
"Kirei..kamu kenapa sayang?". Tanya Riana panik melihat menantunya berada dalam gendongan putranya. Pun dengan Akmal yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya melihat menantu kesayangannya tak berdaya dalam dekapan putra sulungnya.
"Kirei.." Tama kebingungan memberi penjelasan pada kedua orang tuanya yang nampak khawatir pada istrinya itu.
"Tadi jatoh ditoilet tan..ini mau dibawa pulang ama Tama". Melihat Tama kesulitan menjawab pertanyaan ibundanya, Saga berinisiatif membantu menjawabnya.
"Bagaimana bisa??? Kenapa kamu membiarkan istrimu pergi sendiri kesana hah?". Omel Riana yang tidak tega melihat Kirei.
"Aku..aku gapapa bu. A--ku baik-baik aja. Aku cu-cuma mau pulang sama ma-s Tama". Kirei menjawab dengan menahan hawa panas yang mulai menjalar diseluruh aliran darahnya. Entah apa yang disuntikkan lelaki s*alan itu padanya hingga tubuhnya bereaksi seperti ini.
"Kamu serius sayang? Kamu baik-baik saja?? Apakah ibu perlu ikut denganmu?". Riana masih enggan melepaskan menantu dan anaknya pergi dari sana. Perasaan sayangnya pada Kirei membuatnya khawatir berlebihan dengan kondisi menantunya.
"Ti--tidak perlu bu. A-ku baik-baik sa--ja".
"Sudahlah bu..Kirei butuh istirahat saat ini. Biarkan kami pulang. Tama akan mengabari kondisi Kirei pada ibu dan ayah. Apa ibu tidak mempercayai Tama?". Melihat Kirei yang semakin gelisah dalam gendongannya, Tama meyakinkan sang ibu untuk bisa segera melarikan diri dari tempat itu.
"Baiklah..segera kabari ibu setelah kalian sampai diapartemen". Riana mengelus rambut Kirei penuh kasih sayang.
Tama segera membawa Kirei keluar, sebelum benar-benar pergi dari sana. Tama menyempatkan diri melirik sepupunya yang ternyata sudah kembali keatas pelaminan. Tatapan keduanya bertemu, sama-sama tajam dan penuh kebencian.
"Tam..panas". Lirih Kirei yang mulai gusar dalam duduknya. Saat ini Kirei duduk disamping Tama dibangku belakang, sedangkan Saga berada dibelakang kemudi dengan Gery yang duduk disbeelahnya.
"Panas.." Kirei yang hendak membuka bajunya segera ditahan oleh Tama.
"Waah..breng sek si Daniel. Ni bocah dikasih obat per*ngsa** kayanya Tam". Gery melirik Kirei yang terus gusar. Antara sadar dan tidak Kirei terus bergerak tak menentu. Gery yakin jika Daniel sudah memberikan istri sahabatnya itu obat per*ngsa**.
"B*jing**!!". Umpat Tama sambil terus menahan tangan Kirei yang masih berusaha melepas pakaiannya.
"Cepetan kampret! Lo sengaja pen liat bini gue telanj***!!". Bentak Tama gusar yang membuat Saga langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
Tama kembali menggendong tubuh Kirei yang bergerak tak menentu. Ia meminta Saga dan Gery untuk mencari obat untuk mengurangi efek dari obat yang diberikan Daniel pada Kirei.
"Serahin ke kita. Lo urus bini lo aja". Ucap Gery kemudian berlalu dari hadapan Tama.
Tama segera membawa Kirei kedalam unit apartemennya dan merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang. Saat ini Kirei kembali tertidur setelah sepanjang perjalanan terus berusaha membuang semua kain yang menempel pada tubuhnya.
"Apa yang udah dia lakuin ke elo Ki". Tama duduk ditepi ranjang, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah ayunya.
Tangan Tama terkepal kuat, kali ini ia tidak akan memaafkan Daniel lagi. Tidak ada toleransi lagi bagi lelaki breng sek itu.
Tama memilih menghirup udara segar dibalkon kamarnya. Dadanya mendadak sesak membayangkan Daniel sempat mencumb* bibir istrinya. Berkali-kali ia menyugar rambutnya kemudian meremasnya kuat.
"B* jingan lo Dan. Kali ini lo harus dikasih pelajaran!". Tekad Tama sudah bulat. Kali ini ia harus benar-benar memberi peringatan tegas pada sepupu gilanya itu.
Suara benda terjatuh membuat Tama segera masuk. Ia mengedarkan pandangannya keatas ranjang dimana tadi ia merebahkan tubuh Kirei. Kosong, tak berpenghuni. Tama kembali mengedarkan pandangannya menyapu seluruh isi apartemennya. Terlihat Kirei berjalan tertatih menuju kamar mandi. Melihat istrinya limbung, Tama segera mendekap tubuh Kirei yang langsung merasa disiram dengan air dingin ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Tama.
"Tam.." Bisik Kirei membelai d*** bidang suaminya yang nampak bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
"Badan gue panas banget Tam.." Kembali Kirei berucap dengan nada lembut yang terdengar serak menahan hasr**.
"Lo lagi nggak baik-baik aja Ki. B* jingan itu ngasih obat perang**** ke elo". Tama membantu Kirei menegakkan tubuhnya.
Kirei bukan gadis bodoh. Ia tahu tubuhnya sulit ia kendalikan karena pengaruh obat. Pers*tan dengan rasa malu. Saat ini Kirei benar-benar membutuhkan bantuan Tama.
"Tolong gue Tam". Pinta Kirei dengan mata sayu penuh kabut ga***h membuat Tama semakin dilanda kebimbangan. Bukan tak ingin menyentuh istrinya, namun kondisi Kirei saat ini tidak sepenuhnya sadar. Tama takut Kirei akan menyesal saat nanti dirinya sudah mampu menguasai tubuh dan pikirannya.
"Lo butuh didinginin Ki. Saga sama Gery lagi usaha buat nyari obat yang bisa ngurangin efek obat yang udah dikasih Daniel". Dengan berat hati Tama menolak secara halus keinginan Kirei.
Ketika Tama hendak mendekat, Kirei mengangkat tangannya. Meminta Tama berhenti ditempatnya saat ini. Matanya memerah, antara kecewa dan hasr*tnya sudah sampai diubun-ubun.
"Gue bisa sendiri". Dengan berpegang pada tembok, Kirei berjalan memasuki kamar mandi dengan tertatih. Hawa panas tubuhnya semakin membuatnya gila. Ia segera melepas pakaian dan melemparkannya hingga hanya menyisakan d******nya saja. Ia berdiri dibawah shower, menengadahkan wajahnya dan mengguyur tubuhnya dibawah air dingin, berharap dengan begitu panas ditubuhnya segera lenyap.
Sementara Tama yang menunggu diluar kamar mandi semakin gusar menunggu kedatangan dua sahabatnya yang sedang mencari obat untuk membantu Kirei mengurangi rasa panas ditubuhnya.
Bunyi bel apartemen membuatnya bergegas membukanya. Benar saja, Gery dan Saga datang membawa obat yang saat ini tengah dibutuhkan oleh Kirei.
"Kata dokternya ni obat kaga bisa ngilangin semua efek obatnya. Cuma bisa ngurangin". Jelas Gery membuat Tama mengangguk.
"Cara satu-satunya biar Kirei kaga kesiksa, elo yang kudu bantu dia. Kita pamit". Gery dan Saga memilih meninggalkan Tama setelah menepuk bahu lelaki itu beberapa kali. Mungkin dengan begitu, keduanya akan benar-benar menjadi suami istri sesungguhnya.
Tama segera menutup pintu dan menguncinya. Bergegas ia masuk kembali kedalam kamarnya dan melihat kamarnya masih kosong. Itu artinya Kirei masih belum juga keluar dari kamar mandi.
Berkali-kali Tama menggedor pintu kamar mandi. namun tak ada sahutan dari dalam membuatnya dilanda kepanikan.
"KIREI!!!". Teriak Tama dengan terus menggedor pintu kamar mandi. Perasaan takut memenuhi hati dan pikirannya.
Tanpa pikir panjang Tama membuka pintu yang ternyata tidak dikunci oleh Kirei. Tubuh keduanya mematung, menatap satu sama lain.
"Lo..lo ngapain masuk Tam". Kirei beringsut mundur menyadari kehadiran Tama. Sementara Tama, kini tubuhnya ikut merasa panas melihat keadaan Kirei saat ini. Bagaimana tidak, Kirei hanya mengenakan da****n untuk menutupi kedua asetnya.
Tanpa sadar Tama melempar obat yang sudah diisikan ke dalam jarum suntik. Ia berjalan cepat mendekati Kirei yang semakin memundurkan tubuhnya.
"Ta--m.." Tubuh Kirei kaku, tangan Tama sudah lebih dulu meraih pinggangnya sebelum ia sempat menghindar. Hawa panas itu masih terasa, bersentuhan dengan Tama membuatnya semakin sulit mengontrol dirinya.
"Panas di tubuh elo harus didinginin Ki". Tama menyambar bibir ranum istrinya, me****tnya lembut penuh perasaan.
Mata keduanya sudah terlihat sayu dipenuhi kabut g****h. Tangan Tama pun tak tinggal diam. Sebelah tangannya sudah bekerja keras membuka satu-satunya penghalang tubuh Kirei. Tubuh keduanya sudah sama-sama basah terkena guyuran air.
Dengan tangan bergetar, Tama meraih handuk kimono yang ada didalam kamar mandi kemudian memakaikannya pada Kirei dan juga pada tubuhnya.
Malam itu kamar yang biasanya sepi sunyi, sekarang dipenuhi suara nyanyian merdu dari mulut kedua insan yang tengah mereguk nikmatnya surga dunia.
Mungkin Tama harus berterimakasih pada Daniel, karena jika bukan karena lelaki itu, mungkin hingga saat ini dirinya dan sang istri belum menyatu dan menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Tama menatap wajah damai Kirei yang saat ini tengah terlelap dalam dekapan hangatnya. Perlahan tangannya terulur menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Masih jelas bagaimana sang istri terlihat tak berdaya dibawah kungkungannya.
__ADS_1
Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat sempurna kemudian mendaratkan kecupan lembut dikening Kirei yang sudah terbang jauh kealam mimpinya hingga tak sedikitpun merasa terusik dengan apa yang suaminya lakukan.
"Makasih Ki". Tama mendekap semakin erat tubuh terlelap istrinya, kemudian menyusul sang istri mengarungi indahnya mimpi.
#####
Kirei mengerjapkan matanya beberapa kali ketika mendengar kumandang adzan. Ia berhenti bergerak ketika menyadari ada sebuah lengan kokoh yang memeluk posesif tubuh polosnya itu.
Perlahan ia menengadahkan wajahnya. Apa yang ia lihat pertama kali membuat sudut bibirnya terangkat. Wajahnya tiba-tiba terasa panas kala mengingat kegiatan panasnya semalam bersama sang suami. Suara-suara yang keluar dari mulutnya benar-benar memalukan baginya.
Tangannya terangkat mengelus rahang kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang semakin menambah ketampanan lelaki yang semalam sudah berhasil menjebol pintu kenikmatan yang selama ini ia jaga.
Kirei terkesiap kala tangannya ditangkap oleh Tama, perlahan mata yang sejak tadi terpejam itu terbuka. Jantung Kirei sudah hampir melompat keluar menyadari Tama memergoki dirinya yang tengah menatap wajah suaminya itu. Ah..semakin malu saja kini Kirei.
"Kenapa?". Suara serak khas orang bangun tidur menyapa pendengaran Kirei dipagi yang masih gelap ini. Bahkan mentari pun masih malu-malu untuk menampakkan dirinya.
"Ke--kenapa? Ap-anya yang kenapa? Gue gapapa". Kegugupan Kirei membuat Tama terkekeh pelan sebelum mendaratkan sebuah kecupan dibibir mungil istri cantiknya yang semakin terlihat cantik karena wajah yang memerah.
"Gu--gue mau mandi". Kirei bergegas menarik selimut dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Jantungnya sudah berdetak melebihi batas normal.
"Gue udah kaya orang punya penyakit jantung". Kirei menyandarkan tubuhnya dipintu kamar mandi sambil memegang d***nya yang masih terasa debaran kencangnya.
Tama yang melihat Kirei salah tingkah kembali terkekeh, kepalanya menggeleng pelan. Gemas dengan kelakuan istri galaknya yang tengah malu-malu.
Ia meraih celana pendeknya, kemudian berjalan keluar meninggalkan kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dikamar lain.
Kirei yang sudah selesai membersihkan tubuhnya segera keluar, takut waktu shalat akan habis.
Tubuhnya mematung didepan pintu kamar mandi melihat Tama sudah siap dengan baju koko dan sarungnya. Bahkan Tama sudah menggelar sajadah untuk Kirei.
"Udah kelar? Cepet pake baju, gue tunggu". Seperti terhipnotis, Kirei hanya mengangguk menuruti semua perintah Tama tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Dalam shalatnya, Kirei mengagumi suara merdu sang suami. Ini adalah kali pertama mereka shalat berjamaah. Ada kekaguman dalam diri Kirei untuk sang suami.
"Dia nggak seburuk yang gue pikir". Batin Kirei yang saat ini tengah mencium punggung tangan sang suami seusai shalat.
Tama kembali mendaratkan kecupan lembut dikening istrinya hingga membuat Kirei kembali berdebar. Kirei benar-benar merutuki kinerja jantungnya yang terlalu berlebihan ketika mendapat sentuhan dari Tama.
Kirei merapikan peralatan shalat yang baru saja ia gunakan dan Tama. Kirei masih merutuki kerja jantungnya yang tak hentinya berdebar keras berada dekat dengan Tama.
"Kaga usah lebay lo kerjanya". Umpat Kirei pada jantungnya sendiri yang masih berdebar tak karuan.
"Makasih buat semalem". Bisik Tama membuat wajah Kirei semakin merona. Kirei sangat malu saat ini. Tanpa Kirei duga Tama membawa tubuhnya kedalam pelukan hangat yang semalam membuatnya tidur begitu nyenyak.
Tama mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya bertemu. Dan pada akhirnya Tama berhasil mengulang hal panas yang semalam membuatnya bermandikan peluh. Pagi ini pun sama, setelah melaksanakan kewajibannya menghadap sang pencipta. Tama kembali membawa Kirei terbang, menikmati surga dunia yang memabukkan.
Sungguh Tama harus berterimakasih pada lelaki gila yang sudah memberi obat pe****sang pada Kirei hingga membuatnya justru bisa memilikinya istrinya itu sepenuhnya.
__ADS_1