Imperferct Partner

Imperferct Partner
Persiapan


__ADS_3

Saat ini Naya dan Al sedang mengantre untuk memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Tidak ada senyuman bahagia yang Diandra persembahkan siang itu. Wajahnya terlihat datar dan dingin. Namun senyum Diandra langsung merekah saat melihat Naya berjalan menghampirinya.


"Kamu dateng??". Diandra seolah tak percaya melihat teman baiknya ada disana.


" Tentu..kamu menikah. Ya kali aku nggak dateng". Keduanya berpelukan sebentar.


Diandra melongok kebelakang tubuh Naya, namun ia tak melihat sosok yang ia cari. Yang ada dibelakang Naya hanya Al saja yang tampak tersenyum tipis padanya. Ia mengangguk sopan pada Al, bagaimana pun Al masih bosnya.


"Dia nggak bareng kamu?". Tanya Diandra pelan. Naya yang mengerti siapa yang dimaksud Diandra hanya menggeleng lemah. Hubungan Diandra benar-benar pelik dan rumit.


" Ini nggak akan mudah buat dia Di..yaaa..kamu tahu sendiri gimana perasaan dia ke kamu". Naya mengelus lengan Diandra yang tersenyum kecut.


"Terimakasih atas kehadirannya pak. Saya merasa terhormat anda hadir disini.." Diandra membungkuk sedikit


"Suamimu juga rekan bisnisku..lagipula kamu sahabat baik calon istriku". Al tersenyum menanggapi Diandra yang begitu formal padanya.


" Selamat atas pernikahanmu. Semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan". Ucap Al tulus yang hanya ditanggapi senyum tipis oleh Diandra.


"Terimakasih pak Yohan..terimakasih atas doa dan kehadirannya". Suami Diandra angkat bicara.


" Dimas.." Gumam Diandra membuat Naya menoleh pada fokus tatapan Diandra. Disana ia melihat Dimas tampil gagah dalam balutan kemeja batik panjang dipadu dengan celana hitam dan sepatu hitam mengkilat. Tampilan urakannya entah terhempas kemana, yang Naya lihat saat ini hanya Dimas yang sangat tampan dan klimis.


"Selamat Di.." Dimas menyodorkan sebuket bunga mawar kepada Diandra yang menerimanya dengan mata berkaca-kaca.


"Makasih..aku kira kamu nggak akan dateng". Naya, Dimas, dan Diandra Seperti tak menganggap ada manusia lain disana. Ketiganya asyik berbincang. Untungnya tidak ada lagi tamu undangan yang akan menyalami Diandra dan suaminya. Al memilih meninggalkan Naya dan kedua temannya itu Setelah berpamitan pada mempelai pria. Ia memilih duduk tidak jauh dari pelaminan agar tetap bisa mengawasi Naya.


Tiba-tiba Naya menatap suami Diandra dan berjalan mendekatinya. Ia menangkupkan kedua tangannya didepan dada hingga membuat suami Diandra yang tadinya duduk langsung berdiri.


" Selamat atas pernikahan anda tuan Abi..saya mendoakan yang terbaik untuk pernikahan anda dan sahabat saya". Naya mendoakannya tulus.


"Terimakasih". Sahut Abi dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


" Saya tidak tahu seperti apa kisah anda dan Diandra. Saya juga tidak tahu bagaimana anda dan perasaan anda. Tapi yang saya tahu pasti, Diandra gadis yang sangat baik..sangat sangat baik". Naya menjeda ucapannya untuk menghirup udara.


"Jadi saya mohon..tolong jaga dan bahagiakan sahabat saya bagaimana pun caranya". Naya berkata dengan tegas, menatap netra tajam yang juga tengah menatapnya.


"Diandra mungkin memang terlihat sangat kuat dan tegar..tapi dia tetap perempuan. Hatinya tetap lembut dan saya yakin anda tahu pasti soal itu. Dia tidak akan berdiri disini jika hatinya tidak selembut itu, dia bisa saja menjadi manusia egois..tapi dia tidak melakukannya. Jadi saya mohon, jaga dan jangan pernah sakiti dia". Naya mengakhiri ceramah panjangnya, ada kelegaan tersendiri dihatinya ketika selesai mengucapkan apa yang membuat hatinya tak tenang memikirkan Diandra.


" Saya akan melakukan apapun untuknya..meski tanpa diminta oleh siapapun". Abi, suami Diandra menatap Diandra yang sedang asyik bergurau dengan Dimas. Naya dapat melihat dengan jelas tatapan penuh cinta lelaki itu untuk Diandra.


"Anda tidak perlu meragukannya..saya akan menjaga dan membahagiakannya semampu saya". Abis tersenyum lagi pada Naya untuk meyakinkan gadis itu. Naya hanya mengangguk kemudian kembali pada Diandra dan Dimas.


" Kamu harus bahagia..mengerti??". Dimas menatap dalam mata jernih Diandra yang kini mulai berembun lagi. Gadis itu hanya mengangguk saja menjawab ucapan Dimas.


"Ya..kamu harus bahagia Di. Jika tidak, maka aku dan Dimas akan kesini dan membawamu pergi bersama kami". Kelakar Naya membuat Diandra tertawa pelan.


" Kamu juga harus bahagia Dim..jangan hanya menyuruh dia bahagia". Naya menepuk pelan pundak Dimas yang tersenyum getir.


"Aku akan sangat bahagia kalau dia bisa bahagia Nay.." Naya mengangguk, sejak pertama bertemu Dimas dan Diandra, Naya sudah tahu jika Dimas menyimpan rasa lebih pada Diandra. Meski keduanya sering berdebat, namun Naya bisa melihat cinta dan ketulusan dari tatapan mata Dimas.


"Aku tidak mau tahu..aku hanya mau kalian berdua bahagia". Naya merentangkan tangannya dan memeluk kedua temannya. Diandra menangis haru, ditengah peliknya permasalahan yang ia hadapi, ia masih memiliki Naya dan Dimas yang selalu tulus mendukung dirinya.


" Terimakasih. Kalian teman terbaikku.." Ketiganya berpelukan dan kemudian melanjutkan obrolan ringan mereka. Mungkin mereka lupa sedang ada dimana mereka, hingga dengan santainya mereka mengobrol tanpa melihat situasi sekitar.


"Kita harus pulang sayang". Al.menghampiri Naya, sudah lebih dari satu jam ia membiarkan Naya bercengkrama dengan kedua temannya. Mereka harus kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum malam nanti kembali ke kota mereka.


" Hmm..baiklah". Naya masih belum rela berpisah dengan Diandra. Ia masih merindukan temannya setelah dua minggu lamanya tak bertemu.


"Pulanglah..aku juga akan kesana beberapa hari lagi. Pakaian ku masih disana semua kan?". Diandra terkekeh pelan.


" Lagipula aku juga harus mengajukan surat resign". Ada nada tak rela dari ungkapan Diandra.


"Aku pamit Di..semoga secepatnya kita ketemu lagi ya". Naya memeluk Diandra sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


"Aku harap tidak akan ada lagi air mata Diandra setelah kalian menikah. Karna jika tidak..aku akan dengan senang hati membawanya pergi dari mu". Dimas menjabat tangan Abi yang menyeringai mendengar penuturan Dimas.


" Aku pastikan..kau tidak akan memiliki kesempatan itu". Abi membalas ucapan Dimas dengan tenang.


"Ya..semoga saja. Karna kapanpun dia memintaku, aku akan selalu ada. Jadi berhati-hatilah..jaga perasaannya dan jangan lagi membuatnya menangis". Dimas menepuk pundak. Abi beberapa kali sebelum berlalu dari hadapannya.


" Pak Yohan.. anda disini???". Sebelum berhasil keluar dari riuhnya pesta pernikahan itu, Al bertemu dengan kolega bisnisnya yang lain disana.


"Pak Anggara. Tidak menyangka akan bertemu anda disini". Keduanya berjabat tangan kemudian berpelukan sebentar.


" Siapa gadis cantik ini??". Pak Anggara menatap Naya


"Dia calon istri saya pak.." Sahut Al sopan.


"Ah..aku kira adikmu. Aku berpikir akan menjodohkannya dengan putra nakalku. Rupanya calon istrimu" Pak Anggara terkekeh pelan melihat reaksi Al yang terkejut.


"Pak Yohan..pak..." Al dan Naya menoleh ketika mendengar nama Al dipanggil. Dan ternyata Dimas yang memanggilnya.


"Maaf..ponsel anda tertinggal". Dimas menyerahkan ponsel Al.


" Dimas!!!". Merasa namanya disebut, Dimas mengangkat wajahnya. Matanya melebar melihat lelaki paruh baya yang ada dihadapannya.


"A-ayah??".


" Ayah???". Beo Naya dan Al bersamaan. Kejutan apalagi ini??? Pikir Naya.


"Dasar anak nakal!! Akhirnya ketemu juga". Pak Anggara langsung memeluk Dimas.


" Dia ini anak nakal yang saya cerita kan-------'' Pak Anggara memulai ceritanya, Al dan Naya yang awalnya ingin pulang mengurungkan niatnya. Keduanya dan Dimas mengikuti pak Anggara yang duduk dimeja tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


#######


"Siapa pak Anggara itu sebenarnya kak??". Tanya Naya penasaran


"Ah..kenapa rumit sekali. Aku pusing". Naya memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di jok mobil.


Kedua temannya menyimpan terlalu banyak rahasia. Dan hari ini semua rahasia itu seolah terbuka sempurna hingga membuat Naya dan otaknya kelimpungan mencerna dan menelaah semua kejadian dan kenyataan ini.


Al hanya menggeleng dan terkekeh pelan melihat wajah Naya. Sejujurnya ia juga sangat terkejut mendengar cerita dari rekanan bisnisnya tadi. Ia tidak menyangka, anak seorang konglomerat rela menjadi karyawan biasa dikantornya yang notabene nya masih perusahaan baru yang belum terlalu besar.


****


" Ayolah mom..duduk. Aku pusing liat mommy mondar mandir.." Keluh Naya membuat Kirei berhenti tepat didepan putrinya itu.


"Mommy sibuk juga buat ngecek semua persiapan pernikahan kamu Kanaya". Kirei sudah berkacak pinggang didepan Naya yang nyengir melihat wajah garang ibunya.


" Kan sudah ada WO. Kenapa mommy masih sibuk sih.." Ucap Naya tak mau kalah.


"Mommy harus memastikan semua sesuai.." Naya pasrah dan membiarkan sang ibu hilir mudik memeriksa segala sesuatu menyangkut pernikahannya. Pernikahan yang akan dilaksanakan esok itu membuat semua orang tampak sibuk.


Hanya Naya saja yang terlihat santai tak memikirkan apapun. Sudah satu minggu ini Naya berada dikediaman kedua orang tuanya. Esok dirinya akan menikah dengan Al, lelaki yang sudah membantu dirinya bangkit dari keterpurukan.


Naya kembali diam, ia teringat seminggu lalu dirinya dan Al pergi ke makam Akbar. Ia ingat apa yang diucapkan Al dipusara makam Akbar. Kedua sudut bibirnya terangkat ketika mengingatnya.


"*Aku datang Bar. Aku datang bersama kekasihmu.."


"Ya..dia tetap kekasihmu Bar. Sampai kapanpun tetap kekasihmu..Aku tidak akan merebut tempatmu dihatinya.."


"Tapi aku yang akan menjadi suaminya, bukan hanya kekasihnya*". Naya ingat betul seperti apa wajah Al saat mengatakannya.


" *Aku sudah memiliki tempatku sendiri dihatinya..kita tidak perlu berebut".


"Aku datang untuk memberitahumu..aku akan segera menikahinya. Aku akan menjaga dan mencintai nya, lebih dari yang sudah kamu lakukan untuk nya*". Mata Naya berkaca-kaca saat mengingat setiap kalimat Al, bibirnya pun tak henti menyunggingkan senyuman haru.

__ADS_1


" *Aku harap kamu tenang disana. Berbahagialah disana karena kami juga akan berbahagia disini.."


"Kami sangat menyayangimu Bar. Doa kami selalu menyertaimu*.."


Naya tersadar dari lamunannya saat pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ia menoleh untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya. Matanya melebar melihat orang yang ia rindukan ada dihadapannya kini.


"Diandra!!!". Pekik Naya kegirangan.


Naya hendak memeluk Diandra, namun ia urungkan melihat bayi tampan yang berada didalam dekapan temannya itu.


" Dia???". Naya menatap bayi kecil itu dalam-dalam.


"Putraku..bukankah dia tampan?". Diandra ikut menatap bayi didalam dekapannya.


" Hmmm..tampan sekali". Naya yang sudah gemas akhirnya mendaratkan ciuman bertubi-tubi dipipi gembul.


"Siapa namanya Di??". Bayi mungil itu masih terlelap, tak sedikitpun terganggu dengan suara Naya.


" Gaara..Sagaara". Naya tersenyum melihat Diandra menyayangi bayi yang diberi nama Gaara itu.


"Namanya bagus..berapa usianya Di??".


" Bukankah aunty Naya sangat cerewet sayang??". Naya mencebik melihat Diandra seolah tengah membicarakannya dengan bayi mungil itu.


"Yaaa..cerewet-cerewet begini aku tetap aunty yang paling cantik". Ucap Naya membanggakan diri hingga membuat Diandra terkekeh pelan.


" Usianya 4bulan..dia sangat menggemaskan". Diandra akhirnya tidak tahan dan ikut menciumi bayi mungil itu hingga menggeliat karena terganggu dengan apa yang dilakukan ibunya.


"Kamu sudah bisa menerimanya?". Tanya Naya menatap Diandra, tak ada sedikitpun yang terlewat oleh Naya. Meski Diandra sudah tidak bekerja, namun hubungan mereka terus terjalin apik. Keduanya selalu saling memberi kabar meski tak setiap hari.


" Dia tidak bersalah..mereka juga tidak. Aku lelah berperang dengan semua ini. Aku rasa berdamai dengan keadaan lebih baik untuk sekarang ". Diandra tersenyum lembut, senyum yang menular pada Naya.


" Aku tidak peduli dengan mereka, aku ada disekeliling mereka hanya untuk Gaara, tidak lebih.."


"Aku tahu kamu kuat Di..kamu ibu yang hebat".


" Kamu dengar Gaara..ibumu sangat menyayangimu. Dia akan melakukan apapun untuk dirimu.."


"Dengan siapa kamu kesini Di?? Jangan bilang kalau kamu hanya berdua dengan Gaara??". Mata Naya melotot sangar membuat Diandra terkekeh.


" Abi mengantarkan aku. Sepertinya dia mengenal daddymu. Mereka sedang berbincang". Naya menghela nafas lega mendengar penuturan Diandra.


Kedua perempuan itu berbincang kesana kemari hingga tak terasa waktu sudah hampir malam. Diandra pamit pada Naya untuk kembali ke hotel tempatnya menginap yang tak jauh dari kediaman Tama.


"Menginap saja disini.."


"Sangat tidak lucu Nay. Yang ada nanti kita begadang". Bisik Diandra mengingatkan Naya kebiasaan keduanya saat ada diapartemen.


" Ayolah..aku mohon". Naya memasang wajah memelas hingga membuat Diandra mengalah.


"Aku akan bilang pada Abi dulu". Naya mengangguk penuh semangat. Bahkan sejak tadi bayi kecil bernama Gaara itu sudah ada dipangkuannya.


" Lihat ibumu. Dia berbicara pada ayahmu seperti sedang berbicara dengan penjahat. Wajahnya datar dan dingin banget..kamu nggak kedinginan apa kalo didekat dia??". Naya mengajak bayi lucu itu berbicara ngawur, membicarakan ibunya yang sedang berbicara pada Abi.


"Dia mengijinkan". Ucap Diandra membuat Naya senang.


" Yes..." Pekiknya kegirangan membuat Diandra menggeleng melihat kelakuan Naya.


####------####


Satu lagi end ya man teman semua..Naya udah seneng, Emak bapaknya juga seneng..


Nanti kita beralih ke Diandra yang tetep bakal ada selipan-selipan obrolan Naya juga..

__ADS_1


Jangan bosen ya man teman..


__ADS_2