
Kirei masih duduk dengan tenang, tak sedikitpun menunjukkan tanda kemarahan atau keinginan untuk membalas semua ucapan Inneke.
"Sumpah sayang..mas nggak sama dia". Tama benar-benar dibuat kalang kabut dengan tingkah Inneke. Ditambah Kirei yang sejak tadi bungkam.
" Sudah lah Sa. Kita saling cinta. Dia harus tahu". Inneke terus memprovokasi untuk membuat hubungan Kirei dan Tama hancur.
"Tutup mulut lo!!!". Bentak Tama.
" Tau lu! Kaga usah ngarang ya lo!!!". Sentak Saga yang ikut terbawa emosi melihat permainan gila teman sma nya itu.
"Lo gila!". Imbuh Gery yang sudah tidak bisa berkata hal lain
" Kalian ini kenapa? Aku dan Aksa saling mencintai. Kalian tau itu dari dulu kan?". Sejak tadi Inneke sudah menahan tangis mendapat bentakan dan umpatan dari Tama dan kedua sahabatnya.
"Apa mau lo?". Akhirnya suara yang sejak tadi tak terdengar bersuara. Membuat Inneke tersenyum puas
" Kamu harus lepasin Aksa. Kamu tahu dia nggak cinta sama kamu. Dia cinta sama aku". Ucap Inneke penuh percaya diri.
"Ambil aja". Jawaban Kirei membuat Tama melotot tak percaya. Semudah itu istrinya memberikan dirinya pada wanita lain setelah segala usaha yang ia lakukan untuk mendapatkan maaf dari istrinya itu.
" Ki.." Lirih Tama. Terlihat jelas kekecewaan dari pancaran matanya. Sementara Inneke tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu dengar Sa. Kita bisa bareng lagi kaya dulu". Inneke terlihat sumringah mendengar jawaban Kirei. Harapannya hidup bersama lelaki yang masih sangat ia cintai akan segera terwujud.
" Mas nggak mau sayang. Bahkan kalopun mas harus pisah sama kamu, mas nggak akan pernah sama perempuan sinting ini!". Ucap Tama dingin.
Kirei tersenyum tipis melihat senyum kepuasan Inneke, pun dengan wajah frustasi Tama. Apalagi wajah tegang duo sableng yang selalu mengajaknya ribut jika bertemu. Semua itu benar-benar menghibur Kirei.
"Aku akan mengambil Aksa". Inneke bangkit.
" Gue belom kelar". Inneke mematung mendengar Kirei kembali bersuara.
"Apa maksudmu?". Tanya Inneke tak senang.
"Gue bilang ambil..."
"Ya, tentu saja aku akan mengambilnya darimu". Sahut Inneke cepat.
"Ambil kalo lo bisa. Sayangnya lo nggak akan pernah bisa ambil apa yang udah jadi milik gue". Kirei berdiri, berhadapan dengan Inneke dan menghadiahinya dengan tatapan yang sangat tajam.
Sementara Tama mengerjapkan matanya beberapa kali. Otaknya masih mencerna semua kalimat yang Kirei ucapkan.
" Apa maksudmu ja lang!!" Teriak Inneke tak terima.
"Jaga ucapan lo!!! Jangan pernah kurangajar ama istri gue!!". Tama berdiri didepan Kirei, menunjuk wajah Inneke dengan telunjuknya. Wajahnya mengeras mendengar orang berani menghina istrinya.
Kirei mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah video yang membuat Inneke kesulitan hanya untuk sekedar menelan ludahnya.
Bagaimana tidak, rupanya Kirei memasang kamera pengawas sendiri diruangan Tama. Entah kapan wanita itu memasangnya. Yang pasti, kini Kirei tahu bahwa Inneke lah yang masih belum melepaskan suaminya dan terus mengganggunya. Terlepas dari Tama memang sudah sepenuhnya mencintainya atau belum. Kirei paling tidak bisa jika apa yang ia miliki dan berharga untuknya di usik orang lain.
" Jadi siapa yang ja lang, nona Inneke?". Kirei maju, berdiri disamping sang suami.
__ADS_1
"Gue? Gue yang lo sebut ja lang? Gue yang istri sah nya yang ja lang? Terus lo? Lo yang ngejar laki gue apa? Biangnya ja lang?". Sindir Kirei dengan senyum mengejek.
" Kamu udah rebut Aksa dari aku!". Teriak Inneke.
"Dia Tama!! Bukan Aksa! Inget itu!!!". Bentak Kirei membuat semua orang terdiam.
"Aksa lo udah nggak ada! Dan dia Tama! Suami gue". Kirei menekankan kata suami untuk menjelaskan pada gadis dihadapannya jika Tama adalah miliknya.
" Tapi Aksa nggak cinta sama kamu!". Inneke masih tidak mau mengalah dan terus mendebat Kirei.
"Berhenti panggil suami gue dengan nama Aksa! Gue diem selama ini bukan karena gue nggak bisa bikin lo ancur ya. Jangan pernah usik gue. Atau gue bisa jadi manusia paling jahat yang pernah lo temuin!". Setelahnya Kirei menarik Tama keluar dari ruang kerjanya. Meninggalkan Inneke yang masih berteriak tak terima dengan segala yang ia alami.
Saga dan Gery hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Inneke yang sudah mirip seperti orang gila karena terus berteriak.
" Cari rumah sakit Ga". Ucap Gery menepuk pundak Saga.
"Sapa yang sakit? Lo sakit?". Tanya Saga bingung.
" Bukan gue..noh". Gery menunjuk Inneke dengan dagunya.
"Tu orang sehat Ger. Kaga sakit lah kaya gitu. Kaga liat lo, tu orang masih bisa teriak-teriak". Sanggah Saga.
"tu orang sakit... Sakit jiwa". Gery mengakhiri ucapannya dengan tawa kencang, diikuti Saga yang juga tertawa.
" Dah lah..seret keluar". Gery menepuk pundak Saga dan memberi kode untuk menyeret Inneke keluar. Setelah ini, mereka tidak akan membiarkan Inneke menginjakkan kakinya di kantor mereka lagi.
"Kalian mau apa? Lepasin aku!!". Teriak Inneke ketika Saga dan Gery memegang kedua lengannya dan menyeretnya keluar.
"Tunggu!!! Baju aku". Inneke berusaha menahan tubuhnya agar tidak terbawa, namun apa daya. Ia tidak bisa menghentikan keduanya membawa dirinya keluar dari kantor lelaki yang ternyata memang tak lagi mencintainya.
" Heleh..urat malu lo kan udah putus dari kapan taun! Jadi nggak masalah keluar pake baju kurang bahan gini!". Sengit Saga.
"Perhatiin ni orang baik-baik ya pak. Kalo liat ini cewe mau masuk, langsung usir". Ucap Saga pada dua orang security yang tengah berjaga.
" Kasih tau temen lo yang lain. Kalo perlu lo potoin, terus lo cetak. Tempel dah tu di pintu masuk, biar kaga lupa". Inneke melotot tak terima. Memang dianggap apa dirinya hingga sampai seperti penjahat.
"Kalian keterlaluan!! Kalian temen aku. Harusnya kalian belain aku dan bantuin aku". Mata Inneke sudah berkaca-kaca. Namun Gery dan Saga tak sedikitpun terlihat peduli.
" Kita mah bantuin ama belain yang bener. Nah lo orang sinting!". Gery mendorong tubuh Inneke keluar dari studio foto itu.
Kedua security yang sudah diberi arahan segera menutup pintu dan menghalangi Inneke yang sepertinya masih belum terima diusir oleh kedua teman sekolah nya itu. Apalagi pakaian yang ia kenakan sungguh tidak pantas untuk ia pakai diluar ruangan.
Sementara dilain tempat, Tama sedang mengejar Kirei yang berjalan meninggalkan dirinya. Kirei memutuskan pulang ke apartemennya setelah tadi ia menghubungi Juan dan mengatakan jika ia tidak akan ke rumah sakit hari ini.
"Sayang..tungguin mas". Teriak Tama. Ia baru saja memarkirkan mobil kesayangannya.
" Ki.." Teriak Tama lagi. Namun Kirei mengacuhkan dirinya.
"Tadi bilang nggak akan biarin orang ngambil apa yang udah jadi miliknya dia. Sekarang gue dikacangin. Serasa makhluk tak kasat mata gue". Gerutu Tama yang masih berjalan cepat mengejar Kirei.
Kirei segera masuk kedalam lift dan menutupnya sebelum Tama ikut masuk kedalam lift.
__ADS_1
" Nih mulut!! Kenapa tadi pake bilang kaya gitu sih. Itu playboy sableng pasti kepedean!". Kirei memukul pelan bibirnya beberapa kali.
Bukan ia marah pada Tama. Namun ia merasa malu karena seolah terlihat terlalu mencintai Tama dan mengatakan jika Tama adalah miliknya. Padahal memang seperti itu kenyataannya. Lantas kenapa harus malu? Entahlah..suka-suka mbak Kirei aja we lah.
Keluar dari lift, ia bergegas berjalan menuju unit apartemen yang ia tinggali bersama Tama. Segera menekan tombol kode pintu, Kirei masuk dengan terburu-buru. Terlalu malu jika harus bertatap muka dengan Tama.
Baru saja ia menutup pintu apartemen. Ia dikejutkan dengan tangan kekar yang tiba-tiba melingkar diperutnya. Hampir saja ia membanting orang yang memeluknya andai saja orang itu tidak segera bersuara.
"Mas kangen sama kamu, Ki". Nafas hangat Tama menerpa leher jenjang Kirei hingga membuat Kirei meremang.
" Kamu bikin mas siang-siang olahraga naik tangga". Tama semakin mengeratkan pelukannya diperut sang istri. Rasanya sudah sangat lama ia tidak memeluk dan menghirup aroma wangi tubuh istrinya itu.
"Kamu nggak kangen sama mas? Hm?". Tama sudah menciumi leher Kirei. Setengah mati Kirei menahan diri agar tidak terbuai dengan sentuhan lembut suaminya. Bahkan ia menggigit bibir dalamnya agar tidak mengeluarkan suara yang memalukan. Jika boleh jujur, Kirei pun sama merindukan setiap sentuhan lembut Tama.
" Lepas ma--s". Ucap Kirei pelan. Ia berusaha melepaskan tangan Tama yang masih membelit perut ratanya.
"Kenapa hm?". Suara Tama sudah terdengar serak menahan hasrat. Bahkan sebelah tangannya sudah mulai mengelus perut rata Kirei.
" Mas--" Ucap Kirei lemah, sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak terhanyut dalam permainan Tama.
Tama membalikkan tubuh Kirei hingga kini keduanya berhadapan. Tangannya mulai mengelus wajah ayu istrinya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memeluk pinggang ramping Kirei agar tidak kabur.
Kirei dapat merasakan benda keras yang menekan inti tubuhnya dibawah sana.
"Kamu tau Ki..mas nggak pernah nyangka bakal secinta ini sama kamu. Bahkan mas nggak pernah bayangin bakal sesakit dan segilabitu jauh dari perempuan galak kaya kamu". Tama menempelkan dahinya dengan Kirei sambil mengelus sayang pipi mulus istrinya. Kirei memejamkan matanya, meresapi segala yang disampaikan Tama.
" Mas mohon jangan tinggalin mas lagi". Baru saja Kirei membuka mulutnya untuk menjawab, Tama sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman lembut hingga membuat Kirei pasrah dan ikut menikmati perlakuan lembut yang Tama berikan padanya.
Ciuman yang awalnya lembut itu semakin lama semakin dalam dan menuntut. Tangan nakal Tama sudah bergerilya kesetiap perbukitan. Memberinya pijatan lembut yang membuat pemiliknya men de sah merasakan kenikmatan.
"Ma--s". Suara Kirei seperti bulu perindu bagi Tama. Sudah hampir 1bulan ia tidak mendengar suara indah itu.
Leher dan da da Kirei sudah penuh dengan stempel kepemilikan dari Tama yang saat ini tengah asik meminum su su dari sumbernya. Membuat Kirei tidak bisa lagi menahan de sahannya.
Berkali-kali Saga dan Gery mengetuk dan menekan bel apartemen Tama. Namun tak ada tanda-tanda ada manusia hidup didalamnya.
" Kampret emang tu makhluk satu. Tadi kudu ketemu kameranya. Giliran dianter kaga ada orang nya". Gerutu Gery menendang pintu apartemen dengan kesal.
"Mobilnya ada Ger. Ini orang kaga ada akhlak pasti lagi ***-***". Sungut Saga ikut kesal. Pasalnya ia dan Gery sudah berdiri didepan pintu sejak setengah jam lalu.
" Hooh. Tu makhluk duaan emang minim akhlaknya. Kaga inget pas ributnya. Kaga bisa baikan dikit langsung iya-iya". Timpal Gery. Keduanya memutuskan untuk pergi, ya kali suruh nunggu orang lagi ngadon calon adek.
Sementara diluar apartemen ada Saga dan Gery yang panas karena memikirkan kelakuan Tama dan Kirei. Didalam kamar, Tama dan Kirei tengah kepanasan karena acara smackdown mereka setelah sekian purnama tak melakukannya.
"Udah mas.." Keluh Kirei saat merasakan tangan Tama sudah mulai menjelajahi tubuhnya. Padahal sudah beberapa kali mereka melakukannya.
"Sekali lagi sayang". Bisik Tama membuat Kirei mencebik.
" Dari tadi juga sekali lagi. Tapi udah berkali-kali. Capek mas.." Rengek Kirei. Badannya sudah terasa remuk bermain dengan berbagai gaya sesuai keinginan Tama.
"Yaudah..mas yang kerja. Kamu mah tinggal bilang terus mas..terus, kaya kang parkir aja sayang". Tama langsung mengungkung tubuh Kirei dan kembali membawanya mendaki surga dunia yang membuat keduanya lupa waktu.
__ADS_1
Meskipun lelah, Kirei akhirnya pasrah dan ikut menikmati permainan Tama yang selalu bisa membuatnya men de sah keenakan.