Imperferct Partner

Imperferct Partner
penikahan


__ADS_3

Sejak kejadian beberapa waktu lalu, Kirei dan Tama sama-sama disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan sudah hampir satu minggu ini keduanya jarang bertemu, bahkan hampir tidak bertemu.


"Udah belom". Teriak Kirei dari depan kamar mandi. Sudah hampir setengah jam Tama ada didalam dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar.


"Sabar". Balas Tama berteriak.


"Ish..ni orang laki apa bukan sih. Mandi aja lama banget! Kalo gini kaga bakal bisa liat akad nikahnya". Gerutu Kirei didepan pintu kamar mandi.


Hari ini adalah hari bahagia Arin dan Daniel. Atau mungkin hanya Arin yang bahagia karena setelah penantiannya 6tahun lebih, akhirnya ia bisa menjadi istri seorang Daniel.


"Kaga usah ngedumel, onah!". Tama menoyor kepala Kirei yang tengah berdiri membelakanginya.


"Ish..ngeselin banget sih lo". Tama terkekeh melihat istrinya kesal.


"Semangat banget yang mau ke nikahan mantan". Kirei yang hendak masuk kedalam kamar mandi sontak menghentikan langkahnya mendengar suara yang keluar dari bibir suaminya itu. Ia menatap tajam Tama yang justru tertawa melihatnya marah.


"Kaga cocok elo melotot ama gue. Kaya dakocan". Ledek Tama semakin membuat Kirei melotot.


"Udah sono masuk. Beneran ketinggalan acara kalo elo kelamaan melototin gue". Tama mendorong tubuh ramping Kirei kedalam kamar mandi.


"Dasar sableng!". Umpat Kirei sebelum menghilang dibalikn pintu kamar mandi. Tama hanya menggeleng melihat kelakuan istri yang hingga kini belum ia miliki sepenuhnya karena pekerjaan mereka.


"Perasaan gue kaga enak". Gumam Tama yang sejak semalam memang enggan datang ke pernikahan Daniel dan Arin. Entah mengapa ia memiliki firasat buruk jika menghadiri pesta pernikahan itu.


Tama meraih kemeja batik yang telah disiapkan oleh Kirei. Kemeja lengan panjang yang sangat pas dengan tubuh atletisnya. Kemeja dengan motif yang sama dengan kain yang akan dikenakan Kirei.


"Tuh kan pas. Pilihan gue emang oke sih". Komentar Kirei ketika keluar dari kamar mandi.


Tama menoleh, mendapati Kirei hanya mengenakan jubah mandi sebatas lutut.


"Lo sengaja godain gue biar kaga usah jadi pergi?". Tanya Tama dengan alis terangkat. Kirei mengikuti arah pandang Tama yang menatap tubuhnya kemudian ia langsung menyilangkan tangannya didepan d*** menyadari tatapan m*sum suaminya itu.


"Dasar mesum!". Teriak Kirei kesal yang membuat Tama terkekeh.


Keduanya sudah siap dengan tampilan rapinya. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan menuju kediaman kedua orang tua Daniel. Entah mengapa acara akad nikah yang biasanya dilaksanakan pagi hari, Daniel dan Arin memilih waktu malam dan akan dilanjutkan dengan acara resepsi.


"Kenapa nikahnya kaga dihotel aja sih?". Tanya Kirei heran. Sejujurnya ia sedikit merasa aneh dengan pesta temannya itu.


Tama mengendikkan bahunya. Dirinya pun merasa heran mengapa Daniel lebih memilih rumah untuk pestanya, pun dengan malam hari untuk melaksanakan akadnya.


"Aneh, udah mah ijabnya malem pula. Resepsi juga dirumah". Gerutu Kirei.


"Eh..aneh kaga sih Tam. Biasanya kan akad nikah dirumah cewe ya. Lah ini napa dirumah sepupu elo?". Tanya Kirei semakin bingung.


"Lo jangan jauh-jauh dari gue". Ucap Tama tiba-tiba membuat Kirei menoleh dengan dahi mengernyit.


"Nurut aja. Kaga boleh jauh-jauh dari gue". Tegas Tama tak ingin dibantah. Feelingnya semakin kuat jika akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


####


Keduanya disambut oleh kedua orang tua Tama yang sudah lebih dulu sampai. Terlihat sekali jika Riana sangat merindukan menantu cantiknya.


"Ibu kangen sekali sama kamu Ki. Apa Tama tidak pernah mengijinkan kamu menemui ibu?". Kirei langsung dicecar pertanyaan oleh ibu mertuanya.


"Ibu..suudzon mulu ama aku". Sungut Tama membuat Kirei dan Akmal tertawa.


"Gimana?? Udah ada tanda-tanda belom?". Riana tiba-tiba mengelus perut rata Kirei.


"Bikin juga belom". Batin Tama dan Kirei kompak.


"Belum bu.." Jawab Kirei tersenyum kaku.


"Semoga secepatnya kamu hamil, ibu sama buna mu udah nggak sabar gendong cucu". Ucap Riana terlihat penuh harap membuat Kirei dan Tama saling pandang.


Keduanya tidak pernah bermaksud menunda. Namun setiap kali mencoba, keduanya selalu gagal karena hal-hal yang tidak terduga.


Suara MC membuat semua kerabat mendekat ke meja yang akan menjadi tempat akad nikah Daniel dan Arin. Sejak tadi Daniel terus mencuri pandang pada Kirei yang tampak terus digandeng oleh suaminya. Melihat dari matanya saja, Tama tahu jika Daniel tidak menyukai dirinya berada dekat dengan Kirei. Namun Tama memang sengaja bersikap seromantis mungkin dihadapan Daniel.


Acara berlangsung khidmat, Daniel harus mengulang akadnya karena terlihat ragu ketika menyebut nama mempelai wanitanya. Namun begitu, semua berjalan sesuai rencana. Arin resmi menyandang status nyonya Daniel.

__ADS_1


"Arin.." Panggil Kirei lembut membuat Arin menoleh. Senyum Arin mengembang melihat Kirei mendekat. Keduanya berpelukan melepas rindu.


"Selamat ya Rin..semoga menjadi keluarga yanh sakinah, mawaddah dan warahmah". Ucap Kirei tulus.


"Makasih banyak Ki". Balas Arin tersenyum. Ia berharap, setelah menikah dengannya, Daniel akan bisa melupakan Kirei. Gadis itu tak tahu jika pernikahannya ini justru akan menjadi awal kehancurannya.


"Selamat ya Dan. Jaga Arin, berhenti ganggu istri gue". Bisik Tama yang tengah memeluk sepupunya itu.


Daniel tersenyum miring, menatap Tama remeh sebelum mulutnya terbuka membalas ucapan Tama.


"Dia akan tetap jadi milik gue kak". Sontak jawaban Daniel membuat Tama meradang. Bagaimana bisa Daniel masih berpikir akan memiliki Kirei sementara dirinya baru saja mengucapkan ijab qabul atas nama Arin.


"Lo gila!". Sengit Tama membuat Daniel terkekeh. Daniel lebih terlihat seperti orang gilam


"Sayang..kita kesana ya". Tama sengaja mengeraskan suaranya agar Daniel melihat dan mendengar. Kirei mengangguk dan mendekat pada Tama, tangannya segera meraih lengan sang suami untuk ia peluk.


"Malam ini elo bakal jadi milik gue Ki. Apapun yang terjadi". Gumam Daniel yang tak sadar jika Arin mendengarnya.


Acara berlanjut, resepsi dimulai. Tamu-tamu mulai berdatangan. Bahkan ada beberapa yang Tama kenali. Tama pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan memperkenalkan Kirei pada teman dan rekan bisnisnya. Sementara Kirei merasa risih karena sejak tadi Daniel terus menatapnya.


"Gue ke toilet dulu ya". Pamit Kirei pada Tama yang sedang asyik mengobrol dengan Saga dan Gery.


"Mau gue temenin?". Tanya Tama yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Kirei.


Tama mengangguk, menatap punggung Kirei yang semakin menjauh hingga tak terlihat dibalik tembok.


"Yaelah bro, ditinggal kencing doang". Goda Saga yang melihat Tama terus menatap Kirei.


"Berasa penganten baru teross". Timpal Gery. Namun Tama tidak menanggapi guyonan kedua sahabat sablengnya itu.


"Lo kenapa sih Tam?". Tanya Saga yang merasa Tama terlihat aneh.


"Perasaan gue kaga enak. Gue susul bini gue dulu". Tama berlalu meninggalkan dua sahabatnya yang melongo tak percaya melihat Tama begitu mengkhawatirkan istrinya yang bahkan belum 15menit meninggalkan mereka.


"Tu bocah kenapa dah". Gery menggeleng mendengar gumaman Saga.


Kirei segera membalikkan tubuhnya sebelum seseorang berhasil memukul tengkuknya. Ia langsung memasang kuda-kuda melihat ada lebih dari 5 pria dewasa yang berdiri disana. Dilihat dari penampilannya, jelas mereka bukan tamu dari acara ini. Lalu siapa mereka?


"Siapa kalian?!". Tanya Kirei waspada.


"Mari ikut dengan kami nona, tuan kami ingin bertemu dengan anda". seorang pria berkepala plontos maju satu langkah ke hadapan Kirei.


"Aku tidak memiliki urusan dengan tuan kalian. Sampaikan padanya aku tidak akan pernah menemuinya". Jawab Kirei tenang. Untunglah gadis itu sudah dibekali ilmu bela diri oleh kedua orang tuanya.


"Kalu begitu maafkan kami jika harus memaksa anda ikut dengan kami". Setelah mendapat isyarat dari pemimpinnya, setengah dari orang yang menghadang Kirei maju dan mulai menyerang Kirei.


Kirei bisa tahu bahwa mereka adalah orang-orang terlatih yang memang sudah ahli dalam bidangnya. Sambil terus menangkis dan membalas serangan dari orang-orang itu, Kirei terus berpikir siapa orang yang sudah mengirim orang yang menyerangnya ini.


Dengan ketangkasannya, Kirei bisa memukul mundur orang-orang itu. Gerakannya sedikit tertahan dengan pakaian yang saat ini tengah ia pakai.


Kini pria yang berjumlah 8 orang itu maju bersamaan, hanya menyisakan 1 orang masih diam diposisinya.


Serangan demi serangan mampu Kirei tangkis, namun saat dirinya berbalik, Kirei merasakan sebuah benda menancap dileher sampingnya. Sebuah jarum suntik yang sudah dikeluarkan isinya.


"Ki..."


"Kirei!! Lo didalem?".


Perlahan kesadarannya mulai hilang, apa yang dilihatnya mulai mengabur. Pun dengan pendengarannya, ia samar mendengar suara yang familiar meneriakkan namanya.


"Tam..Tama...gue disini". Lirih Kirei sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.


Tama yang sejak tadi khawatir dan memutuskan menyusul Kirei semakin panik ketika membuka semua pintu kamar mandi dan tidak menemukan istrinya didalamnya.


"****!!!". Umpat Tama kemudian berlari keluar. Dirinya harus mencari istrinya secepatnya.


Sementara Gery dan Saga mengerutkan keningnya melihat Tama berlari menghampiri mereka.


"Kirei..Kirei mana?". Tanya Tama dengan nafas tersengal.

__ADS_1


Saga dan Gery semakin dibuat bingung dengan pertanyaan Tama. Bukankah sahabatnya itu pamit akan menyusul istrinya, lalu kenapa justru ia datang menanyakan Kirei.


Tama mengedarkan pandangannya. Benar saja diatas pelaminan sana Tama tidak melihat Daniel. Hanya ada Arin yang ditemani oleh kedua orang tua Daniel.


Tama bergegas naik ke atas panggung, dan menanyakan keberadaan Daniel kepada om dan tantenya serta Arin.


"Om..tante". Kedua orang yang dipanggil segera menoleh ddan tersenyum mendapati keponakannya hadir disana.


"Kamu datang nak. Dimana istrimu?". Tanya ibunda Daniel pada Tama.


"Mungkin sedang ke toilet". Jawab Tama berbohong.


"Dimana pengantin kita?". Tanya Tama berbasa-basi. Ia harus segera mengetahui dimana Daniel.


"Dia sedang menerima telepon. Anak itu terlalu gila kerja". Gerutu ibu Daniel membuat Tama semakin gusar.


"Baiklah, Tama pamit kalau begitu". Tangan Tama dicekal oleh Arin ketika melewatinya.


"Cepat kak, sebelum semua terlambat. Aku mohon tolong Kirei". Arin memberikan sebuah kunci ditangan Tama yang mengernyit bingung.


"Ruang kerja Daniel. Jangan datang sendiri". Arin kembali memberi petunjuk pada Tama yang langsung mengangguk.


"Makasih Rin". Tama menepuk bahu Arin yang terlihat menahan tangisnya.


Ia segera menghampiri kedua sahabat semprulnya untuk meminta bantuan. Awalnya Saga dan Gery bingung, namun mereka tetap mengikuti langkah Tama.


"Gila si Daniel. Bini abang sepupunya sendiri mau diembat". Saga berdecak kesal. Tak percaya dengan apa yang dilakukan Daniel pada Kirei.


Langkah kaki ketiganya semakin mendekat pada ruangan yang terlihat mendapat penjagaan lebih dari beberapa orang berpakaian hitam.


Tama mempercepat langkahnya, diikuti Gery dan Saga dibelakangnya. Tangan Tama sudah terkepal kuat, bahkan kemeja batiknya sudah ia gulung hingga siku.


Sementara didalam ruang kerja Daniel, nampak Kirei tergeletak tak berdaya diatas sebuah sofa besar diruangan itu. Daniel menatap penuh damba pada gadis yang terpaksa ia lumpuhkan dengan cara seperti ini.


"Maafin aku Ki..kamu pasti bakal benci sama aku. Tapi aku lakuin ini karena aku mencintai kamu. Aku nggak rela ada orang lain milikin kamu". Daniel membelai wajah Kirei lembut.


Setelah beberapa saat, Kirei mulai mengerjap. Apa yang dilihatnya pertama kali benar-benar membuatnya tak percaya. Kirei ingin menghajar lelaki yang saat ini berusaha menciumnya, namun tubuhnya kaku tak dapat digerakkan. Kirei memalingkan wajahnya, hingga Daniel hanya mencium pipi gadis itu.


"Apa yang lo lakuin breng sek!!!" Teriak Kirei penuh emosi menatap benci pada Daniel.


"Kamu nggak akan kemana-mana Ki. Malam ini akan jadi malam kita. Malam ini aku akan milikin kamu sepenuhnya". Sontak ucapan Daniel semakin membuat Kirei murka.


"Apa yang lo lakuin ke tubuh gue s*alan!!!". Mulut Kirei tak hentinya mengumpati Daniel. Sementara lelaki itu sudah lebih mirip orang gila karena justru tertawa melihat kemurkaan Kirei.


"Dari dulu kamu masih sama Ki..kamu selalu cantik meskipun sedang marah seperti ini". Daniel membelai wajah Kirei yang terus menggerakkan wajahnya karena merasa jijik dengan sentuhan Daniel.


"Lo bener-bener gila Dan!!". Sarkas Kirei menatap penuh kekecewaan pada sosok yang sedang mengungkung tubuh tak berdayanya.


"Kamu bener..aku emang gila. Aku gila karena nggak bisa milikin kamu". Balas Daniel sendu. Ia menatap dalam netra Kirei yang kini penuh kebencian dan kekecewaan padanya.


"Tapi malam ini, aku akan milikin kamu Ki". Senyum Daniel kembali merekah membayangkan malam yang akan ia lalui bersama Kirei.


"Jangan Dan..gue mohon. Gue istri orang Dan. Suami gue kakak sepupu elo. Ini nggak bener Dan..nggak boleh". Kirei menggeleng kuat. Matanya sudah terasa panas. Ia memang belum mencintai Tama, namun membiarkan lelaki yang tidak berhak menyentuhnya membuat hatinya terasa sakit.


"Dia nggak berhak Ki. Kamu cuma milik aku". Daniel kembali membelai wajah cantik Kirei. Lelaki itu memegang dagu Kirei, kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah merah Kirei yang sudah berderai air mata.


Bertepatan dengan itu, pintu ruangan itu terbuka dengan keras hingga membuat Daniel dan Kirei menoleh. Hal pertama yang keduanya lihat adalah wajah penuh amarah Tama.


"Tam.." Lirih Kirei dengan wajah berderai air mata. Melihat istrinya tak berdaya membuat Tama semakin gelap mata dan menatap wajah Daniel penuh kebencian.


"B* j*ingan!!!!". Teriak Tama berjalan cepat menghampiri Daniel yang tengah berusaha menegakkan badannya yang tengah mengungkung tubuh tak berdaya Kirei.


"Anj*** Lo!!!". Tama melayangkan pukulan keras hingga membuat tubuh Daniel yang belum sepenuhnya berdiri kembali terhuyung.


Mendapat pukulan keras dari Tama membuat Daniel meringis, namun ia tetap terkekeh. Benar-benar sudah hilang akal lelaki itu.


Tama berjalan mendekat pada istrinya yang bajunya sudah sedikit terbuka akibat ulah Daniel. Matanya semakin berkilat penuh amarah melihatnya. Ia segera mengangkat tubuh Kirei yang langsung membenamkan wajahnya did*** bidang sang suami.


"Lo beruntung karena hari ini ada Arin yang nunggu lo diluar. Kalo engga, gue pastiin lo m**i ditangan gue!". Tanpa menunggu respon Daniel, Tama segera membawa Kirei keluar dari tempat laknat yang hampir menghancurkan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2