
"Kita pulang dulu ya Kay.." Sudah sejak satu jam lalu Al membujuk Naya untuk pulang. Namun gadis itu masih asyik memandangi bayi tampan didalam box bayi yang ada disamping ranjang Safira. Tadi setelah membawa Safira kerumah sakit, tak perlu lama menunggu, bayi yang dinantikan Safira dan sang suami lahir setelah satu jam berada dirumah sakit.
"Bentar lagi kak.."
"Gemesin banget sih kamu..." Naya mengelus pelan pipi bayi yang masih merah itu. Jika tidak ingat itu makhluk bernyawa, mungkin sudah sejak tadi ia menggigit pipi halus itu.
"Bikin sendiri kalo mau Nay". Celetuk Rian membuat suasana tiba-tiba hening.
" Abang kira bikin kue. Tinggal masukin telor ama tepung terus diulenin abis itu dipanggang langsung jadi". Omel Naya kemudian.
"Pulang ya..kakak laper nih". Pinta Al memelas.
" Nanti kita bikin sendiri bayi yang lucu.." Otak Al ikut gesrek seperti Rian karena terlalu lama menahan lapar.
"Kakak.." Seru Naya
"Pulang dulu sana..besok kesini lagi. Kamu juga belum makan dari siang. Ngalah-ngalahin bapak siaga aja kamu tuh.." Safira yang tidak tega melihat wajah lelah Al, akhirnya ikut membujuk Naya.
"Terus mbak Fira sama siapa? Kan suami mbak belum sampai". Ada saja alasan Naya untuk mengulur waktu.
" Ada Rian..dia bakal nemenin mbak. Kasian tuh muka bos kamu, udah pucet gitu. Bentar lagi pingsan tuh kalo nggak makan". Safira melirik Al yang duduk disamping Rian.
"Yaudah deh..tapi besok kesini lagi ya kak?". Al segera mengangguk, sejak tadi perutnya sudah sangat lapar, namun karena Naya enggan meninggalkan Safira dan bayinya. Jadilah dirinya juga diam disana.
" Aku pulang dulu ya mbak.." Naya beralih pada bayi tampan yang masih tertidur pulas dibox nya itu.
"baby, onty cantik pulang dulu yaaa..besok onty kesini lagi". Naya menciumi pipi bayi mungil itu dengan gemas hingga bayi Safira menggeliat karena terganggu tidurnya.
"Abang..jagain mbak Fira ya. Jangan main game terus". Peringat Naya pada Rian yang asyik dengan ponselnya.
" Iya Nay..iyaa.." Sahut Rian tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel.
"Jangan iya-iya aja dong. Kasian mbak Fira". Akhirnya Rian mematikan ponselnya dan menatap Naya. Ia menangkupkan kedua tangannya didepan dahinya
" Siap raja..eh ratuuu. Ntar abang jagain mbak Fira mu itu sampe suaminya dateng kesini. Okeeeee". Rian memberikan senyum terbaiknya yang membuat Naya mencebik kesal.
"Kalo abang main game terus diomelin aja mbak". Pesan Naya pada Safira yang menganggukkan kepalanya patuh.
" Udah ayo Kay.." Al yang sudah gemas akhirnya menarik tangan Naya keluar dari ruang rawat Safira.
"Tapi besok beneran anter kesini ya kak??". Naya mengalungkan tangannya dilengan Al yang hanya mengangguk menjawab pertanyaan Naya.
" Kamu seneng banget sih ama bayi ". Ucap Al menoel gemas hidung mancung Naya.
" Gemesin tau kak..lembut banget kulitnya. Jadi pengen pegang-pegang terus". Naya tanpa sadar mempererat pelukannya dilengan Al karena saking gemasnya terbayang wajah menggemaskan anak Safira tadi.
"Yaudah kita cepet-cepet nikah biar bisa punya bayi sendiri. Kamu bisa puas gendong sama cium-cium". Naya menghentikan langkahnya mendengar Al berbicara begitu tenangnya. Tak tahukah lelaki itu efek dari ucapannya mampu membuat jantung Naya berlompatan tak tentu arah.
" Cantik banget sih calon istri aku kalo lagi malu-malu gini". Al semakin gemas melihat wajah Naya memerah karena ucapannya.
"Ish apaan sih kakak". Naya melepaskan tangannya dan berjalan cepat meninggalkan Al yang terkekeh melihat sikap malu-malu Naya.
" Kay..tunggu dong. Sayaaaang.." Al berlari mengejar Naya dan langsung merengkuh pinggang Naya yang semakin kalang kabut karena perlakuan Al.
"Kakak lepas ih..gaenak diliat orang". Naya berupaya melepaskan tangan Al. Namun Al justru semakin mempereratnya.
" Biarin aja. Biar pada tahu kalo kamu tuh cuma punya kakak". Al bahkan mencuri ciuman dipipi Naya yang entah sudah semerah apa kini wajahnya. Al nya benar-benar berubah, dia bukan lagi manusia es atau kulkas berjalan. Kini kulkasnya sudah sehangat microwave.
****
"Udah sana kakak pulang..Bentar lagi pasti Diandra pulang. Nggak enak kita berduaan disini.." Naya mengusir Al sejak tadi, namun lelaki itu seperti enggan meninggalkan Naya.
"Bentar lagi ya.." Al sejak tadi terus bergelayut dan menyandarkan kepalanya dipundak Naya.
"Besok masih ketemu kak.."
__ADS_1
"Masih kangen.." Rengek Al. Sungguh Naya masih belum terbiasa dengan sikap manja Al. Dia terlalu terbiasa dengan Al yang dingin dan cuek. Meski jika dengannya, Al selalu hangat dan perhatian. Tapi manja seperti ini, sungguh Naya harus membiasakan dirinya lagi.
"Cium.." Al memonyongkan bibirnya. Meminta ciuman sebelum pulang.
"Ish apaan sih..kok mesum". Sungut Naya membuat Al terkekeh. Ia meraih tengkuk Naya dan menempelkan bibirnya dan bibir Naya. Naya melebarkan matanya saat Al mulai me l*mat bibirnya. Mengh*sap dengan lembut bibir atas dan bibir bawahnya bergantian.
Naya merasakan sengatan listrik mengaliri seluruh aliran darahnya. Darahnya berdesir hebat, selama menjalin kasih dengan Akbar. Naya hanya sekedar berpegangan tangan, Akbar hanya akan mencium kening dan pipinya saja. Tapi apa ini?? Ah Naya semakin terbuai dengan perlakuan lembut Al.
" Manis.." Al mengusap bibir Naya yang sedikit membengkak dengan ibu jarinya.
Wajah Naya terasa sangat panas, apalagi Al menatapnya dengan begitu dalam hingga membuat Naya semakin malu.
"Kakak pulang ya.." Al berdiri, diikuti Naya. Keduanya berjalan bersama keluar dari unit apartemen yang ditinggali Naya.
Naya melambaikan tangannya, menatap Al yang berjalan semakin menjauh hingga akhirnya menghilang saat masuk kedalam lift.
"Buset dah..aku disuruh jadi satpam". Naya terhenyak mendengar suara yang sangat familiar baginya.
" D-Diandra?? Kamu ngapain disitu???". Tanya Naya panik ketika melihat Diandra bersandar didinding unit apartemen sebelahnya.
"Dari pas didalem ada orang mabok cinta. Untung aku nggak teriak liat kalian. Bikin mata aku ternoda aja". Diandra mengulum senyum melihat wajah pias Naya. Sungguh sangat lucu menggoda temannya ini.
Diandra melewati Naya yang masih mematung didepan pintu karena terlalu terkejut dengan pengakuan Diandra pada dirinya.
" Nggak usah jadi patung juga Nay.." Teriak Diandra membuat Naya tersadar.
"K-kamu pulang dari tadi??". Tanya Naya malu
" Yaa..ada kali ya 15menit lalu". Naya semakin melebarkan matanya mendengar penuturan temannya itu. Apa mungkin Diandra benar-benar melihatnya berciuman dengan Al.
Aaaa..mau ditaruh dimana mukanya kini??? Sungguh Naya sangat malu. Ini semua gara-gara manusia es yang tiba-tiba meleleh itu.
"Biasa aja kali Nay..panik banget sih". Diandra terkekeh pelan kemudian masuk kedalam kamar mereka. Naya segera menyusulnya, namun rupanya Diandra sudah masuk kedalam kamar mandi.
" Aduh..malu banget aku. Gara-gara kak Al sih..dibilangin ngeyel". Gerutu Naya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu mau pergi Di??". Tanya Naya mendekat
" Hm..Dimas ngajak makan malem". Naya terus mengikuti Diandra yang kini sedang memilih gaun.
"Bagusan mana?? Yang hitam atau yang merah??". Diandra menunjukkan kedua gaun yang ia pegang.
" Ehm...Merah aja Di. Pas banget sama makeup kamu". Naya memilih gaun berwarna merah yang ada ditangan kanan Diandra.
"Oke.." Diandra masuk kedalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan gaun yang dipilihkan Naya.
"Cantik banget sih kamu..mau kencan ya??". Goda Naya
" Bisa dibilang gitu". Diandra mengedipkan sebelah matanya.
Tak lama setelahnya, bel apartemen kembali berbunyi. Diandra dan Naya keluar bersama untuk melihat siapa yang datang. Apakah Dimas atau yang lain.
"Duh..ganteng banget yang mau ngajak cewek kencan". Foda Naya ketika melihat Dimas berpenampilan sangat rapi. Rambut yang biasanya tidak ditata, kini terlihat sangat klimis.
" Iya lah..masa aku kalah sama kamu". Sahut Dimas dengan gaya tengilnya. Diandra yang tidak ingin Dimas semakin banyak bicara lebih memilih pamit pada Naya dan menarik tangan Dimas.
"Pergi dulu Nay.." Teriak Diandra, begitupun Dimas yang melambaikan tangannya pada Naya.
"Jaga Diandra ya". Teriak Naya dijawab acungan jempol oleh Dimas.
" Have fun guys..." Naya melambaikan tangannya pada dua temannya yang malam ini terlihat bahagia itu. Naya ikut bahagia untuk keduanya.
"Mandi dulu deh..gerah". Naya kembali masuk kedalam apartemennya. Setelah memastikan pintu terkunci, Naya memutuskan masuk kekamar untuk membersihkan dirinya.
ting..tong..ting..tong..
__ADS_1
Naya menatap jam yang menggantung diruang tamu apartemennya. Belum ada dua jam, mungkinkah kedua temannya sudah pulang? Tapi kenapa cepat sekali.
Naya bangkit, meninggalkan remot dan cemilannya untuk membukakan pintu. Alisnya menukik tajam melihat wanita paruh baya yang tak ia kenal adalah orang yang menekan bel apartemen nya.
" Assalamualaikum nak.."
"Wa'alaikumsalam bu.." Sahut Naya sopan
"Maaf..mau cari siapa bu??". Tanya Naya
" Apakah Diandra ada??". Naya sedikit kaget mendengar orang itu mencari Diandra.
Naya mencoba mengingat lagi suara orang yang sedang berbicara padanya ini dengan orang yang dua kali menelponnya untuk menanyakan Diandra.
"Ma-maaf..anda siapa??". Tanya Naya ragu, ia takut menyinggung wanita paruh baya yang sedang berdiri dihadapannya ini.
" Saya..saya mama nya Diandra". Mata Naya melebar. Bukankah Diandra bilang dia sudah sebatang kara. Lalu kenapa wanita yang mengaku mamanya ini benar-benar datang mencari nya.
"Maaf tante..Diandra sedang pergi".
" Boleh saya menunggu nya??". Tanya si ibu penuh harap.
" Si-silahkan masuk tante". Naya tak tahu apakah yang dilakukannya benar atau salah. Tapi feelingnya mengatakan jika wanita tua itu tidak sedang berbohong.
"Terima kasih nak..terima kasih". Wanita itu berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sementara Naya hanya bisa tersenyum canggung.
" Siapa namamu nak???". Tanya si ibu ketika Naya memberikan teh hangat padanya.
"Kanaya..panggil saja Naya tante". Naya tersenyum lembut. Ia semakin yakin jika perempuan ini bukanlah orang jahat.
" Panggil saja saya Dita".
"Tante Dita sudah makan?". Tanya Naya sopan dijawab anggukan kepala wanita bernama Dita yang mengaku sebagai ibu temannya itu.
Dita mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu. Senyum pahit terbit diwajahnya yang mulai menua itu ketika melihat banyak foto Diandra dan Naya serta Dimas memenuhi dinding ruang tamu apartemen sederhana itu.
" Kamu sudah lama mengenal Di??". Tanya Dita pada Naya yang sudah duduk disampingnya.
"Belum terlalu tante..baru beberapa bulan. Semenjak kami bekerja diperusahaan yang sama". Jawab Naya sopan
" Apakah kamu yang waktu itu menerima telpon dariku?". Tanya Dita membuat Naya serba salah.
"Iya..itu saya tante". Jawab Naya canggung.
" Maaf tante..Diandra bilang dia sebatang kara. Saya tidak ingin memeberitahu keberadaannya tanpa seizin darinya". Dita terhenyak, putrinya mengaku sebatang kara. Sebegitu terluka nya kah?? Hingga memilih menjadi orang tanpa keluarga daripada mengakui mereka sebagai sanak saudara.
Beberapa waktu hanya ada keheningan, hingga Naya mendengar derap langkah didepan apartemennya diikuti suara tombol access ditekan. Sudah pasti itu Diandra.
"Sepertinya Diandra sudah pulang tante..saya akan menemuinya dulu.." Naya segera bangkit.
"Aduh temen aku baik banget sih..pake disambut segala". Suara Diandra terdengar sangat ceria. Bahkan senyuman tak pernah luntur dari wajahnya.
" Di.."
"Kenapa?? Kamu penasaran ya??". Diandra masih terlihat sumringah. Ia tak menyadari wajah kaku Naya yang terlihat tegang.
" A-ada tamu Di". Ucap Naya pelan
"Tamu?? Tamu siapa??". Tanya Diandra yang masih belum melihat siapa yang datang.
" Emang si-a...." Diandra tak dapat lagi melanjutkan ucapannya saat melihat wanita yang berdiri menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Selesaikan masalahmu. Lari tidak akan membuat hatimu tenang Di.."
"Aku tinggal dulu.." Naya menepuk pundak sahabatnya. Ia memilih keluar, memberi waktu pada dua orang yang sepertinya sama-sama menyimpan banyak tanya juga kerinduan.
__ADS_1
"Aku yakin kamu bisa Di.." Naya keluar, meninggalkan ibu dan anak yang sama-sama masih mematung dan saling menatap dengan tatapan yang sangat berlawanan.