Imperferct Partner

Imperferct Partner
kak, aus


__ADS_3

Benar saja, ketika Aisha keluar, Akbar masih setia menunggu Naya disamping pintu.


"Naya akan bersamaku ke ruang BK. Kamu bisa kembali ke kelas". Ucap Akbar. Meskipun berat, Aisha menuruti kata-kata lelaki itu.


" Terima kasih kak. Saya permisi dulu". Aisha menundukkan kepala sedikit kemudian berlalu dari sana.


"Sha..gue aneh nggak pake rok panja---ng". Naya hampir tak bisa meneruskan kalimatnya saat melihat bukan Aisha yang berdiri didepannya, tapi Akbar. Malaikat penolongnya.


" Eh loh..kok kakak. Teman aku mana?". Entah mengapa tiap berbicara pada Akbar, Naya selalu menggunakan kata 'aku kamu'.


"Kamu harus ke ruang BK, Nay. Kasian temen kamu kalo nunggu. Bisa-bisa dia juga dihukum". Naya hanya manggut-manggut seolah paham


" Kamu tetep cantik pake apapun. Mau rok pendek atau panjang sama-sama bikin kamu cantik". Ucapan Akbar membuat Naya mendongak. Dilihatnya wajah tampan yang selalu ramah padanya itu. Namun entah tak ada getaran apapun yang ia rasakan pada lelaki itu.


Ahbodohnya Naya, usianya bahkan masih 16tahun beberapa bulan lagi. Untuk apa memikirkan lelaki dan perasaan. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana nasibnya nanti setelah keluar dari ruang BK.


"Kenapa ngelamun?". Tanya Akbar membuat Naya tersadar.


" Aku lagi mikirin masa depan aku kak".


"Masa depan apa?". Tanya Akbar bingung.


" Masa depan aku abis keluar dari ruangan bu killer yang tadi". Naya sampai bergidik mengingat teriakan dan tatapan tajam dari guru yang akan segera ia temui.


"Haha..kamu nggak akan kenapa-kenapa Nay. Udah ayo". Akbar menarik tangan Naya yang dengan patuh mengikutinya.


Sementara Ken dan Kai memperhatikan Naya dari jauh dengan senyuman. Setidaknya ada yang membantu adiknya saat gadis itu tidak ingin terlibat dengan kedua kakaknya.


" Kayanya si Akbar demen ama adek lo, Ken". Ucap Kai membuat Ken menggeplak kepala kakak kembarnya itu.


"Adek lo juga, sableng". Ucap Ken membuat keduanya tertawa.


" Lagian si Naya kenapa kaga mau ngaku aja sih". Gerutu Kai membuat Ken diam dan menerawang kejadian waktu mereka sekolah dasar dulu.


"Mungkin dia masih trauma, Kai. Biarin dia lakuin yang bikin dia nyaman. Kita cuma perlu jagain dia". Ucap Ken membuat Kai mengangguk.


" Dia siapa?". Ken dan Kai segera berbalik. Disana Al menatap keduanya dengan mata menyipit.


"Bukan sapa-sapa. Balik kelas yok". Ucap Kai mengalihkan perhatian Al dan Rendra.


" Lah si Akbar piye?". Tanya Rendra menunjuk Akbar yang tengah menggandeng tangan Naya.


"Dia masih ada urusan". Ucap Ken berjalan lebih dulu.


Al memperhatikan sikap Ken yang semakin diam, ia mengira jika Ken pasti cemburu pada Akbar yang sudah berani menggandeng gadis yang Ken sukai.


Sementara itu, diruang BK, baik Naya maupun Monika masih diam mendengarkan ceramah bu Eka yang semakin membuat kuping keduanya panas bukan main. Bagaimana tidak, sudah hampir satu jam lamanya mereka masih mendengar ceramah yang terus diulang-ulang.


Sementara Akbar duduk tenang di kursi yang berada tak jauh dari Naya. Ia memperhatikan gadis manis yang bibirnya komat-kamit seperti tengah membaca mantra. Ia tahu gadis manis itu pasti tengah menggerutu atau mungkin menirukan setiap kata yang keluar dari mulut guru BK nya itu.


" Sebagai hukumannya.."


"Lah kan ini kita dengerin ibu namanya udah dihukum bu". Potong Naya cepat sebelum bu Eka selesai dengan kalimatnya.


" Astaga kamu. Siapa nama kamu?!". Bu Eka tampak melihat nametag yang ada diseragam Naya. Namun tak ada.


"Loh kok nggak ada namanya. Wah ini kamu sudah melanggar lagi". Ucap Bu Eka mengacung-acungkan jari telunjuknya.


" Huh..kan tadi seragam yang ada namanya kotor gara-gara moyangnya mak lampir ini bu". Ucap Naya santai membuat Monika kembali naik darah.


"Apa lo bilang?!!!". Bentak Monika. Bahkan gadis itu sudah berdiri didepan Naya dengan bertolak pinggang.


" Lo nggak budek kan. Opa apa wae. Bersihin makanya kupingnya". Sahut Naya santai semakin memancing amarah Monika.


"Lo---" Tunjuk Monika


Bu Eka hanya geleng-geleng kepala kemudian menepuk keningnya karena pusing melihat dua gadis didepannya terus membuat ulah.


"DIAAAAM!!". Teriak bu Eka membuat keduanya langsung bungkam.


" Pergi ke lapang upacara. Kalian ibu hukum hormat pada bendera sampai jam istirahat kedua". Perintah bu Eka tak ingin dibantah membuat Naya melongo.


"Bu ini panas banget loh bu". Ucap Naya


" Akbar..kamu masih ketua osis kan?". Tanya bu Eka pada Akbar tanpa menghiraukan Naya.


"Iya bu". Jawab Akbar sopan.


" Ibu tugaskan kamu mengawasi dua gadis nakal ini". Bu Eka melirik Naya dan Monika yang masih saling menatap penuh dendam.


"Dan kalian berdua". Bu Eka menatap keduanya penuh peringatan

__ADS_1


" Ibu harap ini keributan pertama dan terakhir untuk kalian". Imbuhnya.


"Nggak janji deh bu". Sahut Naya kemudian keluar dari ruangan BK hingga membuat bu Eka melongo tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


" Astaga.." Ucapnya memijit pelipisnya karena tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


"Saya permisi dulu bu". Akbar pamit diikuti Monika dibelakangnya. Sementara Naya sudah berjalan cukup jauh didepan mereka.


" Dasar cewe jadi-jadian. Rambut gue kan jadi rontok, sakit nih pala gue. Sialin emang tu mak lampir". Gerutu Naya sambil sesekali mengelus kepalanya yang terasa cenut-cenut.


Sementara didalam kelas, baik Aisha maupun kedua kakak Naya tidak bisa fokus dengan pembelajaran karena memikirkan nasib Naya.


"Eh yaampun lupa". Naya menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia melihat Akbar yang berjalan mendekat padanya.


" Kenapa Nay?". Tanya Akbar ketika sampai dihadapan Naya.


Bukannya menjawab, Naya malah berjalan hingga belakang tubuh Akbar. Jemari lentiknya menyentuh punggung Akbar membuat Akbar segera menoleh.


"Kamu ngapain?". Tanya Akbar lagi.


" Kakak kenapa nggak ganti baju. Ini basah". Naya menunjuk punggung Akbar.


"Gapapa..nanti juga kering. Ayo ke lapang sekarang". Ucap Akbar, namun Naya menggeleng.


" Sebentar ya kak". Naya berlari meninggalkan Akbar yang bengong.


"Lo suka ama tu bocah tengil?". Suara Monika membuat Akbar menoleh.


" Apa?". Tanya Akbar balik membuat Monika mendengus.


"Keliatan banget lo suka ama tu bocah. Bocah tengil kaya gitu aja lo suka". Sinis Monika


" Mending dia daripada elo. Udah lebih dewasa tapi bikin masalah". Sahut Akbar santai kemudian duduk disalah satu kursi disana untuk menunggu Naya kembali. Hanya pada Naya Akbar tak bisa tegas meski dirinya masih memiliki wewenang sebagai ketua osis.


"Lo lembek banget sih. Ama gue aja lo galak, ama tu bocah lo diem aja. Padahal dia ama gue lagi dihukum". Monika bersungut-sungut. Namun Akbar tak sedikitpun menghiraukannya.


" Akbar!!". Suara Monika meninggi membuat lelaki itu menatap kearahnya.


"Lo ke lapang dulu sana". Mendengar perintah Akbar, mata Monika melebar. Tak percaya mendengar perintah Akbar yang terlihat jelas berat sebelah.


" Lah tu bocah tengil aja malah kabur kaga tau kemana. Kenapa gue harus ke lapang". Tak terima, Monika ikut duduk disamping Akbar. Tangannya dilipat didepan dada dengan mulut mengerucut.


Dari jauh Akbar melihat Naya berlari, rambutnya yang diikat terombang-ambing ke kiri dan ke kanan, sementara poninya terlihat lucu karena berantakan.


" Apa ini Nay?". Tanya Akbar


"Mata lo buta. Itu seragam". Bukan Naya, tapi Monika yang menyahut dengan sewot.


" Ish..kenapa kak Monika yang sewot sih. Dasar mak lampir galak". Ucap Naya menatap Monika penuh permusuhan.


"Lo ya..berani-beraninya ama gue". Monika hendak maju. Namun Akbar menahannya.


" Kakak ganti dulu..nanti masuk angin". Mendengar ucapan Naya, hati Akbar menghangat. Walaupun hanya perhatian kecil namun Akbar menyukainya.


"Kita ke lapang dulu ya. Nanti bu Eka marah-marah lagi kalo kelamaan".


" Aku bisa kesana sendiri..kakak ganti baju dulu aja". Naya mendorong punggung Akbar ke arah berlawanan dengan lapangan. Kemudian ia tersenyum dan berjalan menjauhi Akbar.


Untuk menghargai usaha Naya, Akbar pergi ke toilet untuk mengganti bajunya yang basah. Ia mempercepat kegiatannya ketika ia menyadari bahwa Naya hanya berdua dengan Monika. Bisa-bisa kedua gadis itu kembali saling cakar bila tak ada yang mengawasi.


Akbar bahkan sampai berlari-lari menuju lapangan, takut apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi. Ia menarik nafas lega ketika melihat kedua gadis itu sudah menghadap tiang bendera dengan mengangkat sebelah tangannya memberi hormat.


Dari jauh pun Akbar dapat melihat jika mulut kedua gadis itu tak berhenti berucap. Sepertinya kini mulut mereka yang berperang. Akbar menarik nafas panjang, sepertinya akan sering terjadi hal-hal seperti ini.


Satu jam berlalu, Akbar masih setia mengawasi kedua gadis itu. Ia juga sudah menyiapkan air mineral untuk keduanya. Masih ada 30menit lagi keduanya menjalani hukuman. Berkali-kali Akbar menangkap gerakan Naya yang meregangkan otot-otot kakinya yang sepertinya sudah pegal.


Tatapannya beralih pada wajah manis itu, wajahnya pucat dipenuhi bulir-bulir keringat. Akbar bangkit dan berjalan mendekat. Ia semakin mempercepat langkahnya ketika melihat tubuh Naya semakin limbung. Bahkan kini ia berlari, berharap bisa menangkap tubuh itu sebelum jatuh ke tanah.


"KANAYAAAA!!!". Suara teriakan yang Naya dengar sebelum tubuhnya limbung dan semuanya menjadi gelap.


Tubuh Naya memang tidak sampai menyentuh tanah. Namun bukan tangannya yang menangkap. Melainkan seseorang yang menjadi penyebab pertengkaran Naya dan Monika.


" Naya!! Bangun! Nay! Jangan bikin abang khawatir". Ken yang sengaja meminta ijin keluar untuk melihat adiknya yang dihukum pun tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya melihat Naya pingsan didepan matanya.


Dengan sekali gerakan, Ken mengangkat tubuh tak sadarkan diri adiknya dan membawanya berlari menuju UKS yang letaknya cukup jauh dari sana.


Akbar dan Monika sama-sama mematung melihat tubuh keduanya semakin menjauh. Akbar yang segera sadar dari keterkejutan langsung berlari mengejar keduanya, namun tidak dengan Monika. Gadis itu merosot ke tanah, air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Hatinya terasa sakit melihat lelaki yang selama ini ia cintai lebih memperdulikan gadis lain.


Ken seperti orang gila yang terus berlari membawa tubuh sang adik. Dari jauh Kai melihat Ken menggendong Naya segera keluar dari kelas. Bahkan panggilan dari guru yang mengajarnya tak ia dengarkan sedikitpun.


Sampai didepan pintu UKS, Ken membuka pintunya dengan kaki hingga pintu terbuka dengan kasar.

__ADS_1


"Dokter..dok!!! Tolong dia!!!". Teriak Ken panik.


" Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?". Tanya seorang wanita yang Ken perkirakan adalah dokter.


"Tolong..tolong adik saya. Dia pingsan". Ken benar-benar seperti orang gila melihat adiknya seperti ini.


" Tenang dulu ya..saya akan periksa dulu". Tirai ditutup hingga Ken tidak dapat melihat apa yang dilakukan sang dokter pada adiknya.


"Kenap-a? Nay-a kenapa?!". Kai datang dengan nafas tersengal. Ia berlari sekuat tenaga mengejar Ken yang membawa tubuh Naya.


" Dia pingsan". Jawab Ken pendek


Ken maupun Kai sama-sama mengusap wajahnya dengan kasar. Harusnya tadi mereka memaksa adiknya untuk dirumah saja. Kalau saja adiknya itu istirahat dirumah, pasti kejadian ini tidak terjadi.


"Naya udah ditangani?". Tanya Akbar yang baru saja masuk.


Ken dan Kai menoleh bersamaan dan mengangguk. Ketiga lelaki tampan itu duduk didasan sambil menunggu dokter keluar. Tak berselang lama, tirai kembali terbuka. Sang dokter keluar dan kemudian menjelaskan bahwa Naya demam, dia juga dehidrasi. Untungnya tak terlalu parah, hanya butuh istirahat saja dan dokter juga sudah memberikan Naya infus untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.


"Sejak kapan dia demam?". Tanya dokter tersebut. Akbar menggeleng karena memang tak mengetahui apapun.


" Semalam dok..Naya demam sejak semalam". Jawab Ken cepat membuat Akbar menoleh. Bingung mengapa sahabatnya tahu sejak kapan Naya sakit.


"Dia sudah sadar atau belum?". Tanya Ken tak sabar


" Sebentar lagi mungkin akan sadar". Ken menghembuskan nafas lega mendengar penuturan dokter. ia kemudian masuk dan duduk dikursi samping ranjang tempat Naya dibaringkan. Ia menggenggam tangan adiknya dan menghapus keringat yang membasahi kening adiknya. Semua perlakuan Ken tidak luput dari pengawasan Akbar.


"Kenapa jadi gini sih Nay". Gumam Ken mengelus kepala adiknya.


Kelopak mata Naya bergerak, menandakan sang pemilik akan segera membuka matanya. Perlahan mata itu mulai terbuka dan memperhatikan sekelilingnya hingga matanya menangkap sosok kakak yang tengah duduk dengan gelisah disampingnya.


" Udah sadar? Ada yang sakit? Masih pusing? Mau apa?". Ken langsung memberondong pertanyaan pada Naya.


"Abang.." Lirih Naya


"Iya apa. Abang disini. Nay mau apa?". Tanya Ken lembut. Tangannya tak henti mengelus kepala adiknya. Akbar yang melihatnya sedikit terganggu dengan apa yang di lakukan Ken pada Naya.


Kai mendekat. Menatap adiknya dengan penuh sayang sekaligus penyesalan.


"Maafin abang nggak bisa jagain elo, Nay". Lirih Kai membuat Naya menoleh. Jika sudah begini, dirinya juga yang akan kesulitan. Dua bodyguard utusan bapak dan ibu presiden ini pasti akan membatasi geraknya setelah ini.


" Harusnya abang bisa cegah lo dateng ke sekolah". Ucap Kai lagi, lelaki itu berkali-kali menghela nafas beratnya.


"Nay gapapa bang". Ucapnya lirih.


" Eh mam pus gue". Kai tiba-tiba menepuk keningnya sendiri membuat Naya dan Ken mengernyitkan alisnya.


"Kenapa lo bang?". Tanya Naya lemah.


" Ulangan gob lok!! Kita lagi ulangan nj*rrr!!". Kai menggeplak kepala Ken yanh seperti tersadar dengan situasi.


"Hah mam pus lo berdua bang". Bahkan saat kondisinya begitu lemah pun, gadis itu masih sempat meledek kedua kakaknya yang terlihat bingung.


" Udah sono balik". Naya mengibaskan tangannya mengusir kedua kakaknya.


"Elo gimana, Nay". Ucap Kai bimbang.


" Biar gue yang jaga". Akbar mendekat. Mendengar keduanya akan meninggalkannya bersama Naya membuatnya seperti mendapat angin segar.


"Nitip dia bentar ya. Ntar gue balik lagi". Ken menepuk pundak sahabatnya, Kai pun melakukan hal yang sama.


" Kaga usah balik juga kaga apa". Gumam Akbar.


"Apa kak?". Tanya Naya yang mendengar gumaman Akbar namun tak jelas.


" Eh apa? Eng-enggak apa-apa Nay". Jawab Akbar gugup.


"kak.." Panggil Naya membuat Akbar segera menatapnya.


"Kenapa Nay? Ada yang sakit? Perlu dipanggilin dokter?". Tanya Akbar beruntun membuat Naya tersenyum.


" Aus kak..mereka berdua tadi cuma banyak ngomong. Aku nggak dikasih minum". Ucapan Naya membuat Akbar cengo.


"Ah..i-iya. Minum ya. Ini minum dulu ya teh nya. Mumpung masih anget". Akbar membantu Naya duduk dengan menyelipkan bantal dibelakang punggung gadis itu.


Dengan sabar ia membantu Naya minum dan memberikan obat yang sudah diberikan oleh dokter. Akbar masih berperang dengan pikirannya. Ada hubungan apa antara Naya dan si kembar sahabatnya itu.


###


Holla manteman semua..hari ini dikasih double up yang panjaaaang banget. Semoga suka yaaaa...


maaf kalo komen suka ngga ada balasan, bukan sombong atau apa ya semua. Cuma memang nulis ini aku usahain up tiap hr sambil ngurus bocil, jd kalo kelar nulis suka langsung sok sibuk..auto keluar dari dunia halu ku. Jadi mohon maklum..

__ADS_1


Happy reading gaes..


__ADS_2