
Naya kembali ke meja nya setelah membacakan jadwal Al untuk hari ini. Sementara Safira benar-benar menikmati masanya memiliki asisten yang selalu siaga menjalankan tugasnya.
"Gimana?? Nggak se sulit yang kamu bayangin kan?". Tanya Safira saat Naya sudah duduk disamping ibu hamil itu.
" Ya gitu deh mbak..enak nggak enak. hehe". Naya menunjukkan senyum manisnya.
Keduanya terlibat percakapan serius seputar pekerjaan diselingi obrolan ringan. Hingga keduanya tak menyadari kedatangan seorang wanita yang berdiri tak jauh dari mereka, tangannya terkepal kuat melihat Naya tertawa bersama Safira. Terlihat jelas gadis itu nyaman berada diposisi nya saat ini.
"Masih lama mbak lahirannya??". Tanya Naya sambil mengelus perut buncit Safira.
" Sekitar satu bulan lagi Nay..makanya kamu harus bisa nge handle semua kerjaan ini sebelum aku bener-bener cuti lahiran".
"Selamat pagi bu.." Naya dan Safira kompak menoleh. Wajah keduanya berubah dingin melihat siapa yang datang.
"S-saya.."
"Bilang pada pak Yohan kalau bu Dina sudah disini, Nay". Ucap Safira berubah formal, bahkan sebelum Dina selesai berkata-kata, Safira sudah memotongnya dengan menyuruh Naya masuk kedalam ruangan Al.
" Baik bu.." Naya gadis yang pintar menempatkan dirinya diposisi apapun.
tok..
tok..
tok..
Setelah mendapat jawaban dari dalam, Naya masuk kedalam ruangan Al. Disana ia melihat Al sudah tenggelam dengan pekerjaannya, hingga lelaki itu hanya mengangkat sebentar kepalanya kemudian kembali fokus pada dokumen dihadapannya.
"Ada apa Kay?". Tanya Al karna Naya tak kunjung bersuara. Naya terlalu sibuk mengagumi wajah rupawan Al yang membuatnya hilang fokus untuk sesaat. Naya segera menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya.
" Bu Dina sudah ada didepan pak". Al menghentikan gerakan tangannya membuka dokumen. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Naya yang masih menunggu perintahnya selanjutnya.
"Suruh dia masuk Kay.."
"Baik pak.." Naya membungkukkan badannya sedikit dan berbalik.
"Kay.." Panggilan Al membuat Naya mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruangan Al.
"Ada lagi yang bisa saya bantu pak?". Tanya Naya
" Tidak ada.." Al tersenyum tenang, namun itu berhasil membuat jantung Naya berdegup kencang.
"K-kalau begitu saya permisi. Saya akan meminta bu Dina masuk.." Naya keluar dari ruangan Al
"Silahkan bu Dina. Pak A-, maksud saya pak Yohan sudah menunggu". Naya berusaha profesional, meski sebenarnya ia ingin mencakar wajah menyebalkan itu.
" Mari bu Safira.." Dina membungkukkan badannya pada Safira tanpa berniat menyapa Naya. Naya benar-benar dianggap pajangan disana, Dina mengabaikannya.
"Dasar cucunya poldemort". Gumam Naya menatap kesal pada Dina yang sudah menghilang dibalik pintu.
" Hahaha..apa Nay?? cucunya siapa??". Rupanya Safira mendengar gumaman Naya. Segala tindakan Naya selalu membuatnya tersenyum.
"Cuxunya si poldemort. Mbak tau kan poldemort?? Setan luar negeri musuhnya si kang potter". Safira semakin terbahak mendengar penjelasan Naya.
" Apa sebegitu menyeramkan??". Tanya Safira setelah mampu meredakan tawanya.
"Bukan serem mbak..tingkah liciknya itu loh yang kaya kakeknya. Sebel aku kalo inget". Naya masih tetap bersungut-sungut.
" Emang cocok kalo jadi cucunya poldemort ". Safira semakin tergelak saja.
" Siapa yang cucunya voldemort?? ". Tanya Rian yang baru saja datang.
" Tuh didalem ruangan direktur ada cucunya poldemort kata si Naya mah". Jelas Safira membuat kedua alis Rian bertaut lantaran bingung.
"Voldemort apaan sih??". Tanya Rian yang masih belum paham.
__ADS_1
Belum sempat Safira menjelaskan, pintu ruangan direktur terbuka dari dalam dan menampakkan Dina dengan wajah kusutnya keluar dari ruangan Al.
Dina menganggukkan kepalanya pada Rian dan Safira, sama seperti sebelumnya, ia tak menganggap keberadaan Naya disana.
" Kenapa tu cucunya poldemort mukanya mendung gitu". Gumam Naya menatap punggung Dina.
Tak lama telpon interkom dimeja Naya berbunyi, ternyata Al yang menelponnya dan memintanya untuk masuk kedalam ruangannya.
"Ya pak.." Naya berdiri didepan meja Al yang masih menatap berkas ditangannya.
"Ini..kamu yang mengerjakan?". Al memberikan dokumen kontrak kerjasama yang membuat heboh beberapa waktu lalu pada Naya yang langsung menerimanya.
" Iya pak.."
"Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?". Tanya Al lagi membuat Naya menghela nafas. Ia sudah malas membahas hal ini lagi sebenarnya, tapi Al harus tahu kebenarannya. Dirinya tak melakukan kesalahan apapun tentang surat kontrak kerjasama itu.
Naya kemudian menceritakan semuanya. Dari raut wajahnya, sepertinya Al sudah mengetahuinya, terlihat dari raut wajahnya yang tidak tidak menunjukkan rasa terkejut sama sekali. Wajahnya cenderung datar walau sesekali terlihat kilatan amarah dimata tajamnya. Naya tak tahu, kepada siapa amarah itu Al tujukan.
" Aku sudah memberi peringatan keras pada Dina". Naya mengangkat wajahnya untuk menatap Al. Ia tidak menduga jika dipanggilnya Dina ke ruangan Al untuk diberi teguran.
"Aku juga sudah memberinya surat peringatan. Jika ia mengulang lagi kesalahannya, maka dia harus menerima konsekuensinya". Ucap Al lagi
"Aku tidak bisa langsung memecatnya. Dia termasuk karyawan terbaik, sebenarnya aku tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal gila seperti ini". Imbuhnya lagi. Naya hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan Al. Ia tidak menampik kenyataan bahwa Dina memang kompeten dan mungkin termasuk orang yang sangat dibutuhkan perusahaan.
Naya terhenyak ketika merasakan kedua pipinya ditangkup oleh seseorang. Ia segera mengangkat kepalanya dan matanya kembali bertemu dengan mata tajam yang selalu membuatnya merasa damai dan dilindungi.
" Maaf..kakak nggak ada waktu kamu tertekan akibat ulah Dina". Al mengelus pipi Naya hingga membuat Naya seperti tersengat listrik. Hatinya tergelitik, entah perasaan macam apa ini.
"Ng-nggak apa-apa kak. B-bukan salah kakak.." Sungguh Naya merutuki lidahnya yang kesulitan bahkan hanya untuk berkata tidak apa-apa.
"Aku janji akan selalu menjaga kamu dari siapapun yang ingin menyakiti kamu Kay.." Naya tak bisa berkata apapun, bahkan menelan ludahnya pun terasa sulit. Pandangan matanya berhenti pada bibir Al yang terlihat menggoda imannya, sungguh Naya merutuki otaknya yang sudah tercemar.
Al menatap lekat mata indah Naya yang semakin menenggelamkannya pada cinta yang semakin dalam dan tak berkesudahan. Ingin rasanya Al mencicipi manisnya madu dibibir mungil Naya yang membuat has*at kelelakiannya bangkit hanya dengan menatap bibir mungil itu.
Naya bukan tak menyukai pelukan Al, dia suka..bahkan sangat. Dirinya hanya merasa tidak siap, tidak siap menghadapi deguban jantung yang semakin liar serta hati yang semakin tak terkendali. Ia takut semakin dalam merasakan perasaan yang tak semestinya ia rasakan.
"Bentar aja.."
"Biarin kaya gini bentar aja Kay.." Lirih Al semakin mengeratkan pelukannya. Menyalurkan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan selama ini. Dirinya ingin menghentikan waktu saat ini, sehingga dirinya bisa bersama dengan Kanaya nya. Gadis yang tanpa ia sadari sudah masuk terlalu dalam mengisi setiap celah hatinya selama 6tahun ini.
Naya akhirnya membalas pelukan Al. Ia membenamkan wajahnya didada bidang Al yang terasa sangat hangat dan nyaman. Benar-benar nyaman hingga membuatnya terbuai dengan keadaan.
Keduanya terhanyut dalam perasaan nya masing-masing hingga tanpa sadar sudah beberapa waktu mereka lalui.
Keluar dari ruangan direktur, Naya mendapat tatapan curiga dari Rian dan Safira yang rupanya sejak tadi masih berada didepan ruangan Al. Keduanya menatap Naya dari kepala hingga kaki, seolah memastikan pemampilannya masih utuh sama seperti sebelum masuk kedalam kandang singa itu.
"K-kenapa sih mbak? Bang?". Tanya Naya gugup, pasalnya tatapan keduanya benar-benar membuatnya salah tingkah. Sejujurnya ia sedikit takut jika kedua orang kepercayaan Al itu melihat apa yang dilakukannya dengan Al. Meski hanya sekedar berpelukan, namun tetap saja hal itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang yang berstatus direktur dengan sekretaris nya.
" Kamu didalam nggak diapa-apain kan??". Tanya Safira dengan mata memicing hingga membuat Naya semakin gelagapan saja.
"Di..di apa-apain gimana maksud mbak Fira?". Tanya Naya berusaha setenang mungkin.
" Mungkin....diomelin?". Ucap Safira membuat Naya sedikit lega.
"Atau didalam tadi terjadi sesuatu yang lain??". Kini Rian yang menatapnya dengan senyum menggoda. Naya sama sekali tak tahu jika kedua orang didepannya ini sudah sangat tahu jika Al tak mungkin melakukan sesuatu yang membuat Naya sedih, mereka bertanya hanya untuk menggoda Naya.
" M-maksud abang apa??". Tanya Naya dengan wajah memerah. Bayangan Al membelai pipinya dan pelukan hangat Al mampu membuat wajahnya terasa panas.
"Mungkin..kamu dihukum?". Ucap Rian dengan alis terangkat.
" Kenapa wajahmu merah??". Goda Rian yang semakin bersemangat menggoda Naya.
"P-panas..iya panas. Emang Mbak Fira sama bang Rian nggak ngerasa panas?". Naya mengalihkan wajahnya dan berpura-pura mengipas wajahnya dengan telapak tangan.
" Bodoh..alasan bodoh Naya. Mana bisa panas sementara AC dari tadi nyala". Naya merutuki alasan tak masuk akal yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Senyum menggoda kembali tersungging diwajah dua orang didepan Naya yang dimata Naya senyum itu terlihat amat sangat menyebalkan dan membuat wajahnya kian panas.
"Kay..kamu ikut saya bertemu client". Tiba-tiba Al sudah ada dibelakang Naya hingga membuat Naya memekik tertahan karena terkejut.
" K-kenapa aku pak?? Kan..kan ada bang Rian". Naya belum siap pergi berdua dengan Al. Jantungnya saja masih berdetak tak sopan saat ini, bisa mati jika ia harus kembali berdua dengan Al. Lama-lama jantungnya justru berhentin berdetak jika selalu dekat dengan Al.
"Rian ada meeting lain". Jawab Al.
" Nggak usah ngusulin aku, Kanaya. Aku cuma bakal duduk disini dan nunggu kalian balik". Ucap Safira ketika Naya menatap dirinya.
"Kan udah di bilang.. abang ada meeting lain Nay. Udah gih sana.." Rian yang hendak mengusap kepala Naya mengurungkan niatnya melihat wajah Al sudah seperti predator yang siap menerkam mangsanya.
"Kita pergi sekarang.." Ucap Al dingin membuat Naya pasrah.
"Bentar aku ambil tas ama hp aku dulu.." Naya berbalik, mengambil tas dan memasukkan ponselnya kedalam tas. Kemudian ia berjalan mendekati Al yang langsung menggenggam tangannya.
Safira dan Rian hanya tersenyum melihat sikap posesif Al pada Naya. Keduanya tahu bagaimana besar cinta dan sayang Al untuk gadis yang terlihat salah tingkah akibat ulah atasannya itu.
"K-kak..jangan gini. Nanti ada yang liat.." Naya melihat tangannya yang digenggam Al. Padahal kini keduanya sudah berada didalam lift.
"Emang kenapa kalo ada yang liat?". Al justru merapatkan tubuhnya dengan Naya hingga tubuh Naya membentur dinding lift.
" Ka-kak.." Naya benar-benar tidak bisa seperti ini. Dirinya belum siap mati.
"Kamu lucu..mukanya merah". Al menjawil hidung mancung Naya hingga membuat gadis itu mencebik kesal.
***----***
Al sungguh menyesal membawa Kanaya nya ikut bersamanya untuk bertemu dengan client nya. Karena sejak tadi mata lelaki didepannya tak beralih dari Naya. Sungguh Al ingin mencongkel mata lelaki itu.
" Saya harap pak Yohan berkenan datang ke acara ulang tahun pernikahan saya.." Al mengalihkan tatapannya pada lelaki paruh baya yang merupakan client nya. Sementara asisten lelaki tua itu tak pernah berpaling dan terus menatap kagum pada Naya.
Al dapat melihat ketidaknyaman Naya yang merasa terus diperhatikan oleh orang dihadapannya. Hingga tangan hangat itu menggenggam tangannya seolah menenangkan dirinya dan berkata semua baik-baik ssaja.
"Akan saya usahakan pak Brata. Suatu kehormatan bagi saya mendapat undangan dari anda secara pribadi.." Al berusaha meredam amarahnya.
"Ah..ya. Jesi selalu menanyakanmu". Naya langsung menatap Al. Siapa Jesi?? Ingin Naya bertanya, namun Naya hanya menelannya tanpa bisa mengutarakannya.
" Dia pasti akan sangat senang melihatmu datang malam nanti". Senyum teduh pria paruh baya itu dibalas senyum kaku Al.
"Tunggu..aku baru sadar jika yang ikut bersama denganmu bukan Safira. Siapa gadis cantik ini?". Tanya Pak Brata yang Sepertinya baru menyadari wajah Naya.
" Ah ya..perkenalkan. Nama saya Kanaya pak..asisten bu Safira. Beliau berhalangan hadir karena kehamilannya sudah mendekati masa melahirkan. Oleh sebab itu saya menggantikan beliau". Naya tersenyum sopan pada pria tua yang mungkin tidak lebih muda dari ayahnya.
"Hmm..Kanaya. Nama yang bagus. Senang berkenalan denganmu nak.."
"Oh ya, perkenalkan..ini asisten ku namanya Dion. Mungkin kalian akan sering bertemu setelah ini". Merasa mendapat kesempatan, Dion mengulurkan tangannya yang disambut dengan ragu oleh Naya.
" Kanaya.."
"Nama yang bagus.." Naya terkejut dan segera menarik tangannya ketika Dion mencium punggung tangannya. Sungguh Naya sangat risih dan tidak nyaman.
"Hahaha..tenang lah. Kamu membuatnya takut Dion". Kelakar pak Brata disambut senyuman kaku Naya. Sementara wajah tampan Al sudah membeku dengan tangan terkepal kuat. Jutaan cacian dan makian serta umpatan ia layangkan pada lelaki sialan yang berani menyentuh Kanayanya.
" Aku harus pergi nak Yohan. Aku harap kamu bersedia datang malam nanti". Pak Brata bangun diikuti Dion. Al dan Naya juga bangkit, Al bersalaman dengan pak Brata kemudian dengan Dion. Sementara Naya yang masih takut memilih menangkupkan kedua tangannya untuk memberi penghormatan pada client bos nya.
Sepeninggal pak Brata dan asisten si alannya itu, Al segera meraih tangan Naya dan membawanya ke wastafel yang ada diruang VIP sebuah restoran itu. Naya yang bingung hanya mengikuti Al.
"Kakak mau ngapain?". Tanya Naya bingung yang melihat Al menyalakan kran dan membasahi tangannya. Mata Naya melebar saat Al mencuci tangan Naya dengan sabun berkali-kali.
" Dimana lagi dia menyentuhmu Kay?? Benar-benar laki-laki sialan. Untung dia asisten pak Brata, kalau tidak sudah aku hajar laki-laki itu". Mulut Al tak henti menggerutu sambil terus menggosok telapak tangan Naya yang disentuh Dion. Diam-diam Naya tersenyum melihat bagaimana Al menjaga dirinya.
######
Double up lagi bu ibu semuaaa...semoga masih setia membaca kisah mereka ya...jangan bosen baca dan terus kasih dukungan ya reader semuaaaa...
__ADS_1