
"Yuhuuuuu..inces pulang mom!!". Teriak Kirei yang baru memasuki rumahnya.
" Kok sepi sih. Daddy beli rumah gede-gede amat sih". Gumamnya kemudian.
"Assalamualaikum..!!" Teriak Naya lagi.
"Wa'alaikumsalam non.." Perempuan setengah baya terlihat berlari menghampiri Kirei.
"Kok bu Tut yang nyamperin. Mommy mana?". Naya melongokkan kepalanya ke belakang tubuh perempuan itu.
" Nyonya sedang pergi dengan tuan non". Jelasnya membuat Kirei mencebik.
"Pergi wae tiap hari. Mentan-mentang anaknya udah pada gede jadi ditinggal-tinggal mulu". Gerutunya membuat bu Tuti tersenyum mendengar gerutuan anak majikannya itu.
" Mau disiapkan untuk makan siang nya non?". Tanya Bu Tuti mengalihkan perhatian Naya.
"Mau dong bu Tut..kalo emosi bawaannya jadi laper terus". Ucap Kirei sambil nyengir membuat bu Tuti tersenyum.
" Maaf ya bu.." Ucap Naya.
Ia sudah terbiasa mengucapkan maaf sebelum menyuruh pembantu dirumahnya membantu pekerjaannya. Dan tak lupa ucapan terimakasih setelahnya.
"Sudah tugasnya ibu, non". Jawab bu Tuti tulus.
" Makasih bu Tut. Sayang deh sama bu Tuti". Ucap Naya memeluk sekilas pembantunya.
Bu Tuti merasa bersyukur, ia sangat beruntung menjadi asisten rumah tangga dikeluarga Tama. Ia diperlakukan dengan sangat baik. Tuan dan nona mudanya juga sangat sopan dan menghargai dirinya yang usianya jauh lebih tua.
"Non ganti baju dulu aja. Ibu siapkan makanannya". Bu Tuti mengelus pundak Naya yang langsung mengangguk dan berlalu ke kamar.
****
Seperti ucapannya siang tadi. Sepulang sekolah, Satria benar-benar mampir kerumah kedua sahabatnya. Rumah yang dulu hampir setiap hari ia sambangi setiap pulang sekolah.
Tangannya sudah menenteng dua keresek besar berisi cemilan dan minuman kesukaan Naya. Sedangkan Ken membawakan sekotak martabak manis yang katanya kesukaan mommy dan daddy nya. Padahal Naya lah yang selalu menghabiskan makanan-makanan itu.
" Kaga ngerti gue ama tu bocah. Badannya kecil tapi makannya kaya kuli bangunan". Ucap Satria yang disetujui oleh kedua kakak Naya.
Dibelakang Ken dan Kai ada Al dan Akbar yang berjalan cukup jauh dibelakangnya. Hingga mereka tidak mendengar ucapan Satria.
Mereka berpiikir Satria membeli begitu banyak makanan untuk mereka semua yang akan mengerjakan tugas kelompok.
"Rumah Lo gede ya Ken". Ucap Akbar yang baru pertama kali kerumah temannya.
" Rumah emak bapak gue. Gue sih belom punya rumah". Sahut Ken membuat Akbar mengangguk.
"Sepi". Ucap Al membuat Kai menoleh.
Kini mereka tengah duduk diruang tamu rumah mewah Tama. Sedangkan Satria sudah lebih dulu berlalu ke kamar Naya untuk mencari gadis itu.
" Tu bocah kemana nyuk?". Tanya Satria dari ujung tangga hingga membuat semua menoleh.
"Pergi kali". Jawab Kai cuek.
" Tu bocah lagi jajan kali, Sat. Bentaran lagi juga balik". Ucap Ken yang menyandarkan tubuhnya disofa.
"Jajan mulu. Gendut kaga tapi ngegayem wae tu anak". Gerutu Satria yang kemudian bergabung dengan temannya yang lain.
" Nyari siapa?". Tanya Al membuat dirinya ditatap oleh Satria dengan sebelah alis terangkat.
"Nyari adeknya ni kunyuk berdua". Jawabnya sambil melirik Ken dan Kai.
" Emang punya?". Tanya Al dan Akbar bersamaan.
"Lah..." Ucap Satria kebingungan. Bagaimana mungkin teman baik Ken dan Kai tidak tahu jika keduanya memiliki adik? Bahkan adiknya bersekolah ditempat yang sama dengan mereka.
"Kaga tau lo berdua kalo ini sableng dua punya adek cantik banget?". Tanya Satria yang dijawab gelengan kepala oleh Al dan Akbar.
" Yakin?". Tanyanya lagi untuk memastikan. Dan lagi kedua pria itu mengangguk.
"Wah parah lo berdua. Masa temenan dua tahun kaga tahu kalo ni bocah berdua punya adek". Ucap Satria menggelengkan kepalanya tak percaya.
" Mereka nggak pernah bilang". Sahut Al.
"Nggak perlu gue pamerin". Sahut Kai cepat.
"Ken, gue numpang ke kamar mandi lah". Ucap Akbar.
" Ke kamar gue aja. Lo naik terus belok kanan. Pintu kedua, soalnya yang pertama punya adek gue". Jelas Ken membuat Akbar mengangguk dan langsung berlari ke kamar Ken. Ia sudah menahan buang air kecil sejak tadi. Namun mendengar Satria membicarakan adik Ken membuatnya menahan keinginannya beberapa waktu.
"Yang ini kan ya. Itu pintu nya cewe banget. Nggak mungkin si Ken pintunya kaya gitu". Gumam Akbar yang sudah berdiri didepan pintu sebuah ruangan.
" Ah bodo dah. Kebelet gue". Ucapnya kemudian membuka pintu. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dari dalam hingga membuatnya terkejut dan jatuh.
"Aaaaa". Teriak Akbar dan orang yang ada didalam kamar Ken yang tak lain adalah Naya yang terkejut melihat Akbar ada disana.
Posisi keduanya benar-benar intim saat ini. Naya telentang dilantai dengan tubuh Akbar ada diatasnya. Mata keduanya saling menatap lama.
__ADS_1
*deg..
deg..
deg*..
Deguban jantung keduanya saling bersahutan seirama. Mereka seolah menikmati berada dalam posisi dekat seperti saat ini.
Hingga beberapa saat kemudian mata keduanya membola dan berteriak kencang kemudian bangkit dari posisinya saat ini.
" AAAAAAKKKKKHH". Teriak keduanya hingga membuat Ken dan yang lain terkejut. Mereka berlari ke lantai atas untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Kenap---a??". Tanya Ken sedikit terputus melihat Naya dan Akbar berdiri berhadapan seperti patung. Bahkan keduanya seperti tak bernafas.
" Ketauan juga". Lirih Kai yang melihat reaksi Akbar dan Al yang sepertinya sangat terkejut melihat keberadaan Naya dikamar Ken.
Jika kalian menanyakan mengapa Naya ada dikamar Ken, jawabannya adalah untuk bermain game. Bahkan gadis itu lebih sering menghabiskan waktu siangnya dikamar sang kakak.
Satria menatap Naya dari ujung kaki hingga kepala. Kebiasaan gadis itu masih belum berubah. Rusuh dalam memakai pakaian sang kakak. Sama seperti saat ini, Naya tengah memakai kaos kebesaran milik Ken dan kolor sang kakak hingga membuat tubuhnya seperti tenggelam dalam kaos dan celana itu.
"ABAAAAAANG!!!!!!". Teriak Naya kencang membuat semua orang menutup telinganya.
Naya tengah duduk santai diantara Ken dan Kai sambil memakan cemilan yang dibawakan Satria. Sementara Al dan Akbar ada dihadapan mereka dengan masih menatap ketiganya tak percaya.
Satria baru saja selesai menjelaskan tentang siapa Naya sebenarnya. Hal itu mampu membuat kedua pria tampan yang kini tengah duduk itu terserang syok yang lumayan parah.
Bagaimana bisa? Kenapa bisa mereka tak mengetahuinya? Dan apa alasan mereka menutupi status mereka?
" Seenggaknya gue nggak perlu bersaing sama Ken". Batin Akbar lega.
"Apa-apaan ini?". Batin Al yang masih belum sepenuhnya percaya.
" Ken?"
"Kai?". Panggil Al bergantian sambil menatap kedua temannya seolah meminta penjelasan tentang apa yang tengah ia lihat.
Ken menghembuskan nafas kasar. Sudah saatnya ia memberitahu kenyataannya pada kedua temannya.
" Kaya yang lo liat. Naya adek kandung gue". Ucap Ken melirik Naya yang masih asyik memakan camilan disampingnya. Gadis itu tak sedikitpun terganggu dengan apa yang tengah terjadi pada kedua teman abang-abangnya.
"Tapi..gimana bisa?". Kini Akbar yang tak bisa menutupi rasa terkejutnya.
" Kok gimana bisa sih kak. Ya soalnya mommy aku juga lahirin mereka. Jadi aja aku adeknya mereka". Jelas Naya tanpa beban.
" Bang Sat!! aku aduin mommy biar dijewer baru tau rasa". Ancam Naya membuat Satria mencibirnya.
"Lo bisa kaga ganti panggilannya..jangan abang deh. Mas kek, apa Kak mungkin". Ucap Satria memelas.
" Nggak mau ah. Nggak aestethic". Ucapnya memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya.
"Gaya lo bawa-bawa aestethic!". Kembali Satria menoyor kepala Naya dengan gemas.
" Ish..jangan ditoyor-toyor mulu laaaa..bodo aku ntar!" Omelnya sambil mengelus kepala belakangnya.
"Ini lo pake baju Ken lagi Nay??? Ya Allah dek..dek". Kai sampai pusing melihat tampilan adiknya.
" Baju lo banyak Nay. Mommy selalu beliin seminggu sekali". Ucap Ken yang juga gemas pada kelakuan adiknya yang selalu memakai pakaian miliknya ataupun Kai.
"Dalemannya kaga lo pake juga kan tek?". Tanya Satria membuat Naya tersedak ludahnya sendiri.
" Mulut bang..Mulut. Kalo ngomong suka kaga dipikir!". Sengit Naya.
"Ya kegedean kalo gue pake kolor bang Ken apa bang Kai lah". Imbuhnya santai hingga membuat Akbar dan Al yang mendengarnya jadi salah tingkah sendiri. Bagaimana mungkin Naya bisa segamblang itu menceritakan hal-hal yang bagi mereka lumayan sensitif itu.
" Hahaha oh iya ya..auto melorot dong yak". Satria tertawa kencang diikuti Naya yang juga tertawa geli membayangkan dirinya memakai kolor sang kakak.
"Otaknya kaga usah traveling". Kai menggetok kening adiknya seolah paham kemana jalan pikiran gadis itu.
" Abang kebayang nggak kalo Nay pake kolor abang? Hihihi". Naya kembali terkikik setiap terbayang bagaimana tampilannya jika memakai kolor milik kedua kakaknya.
Satria tidak dapat menahan tawanya, ia bahkan terpingkal sampai memegangi perutnya membayangkan Naya memakai kolor Ken atau Kai.
"Si ketek emang sableng!!". Ucap Satria kemudian kembali tertawa.
" Jangan panggil gue ketek!!". Sengit Naya membuat Satria semakin tergelak.
"Lo buntek sih. Kaga tinggi-tinggi". Ledeknya membuat Naya kesal.
" Kakak..aku nggak pendek kan ya?? Mas ganteng? Aku nggak pendek kan?". Ia mencoba mencari pembelaan dari dua orang yang otaknya masih sedikit oleng karena kenyataan besar dihadapannya.
Keduanya hanya mengangguk tanpa mencerna apa yang diucapkan Naya. Mereka masih berpikir, bagaimana munhkin seorang Kanaya adalah adik dari si kembar most wanted diSMA Garuda??
"Kenapa disebut ketek?". Tanya Akbar yang sudah mulai menguasai dirinya dari rasa kaget.
" Tinggi ni bocah cuma seketek gue". Ucap Kai dan Satria bersamaan hingga membuat Naya berdiri dan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Udah nggak seketek abaaaaang". Rengek Naya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai hingga terlihat lucu dan menggemaskan.
" Deket kakak aja yang nggak pernah galak sama nggak pernah bully ama aku". Naya beralih duduk disamping Akbar yang tiba-tiba merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Aku udah tinggi kan kak??". Tanya Naya yang menggoyangkan lengan Akbar hingga membuat Akbar mengangguk dan mengelus pucuk kepala Naya yang langsung menjulurkan lidahnya pada Kai dan Satria.
" Gue tau lo ada rasa ama adek gue Bar". Batin Ken yang mengangkat sudut bibirnya melihat perlakuan lembut Akbar pada Naya.
"Sa-biru Ak-bar Mau-lana". Naya mengeja nama lengkap Akbar yang baru ia tahu.
" Kenapa dipanggilnya Akbar? Kenapa bukan Biru aja Kak??". Tanya Naya menatap Akbar yang semakin tak bisa mengontrol debaran didadanya.
"Eh??".
" Aku mau panggil kakak Biru aja ah. Biar beda". Ucap Naya tiba-tiba.
"ha??". Akbar benar-benar seperti orang linglung berada dekat Naya. Padahal sejak awal ia sudah menjadi korban gombalan Naya.
" Kok ha? Boleh enggak kalo Nay panggil kakak, kak Biru". Tanya Naya lagi membuat Akbar mengangguk.
"Oke..kak Biru yang ganteng, mau Nay bikinin minum apa?". Tanya Naya begitu manis hingga tanpa sadar Al menatapnya intens.
" Lo mau jadi adek durhaka?". Tanya Kai membuat Naya menoleh.
"Kenapa?". Tanya nya tak paham
" Abang sendiri kaga ditawarin minum. Giliran liat yang bening langsung gas". Sungut Kai membuat Naya melengos cuek.
"Gue kutuk jadi soang lo". Ucap Satria membuat Naya menoleh.
" Kalian udah tau dimana dapurnya. Sorry..nggak ngambilin orang sirik". Ucapnya kemudian bangkit dan berjalan kedapur.
"Assalamualaikum.." Teriakan salam dari pintu membuat semua menoleh dan menjawab salam.
"Sorry..sorry gue telat. Nganterin doi dulu tadi soal----nya". Rendra hampir tak bisa menyelesaikan kalimatnya melihat gadis yang sedang berjalan membawa nampan berisi lima gelas jus jeruk.
" Oh..holla mas kremi". Sapa Naya membuat Rendra menampar pipinya sendiri.
"Lah..mas kremi ngapain? Sini gue bantuin gaplok kalo kurang kenceng". Ucap Naya membuat Rendra berteriak.
" Waaaaah..gila lo Ken. Lo bawa ni bocah balik? Gila..gila..gila..bisa geger satu sekolah kalo tau". Cerocos Rendra.
"Lo berdua kaga kaget? Ini ada si Naya..si Naya bro". Ucapnya menepuk pundak Akbar dan Al yang terlihat biasa aja.
" Nggak usah lebay deh kak". Ucap Naya menurunkan nampannya diatas meja.
"Wait??? WHAAAT???!!! Ini..Ini baju lo kan Ken??? wah gila lo berdua". Rendra terus mengoceh tanpa tahu kebenaran. Sementara yang lain hanya mendengarnya tanpa berniat memberitahunya dulu.
" Udah?". Tanya Ken.
"Udah apanya? Gila lo anak orang main bawa balik". Rendra sampai geleng-geleng kepala menatap Ken tak percaya.
" Kalo kaga kita bawa balik bisa-bisa kita yang digantung emak bapak ama abang-abangnya". Ucap Kai santai membuat Rendra melotot.
"HAAA???".
" gila sih lo berdua. Orang tuanya udah tau?". Tanya Rendra heboh.
"Iya..noh emak bapak ama abangnya". Ucap Satria melirik foto keluarga yang terpampang nyata didinding ruang tamu.
Dalam foto itu terlihat jelas seluruh anggota keluarga Tama. Bahkan ada foto keluarga besarnya.
" Wah gercep lo berdua..udah lo kenalin ama keluarga lo juga ternyata. Salut gue".
"Eh tapi punya lo apa punya Ken?". Tanya Rendra yang sepertinya masih salah paham dengan status Naya.
" Aaaaw!! Gob lok lo berdua. Sakit pala gue". Sengitnya menatap Akbar dan Al yang menggeplak kepalanya.
"Lo yang gob lok". Desis Akbar kesal.
" Lah napa lo sewot ama gue? Resiko lo suka ama anak gadis cantik. Tapi dia udah punya temen kita bro..jangan lo rebut". Rendra menepuk pundak Akbar beberapa kali seolah memberi kekuatan.
Naya sudah terkikik melihat kekonyolan Rendra yang tak kunjung paham apa yang dimaksud teman-temannya. Namun ia juga sedikit salfok dengan ucapan Rendra yang mengatakan jika Akbar menyukai dirinya. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat setelah memikirkannya.
"Gob lok aja lo pelihara". Ucap Akbar yang sudah pusing dengan otak temannya itu.
" Ni orang kenapa sih Al?". Tanya Rendra pada Al yang menatapnya. Saking kesalnya, Al kembali menggeplak kepala temannya itu.
"Naya adeknya Ken sama Kai ogeb!!!". Seru Al yang sudah gemas karena Rendra tak kunjung paham setelah beberapa waktu berlalu.
" HAAAAAAA???!!!" Rendra hampir pingsan mendengar kenyataan yang baru saja ia dengar. Bahkan sepertinya lelaki itu paling kaget diantara yang lain
"Biasa aja kali kak". Ucap Naya menyodorkan segelas air didepan Rendra yang menatap wajahnya dan Ken serta Kai secara bergantian.
Kebenaran ini terlalu mengejutkan untuk dirinya yang sudah dua tahun berteman dengan si kembar most wanted SMA Garuda itu.
" GILA..GILA..GILAAAAA"
__ADS_1