
Saat ini Naya sedang berjalan sambil memilih barang apa yang kira-kira dibutuhkan Aisha dan adik-adiknya dipanti selain sembako.
Aisha sudah berkali-kali mengatakan jika Naya tak perlu membawa apapun ke panti. Namun ucapan nya bagaikan angin lalu dan tak didengar oleh Naya.
"Beliin apa lagi ya? Beras udah, telor, cemilan, buku..hmm kurang apa ya?". Gumam Naya yang masih berjalan kesana kemari.
" Apalagi ya Sha?". Tanya Naya pada Aisha yang berada tepat dibelakangnya.
"Udah Nay..ini kebanyakan". Aisha melirik dua trolly belanja yang tengah didorong oleh dua pria yang dengan setia mengawal Naya.
" Belom..masih ada yang kurang". Naya tetap kukuh pada pendiriannya.
"Beli aja sekalian ama tokonya dek". Celetuk Ken yang sudah lelah mengikuti adiknya mengelilingi supermarket.
" Ide bagus bang". Sahut Naya tersenyum lebar membuat Aisha melongo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Ken yang memberi ide menepuk keningnya. Pusing dengan jalan pikiran Naya.
"Kamu cari apa lagi Nay?". Tanya Akbar lembut membuat Ken memutar bola matanya jengah.
" Nay bingung kak..kaya masih ada yang kurang". Ucap Naya terlihat berpikir.
"Kaga usah sok-sokan mikir lo. Ngebul tu pala ntar". Ken menoyor pelan kening adiknya yang langsung mengomel.
" Jangan ditoyor abang!!! Nanti Nay bodo". Kesal Naya membuat Ken tergelak dan mengacak gemas rambut adiknya yang kembali mengomel.
"Yaudah iya..iya..adek abang yang paling cantik yang paling pinter dan yang paling BE-NER....mau beli apa lagi incess???". Tanya Ken menekankan setiap kata-katanya hingga membuat Naya mencebik. Ia tahu kakaknya tengah meledeknya.
" Susu". Seru Naya membuat Ken dan Akbar saling pandang. Susu dalam persepsi yang berbeda antara mereka dan Naya. Dasar otak mereka mulai tercemar.
"Ayo Sha.." Naya kembali menarik tangan Aisha yang hanya bisa menghela nafas panjang. Pasrah mengikuti kemana Kirei membawanya.
"Nay..nggak segini juga Nay". Ucap Aisha yang melihat Naya memasukkan banyak susu, baik itu susu formula atau susu kemasan ke dalam trolly baru yang ia dorong.
" Enggak Sha. Kan adek lo banyak.. biar rata". Naya masih sibuk memasukkan susu kedalam keranjang belanja.
"Diemin aja. Kaga ngaruh lo nasehatin". Ucap Ken yang sudah hafal watak adiknya. Dan sebentar lagi pun ia pasti akan dikejutkan dengan kelakuan ajaib adiknya itu.
" Oke..cukup. Yok bang". Naya menatap puas 3 trolly belanja yang semuanya terisi penuh dengan barang-barang pilihannya.
"Feeling gue sih kaga enak Bar". Bisik Ken pada Akbar yang terkekeh melihat wajah frustasi Ken.
Mereka berempat mengantri di kasir untuk melakukan pembayaran. Dan benar saja, ketika semua barang selesai di scan oleh petugas kasir, Naya langsung meminta Ken membayarnya.
" Totalnya 3.857.050 mbak". Ucap sang kasir dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya.
"3.870.050 ya.." Ucap Naya kemudian berbalik menatap Ken.
"Bayar bang". Ucap Naya santai membuat Ken ingin sekali menggetok kepala adiknya itu.
" Kenapa abang? Kan kamu yang beli". Ucap Ken
"Abang kan kakak Nay..ya abang yang bayar". Sahutnya santai. Bukan Naya tak memiliki uang sebesar itu, namun akan lebih menyenangkan menguras isi atm kakaknya itu.
" Pake ini aja mbak". Akbar mengeluarkan kartu nya yang langsung ditolak Naya.
"Nggak boleh kakak..tenang aja. Abang aku banyak duit kok". Ucap Naya melirik Ken dengan senyum penuh kemenangan.
" Buruan abang ih. Itu keburu panjang yang antri mau bayar. Jangan kaya nggak punya duit deh". Ledek Naya membuat Ken mendengus. Pantas saja Kai menolak menjaga adiknya tadi, rupanya kakak kembarnya itu sangat akurat perhitungannya. Pasti lelaki itu sudah tahu akan ada acara pemalakan seperti saat ini.
" Untung adek gue. Kalo kaga udah gue tukerin ama mie instan se kerdus". Gerutu Ken, namun tak urung ia mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan salah satu kartunya pada kasir.
Naya duduk dibelakang Akbar yang tengah fokus mengemudi. Sementara Ken ada dibangku depan tepat disamping Akbar.
"Adek lo jumlahnya ada berapa Sha?". Tanya Naya yang duduk bersebelahan dengan Aisha.
" Ada banyak Nay.." Aisha tersenyum bahagia. Ia membayangkan wajah bahagia adik-adiknya mendapat oleh-oleh begitu banyak dari Naya.
"Didepan belok kanan kak". Ucap Aisha yang melihat Akbar kebingungan.
" Iya..banyak tu berapa?". Tanya Naya yang tidak puas dengan jawaban Aisha.
"Ehm..13 sama yang bayi".
" Hah???? Beneran lo Sha??". Tanya Naya tak percaya.
__ADS_1
"Duh cukup enggak dong yang kita bawa". Ucapnya lagi terlihat panik.
" Itu banyak Nay..udah lebih dari cukup". Aisha menggenggam tangan Naya yang terlihat panik. Sementara Akbar tersenyum ketika matanya melihat kepanikan Naya dari spionnya.
"Fokus Bar..fokus. Yang ada kita kerumah sakit kalo mata lo ngelirik adek gue mulu". Cibir Ken yang sejak tadi melihat Akbar berkali-kali mencuri pandang pada Naya.
Kadang Ken bingung dengan Akbar. Apa yang lelaki itu lihat dari adiknya? Sikapnya masih kekanakan, grasah grusuh jika melakukan sesuatu. Bahkan jarang sekali adiknya itu serius terhadap sesuatu. Tak bisa ia pungkiri, adiknya memang cantik. Kecantikan sang ibu nampak jelas diwajah adiknya itu. Namun gadis-gadis yang selama ini mendekati Akbar tak kalah cantik dari adiknya. Bahkan lebih anggun daripada adiknya yang jelas pecicilan itu.
"Heran gue sebenernya. Apanya yang bikin lo suka ama tu bocah. Kelakuan bar-bar, kaga pernah serius kalo ngapa-ngapain. Pecicilan pula..apanya yang menarik". Ucap Ken pelan sambil melirik Naya yang sudah kembali mengoceh kesana sini.
Akbar hanya mengangkat bahunya acuh, bibirnya menyunggingkan senyum mendengar pertanyaan Ken yang dirinya sendiri tak tau jawabannya. Ia sendiri tak mengerti mengapa gadis selengekan seperti Naya bisa membuat dirinya langsung tertarik sejak pertama kali bertemu. Apalagi gombalan-gombalan receh Naya benar-benar tidak bisa Akbar lupakan.
" Itu kak..didepan rumah bunda nya". Aisha menunjuk rumah sederhana bercat biru yang menjadi tempat tinggalnya sejak bayi.
"Eh kok rame banget Sha.." Ucap Naya memperhatikan rumah yang ditunjuk Aisha. Aisha membuka pintu sebelum Akbar menghentikan mobilnya dengan sempurna.
"Eh Sha..buset dah. Udah kaya sapidermen aja tu anak main loncat-loncat". Ucap Naya sambil menggeleng.
" Bundaaaaa!!". Teriak Aisha membuat Naya segera ikut turun.
"Tolong lepaskan bunda.."
"Aisha..kamu masuk ya nak. Tenangkan adik-adikmu". Ucap lembut sang bunda.
Aisha menggeleng, sementara Naya dan Akbar serta Ken berjalan mendekat. Semakin dekat mereka melihat seorang wanita yang sepertinya seusia Kirei tengah dipegangi oleh dua orang lelaki bertubuh besar. Tak jauh dari sana ada seorang wanita tengah menatap Aisha dan sang bunda dengan tatapan sinis.
" Tolong bu..beri kami waktu. Saya janji akan membayarnya". Ucap Aisha menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Naya masih belum mengerti tentang permasalahan apa yang dihadapi Aisha.
"Gue udah bosen denger lu janji-janji mulu. Mending emak lu gue bawa buat jadi babu dirumah gue. Lumayan kaga usah bayar babu". Ucap si wanita sarkas membuat Naya memberengut kesal.
"Om..lepasin itu si ibunya. Kasian lah om dipegangin gitu". Ucap Naya pada seorang lelaki yang tengah mencengkeram kuat lengan bunda Aisha.
Naya maju mendekat, namun salah seorang pria itu mendorong bahu Naya hingga Naya hampir terjatuh. Untung Akbar sigap menangkapnya.
" Berani-beraninya lo dorong adek gue!!!". Bentak Ken yang tak terima Naya diperlakukan kasar.
"Bocah bau kencur!! Mending pada minggat sana lu!!". Gertak salah seorang lelaki yang membuat Ken semakin terpancing emosi.
" Kamu gapapa kan?". Tanya Akbar pada Naya yang langsung mengangguk.
" Saya mohon bu..tolong lepaskan bunda". Aisha bahkan sudah bersimpuh dihadapan perempuan yang tak Naya kenal
"Aisha..bangun nak. Jangan seperti itu..bunda baik-baik saja". Ibunda Aisha sudah bercucuran air mata.
" Ibu..ibu bawa saya saja. Jangan bunda". Ucap Aisha kemudian membuat sang bunda menggeleng kuat.
"Lo apaan sih Sha..bangun!!!". Naya memaksa Aisha untuk bangun.
" Hmm..boleh juga. Gua bisa jual elu. Lumayan buat lunasin utang mak lu!". Perempuan itu kembali tersenyum licik.
Mendengar ucapan wanita itu, bukan hanya Naya yang marah. Namun Ken juga sangat marah mendengarnya.
"Sembarangan aja tante kalo ngomong!! Temen saya bukan barang yang bisa diperjual belikan!!!". Seru Naya tak terima, ia bahkan berdiri didepan Aisha seolah menjadi perisai untuk gadis itu.
" Kayanya lu bisa juga gue jual". Si wanita menatap Naya dari ujung kepala hingga kakinya.
"Ini mulut orang ya..udah mau jadi nenek-nenek juga. Inget mati tan!!". Celetuk Naya membuat si Wanita geram.
" Banyak ba cot lu semua!!!. Teriak si wanita
"Bawa si Widya!!!".
" Saya mohon bu Sarah..jangan bawa bunda". Aisha memegang kaki wanita bernama Sarah itu.
"Lepas!! Dasar lu pada nggak berguna!! Gue bakal lepasin ibu lu kalo lu bisa bayar utang!!!". Teriak bu Sarah menghempaskan tubuh Aisha.
" YAAAA!!!!!!". Teriak Ken dan Akbar bersamaan. Kedua pemuda tampan itu memaksa dua pria bertubuh besar melepaskan tangannya dari bunda Aisha, sehingga perkelahian tak dapat dihindarkan.
Beberapa kali Naya melihat Akbar dan Ken terkena pukulan. Namun keduanya juga bisa membalas pukulan dan tendangan dari lawannya.
Melihat situasi semakin tak terkendali, Naya mendekat pada Sarah yang terlihat sedikit ketakutan lantaran dua anak buahnya berhasil dipukul mundur oleh dua pemuda yang tak ia ketahui siapa.
"Berapa utang temen saya?". Tanya Naya tiba-tiba membuat Sarah terkejut.
__ADS_1
" Se-sepuluh juta". Ucapnya sedikit terbata.
Naya melongo mendengar jumlah hutang Aisha dan bunda nya. Hanya karena uang yang menurutnya tak seberapa, Aisha dan ibundanya diperlakukan tak manusiawi.
"Sepuluh juta?". Tanya Naya memastikan. Mungkin ia salah mendengar nominalnya.
" ya. Kenapa? Lu kaga punya duit segitu kan? Makanya nggak usah sok jadi pahlawan". Sarah menatap remeh Naya yang terlihat melongo.
"Bu Sarah, kami hanya meminjam 5juta. Kenapa jadi sepuluh juta?". Tanya Aisha yang saat ini berada dipelukan bundanya.
" Lu kira duit moyang lu!!". Bentak Sarah membuat Aisha dan Widya terkejut.
"Mana no rekening ibu". Tanya Naya membuat Widya segera menyebutkan nomor rekeningnya.
" Sepuluh juta sudah saya kirim. Sekarang anda bisa pergi dari sini". Ucap Naya dingin.
"Tajir juga temen anak Lu Wid. Dari tadi kek kaya gini". Sarah mematap puas layar ponselnya sambil berlalu dari hadapan Naya.
"Kita cabut!". Perintah Sarah pada dua anak buahnya yang sudah babak belur.
" Nay.." Lirih Aisha yang masih terisak.
"Nggak usah mikirin apapun. Kita bawa bunda masuk". Naya membantu memapah tubuh Widya yang lemas.
" Bunda gapapa Sha.." Aisha baru saja membawa ibundanya kekamar dibantu oleh Naya.
"Nak..."
"Naya bun..nama aku Naya". Ucap Naya yang melihat kebingungan bu Widya.
" Terimakasih banyak..kami berhutang budi banyak padamu nak". Ucap Bu Widya dengan mata berkaca-kaca.
"Bunda nggak perlu sungkan..anggap aku anak bunda juga ya". Ucap Naya tersenyum manis.
" Sekali lagi terimakasih, Naya.." Widya tersenyum lembut menatap Naya.
" Sebaiknya kalian keluar. Kasian dua teman kalian tadi, sepertinya mereka terluka". Ucapan bu Widya menyadarkan Naya dan Aisha tentang keberadaan dua makhluk lain yang mungkin tengah menahan sakitnya diluar sana.
Keduanya segera berpamitan pada Widya dan bergegas keluar. Naya berlari mendekati Akbar yang sedang duduk bersebrangan dengan abangnya.
"Ya ampun kak Biru..muka gantengnya jadi babak belur gini". Ucap Naya panik hingga tanpa sadar ia menangkup wajah tampan Akbar yang tiba-tiba merasa kesulitan hanya untuk sekedar bernafas. Jaraknya yang begitu dekat dengan Naya membuat pemuda tampan itu gugup.
Naya melupakan jika disana ada sang kakak yang sama babak belurnya seperti Akbar.
" Adek kagak ada akhlak lo mah dek. Abangnya babak belur, yang diperhatiin orang lain". Cibir Ken membuat Naya menoleh dan nyengir.
"Malah nyengir lagi lo". Sungut Ken yang mengelus pipinya.
" I-ini Nay..buat kompres muka kakak kamu sama kak Akbar". Aisha datang membawa baskom berisi air hangat dan kain.
Naya langsung mengambil kain dan mencelupkannya kedalam baskom. Setelahnya ia duduk dihadapan Akbar dan dengan perlahan menempelkan kain basahnya pada wajah Akbar yang lebam.
"Tahan ya kak..pasti sakit". Ucap Naya mengusapkan kainnya pelan-pelan ke luka Akbar.
" Bener-bener pengen dikutuk elo mah dek". Sengit Ken yang diabaikan oleh Naya.
"Eh..lupa bang". Naya kembali nyengir.
"Gue kompres kak Biru dulu. Minta tolong kompresin abang gue ya Sha..ngomel mulu abang gue. Berisik". Cibir Naya menatap Aisha yang terlihat bingung.
" Kaga usah..gue kompres sendiri aja". Ucap Ken yang melihat Aisha ragu.
"Eh..eng-enggak apa-apa kak. Aku bantu". Akhirnya Aisha mengalah. Ia merasa tak enak, karena Ken jadi seperti sekarang karena menolong dirinya dan bunda nya.
" Maaf kalo sakit kak". Lirih Aisha mulai mengompres wajah Ken dengan sangat hati-hati. Beberapa kali Ken meringis, hingga Aisha pun tanpa sadar ikut meringis. Seolah dirinya ikut merasakan sakit yang Ken rasakan.
"Cantik.." Batin Ken menatap intens wajah teduh Aisha yang begitu dekat dengan dirinya.
"Abang jangan modus ya. Gue kasih kalo macem-macem!". Suara Naya membuyarkan lamunan Ken. Ia langsung menoleh pada Naya yang menunjukkan kepalan tangannya pada sang kakak.
" Apasi lo". Ucap Ken menutupi kegugupannya.
"Apasi lo apasi lo, dasar biang modus". Ucap Naya mencibir.
__ADS_1
" Biang modus, biang modus. Terus lo apaan?". Balas Ken telak membuat Naya kembali nyengir. Sementara Ken mendengus kesal.