
Kehadiran Juan dirumah sakit milik sang ayah cukup menggemparkan. Selain karena wajah tampannya, kemampuan Juan dalam menangani pasien membuat banyak orang berdecak kagum.
Beberapa kali Kirei dan Juan pergi dan pulang bersama dari rumah sakit. Menyebabkan banyak gosip tidak mengenakkan tentang hubungan mereka. Kirei selalu dibicarakan dimanapun ia berada, khususnya tentang kedekatannya dengan sang adik ipar. Mereka berpikir jika Kirei dan Juan memiliki hubungan lebih dari sekedar kakak dan adik ipar. Apalagi Juan memang selalu perhatian pada Kirei.
Kirei dan Juan tak pernah ambil pusing dengan segala pemberitaan mengenai mereka. Toh mereka memang tidak memiliki hubungan apapun kecuali saudara ipar.
"Mas Tama nggak jemput lagi mbak?". Tanya Juan kala melihat Kirei berjalan diparkiran rumah sakit.
"Mas mu itu terlalu sibuk mengurusi ondel-ondel". Ucap Kirei santai. Juan memang sudah mengetahui jika Tama sedang terlibat kontrak kerja dengan Inneke. Wanita dari masa lalu sang kakak yang membuat lelaki itu pernah menjadi cassanova menyebalkan.
"Masih belum selesai juga?". Tanya Juan dan dijawab gelengan kepala oleh Kirei. Sejujurnya Kirei sudah tidak nyaman lagi dengan pekerjaan Tama yang selalu membuat lelaki itu berdekatan dengan Inneke. Apalagi Saga dan Gery tidak bisa lagi selalu menemani Tama belakangan ini. Proyek mereka terlalu banyak jika ketiganya harus selalu ada ditempat yang sama.
"Mau menyusulnya?". Tawar Juan membuat Kirei menatapnya.
"Aku sudah selesai mbak dengan praktekku. Aku akan mengantar mbak kesana". Kembali Juan bersuara karena tidak mendapat tanggapan dari kakak iparnya.
Entah mengapa sejak pagi Kirei sudah merasa tidak tenang dan selalu terpikirkan suaminya. Dirinya selalu membayangkan jika Inneke akan terus menempel pada suaminya itu.
"Baiklah. Kita susul kakakmu". Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Kirei memutuskan untuk menyusul Tama ke studio fotonya.
####
Sepanjang perjalanan hati Kirei semakin tidak tenang, hingga membuat Juan yang sedang menyetir sesekali meliriknya.
"Mbak..." Panggil Juan masih fokus dengan kemudinya.
"Mbak Kirei". Lagi, Juan memanggil kakak iparnya yang sepertinya tengah melamun.
"Mbak..!" Juan menepuk pundak Kirei hingga membuat kakak iparnya itu tersentak kaget.
"I-iya apa?". Tanya Kirei tergagap.
"Mbak mikirin apa??". Tanya Juan menoleh sesaat pada Kirei.
"Mikirin apa??". Tanya Kirei balik.
"Aku udah panggil mbak berkali-kali. Mbak ngelamun?".
"Ha? Enggak Ju..mbak cuma capek dikit". Kirei memaksakan senyumnya. Namun Juan tahu bahwa kakak iparnya tengah memikirkan Tama.
"Beneran?". Tanya Juan memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Kirei disertai senyum meyakinkan.
"Sudah berapa lama mereka bekerja sama mbak? Dan kenapa mas Tama menerimanya?". Juan sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
"Mbak juga kurang tahu gimana awalnya Ju. Tapi yang pasti Daniel yang meminta ondel-ondel itu untuk menjadi modelnya". Ucap Kirei mencoba meredam amarahnya. Mengingat Daniel dan Inneke, dua manusia gila yang akan melakukan segala hal untuk memenuhi keinginannya.
"Daniel? Jadi Inneke model dari perusahaannya??". Tanya Juan memastikan. Sementara Kirei hanya menganggukkan kepalanya membalas pertanyaan Juan.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah sampai ditempat Tama dan Inneke mengambil gambar. Masih didalam studio foto milik Tama, karena pengambilan gambar outdoor sudah selesai dilakukan beberapa hari lalu.
"Kok sepi gini mbak?". Tanya Juan ketika menginjakkan kakinya kedalam studio foto milik sang kakak. Kirei hanya menggeleng, hatinya semakin diliputi perasaan tak tenang. Dengan tergesa Kirei mempercepat langkahnya menuju ruangan biasa sang suami mengambil gambar.
"Pelan-pelan mbak. Mbak Kirei bisa jatuh". Juan hampir berlari mengejar Kirei yang berjalan begitu cepat.
__ADS_1
Tubuh Kirei mematung didepan pintu yang baru saja ia buka. Sementara Juan terlihat bingung melihat kakak iparnya mematung didepan pintu dengan mata menatap lurus kedepan.
Dengan rasa penasaran, Juan mengikuti arah pandang Kirei. Matanya melebar melihat apa yang ada didalam ruangan itu, sementara rahangnya mengeras dengan tangan terkepal kuat.
"MAS!!!". Teriak Juan membuat dua orang didalam ruangan itu tersentak kaget. Tama segera menoleh, begitupun Inneke.
"Sayang.." Ucap Tama dengan mata melebar menatap Kirei yang masih tetap bungkam dan tak bergerak dari tempatnya.
"Sayang..ini nggak kaya yang kamu lihat". Tama bergegas mendekati Kirei yang perlahan mundur dan langsung berbalik kemudian berlari meninggalkan Tama dan Juan.
"Ki..tunggu!! Mas bisa jelasin semuanya". Teriak Tama yang masih mengejar Kirei.
"Mbaaak!". Juan pun berteriak memanggil kakak iparnya yang seperti sengaja menulikan pendengarannya atas panggilannya dan sang kakak.
Kirei terus berlari tanpa peduli pada orang yang menatapnya aneh. Ia hanya berusaha sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga.
Kirei segera masuk ke dalam taksi yang berhenti tepat didepan studio foto sang suami setelah baru saja menurunkan penumpangnya.
"Jalan sekarang pak". Perintah Kirei membuat supir taksi segera melajukan mobilnya.
"Tapi itu mbaknya dipanggil". Ucap sang sopir yang melihat Juan dan Tama berlari mengejar mobilnya.
"Jalan aja terus pak". Nafas Kirei masih terengah setelah berlari menghindari Tama dan Juan. Ponselnya terus berdering, jelas siapa peneleponnya. Sudah pasti Tama yang menelpon Kirei. Kirei memilih mematikan ponselnya dan kembali menyimpannya kedalam tas.
"Mau diantar kemana mbak?". Tanya sopir taksi memecahkan lamunan Kirei.
"Apartemen xxx pak". Setelah beberapa saat berpikir, Kirei memilih mendatangi apartemen milik sahabat baiknya, Tania. Jika dirinya pulang ke apartemen lamanya, sudah pasti Tama akan tahu.
Saat ini Kirei hanya ingin menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Ia tidak ingin berbicara pada Tama dengan kondisi emosinya yang sedang tidak baik seperti saat ini. Bisa ia pastikan bahwa hanya akan terjadi hal yang semakin tidak baik jika ia memaksakan berbicara dengan sang suami saat ini. Ia akan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mendengar semua penjelasan Tama.
"Itu kaga kaya yang elo liat kampret". Tama menoyor kepala adiknya lantaran kesal dituduh yang tidak-tidak oleh sang adik.
"Lah terus apaan tadi kalo kaga ciuman. Gue bilangin ibu sama ayah, baru tau rasa lo". Ancam Juan membuat Tama gelagapan.
"Jangan!! Bisa digorok idup-idup gue ama ibu". Ucap Tama cepat membuat Juan tersenyum miring. Ia tahu betul seperti apa rasa sayang kedua orang tuanya untuk Kirei.
"Dicoret dari KK lo ama ayah kalo ampe pada tau kelakuan lo". Ucap Juan semakin membuat Tama pucat.
"Cari mbak Kirei sono!!! Malah bengong lo mas!". Sentak Juan membuat Tama berlari kedalam.
"Cari mbak Kirei sableng!! Bukan datengin lagi itu ondel-ondel!!!". Teriak Juan kesal.
"Ambil kunci mobil koplak! Lo kata gue mau jalan kaki nyari bini gue". Tama balas berteriak.
"Ooooh..lupa gue". Juan mengikuti Tama masuk kedalam ruangan dimana Inneke masih berada. Ia tidak ingin wanita masa lalu sang kakak kembali mencari kesempatan. Meski ia tahu jika kakaknya adalah mantan cassanova menyebalkan, namun selama melihat rasa sayang Tama untuk Kirei, Juan yakin jika ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Masuk kedalam ruangan yang tadi Tama gunakan untuk mengambil gambar Inneke.
"Aksa.." Inneke berjalan mendekat. Namun dengan cepat Juan menghadangnya.
"Jangan pernah cari kesempatan buat deketin kakak gue. Dia udah punya istri! Ingat baik-baik!". Peringat Juan membuat Inneke membeku ditempatnya. Ia tidak menyangka jika Juan akan bersikap sekeras itu hanya untuk melindungi hak Kirei.
"Tapi aku dan Aksa--"
__ADS_1
"Berhenti manggil kakak gue dengan nama Aksa!!! Aksa lo udah mati 6tahun lalu!!". Bentak Juan penuh emosi.
"Lo mau ribut ama dia apa ikut gue?". Pertanyaan Tama membuat Juan segera berlalu meninggalkan Inneke yang sudah hampir menangis dibentak dan diteriaki oleh Juan.
"Jangan pernah bikin kakak ipar gue nangis!". Ancam Juan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Inneke.
"Kenapa Sa..kenapa mereka sayang banget sama Kirei". Lirih Inneke yang tubuhnya melorot ke lantai.
"Inneke..lo kenapa??". Asisten pribadi Inneke yang baru saja masuk terkejut melihat modelnya duduk lemas dilantai.
"Pak Tama mana?? Pemotretannya udah kelar??". Tanya nya bingung. Namun Inneke masih tetap diam dengan air mata yang terus saja mengalir.
####
Juan dan Tama berpencar untuk mencari Kirei. Juan pergi kerumah sakit, sementara Tama pergi ke apartemen lama sang istri.
"Kamu kemana Ki. Sumpah ini nggak kaya yang kamu liat". Tama duduk dengan menjambak rambutnya sendiri lantaran bingung harus kemana lagi mencari istrinya.
"Halo Ju..gimana? Ada dirumah sakit??". Tama menelepon sang adik yang tadi bertugas mencari Kirei ke rumah sakit.
"Kaga ada. Gue udah cari dirumah ibu, tapi nihil". Suara Juan sama terdengar frustasinya seperti Tama. Ia baru beberapa hari dikota itu, dan belum juga mengetahui kemana saja tempat favorit Kirei jika sedang sedih dan kalut seperti saat ini.
"Oke". Tama menutup teleponnya.
"Tania!!". Pekik Tama seolah menemukan tempat yang paling mungkin didatangi Kirei. Ia bergegas menuju apartemen sahabat baik istrinya itu.
Sepanjang perjalanan Tama tak hentinya merapalkan doa agar sang istri ada di apartemen Tania. Sementara didalam apartemen Tania, Kirei sedang memasak untuk makan siangnya yang sudah terlampau siang itu. Sedangkan, sang pemilik apartemen masih berkutat dengan pekerjaannya tanpa tahu bahwa sudah ada yang membajak apartemennya.
Kirei tampak acuh saat mendengar bel apartemen terus berbunyi. Ia tahu jika Tama pasti akan mencarinya kesana. Jadi Kirei sengaja mendiamkannya tanpa ada niatan sedikitpun untuk membukanya. Biarlah untuk beberapa hari ini dirinya berdiam diri diapartemen sahabatnya itu.
"Ayo Tan..buka. Kirei pasti didalam". Tama terus memencet tombol bel. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda bahwa didalam apartemen ada penghuninya.
Tama segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia mencari kontak nama Tania dan segera menghubunginya. Tidak butuh waktu lama untuk mendengar jawaban dari seberang sana.
"Halo, pak Tama". Terdengar suara Tania membuat Tama menghela nafas lega.
"Halo Tania. Kamu sedang bersama Kirei??". Tanya Tama langsung. Beberapa saat hening sebelum Tania menjawab pertanyaan Tama.
"Tidak pak. Tadi siang bukankah Kirei pulang bersama dokter Juan?". Terdengar suara Tania yang heran dengan pertanyaan Tama. Menandakan bahwa gadis itu juga tidak mengetahui keberadaan Kirei.
"Kabari saya jika kamu bertemu Kirei. Terimakasih". Tanpa menunggu jawaban Tania, Tama memutus sambungan teleponnya.
"Kamu kemana Ki". Lirih Tama. Sedang Kirei tengah asyik menikmati pasta yang baru saja selesai ia buat.
"Ngadepin kenyataan juga butuh banyak tenaga". Gumam Kirei kemudian memasukkan pasta ke dalam mulutnya.
####
Mentari telah berganti senja yang indah. Tania bergegas pulang setelah jam kerja nya selesai. Sejak menerima telepon Tama siang tadi, ia menjadi tidak fokus bekerja.
Dengan tergesa ia memasukkan digit demi digit nomor access untuk masuk kedalam apartemennya. Pemandangan pertama yang ia lihat membuatnya bernafas lega. Pasalnya apartemennya masih gelap, sama seperti biasa ia pulang bekerja. Gelap dan sepi.
Ia sempat takut jika menantu pemilik rumah sakit tempatnya bekerja tengah bersembunyi diapartemennya. Namun ketakutannya sirna sudah melihat kondisi apartemennya yang masih sama seperti biasa ia pulang bekerja. Perlahan tangannya terulur menekan saklar lampu ruang tamu apartemennya.
__ADS_1
Jantungnya hampir copot melihat pemandangan didepannya. Seorang wanita tengah tertidur pulas diatas sofa ruang tamu apartemennya.
"KIREIIIIII!!!".