Imperferct Partner

Imperferct Partner
Khanza


__ADS_3

Makan malam kali ini terasa lebih ramai dari hari biasanya. Tama dan Kirei sengaja mengajak teman-teman putranya untuk makan malam bersama.


Suasana semakin ramai karena Naya tak hentinya menggoda kedua kakaknya hingga wajah keduanya memerah bak kepiting rebus.


"Adek.." Peringat Tama yang melihat Naya hendak menggoda kedua kakak lelakinya.


"Iya dad..iyaaaaa". Naya menunjukkan senyum menyebalkan yang ditujukan pada kedua kakaknya yang mendengus kesal.


" Disini diantara kakak-kakak semua ini ada yang abang suka nggak?? ". Tanya Naya melirik ketiga teman Ken.


" Yang ini namanya siapa?". Naya menunjuk salah seorang teman sang kakak.


"Kenalin, nama gue Arum.."


"Kamu daritadi ngobrol kesana sini sama temen abang tapi gatau namanya?". Tanya Kirei tak percaya yang dijawab cengiran oleh Naya.


" Ya ampun adek.." Kirei menepuk keningnya menatap putri bungsunya itu.


"Ini juga mau kenalan mom". Ucap Naya membuat kedua orang tuanya menggeleng.


" Kakak namanya siapa??".


"Nindya..nama gue Nindya". Gadis itu mengulurkan tangannya pada Naya yang menyambutnya dengan senyum.


" Kalo kakak??". Gadis terakhir yang duduk disampingnya mengulurkan tangannya.


"Khanza. Lo rame banget sih". Saking gemasnya Khanza, ia mencubit gemas pipi Naya.


"Aduh..sakit dong mbak". Naya mengelus kedua pipinya.


" Eh kok mirip namanya sih, Khanza Kenzo. Udah kaya kembar aja". Naya terkikik sendiri mendengar ucapan yang keluar spontan dari mulutnya.


"Abang beneran kembaran bang Ken bukan? Jangan-jangan ketuker pas dirumah sakit". Sontak ucapan Naya membuat kedua orang tua dan kedua kakaknya melongo tak percaya.


" Emang muka abang masih kurang meyakinkan?". Dengus Kai kesal membuat Naya tertawa.


"Hahha..yaampun Ken, adek lo kok rame gini sih. Jadi adek gue aja ya". Ucap Khanza mengacak rambut Naya yang terlihat mencebik kesal.


" Snewen lo Khan kalo ngangkut dia jadi adek". Celetuk Satria yang mendapat pelototan tajam dari Naya.


"Abang sekata-kata ya. Nay itu adek baik, sholeha, pokoknya adekable banget lah". Cerocos Naya membanggakan diri membuat ketiga pemuda tampan yang mendengar nya mencibirnya.


" Sholeha versi elo tu banyak bahayanya". Cibir Satria membuatnya mendapat lemparan sendok.


"Si ketek buset..sakit". Sungut Satria yang tangannya terkena sendok yang dilempar Naya.


" Bang Sat kalo gabisa diem gue suruh pulang nih". Ancam Naya sambil melotot, namun Satria masa bodoh dan melanjutkan makannya.


"Eh bentar..siapa namanya tadi mbak?". Naya menatap Khanza


" Khanza.." Sahut Khanza membuat Naya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Khanza ya..Khanza..Khanza.." Naya tampak berpikir mengingat sesuatu.


"KHANZA!!!!" Naya berdiri sambil menggebrak meja hingga membuat Kai yang sedang minum tersedak karena terkejut.


"BUSEEETT NAY.." Kai dan Satria mengelus dadanya. Perlu kesabaran ekstra menghadapi princess abal-abal yang begitu menyebalkan itu.


Sementara Tama dan Kirei hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Naya yang selalu ribut. Keduanya memilih menyudahi makannya. Mereka berpamitan pada teman-teman putranya.


"Tante sama om tinggal dulu ya..kalian ngobrol aja dulu. Nanti kalau pulang hati-hati. Yang perempuan kalo nggak ada yang jemput wajib dianter. Kalian yang ngerasa laki-laki, anterin mereka. Tanggung jawab..ngerti ya". Nasehat Kirei yang dijawab anggukan kepala oleh Ken dan teman-temannya.


" Ntar yang nggak nganterin temen ceweknya bukan cowok dong berarti ya mom?". Celetuk Naya membuatnya mendapat sentilan cukup keras di keningnya.


"Gue jahit juga lama-lama mulut lo. Mulut kecil kaya gini kalo udah ngomong bikin pusing". Kai mencubit kedua pipi adiknya lantaran kesal sekaligus gemas dengan ucapan-ucapan yang dengan mudahnya terlontar dari bibir mungil adiknya itu.


" ABAAAAAANG!!! SAKIT!!!". Teriak Naya yang sudah memonyongkan bibirnya. Al yang melihatnya hanya terkekeh, bagaimana mungkin ada gadis seperti itu.

__ADS_1


"Nggak mungkin gue suka ama cewek modelan kaya Naya. Nggak ada manis-manisnya sama sekali. Pecicilan iya.." Batinnya menepis rasa baru yang belakangan sering ia rasakan. Perasaan berdebar setiap menatap wajah gadis manis itu, perasaan ingin melindungi dan perasaan tak suka melihat Naya selalu berdekatan dengan sahabatnya Akbar.


"Mbak Khanza.." Panggil Naya membuat Khanza menoleh dengan sebelah alis terangkat.


"Mbak satu SMP sama abang??". Tanya Naya melirik Ken yang wajahnya mulai pucat.


" Iyalah..gue temennya abang-abang lo ini dari SD. Cuma ni kunyuk satu pindah alam pas SMP". Khanza melirik Satria yang mendengus kesal.


"Lo kata gue mati pake pindah alam". Dengus Satria membuat Khanza dan Naya tertawa.


" Beneran???". Tanya Naya memastikan


Khanza mengangguk pasti membuat Naya tersenyum misterius menatap Ken yang sudah memberinya isyarat untuk diam. Namun bukan Khanza yang jika dilarang akan diam, semakin dilarang maka gadis itu akan semakin gencar melancarkan aksinya.


"Waaaah...berarti bener dong bang. Mbak Khanza yang ini yang dul---hmmmmp". Ken sudah lebih dulu membekap mulut adiknya sebelum Naya selesai dengan kalimatnya.


" Lo bisa diem enggak sih dek. Abang malu dek..pliis diem ya.." Bisik Ken penuh permohonan. Ia sudah menarik sang adik sedikit menjauh dari teman-temannya tanpa melepaskan tangannya dari mulut Naya.


"Hhhmmp..hhmmpp.." Naya melirik tangan Ken yang masih setia membekap mulutnya.


"Abang lepas..tapi diem ya". Naya mengangguk hingga Ken melepaskan tangannya dari mulut Naya.


" Abang mau bunuh aku. Ngebekepnya kaga kira-kira!". Naya langsung mengomel begitu mulutnya terlepas dari bekapan sang kakak.


"Emang Nay dapet apa kalo Nay diem??". Tanya Naya sambil melirik teman-teman sang kakak yang saat ini tengah memperhatikannya dirinya dan Ken.


" Nay mau apa? Abang beliin deh.." Lebih baik dompetnya bolong daripada malu karena mulut ember sang adik.


"Yakin??". Tanya Naya membuat Ken mengangguk cepat.


" Mau apa? Donasi buat panti asuhan teman lo? Tas? Sepatu? Tiket nonton? Apa??". Tanya Ken cepat. Sebenarnya feeling nya mengatakan jangan menawarkan hal seperti ini pada adiknya. Namun demi rahasia yang selama ini tersimpan rapi, maka dirinya harus merelakan dompetnya dijebol habis-habisan oleh adik tercintanya.


" Tapi nggak bisa dibeli pake uang bang..gimana dong?"


"Hah? Lah terus elo mau apaan dek?". Tanya Ken semakin ketar-ketir memikirkan permintaan adiknya.


" Pacarin mbak Khanza". Bisik Naya membuat Ken melotot


" Jangan ini Nay.." Ucap Ken memelas.


"Nay tau abang masih suka ama mbak Khanza. Emang abang nggak liat apa kalo mbak Khanza sering curi-curi pandang ke abang".


" Nggak usah sok ngajarin. Kaya udah tau suka ama cinta-cintaan aja lo". Ken menoyor pelan kepala adiknya.


"Ish..gue udah gede bang". Sengit Naya yang membuat Ken gemas dan mengacak rambut sang adik.


" Abang nggak bisa Nay.." Wajah Ken berubah serius membuat Naya menatapnya.


"Dia nggak mau pacaran katanya Nay. Banyak maksiatnya". Ucap Ken menjelaskan


"Berarti minta dinikahin bang?". Tanya Naya membuatnya mendapat sentilan dikeningnya lagi.


" Ish..lama-lama beneran bodo kalo tiap hari ditoyor ama disentil mulu". Sungut Naya.


"Udah lah..nggak usah dibahas. Yang jelas, abang juga belom mau mikir pacaran. Mau ngembangin studio foto punya daddy aja dulu". Ken merangkul pundak adiknya.


" Yang pasti..tugas lo itu belajar. Sama diem aja. Ngerti?". Ucap Ken penuh penekanan membuat Naya mendengus kesal. Namun pada akhirnya ia menurut dan mengangguk mengiyakan perintah sang kakak.


"Pantes aja banyak cewek pada salah paham ama lo berdua. Lah lo berdua lebih mirip orang pacaran daripada kakak adek". Ucap Khanza disertai tawa renyah yang menular pada temannya yang lain.


" Iya..termasuk mbak Khanza kan yang salah paham?". Goda Naya yang langsung membuat Khanza salah tingkah.


"Ka-kaga lah. Kok gue". Ucapnya gugup. Khanza semakin gugup saat Naya menatap wajahnya dari dekat. Adik dari lelaki yang pernah menyatakan cinta padanya itu bahkan menelengkan sedikit kepalanya didepan wajahnya.


" Lo ke-kenapa Nay?". Tanya Khanza ketika Naya menempelkan punggung tangannya dikening Khanza.


"Nggak panas.." Gumam Khanza

__ADS_1


"Lo ngapain sih dek?". Tanya Kai yang juga bingung melihat kelakuan adiknya.


" Mbak Khanza nggak panas. Tapi mukanya merah bang. Sakit mbak?". Tanya Naya yang membuat Khanza gelagapan dan menyentuh wajahnya.


"Hah? Kaga..siapa yang sakit?". Tanya Khanza membuat Naya menunjuk dirinya.


" Gue kaga sakit Kanaya yang cantik.." Ucap Khanza yang sudah bisa menormalkan kegugupannya.


"Tapi tadi merah..aaaaa, jangan-jangan -----"


"Udah malem..gue pamit dulu deh. Takut emak bapak gue nyari". Ucap Khanza yang langsung sibuk mencari tasnya.


" Anterin bang". Ucap Naya pada Ken yang langsung menatapnya penuh peringatan.


"Kaga usah..gue bisa naik taksi". Ucap Khanza


" Abang nggak denger pesen mommy. Yang nggak nganter temen ceweknya berarti bukan laki". Peringat Naya


"Kata elu itu mah". Satria datang dan langsung memiting kepalanya.


" Udah sono anter". Kai ikut mendorong Ken mendekat pada Khanza yang sudah siap.


"Elo?". Tanya Ken menatap saudara kembarnya.


" Gue ada bisnis ama kunyuk atu ini". Kai melirik Satria yang masih ribut dengan adiknya. Ken mendengus kesal, ia tahu bisnis macam apa yang dibicarakan Kai.


"Arum ama Nindya biar bareng gue aja. Toh rumah kita bertiga searah". Suara Rendra membuat Ken menoleh.


" Gue balik dulu.." Pamit Al pada Ken dan Kai.


"Daaaa..mas ganteng..ati-ati. Takut dijalan diculik mak lanak". Ucap Naya yang masih ada dibawah ketiak Satria.


" Mak lanak apaan?". Tanya Satria bingung.


"Emaknya kuntilanak..hihihi". Naya terkikik melihat wajah cengo Satria. Sesaat kemudian ia sudah berteriak karena Satria semakin mengeratkan pitingannya.


" Kuntilanak kaga punya emak. Kalo dia punya emak terus yang ngehamilin emaknya sapa??". Tanya Satria gemas.


"Abang". Sahut Naya cepat kemudian tertawa keras karena Satria melotot kesal padanya.


Al yang melihatnya hanya menggeleng dengan senyum tipis dibibirnya. Kanaya, gadis yang sudah sedikit mengusik hati dan pikirannya. Namun sebisa mungkin ia coba menepisnya.


" Ati-ati Al". Teriak Kai dijawab lambaian tangan oleh Al.


"Gue anter.." Ucap Ken.


"Kaga usah Ken..gue bisa naik taksi". Tolak Khanza membuat Ken menatapnya.


" Adek gue bisa ceramah ampe subuh kalo gue kaga nganter elo". Jawaban Ken membuat Khanza sedikit kecewa. Namun akhirnya ia menurut.


"Ayo". Ucap Ken yang dijawab anggukan kecil oleh Khanza.


"Kanaya..gue balik dulu ya. Abang lo gue pinjem dulu". Ucap Khanza mengedipkan sebelah matanya pada Naya.


" Kaga usah dibalikin juga ikhlas mbak".


"Bagus deh..abang nggak usah ngasih uang jajan buat elo". Balas Ken membuat Naya menggeleng cepat.


" Eh..jangan deng mbak. Balikin abang aku. Ntar uang jajannya berkurang". Teriak Naya cepat membuat Khanza tertawa.


Malam itu akhirnya Khanza pulang dengan diantar oleh Ken. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Karena jujur, Ken bingung harus memulai dari mana untuk sekedar mengobrol. Sedangkan Khanza terlihat ragu untuk memulai obrolan dengan Ken.


"Ni bocah diem mulu. Biasanya bawelnya sebelas duabelas ama si Naya". Batin Ken yang sesekali melirik Khanza yang tengah menatap pemandangan diluar kaca mobil.


Sementara Ken dan Khanza sedang bersemedi dengan saling diam, Kai dan Satria tengah berbisnis didalam kamar Kai. Entah bisnis macam apa yang mereka bicarakan saat ini. Yang jelas Naya dilarang keras ikut masuk kedalam kamar sang kakak dengan alasan dia perempuan.


Sedangkan mommy Kirei dan daddy Tama sedang menikmati waktu berdua tanpa gangguan dan teriakan putri bungsu mereka karena kedua orang tua itu yakin jika putrinya sednag mengganggu kakak-kakaknya.

__ADS_1


#####


Haii semua...maafkan karena kemarin nggak up. Kehidupan nyata membuatku meninggalkan dunia haluku sesaat..semoga masih setia menunggu cerita lanjutannya. Jangan lupa like sama komennya ya gengs..


__ADS_2