Imperferct Partner

Imperferct Partner
Akhir Bahagia Kirei


__ADS_3

Detik bergabti menit, sementara menit pun berganti jam. Jam berganti hari dan hari pun berganti bulan. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini, Kirei menatap wajah cantik putrinya yang semakin terlihat cantik dengan make up sederhana yang dipoleskan ke wajahnya.


Mata Kirei berkaca-kaca melihat anak yang ia lahirkan sudah tumbuh menjadi wanita cantik. Ah..putrinya bak seorang putri raja jika sedang diam seperti saat ini.


Perlahan ia mendekat, semakin dekat semakin terlihat pula kecantikan putrinya itu. Naya yang melihat siluet ibunya dari kaca didepannya tersenyum hangat padanya.


"Mom..mommy gimana ini. Aduh aku deg-degan mom..kan nggak lucu ya mom nanti mau tuker cincin terus akunya semaput". Hilang sudah keanggunan yang sejak tadi Kirei lihat.


Hah..memang lebih baik putrinya itu diam. Dengan diam, maka putrinya akan benar-benar seperti seorang putri raja. Jika sudah berbicara, Kanaya anaknya akan lebih mirip seperti seorang sales.


" Kamu tuh ya dek..udah cantik. Sekalinya ngomong udah kaya sales nawarin barang dagangannya. Untung Akbar masih mau sama kamu". Cibir Kirei yang membuat Naya mencebik.


"Kak Biru itu cinta sama aku mom..jadi pasti betah dong ama aku". Ucap Naya sombong.


" Heleh..sok-sokan tau cinta kamu. Tau cinta juga baru kemarin". Kirei menoyor pelan kepala putrinya lantaran gemas.


"Ish..yang penting tau mom". Sahut Naya tak mau kalah.


" Iya..iya..kamu memang yang paling tahu soal cinta". Kirie mengalah. Waktunya sudah tiba untuk membawa putrinya turun. Bisa-bisa sampai subuh jika meladeni ucapan anak gadisnya itu.


Tak lama pintu terbuka, perempuan dengan perut yang sudah mulai membesar terlihat membuka pintu kamar Naya. Ia melongokkan sedikit kepalanya untuk melihat aktivitas didalamnya.


"Mom...sudah waktunya". Ucapnya lembut dijawab anggukan kepala oleh Kirei.


" Ayo turun..kakak iparmu sampai menyusul karena kamu--"


"Iya..iya mommy. Kenapa mommy jadi galak. Inget udah mau punya cucu". Sindir Naya membuat Kirei melotot.


" Ayo Sha..mommy lama jalannya. Faktor U kayanya". Ucap Naya membuat dirinya dapat tatapan tajam dari ibunya. Namun bukannya takut. Naya justru terbahak melihat ibundanya melotot.


"Ish..kamu ini. Sehari nggak bikin mommy snewen nggak bisa apa?". Tanya perempuan yang adalah kakak ipar Naya.


" Yaelah Sha..Sha. Kalo gue kagak bikin mommy teriak, ntar ada yang kurang". Bisik Naya membuat perempuan itu menggeleng sambil menjewer pelan telinga adik iparnya.


"Widih..si abang emang mantap. Udah langsung josss.."


"Hai keponakan onty..disini ada onty Nay yang paling cantik. Kamu nanti jangan kaya papi kamu ya. Nggak bener". Naya seolah berbicara pada anak dalam kandungan kakak iparnya.


" Haish..malah ngobrol disini. Udah ayo buruan dibawah udah ditungguin". Naya menoleh, menatap lagi seorang perempuan yang juga berstatus sama sebagai kakak iparnya.


"Mbak Khanza udah hamil juga belom?". Tanya Naya membuat Khanza kaget.


" Lah ujug-ujug nanya hamil".


"Biar aku sekalian nih punya ponakannya. Biar rame ni rumah". Ucap Naya dengan senyum mengembang.


" Ini gimana sih..kok pada diem didepan pintu. Udah ayo turun..kasian tamunya nunggu lama. Akbar juga kasian". Kirei datang dan langsung mengomel ketika mendapati anak dan menantunya justru masih berdiri ddidepan pintu kamar.

__ADS_1


"Ini juga mau turun kanjeng". Naya berlaga seolah sedang memberi penghormatan pada ratunya.


Setelah drama dengan sang ibu, Naya digandeng oleh Kirei dan Khanza. Sementara Aisha berjalan dibelakang mereka.


Diruanh tamu keluarga Tama, nampak seorang pria gagah yang sudah terlihat sangat tampan dengan balutan kemeja batik lengan panjang dengan celana hitam dan sepatu hitamnya yang mengkilat. Matanya menatap kagum pada gadis yang sedang berjalan menuruni anak tangga dengan diapit ibu dan kakak iparnya itu.


Senyum mengembang diwajah tampannya kala matanya bersitatap dengan mata indah milik kekasih hatinya. Aah..betapa beruntungnya ia mendapatkan gadis itu sebagai calon pendampingnya.


Tepat hari ini. Naya, putri bungsu Kirei dan Tama akan bertunangan dengan lelaki yang sudah menjaga dan mencintainya selama 5tahun lebih lamanya.


Akbar..lelaki yang dengan sabar selalu mendampingi dan melindungi Naya selama lima tahun belakangan. Keduanya sudah menjalin hubungan sejak tiga tahun lalu, atau lebih tepatnya saat Naya baru saja lulus dari SMA.


Akbar dengan sabar menunggu gadis itu lulus untuk menjadikannya kekasih. Dan hari ini, buah kesabarannya selama lima tahun lebih membuahkan hasil yang membahagiakan.


Bertepatan hari ini, ia akan mengikat Naya dengan tali pertunangan, sebelum nantinya ia akan menikahi gadis cerewet yang mengisi hari-harinya selama 6tahun ini


Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh dirinya jika ia akan jatuh hati pada seorang gadis cerewet yang jauh dari kata anggun. Gadis yang sedikit bar-bar dan pecicilan itu ternyata mampu menyita hati dan seluruh pikirannya.


Kai yang melihat istrinya segera berjalan mendekatinya dan langsung memegang tangannya. Perhatian Kai pada Aisha istrinya selalu membuat Naya bahagia.


Hingga saat ini, Naya tak pernah menyangka jika Aisha sahabatnya akan berakhir menjadi istri si cassanova menyebalkan yang tak lain adalah abangnya.


Ia mengira Aisha akan bersama dengan Ken. Karena sejak pertama bertemu, Naya melihat Ken selalu memperhatikan Aisha. Namun takdir tak pernah ada yang tahu, rupanya takdir tuhan sudah lebih dulu menggariskan takdir jodoh Aisha adalah Kai.


Akh..sungguh kisah cinta yang rumit. Pikir Naya sambil tersenyum. Ia tak menyadari jika kisah cinta nya pun jauh lebih rumit sebenarnya.


Semakin dekat dengan Akbar berdiri, jantung Naya terpompa semakin cepat. Sudah lima tahun lebih lamanya ia dan Akbar dekat, bahkan sudah menjalin hubungan kasih selama tiga tahun lebih. Namun perasaan berdebar itu tak pernah surut.


Dibelahan bumi lain, Al sedang menatap laptopnya yang memutar video tentang pertunangan Akbar dan Naya. Matanya memanas, dadanya seolah tertimpa oleh batu besar hingga membuatnya sulit bernafas dengan baik.


Air matanya luruh juga, ia bahagia melihat wanita yang ia cintai bahagia. Namun ia juga tak dapat menyembunyikan lara hatinya melihat gadis cerewet nya kini semakin jauh dari jangkauannya.


Ya, lelaki yang sedang menangis itu adalah Al. Selama ia meninggalkan negara tercintanya, tak pernah sekalipun ia melewatkan kegiatan Naya. Tanpa sepengetahuan siapapun, ia menyewa detektif swasta untuk selalu mengawasi Naya dan juga melindunginya jika ada sesuatu yang berbahaya.


"Aku udah coba Kay..aku udah coba buat lupain perasaan ini. Tapi kenapa Kay..kenapa..." Al, lelaki dingin yang tak tersentuh oleh wanita manapun itu kini menangis sesenggukan didepan layar laptopnya yang menampilkan wajah Naya yang tersenyum ketika Akbar memasang cincin di jari manisnya.


"Ahh..aku harus bahagia. Aku berjanji akan bahagia jika kamu bahagia Kay.." Meskipun begitu, air matanya taj berhenti mengalir.


Sang nenek hanya bisa mengintip dari celah pintu ruang kerja cucunya. Sudah 5tahun lebih, bahkan hampir 6tahun lamanya. Berbagai gadis dari berbagai kalangan sudah coba ia kenalkan pada sang cucu. Namun hati cucunya seolah mati untuk merasakan cinta untuk gadis lain.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini nak". Gumam sang nenek sedih.


Sebenarnya Al mendapat undangan pertunangan sahabatnya itu. Namun merasa dirinya tak akan sanggup jika menyaksikan langsung pertunangan itu. Al memilih menjadi pecundang dan tak menghadirinya. Hanya mengirimkan hadiah untuk dua orang yang sedang bahagia itu saja yang ia lakukan.


Kembali lagi ke kediaman Tama, saat ini Akbar dan Naya tengah menerima ucapan selamat dari kerabat dan teman-teman terdekatnya. Senyum tak pernah surut dari wajah pasangan itu.


" Haus?". Tanya Akbar yang dijawab anggukan kepala oleh Naya.

__ADS_1


"Kakak ambilin dulu ya..sebentar". Seperti biasanya, Akbar akan selalu menjadikan Naya seorang ratu. Meski dilarang sekalipun, Akbar akan tetap melakukannya untuk pujaan hatinya.


" Minum dulu sayang.." Naya tersipu, meski sudah sering Akbar memanggilnya dengan mesra. Namun tetap saja itu mampu membuat Naya tersipu.


"Makasih kak.." Naya meminum air yang diberikan Akbar padanya, setelahnya ia meletakkan gelasnya diatas meja disamping tempatnya berdiri.


"Kak.." Panggilan Naya membuat Akbar menatapnya.


"Kak Al nggak pulang? Dia nggak dateng ya?". Tanya Naya pelan.


Akbar menghela nafas panjang, ia tahu alasan Al tak datang. Sudah jelas hati lelaki itu belum sanggup merelakan Naya yang saat ini bersanding dengan dirinya.


" Segitu cintanya elo sama Kanaya, Al. Ini udah hampir 6tahun Al..dan lo masih terus berusaha menghindar". Batin Akbar sedih.


Ia berharap sahabatnya itu akan datang hari ini. Namun harapan tinggalah harapan. Rupanya sahabatnya masih belum bisa merelakan gadis pujaannya.


"Kak..Kak.." Panggilan Naya menyadarkan Akbar dari lamunannya.


"Apa aku pernah bikin salah sama kak Al ya..bahkan selama hampir 6tahun ini, kak Al cuma kesini 3kali". Ucap Naya sedih.


" Nggak ada sayang..Al pria sukses. Usahanya berkembang pesat disana. Mungkin saat ini dia sangat sibuk". Tak ada sedikitpun perasaan cemburu ketika Naya menanyakan keberadaan Al. Karena wanitanya itu benar-benar menganggap Al sama seperti Ken dan Kai.


"Kamu sedih tunangan sama kakak?". Pertanyaan Akbar membuat Naya menoleh.


" Mana ada kaya gitu..kakak nggak liat aku dari tadi senyum, nggak liat nih aku didandanin udah kaya putri raja gini. Ini tuh biar kakak liat kalo aku cantik..biar nggak lirik cewek lain lagi..karna aku udah bahagia banget sama kakak. Aku nggak mau pisah sama kakak". Akbar tersenyum mendengar gadisnya sudah kembali cerewet.


"Ini baru Kanayanya kakak". Akbar mengelus pucuk kepala Naya dengan sayang. Semua itu tak luput dari pandangan kedua orang tua Kirei juga Akbar. Mereka sangat bahagia melihat kedua anaknya bahagia.


Dari jauh, Kirei bersama Tama menatap anak gadisnya. Senyum kebahagiaan terkembang jelas diwajah yang mulai terlihat menua itu.


Mereka kemudian menatap kedua putra kembarnya yang sedang bersama istrinya masing-masing. Benar-benar hal yang membuat mereka menangis bahagia.


" Anak-anak kita mas.."


Tama hanya mengangguk, tangannya memeluk pundak sang istri dengan lembut. Ia mencium pelipis istrinya yang matanya sudah berkaca-kaca melihat kebahagiaan anak-anaknya itu.


"Kayanya baru kemarin aku melahirkan mereka mas..sekarang bahkan satu diantaranya sudah mau jadi seorang ayah".


" Aku bahagia mas..sangat bahagia. Bahkan jika Allah mengambil nyawaku saat ini, dengan senang hati aku akan menantinya mas. Melihat mereka bahagia sudah membuatku sangat bahagia mas..Ini impian terbesarku mas. Melihat anak-anak ku bahagia". Kirei sudah menangis bahagia dipelukan Tama.


Keduanya tak pernah menyangka jika takdir hidup mempertemukan keduanya dan menjadikan kehidupan keduanya sesempurna ini.


END


########


Cerita Tama sama Kirei sampai sini saja teman-teman semuaaaa...

__ADS_1


Jangan keburu ditinggal tapi yaaa..masih bakal ada cerita Naya, disini juga kok..Kisah yang di tamatin cuma kisah cinta bapak emaknya si cerewet Kanaya aja..


Terus dukung othor ya..semoga nggak bosen baca cerita dari othor yang masih amatiran ini..


__ADS_2