebelah mommy". Kirei menepuk sisi kiri dan kanan tempatnya duduk.
"Daddy geser dong. Nggak mau kalah banget ama anaknya". Ucap Kirei yang melihat Tama sengaja tak bergeser, hendak menggoda putranya.
" Daddy kan udah ngalah terus". Sungut Tama, namun tak urung ia menggeser tubuhnya.
"Adek?". Tanya Ken memegang perut besar mommynya.
" Iya..adeknya Kai sama Ken ada disini. Nanti kakak Kai sama kakak Ken harus bisa jaga adek ya". Kirei mengelus kepala dua putranya yang tengah sibuk menempelkan telinganya diperut Kirei.
Kedua putranya itu terlihat antusias dengan perut besar sang mommy yang terus memberi respon dengan gerakan-gerakan yang membuat dua bocah tampan itu semakin kegirangan.
"Seneng banget sih yang mau jadi kakak". Ucap Tama gemas melihat kelakuan dua putranya.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalaaaaaam". Teriakan dari luar membuat dua bocah yang masih menempelkan telinga nya diperut sang mommy langsung mengangkat kepalanya.
"Oty.." Teriak keduanya dan langsung berlari menuju pintu.
Sementara diluar pintu, lelaki yang berdiri disamping wanita yang baru saja berteriak hanya bisa menarik nafas panjang. Pasrah dengan kebiasaan aneh istrinya.
"Assalamualaikum dek. Kamu ini kebiasaan banget sih kalo ngucap salam kebalik". Ucap sang suami yang ditanggapi cengiran oleh ibu hamil disampingnya.
" Lupa mas". Sahutnya dengan cengiran khas yang menampakkan gigi gingsulnya.
Tak berselang lama, pintu terbuka. Menampakkan Tama yang menggendong Kai, sementara Ken berada disampingnya.
"Holla keponakan onty Nisaaaa.." Teriak Annisa membuat kedua bocah itu tersenyum.
"Ish..masyaallah..senyumnya ponakan onty emang bikin klepek-klepek". Ucapnya lagi sambil mencium pipi Ken yang tertawa karena geli.
" Mbak Kirei mana mas?". Tanya Nisa yang langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari pemilik rumah.
"Istrimu Ju. Kebiasaan banget. Bisa-bisanya kamu jatuh cinta ama yang model begitu". Ucap Tama menggelengkan kepala melihat Nisa yang menggandeng dua keponakannya.
" Mbak Kireiii..." Teriak Annisa membuat Kirei menggeleng.
"Kamu teriak-teriak mulu, Nis. Itu anak kamu nggak kaget tiap hari denger kamu teriak-teriak gitu". Ucap Kirei membuat Annisa mencebik.
" Biar kebal kalo denger orang ngomong kenceng mbak. Biar jangan pendiem kaya bapaknya juga. Berasa ngomong ama tembok". Bisik Nisa membuat Kirei terkekeh.
Kehamilan keduanya hanya selisih beberapa minggu saja. 1tahun lalu, Juan meminang Annisa dan menjadikannya istri. Keduanya mulai dekat lantaran Juan yang sering kerumah Nisa untuk mengambil sup kesukaan kakak iparnya, ditambah bumbu-bumbu paksaan dari sang ibu, Riana. Hingga tanpa mereka sadari, mereka menjadi semakin dekat.
"Kapan perkiraan lahirnya?". Tanya Kirei lagi. Matanya menatap kedua putranya yang sedang memakan bolu yang dibawakan Annisa, ditemani oleh dua pengasuhnya.
" Bulan depan mbak. Eh 1minggu lagi kan udah bulan depan ya. Hahaha. Nanti anak kita bakal jadi seumuran dong ya mbak". Ucap Annisa heboh.
" Kamu nggak capek? Tadi nafas enggak pas ngomong? ". Goda Kirei membuat bibir mungil Annisa mengerucut.
" Ya napas mbak. Mati dong aku kalo nggak napas". Jawab Annisa.
"Kamu ini, hpl tinggal 1minggu masih jalan-jalan. Kalo brojol dijalan gimana?". Ucap Kirei khawatir pada istri adik iparnya itu.
" Kan ada mas Juan mbak. Hehehe". Cengir Annisa
"Anak-anaknya mbak kok ganteng banget sih. Gemes aku kalo liat mereka. Apalagi si kulkas". Gemas Annisa menatap Kai dan Ken yang sibuk dengan bolu nya hingga bibirnya cemong.
" Kulkas?". Beo Kirei membuat Annisa menoleh dan mengangguk.
"Iya kulkas. Noh..anak mbak Kirei yang onoh kan kaya kulkas. Dingin bener". Ucap Annisa menatap Ken.
Kirei tergelak mendengar panggilan baru yang Annisa sematkan pada putranya.
" Ada-ada aja sih kamu ini. Mana ada kulkas ganteng nya kaya gitu, Nis". Kirei kembali menatap kedua putranya. Memang benar jika kedua putranya sangat berbeda satu sama lainnya. Namun ia menyayangi keduanya sama besar nya.
"Bisa saling melengkapi banget tau anak-anak mbak Kirei tu. Yang satu adeeeem banget kaya kulkas, yang satu udah kaya api unggun. Angeeet banget". Saking gemasnya, Annisa sampai memeluk erat bantal sofa yang ada dibelakangnya. Kirei hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat wajah Annisa yang terlihat antusias membicarakan kedua putranya.
Namun senyum itu berubah menjadi wajah khawatir saat melihat Annisa meringis kesakitan dengan keringat yang mulai membasahi wajah cantik itu.
" Sa-kit mba-k". Ucap Annisa terbata, tangannya memegangi perutnya.
"Kamu udah mau lahiran kayanya". Pekik Kirei ikut panik.
__ADS_1
" JUAAAAN!! MAS TAMAAA!!!". Teriakan Kirei membuat Tama dan Juan terkejut. Bukan hanya mereka, kedua putranya pun ikut berjingkat karena kaget mendengar teriakan mommy nya.
Saking terkejutnya, dua anak itu menangis karena mengira mommy mereka marah pada keduanya. Kedua pengasuh yang Kirei percaya untuk membantu mengurus putranya langsung bergerak cepat menenangkan anak majikannya.
"Ada apa sayang?". Tanya Tama panik.
" Bukan aku..Annisa. Annisa mau lahiran". Ucapnya menunjuk Annisa yang tengah meringis menahan sakit.
"Udah". Ucap Annisa membuat Juan dan Kirei menoleh.
" Apanya yang udah?". Tanya Tama bingung.
"Sakitnya". Jawab Annisa dan mengambil air minum didepannya.
" Kamu bikin mbak panik". Ucap Kirei kembali duduk disebelah Annisa.
"Tadi sakit banget mbak. Sekarang udah enggak". Annisa bahkan sudah ngemil segala macam makanan yang ada dimeja.
" Kamu beneran gapapa dek?". Tanya Juan khawatir.
"Beneran mas". Ucap Annisa menenangkan. Ia mengelus lengan suaminya. Namun sedetik kemudian, ia meremat kuat lengan suaminya hingga kuku panjangnya menancap sempurna dilengan kekar itu, hingga mengakibatkan keduanya berteriak secara bersamaan.
" Aaaaaaaa". Teriak keduanya membuat Kirei dan Tama kebingungan.
"Sakit dek". Rintih Juan menatap ngeri lengannya yang sedang diremas oleh Annisa.
" Bikinnya barengan Ju. Sakitnya juga harus bareng". Ucap Kirei membuat Tama terkekeh.
"Kok gini sih mbak. Sakitnya nge prank". Ucap Annisa terengah.
" Bawa kerumah sakit gih istrimu. Bahaya kalo lahiran disini". Saran Kirei pada calon ayah itu.
"Mas temenin Juan deh. Nanti aku telepon ibu sama ayah". Kini Kirei beralih menatap suaminya.
" Tapi udah nggak sakit mbak". Sahut Annisa.
"Daripada nanti sakit lagi, Nisa. Udah sana kerumah sakit". Perintah Kirei tak ingin dibantah.
" Ayo mas..kita diusir". Jiwa drama Annisa kembali muncul membuat Kirei menggeleng.
"Ini kok semua jadi orang sableng sih". Ucap Kirei membuat semua orang tergelak.
Tama menemani Juan dan Annisa kerumah sakit. Ia merelakan dirinya menjadi supir pribadi sang adik khusus hari ini. Juan dan Annisa duduk dibangku belakang setelah tadi Juan sempat duduk didepan. Namun karena Annisa mengalami kontraksi lagi, Tama meminta Juan pindah ke bangku belakang dan menemani Annisa.
Tama berkali-kali menghela nafas panjang setiap mendengar teriakan dari sepasang suami istri yang duduk dibangku belakang itu.
" Astagfirullah dek..jangan cakar-cakar terus dong. Perih ini mas sebadan-badan". Ucap Juan membuat Tama hampir tertawa ketika mendengarnya.
"Ini tu sakit mas!!" Bentak Annisa yang kembali merasakan kontraksi.
"Sabar Ju..sabar". Ucap Tama
" Nggak usah ngeledek mas. Nanti mbak Kirei lahiran baru tau rasanya". Sengit Juan yang kesal karena digoda oleh Tama.
"Cepetan dong mas!! Mas Tama mau ya kalo ponakannya lahir dijalan!". Annisa kini beralih memarahi Tama yang semakin melebarkan senyumnya. Geli melihat ibu hamil yang terus marah-marah karena sakitnya kontraksi.
Sampai dirumah sakit, Tama melihat kedua orang tuanya sudah menunggu didepan ruang bersalin yang memang sudah disiapkan oleh Juan.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah kedatangannya, istri dan kedua anaknya juga menyusul kesana. Sementara dari dalam ruang bersalin, Tama masih mendengar teriakan Annisa dan juga Juan. Hingga setelah satu jam menunggu, suara tangisan bayi membuat semua orang bernafas lega dan mengucap syukur.