
Kirei menghela nafas panjang ketika netranya melihat seorang pria berdiri didepan pintu apartemennya. Gadis itu baru saja pulang dari rumah sakit, rasa lelahnya semakin terasa melihat pria yang masih setia berdiri didepan pintu apartemennya itu.
Setelah berulang kali menghela nafas, Kirei melangkahkan kakinya mendekat pada lelaki yang langsung menoleh padanya saat mendengar langkah kaki Kirei.
"Kirei..kita harus bicara". Daniel mencekal lembut tangan Kirei.
Kirei menghembuskan nafasnya berat. Harus bagaimana lagi dirinya memberi pengertian pada lelaki yang akan menjadi suami teman baiknya itu.
"Udah berapa kali gue bilang. Kita udah nggak ada urusan..gue udah bilang ama lo, anggap kita nggak pernah kenal sebelumnya". Kirei kembali menegaskan hubungannya dengan Daniel. Namun lelaki itu seolah tuli dengan segala hal yang Kirei ucapkan.
"Aku nggak peduli mau beribu kali kamu nolak aku Ki. Aku akan tetap kesini dan terus menemui kamu". Daniel masih berpegang teguh pada pendiriannya.
Kirei memutar bola matanya, jengah dengan segala tindakan Daniel yang semakin hari semakin membuatnya tak nyaman.
'ceklek'
Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Mata Kirei melebar melihat siapa yang membuka pintu apartemennya dari dalam. Bukan hanya itu, tampilan orang yang membuka pintu apartemennya benar-benar membuat mulutnya menganga lebar.
"Ini apaan sih ribut-ribut. Ganggu orang tidur". Suara serak khas orang yang baru bangun tidur membuat Daniel menatap Kirei dan lelaki yang saat ini hanya menggunakan kaos dengan celana pendek itu bergantian.
"Ka..kalian?". Daniel masih menatap kedua orang itu bergantian. Berharap apa yang dilihatnya tidak seperti apa yang sedang ia pikirkan.
Kirei segera mengembalikan ekspresi wajahnya yang sempat terkejut mendapati Tama berada didalam apartemennya. Namun sedikitnya Kirei merasa beruntung karena dengan adanya Tama didalam apartemennya, Daniel akan berpikir bahwa dirinya dan Tama memang sudah saling mencintai..setidaknya Daniel akan berpikir bahwa ia dan Tama pernah tidur bersama. Apalagi melihat Tama dengan pakaian tidurnya saat ini.
Mendengar suara Daniel, mata Tama terbuka sempurna, kesadarannya kembali sepenuhnya. Ia menatap tajam Daniel yang tidak ada hentinya mengganggu Kirei yang tinggal beberapa minggu lagi akan menjadi istrinya. Tama benar-benar dibuat kesal dengan ulah Daniel.
Dengan sekali sentakan, Tama berhasil menarik Kirei kedalam pelukannya. Memeluk bahu Kirei posesif, berusaha menunjukkan pada Daniel bahwa Kirei adalah miliknya. Dan Daniel tidak akan bisa merebutnya. Setidaknya itulah yang sesungguhnya Tama harapkan.
"Apa salahnya kami tinggal bareng. Toh sebentar lagi kami juga akan menikah". Seperti biasa, Tama akan selalu diuntungkan dalam kondisi seperti sekarang. Dengan kurang*jarnya, Tama mencium mesra pipi Kirei. Dalam hati Kirei terus merutuki kelakuan Tama yang selalu berhasil mencuri ciuman disetiap kesempatan. Ingin rasanya Kirei menendang lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu jauh ke luar angkasa sana.
Namun yang saat ini Kirei lakukan hanya bisa mengumpati Tama dalam hati. Karena posisinya saat ini membutuhkan Tama untuk menghempaskan Daniel jauh-jauh dari kehidupannya.
Bibirnya tersenyum manis menatap Tama dengan lembut. Namun Tama tahu bahwa gadis yang saat ini tengah berada dalam pelukannya itu tengah memakinya didalam hati. Tama tersenyum tanpa dosa membalas senyuman manis Kirei.
"Untuk apa kalian melakukan semua ini? Kalian tidak saling mencintai. Kenapa memaksakan diri untuk bersama?!". Tanya Daniel pelan. Dirinya hampir tak percaya melihat Tama berada didalam apartemen Kirei dengan kondisi bangun tidur.
"Aku tau kak Tama nggak sama sekali mencintai Kirei, begitupun sebaliknya. Aku tau kak Tama masih sangat mencintai Inneke". Seru Daniel membuat Kirei sedikit terkejut mendengar nama Inneke disebutkan oleh Daniel.
"Ki...aku tau kamu masih mencintai aku. Kasih aku kesempatan untuk membuktikan sama kamu kalo aku bisa bahagiain kamu". Daniel hendak memegang tangan Kirei yang melingkar diperut Tama. Namun dengan cepat Tama menghempaskannya. Kesabarannya sudah habis menghadapi sikap Daniel yang seperti ini. Apalagi lelaki itu sudah berani mengungkit tentang gadis di masa lalunya.
__ADS_1
"Lo udah kehilangan akal sehat lo Dan. Pikirin Arin, Dan!". Bentak Tama membuat Daniel menatapnya tajam. Selama ini Tama diam saja saat Daniel terus mengganggu Kirei, baik dirumah sakit ataupun di apartemen gadis itu.
Pernah sekali waktu Tama mengancam akan mengatakan segalanya pada Arin dan kedua orang tua Daniel. Namun jawaban Daniel justru membuat Tama semakin marah.
"Aku akan sangat berterimakasih jika kak Tama mau membantuku mengatakan segalanya pada mereka semua". Itulah jawaban Daniel saat Tama mencoba menekan lelaki itu dengan nama orang tua dan tunangannya.
Sejak saat itulah Tama memilih membiarkan Daniel melakukan hal yang diinginkan olehnya. Tama hanya akan membantu Kirei lolos dari Daniel, seperti saat ini. Dirinya akan berlakon seperti seorang kekasih yang begitu mencintai dan mendambakan pujaan hatinya.
"Gue nggak cinta sama dia kak!! Gue cinta sama Kirei!!". Daniel balas berteriak. Kirei hanya diam, menatap Tama dan Daniel bergantian. Mengapa sekarang hidupnya begitu rumit? Kemana kehidupan tenangnya selama 6tahun ini?? Kirei benar-benar merindukan hidup damainya.
Menghadapi Daniel dan Tama membuat Kirei lebih sering menghela nafasnya panjang. Seolah pasokan oksigen didalam paru-parunya lebih cepat habis jika sedang berhadapan dengan dua lelaki itu.
"Mas.." Panggil Kirei lembut menatap wajah tampan Tama.
"kita masuk aja ya..aku capek pengen istirahat. Tadi pasiennya banyak banget". Keluh Kirei dengan nada yang sangat manja. Tama tersenyum, lelaki itu sudah terbiasa dengan nada manja Kirei jika bertemu Daniel.
Tama melirik tajam pada adik sepupunya, kemudian tanpa mengatakan sepatah katapun Tama menutup pintu apartemen Kirei dengan kencang hingga menimbulkan bunyi keras yang membuat Daniel sedikit berjengit.
Tepat setelah pintu tertutup sempurna, sebuah pukulan mendarat tepat dikepala Tama. Tentu saja pelakunya adalah Kirei.
"Aw..astagfirullah Ki. Elo gue bantuin malah melakukan penganiayaan". Sungut Tama mengelus kepalanya yang terasa sedikit nyeri akibat pukulan Kirei yang lumayan keras.
"Gue nolongin elo Ki, kalo kaga kaya gitu kan dia kaga percaya". Ucap Tama membela diri.
Kirei berdecak sambil melirik Tama yang sedang memainkan alisnya naik turun.
"Besok lagi kaga usah pake cium-cium! Lo cium-cium gue juga dia kaga percaya! Yang ada elo kesenengan nyiumin gue mulu".
"Untung di elo, buntung di gue". Pungkas Kirei yang kemudian menghempaskan tubuhnya disofa ruang tamunya. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Namun sedetik kemudian matanya kembali terbuka lebar dan menatap tajam pada Tama yang duduk disebelahnya.
"Apa lagi onah. Gue salah apa lagi sekarang?". Tanya Tama melihat Kirei yang menatapnya tajam.
"Kenapa lo bisa masuk? Terus apa-apaan ini? 'tunjuk Kirei sambil menarik ujung kaos yang digunakan Tama'. Sejak kapan lo ada disini?". Kirei memberondong Tama dengan berbagai pertanyaan.
"Satu-satu nanya tuh". Tama menyenderkan tubuhnya ke sofa. Matanya kembali terasa berat untuk dibuka. Dirinya sedang sangat menikmati tidurnya ketika terdengar keributan didepan pintu apartemen Kirei yang memaksanya untuk bangun dari mimpi indahnya.
"Jangan merem lagi!! Jawab". Desak Kirei menggoyangkan tubuh Tama.
"Gue dikasih tau buna..lagian gue kaga bisa tidur di apartemen gue. Ada duo semprul disana". Jelas Tama membuat Kirei menghela nafasnya panjang. Ibunya benar-benar sudah mempercayai Tama untuk menjaganya. Bahkan akses kedalam apartemennya pun sudah diberitahukan pada lelaki sableng disebelahnya.
__ADS_1
"Sana balik. Gue juga mau tidur". Usir Kirei yang melihat mata Tama kembali terpejam.
"Bentaran lagi ya..gue numpang tidur bentaaaaar lagi". Tawar Tama yang masih merasa mengantuk.
"Kaga ada..balik sono. Kaga baik beduaan didalam sini. Walaupun gue kaga bakal khilaf, tapi mau gimana juga elo kan kadal". Kirei menarik tangan Tama agar bangun. Namun Tama justru menarik tangan Kirei hingga akhirnya tubuh Kirei justru jatuh tepat dipangkuan Tama. Jarak keduanya begitu dekat, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka. Kedua tangan Kirei berada did*** bidang Tama, berusaha menekan tubuh gagah itu untuk memberi jarak pada keduanya.
Perlahan Tama membuka matanya yang sejak tadi tertutup, Tama menatap intens wajah Kirei yang terlihat merona dengan posisinya saat ini. Siapapun yang melihatnya akan salah paham dan mengira mereka sedang melakukan hal yang iya-iya.
Mata keduanya saling menatap, mencoba menyelami perasaan masing-masing. Bohong jika Kirei tidak terpesona dengan wajah rupawan dan pesona Tama, dirinya gadis normal yang tetap tertarik pada lawan jenisnya. Apalagi wajah Tama sangat tampan dengan pesona yang tidak bisa diremehkan.
Pun dengan Tama, bagaimanapun keduanya sudah sering melakukan kontak fisik seperti ini, bahkan berciuman. Tama selalu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat jika sedang berdekatan dengan Kirei seperti sekarang ini. Namun masa lalu keduanya membuat dua orang itu memilih berdebat untuk menutupi rasa kagumnya satu sama lain.
Keduanya terpaku, saling menatap dalam diam. Tanpa mereka sadari wajah keduanya semakin mendekat, semakin mengikis jarak diantara keduanya. Kedua tangan Tama membelit pinggang Kirei dengan erat, membuat d*** sintal Kirei menempel rapat pada d*** bidang Tama. Tanpa sadar Kirei memejamkan matanya, dirinya tidak bod*h. Ia tahu apa yang akan Tama lakukan. Dan anehnya, dirinya tidak berusaha untuk menghindarinya.
Hanya menyisakan beberapa centi untuk bibir keduanya bertemu. Bersamaan dengan pintu apartemen terbuka hingga membuat moment romantis itu ambyar seketika.
"KI....Ooopsss". Tania yang sudah biasa keluar masuk apartemen Kirei mematung didepan pintu bersama Juna melihat pemandangan yang membuat mereka berdua memikirkan yang iya-iya tentang Tama dan Kirei.
Sementara Kirei langsung bangkit dan berdiri didepan Tama. Merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. Sedangkan Tama tetap memasang wajah santai seolah tidak terjadi apapun padanya dan Kirei.
"Oops..sorry. Gue datengnya nanti lagi aja deh". Tania segera menutup pintu dan menarik Juna menjauh dari unit apartemen temannya itu. Tania merutuki kecerobohannya, dirinya lupa jika kini Kirei pasti lebih sering bersama Tama. Harusnya tadi dirinya mengetuk pintu atau memencet bel lebih dulu agar hal ini tidak terjadi. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Tania hanya bisa terus merutuki keb*dohannya dan kecerobohannya.
"Nggak nyangka ya..Kirei kalo berdua ama pak Tama agersif juga. Gue kok deg-degan sendiri ya Tan". Suara Juna membawa Tania pada kesadarannya.
Tania mengernyit bingung mendengar Juna berucap. Kenapa justru lelaki itu yang berdebar, bukankah Kirei yang akan berciuman. Lantas mengapa Juna ikut berdebar.
"Kirei ama pak Tama kalo ciuman hot apa kaga ya? Gue penasaran". Pertanyaan Juna berhasil mendapat apresiasi sebuah geplakan dikepalanya oleh Tania. Bagaimana bisa Juna berpikir tentang seperti apa Kirei dan pak Tama berciuman.
"Dasar Junedi koplak!!! Sempet-sempetnya lo mikir kaya gimana ciumannya. Lo kaga mikir gimana nasib kita abis ini? Gangguin anak direktur ama calon istrinya yang mau iya-iya!!". Semprot Tania membuat Juna bungkam. Otaknya berpikir cepat dan sesaat kemudian lelaki itu justru heboh sendiri ketika menyadari ucapan Tania memanglah benar.
"Mamp*s!!! Gimana dong Tan..mati kita. Dipecat apa kaga ya???". Juna jadi panik sendiri ketika menyadari bahwa keberuntungannya melihat Kirei dan Tama sedang intim seperti tadi adalah sebuah petaka untuk karirnya. Tania mengembuskan nafanya berat seraya menggeleng lemah.
Sementara suasana didalam apartemen Kirei terasa canggung. Kirei terus berjalan mondar mandir didepan Tama hingga membuat Tama kesal dan akhirnya menarik Kirei untuk duduk disebelahnya.
Tama paham apa yang membuat Kirei tidak tenang, lelaki itu sedikit banyak sudah mengetahui tentang kedua teman Kirei yang se frekuensi dengan duo sableng temannya. Kirei pasti panik jika nantinya kedua temannya itu akan terus menggodanya ketika bertemu dan membahas apa yang baru saja mereka lihat.
"Elo sih. gue kan udah bilang pulang. Lo nya kaga pulang-pulang, kan kalo gini mereka jadi salah paham. Ntar gue musti jelasinnya gimana??? Makanya kalo gu-----". Belum sempat Kirei menyelesaikan tausiyah panjangnya. Bibirnya sudah disambar oleh Tama yang gemas melihat Kirei terus mengomel.
Mata Kirei membola merasakan bibirnya dimainkan oleh Tama. Tama sangat lihai memainkan bibir dan lidahnya hingga membuat Kirei terbuai. Perlahan Kirei memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut bibir Tama. Ini adalah kali pertama, Tama menciumnya dengan penuh perasaan hingga membuat Kirei terbuai. Bahkan Kirei tidak merasa keberatan dengan ciumannya kali ini.
__ADS_1