Imperferct Partner

Imperferct Partner
pesan Akbar


__ADS_3

"Aku nggak mau pulang kak". Naya bersikukuh tak ingin pulang. Meski sudah semalam ia tak pulang dan kurang tidur. Namun tak sedikitpun nampak wajah lelah diwajah Naya.


" Abang bakal jagain Akbar dek..kamu pulang dulu. Seenggaknya mandi sama ganti baju". Bujuk Ken


Sudah sejak setengah jam lalu Ken mencoba membujuk Naya untuk pulang beristirahat dan membersihkan tubuhnya.


"Nay..Pulang dulu ya". Suara Akbar hampir tak terdengar karena sangat pelan.


" Nggak mau kak..Nay mau disini".


"Ka-kak baik-baik aja, sa-yang". Bujuk Akbar. Naya diam beberapa saat. Kemudian menghela nafas berat sebelum mengiyakan perintah Ken dan Akbar.


"Nay nggak akan lama kak". Naya menggenggam tangan Akbar yang terasa dingin.


" Hati-hati sayang.." Naya mengangguk. Ia kemudian menyambar tasnya.


"Abang harus jagain kakak ya.." Peringat Naya sebelum membuka pintu kamar rawat Akbar.


"Iya dek. Udah sana pulang dulu". Usir Ken membuat Naya mencebik kesal. Ia seolah tak rela meninggalkan pujaan hatinya barang sebentar saja.


" Ken.."


"Ya? Lo butuh sesuatu?". Tanya Ken duduk disamping Akbar. Akbar menggeleng lemah dan mengisyaratkan Ken untuk lebih dekat dengan dirinya.


" Al.."


"Al??". Beo Ken dengan kening berkerut menandakan ia tak mengerti keinginan Akbar.


" Su-ruh dia kesini, Ken". Ucap Akbar menatap Ken penuh permohonan.


"Buat apa Bar??". Tanya Ken


" Minta dia buat pu-lang Ken". Suara Akbar sangat lirih.


Ken mempunyai firasat buruk. Untuk apa sahabatnya itu meminta Al pulang. Tak biasanya Akbar Seperti ini.


"Lo istirahat aja. Ntar gue telpon Al". Ucap Ken menenangkan.


" Janji Ken..suruh dia pul-ang". Ken mengangguk. Lelaki itu menaikkan selimut hingga dada Akbar dan meminta Akbar untuk tidur. Otaknya tengah berpikir keras tentang apa alasan Akbar yang tiba-tiba meminta Al untuk pulang.


Sore harinya, Naya kembali ke rumah sakit. Sebenarnya sudah sejak siang ia ingin kembali ke rumah sakit. Namun sepertinya badannya benar-benar remuk karna tak beristirahat sejak kemarin. Hingga saat dirinya trlah usai menunaikan ibadahnya, ia tertidur diatas hamparan sajadah siang tadi.


Mata indahnya memancarkan kebahagiaan ketika melihat Akbar masih terjaga. Ia segera menghampiri Akbar yang sedang ditemani oleh kakaknya.


"Maaf ya kak..Nay lama kesininya. Tadi ketiduran..hehe". Naya nyengir menampakkan deretan gigi rapinya.


" Gapapa sayang.." Suara Akbar sudah terdengar lebih stabil dibanding pagi tadi yang masih sedikit terbata ketika berbicara.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terpampanglah wajah tampan seorang pria gagah dengan wajah khawatirnya. Semua yang ada diruangan menoleh.


"Al.." Lirih Akbar dengan senyum mengembang dibibir pucatnya. Ia menoleh pada Ken seolah bertanya kapan ia menghubungi Al, namun Ken justru menggeleng.


"Kak Al.." Panggil Naya dengan senyum diwajahnya.


"Lo gapapa Bar? Kenapa bisa kaya gini?". Al segera mendekat pada Akbar yang tergolek diatas ranjang.


Akbar hanya menggeleng, senyum tak pernah luntur dari wajahnya ketika melihat Al sudah ada didepan matanya.


" Lo tau dari mana Al? Kenapa udah nyampe sini?". Tanya Ken penasaran.


Beberapa jam lalu..


Al tengah fokus pada layar laptopnya dan memeriksa beberapa berkas yang akan ia tanda tangani ketika ponselnya berdering. Ia melirik layar ponselnya yang menampakkan id si penelpon.


"Rendra.." Gumam Al mengambil ponselnya. Tangannya bergerak menggeser layar ponselnya kemudian menempelkannya ditelinga.


"Wa'alaikumsalam.. Ada apa Ren??". Tanya Al pada Rendra.


"----"


"APA?!!!"


"Jangan becanda lo!!". Bentak Al sudah berdiri dari duduknya. Sekretarisnya yang baru saja masuk tersentak kaget mendengar suara tinggi Al.


" Gue pulang hari ini juga!". Al langsung mematikan teleponnya. Ia menoleh dan bertemu tatap dengan sekretarisnya yang masih mematung didepan pintunya.


"Saya akan pulang hari ini. Cari penerbangan pertama dan batalkan seluruh agendaku. Minta Chris menggantikan tugasku untuk beberapa hari kedepan".


" Luna!! Kamu dengar ucapan saya?!!"


"Ah..oh..ba-baik pak. Akan segera saya laksanakan". Perempuan bernama Luna yang berstatus sekretaris Al segera keluar dan melaksanakan perintah Al.


Sementara Al sibuk membereskan berkas yang masih ada diatas meja kerjanya. Pikirannya sudah terbang lebih dulu ke negaranya. Bukan hanya mengkhawatirkan kondisi Akbar, namun Naya juga sangat membuatnya khawatir.

__ADS_1


" Semua sudah siap pak..saya juga sudah menghubungi nyonya besar. Beliau sudah mempersiapkan keperluan anda. Supir nyonya akan mengantarkan koper anda ke bandara. Dua jam lagi jadwal pesawat anda take off".


"Bagus..terimakasih Lun". Ucap Al berjalan cepat meninggalkan ruangannya.


" Bantu Chris menghandle masalah perusahaan selagi saya pergi. Hubungi saya jika ada hal penting". Al menghentikan langkahnya didepan Luna yang mengangguk patuh pada perintah Al.


Saat ini...


"Gimana ceritanya lo bisa kaya gini?". Tanya Al yang duduk disamping kanan Akbar. Sementara Naya ada disamping kiri Akbar.


" Kak Biru nggak hati-hati. Marahin kak Biru, kak.."


"Dia bikin aku nangis.." Naya mengadu pada Al. Al dapat melihat kesedihan mendalam dari mata Naya.


Ada alasan mengapa Naya berkata seperti itu pada Al. Dulu, saat kepulangan pertama Al setelah kepergiannya, ia berkata pada Naya jika Akbar menyakitinya dan membuatnya menangis, maka Al akan memarahi dan menghukum Akbar.


"Maaf yaa.." Akbar menggenggam tangan Naya yang disampingnya.


"Gapapa..yang penting sekarang kakak baik-baik aja". Naya tersenyum meski matanya berkaca-kaca.


" Lo dari bandara?". Tanya Ken yang melihat Al masih membawa kopernya.


"Hmm.." Al menjawabnya dengan gumaman.


"Boleh kakak bicara sama Al.."


"Yaudah kakak ngomong aja.." Ucap Naya


"Dasar penyakit nggak peka nya kaga musnah-musnah". Batin Ken kesal.


Ken yang melihat ketidakpekaan adiknya segera membawa adiknya menyingkir.


"Temenin abang makan dek". Al menarik lengan Naya yang masih duduk.


" Abang kan udah tua..udah sana makan sendiri". Ucap Naya.


"Akbar mau ngobrol berdua sama Al, KANAYA..." Ucap Ken menekankan setiap katanya.


"Emang kenapa kalo ada aku.." Sifat ngeyel Naya membuat Ken gemas sendiri.


"Sayang.." Naya segera menoleh begitu mendengar suara lemah Akbar.


"Kamu mau disini?". Tanya Akbar dijawab anggukan kepala oleh Naya.


" Gapapa Ken.." Akbar menghela nafas panjang, seolah udara didalam paru-parunya cepat sekali habis.


"Apa? Lo butuh sesuatu?". Tanya Al membuat Akbar menggeleng.


" Gue mau lo janji sama gue".


"Janji?". Beo Al dan juga Naya serta Ken bersamaan.


Akbar mengangguk sambil tersenyum lemah.


" Janji ke gue kalo lo bakal jagain Naya buat gue, lo bakal bahagiain dia Al.." Akbar kembali menghela nafas panjang.


"Bar..!"


"Kak..!!"


Seru ketiga orang itu bersamaan. Naya dan juga Al benar-benar tidak suka mendengar ucapan Akbar.


"Kalian kompak banget sih". Akbar terkekeh pelan.


" Gue keluar dulu. Kayanya kepala lo kebentur keras makanya ngomongnya ngelantur!". Kesal Al yang bangkit hendak meninggalkan kamar rawat sahabatnya.


"Al..tunggu!".


" Asshh.." Akbar mendesis sembari meringis hingga membuat ketiga orang yang menjaga nya terkejut sekaligus panik.


"Kaga usah banyak gaya!!". Omel Al yang sebenarnya khawatir pada kondisi Akbar.


" Kakak..jangan banyak gerak". Naya langsung memegang lengan Akbar dengan wajah khawatir.


"Gue serius Al". Akbar menatap lekat mata Al yang juga tengah menatapnya.


" Udah lah Bar. Lo bakal baik-baik aja. Lo yang bakal jaga Naya seterusnya". Pungkas Al yang kembali duduk disamping Akbar.


"Janji ke gue dulu Al". Akbar memegang kuat lengan Al.


" Bar---"


"Gue nggak bisa jaga dia Al". Mata Akbar sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


" Kakak.."


"Nay nggak mau denger kakak ngomong yang enggak-enggak". Meskipun suaranya kesal, namun matanya sudah hampir meneteskan air mata.


" Sekarang kakak nggak bisa jaga kamu sayang". Akbar mengelus pipi Naya dengan tangan lemahnya.


"Kakak nggak perlu titipin aku ke kak Al. Aku cuma harus nunggu kakak sehat". Naya menggenggam tangan Akbar yang berada dipipinya.


" Apa yang Naya bilang bener Bar. Lo cuma perlu pikirin kesembuhan lo". Al menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


"Lo harus janji sama gue Al.." Akbar memegang erat lengan Al yang ada dipundaknya.


"Bar..."


"Janji sama gue Al". Akbar semakin menuntut hingga membuat Al bingung. Ia menoleh pada Ken dan Naya yang tengah menatapnya menunggu jawaban Al.


" Bar..gue--"


"Tolong janji Al.." Potong Akbar cepat. Al kembali menatap Ken dan Naya yang menganggukkan kepalanya supaya Al menyanggupinya saja. Mereka takut Akbar akan down jika terlalu memikirkan hal-hal seperti itu.


"Ya..gue janji bakal jagain Kanaya dan bikin dia bahagia". Ucapan Al membuat Akbar tersenyum tenang.


" Gue pegang janji lo Al. Kalo lo bikin Naya nangis, gur bakal gentayangin lo ampe lo nggak akan berani lagi bikin dia sedih.. " Kata-kata Akbar membuat Naya dan Al saling menatap.


"Kaga usah aneh-aneh". Ucap Al melengos. Secinta apapun ia pada Naya, ia tak ingin kehilangan sahabatnya itu. Cukup melihat Naya bahagia bersama Akbar sudah cukup baginya. Ucapan Akbar benar-benar mengganggu pikirannya.


" Aku akan tenang sekarang Nay..Al sudah berjanji akan menjaga dan membahagiakan kamu sayang". Akbar mengelus pipi Naya yang sudah basah oleh air mata.


Tak lama pintu kembali terbuka. Orang tua Akbar dan kedua orang tua Kirei beserta teman-temannya Akbar datang bersama untuk melihat kondisi Akbar.


"Sayang..." Ibunda Akbar menghambur memeluk putra semata wayangnya.


"Kamu sadar nak..kamu baik-baik saja". perempuan paruh baya itu menangis sesenggukan sambil masih memeluk putranya.


Suasana haru menular pada setiap orang yang ada dalam ruangan itu. Tanpa mereka sadari air mata mengalir dipipi mereka. Pun dengan Kirei yang kini menangis dalam pelukan suaminya. Al segera mengalihkan tatapannya ketika matanya kembali bertemu dengan mata indah Naya.


####


Saat ini Al tengah duduk di balkon kamarnya yang sudah lama tak ia tempati. Baru setengah jam lalu ia sampai dirumah kedua orang tuanya. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang malam ini. Pikirannya melayang pada pesan yang Akbar sampaikan padanya sore tadi. Pesan yang menurut nya lebih mirip seperti wasiat yang harus ia jalankan.


Saking takutnya tentang kondisi Akbar, sebelum pulang dari rumah sakit ia menemui dokter yang menangani Akbar dan menanyakan kondisi sahabatnya itu.


Penjelasan dokter membuatnya bisa bernafas lega. Setidaknya kondisi Akbar sudah baik-baik saja, hanya menunggu pemulihannya saja. Lalu apa maksud sahabatnya itu memberi pesan yang sulit baginya untuk menjalankannya.Ia mungkin bisa menjaga Naya, menjaga tubuhnya agar baik-baik saja. Namun bagaimana bisa ia menjanjikan kebahagiaan gadis itu jika kebahagiaan Naya jelas terletak pada Akbar.


"Gimana aku bisa bahagiain kamu Kay..kebahagiaan kamu ada sama Akbar semua". Lirih Al menatap langit malam.


Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Luna, sekretarisnya. Dalam deringan pertama, sekretarisnya itu sudah mengangkat panggilan darinya.


" Ya pak Yohan?"


"Maaf mengganggu waktu istirahatmu. Saya akan disini beberapa waktu kedepan. Tolong dampingi dan bantu Chris menghandle urusan perusahaan". Ucap Al to the point.


" Baik pak. Saya mengerti ".


" Saya tutup. Terimakasih sebelumnya Lun". Al mematikan teleponnya dan kembali larut dengan pikirannya.


Ia memutuskan untuk sementara waktu berdiam di negara kelahirannya ini. Setidaknya sampai kondisi Akbar benar-benar stabil dan ia akan tenang meninggalkan gadis pujaannya bersama lelaki yang ia cintai.


"Lo bisa Al..kalo 6 tahun aja lo bisa...pasti sekarang juga lo mampu". Al menyemangati dirinya sendiri.


Terkadang ia bingung, mengapa begitu sulit baginya untuk melupakan gadis cerewet itu. Beberapa kali ia mengikuti kencan buta yang diatur oleh sang nenek. Namun tak ada seorangpun yang mampu menggetarkan hatinya. Seolah hatinya telah mati untuk merasakan cinta pada gadis lain.


Al kembali menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar melalui mulutnya. Seolah ia sedang membuang sesak yang kembali menghimpit dadanya.


****-----****


Ini adalah hari ketiga bagi Al berada dinegara kelahirannya. Selama itu pula ia tak pernah absen untuk datang kerumah sakit dan menemani Akbar yang kondisinya masih belum stabil. Kondisinya terkadang sangat baik, namun bisa tiba-tiba drop dan itu membuat keluarga dan orang terdekatnya begitu khawatir.


" Lo inget janji elo kan Al?". Akbar kembali membahas perihal pesan yang ia sampaikan untuk Al.


"Bar..udah lah. Gur yakin lo baik-baik aja". Hibur Al. Namun bukannya senang, raut wajah Akbar justru menampakkan kesedihan mendalam.


" Tolong jaga dia Al. Gue tau lo masih cinta sama dia..gue yakin kalo elo lebih mampu jaga dia dan bahagiain dia dibanding gue". Akbar berhenti sejenak untuk menghela nafasnya. Mengisi paru-parunya yang terasa kosong dengan udara sebanyak mungkin.


"Gue takut nggak bisa lagi jaga dia. Gue takut nggak bisa lagi hapus air mata dia". Akbar tak dapat lagi membendung air matanya.


" Bar..."


" Gue tau kalo selama ini lo nyewa orang buat awasin dan jagain dia". Al membeku mendengar penuturan Akbar. Ia pikir tak ada seorangpun yang menyadari perbuatannya. Rupanya ia salah.


"Gue..gue nggak ada mak---"


"Gue tau Al. Lo lakuin itu semua buat Naya". Akbar tersenyum lemah. Saat ini hanya ada mereka berdua didalam kamar rawat Akbar, Naya sedang ke kampus untuk mengurus skripsinya.

__ADS_1


" Gue tenang ada lo sekarang. Gue tenang Naya ada yang jagain ngelebihin gue". Al benar-benar tak bisa menahan perih hatinya, entah mengapa ia merasa Akbar seolah memberi isyarat bahwa dirinya akan meninggalkan mereka untuk selama nya.


"Nggak...Akbar baik-baik aja. Dokter bilang dia cuma butuh waktu buat pemulihan aja". Batin Al yakin


__ADS_2