
Beberapa hari setelah kejadian Naya pingsan, Kai dan Ken benar-benar tidak membiarkan adiknya itu lepas dari pengawasan keduanya. Bahkan selama beberapa hari itu pula, Ken maupun Kai memaksa Naya untuk pergi dan pulang bersama.
"Nay udah sehat bang. Astagfirullah..kalo kaya gini mah bisa-bisa Nay stres". Ucap Naya yang saat ini tengah menikmati sarapannya.
" Pilih bareng siapa hari ini?". Tanya Ken tanpa memperdulikan wajah masam adik kesayangannya itu.
Sementara Tama dan Kirei hanya saling pandang dengan senyum geli melihat ke posesifan kedua putranya pada sang adik.
"Nggak mau bareng siapa-siapa". Ketus Naya menggigit besar roti yang ia pegang. Terlihat jelas jika dirinya tak suka pergi bersama kedua kakaknya.
" Harus milih". Kini Kai yang memaksa.
"Nggak mau bang. Kalian nggak tau apa pura-pura nggak tau kalo tiap gue bareng abang pasti selalu jadi bahan gosip! Hari ini Nay nggak mau bareng kalian. Titik!". Ucap Naya kemudian bangkit meninggalkan meja makan.
" Nay---" Panggil Ken yang hendak menyusul sang adik. Namun panggilan sang ayah membuatnya mengurungkan niatnya.
"Jangan terlalu dipaksa bang. Nanti malah adikmu semakin tidak mau. Kalian hanya perlu mengawasinya". Ucap Tama membuat kedua anak kembar itu hanya bisa pasrah.
" Mommy tau kalian sangat menyayangi Naya. Tapi jangan dengan cara memaksa seperti ini. Yang ada itu princess tambah ngamok". Imbuh Kirei membuat keduanya mengangguk.
"Kita pergi dulu mom, dad". Ucap Ken kemudian menyalami kedua orang tuanya, diikuti Kai.
" Bareng yuk..ntar abang turunin agak jauh dari gerbang deh. Janji". Bujuk Ken pada gadis yang tengah memasang sepatunya diteras.
"Janji?". Tanya Naya memastikan.
" Janji. Yok". Ken menggandeng tangan adiknya dan membawanya ke mobil. Sementara Kai mengendarai motor mengikuti mobil Ken dari belakang.
Sepanjang perjalanan Naya terus bercerita tentang bagaimana harinya setelah kejadian dimana dirinya saling jambak dengan Monika. Dan bagaimana setiap hari Monika selalu mencoba memancing keributan dengannya.
"Tu mak lampir kenapa sih suka ama abang. Apanya yang bikin suka. Udah kaya tembok, kaya kulkas pula". Cerocos Naya membuat Ken gemas dan mengacak rambut adiknya.
" Abang!!! Berantakan ish". Naya semakin mencebikkan bibirnya.
"Abang tu ganteng..wajar kalo banyak yang mau". Inilah sisi lain Ken. Ia akan menjadi pria narsis saat bersama dengan adik satu-satunya yang ia miliki.
" Dih narsis. Nggak pantes abang narsis-narsis gitu". Ledek Naya membuat Ken semakin gemas.
"STOP!!!". Teriak Naya membuat Ken segera menginjak remnya.
" Nay mau turun disini. Males kalo nanti berantem lagi ama penggemar sinting abang". Naya membuka sabuk pengamannya. Sebelum ia turun, ia mengulurkan tangannya pada Ken.
"Ish..bukan salim. Minta duit". Naya menepis tangan Ken yang didepannya.
" Uang jajan bulan kemaren udah abis? Mau ditambah jumlahnya?". Tanya Ken membuat Naya menggeleng.
"Kaya bulan kemaren aja. Nanti kan minta bang Kai lagi". Ucapnya nyengir. Inilah kebahagiaan Naya memiliki dua kakak lelaki. Meski masih bersekolah, namun kedua kakaknya sudah memiliki penghasilan sendiri. Ken dengan penghasilan meneruskan studio foto milik sang daddy, dan Kai yang mengembangkan bisnis cafe sang mommy. Sementara Tama terpaksa membantu bisnis lain milik sang ayah, karena adiknya Juan sudah memimpin rumah sakit keluarga nya.
" Dasar bocah. Jangan boros ya". Ken mengetik sesuatu diponselnya, kemudian tak lama ponsel Naya berdenting membuat senyum Naya mengembang.
"Makasih abang". Naya mencium punggung tangan Ken dan bergegas keluar dan menghampiri Kai yang berhenti dibelakang mobil Ken.
" Udah abang kirim". Ken menunjukkan layar ponselnya pada sang adik. Naya melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan Kai dan berjalan sambil bersenandung ria. Ia tidak tahu jika ada sepasang mata yang menatapnya tajam.
"Lo bener-bener cari mati!!". Geram Monika yang melihat Naya kembali turun dari mobil Ken. Lelaki yang begitu ia sukai sejak awal masuk kesekolah itu.
Ketika Naya sedang berjalan, sebuah motor sport berhenti didepannya membuat langkah kakinya terhenti.
" Cewe..sendiri aja. Kakak culik yuk". Rupanya motor itu milik Akbar. Mata Naya berbinar dan segera mengangguk. Entah mengapa dekat dengan Akbar membuatnya semakin nyaman.
"Hayu deh..kasian kakak ganteng nggak ada temen". Sahutnya sambil berjalan mendekat pada Akbar.
" Susah kak..kan rok nya panjang". Ucap Naya kemudian membuat Akbar menoleh.
"Yaudah..boncengnya miring aja ya. Kakak ati-ati kok bawa motornya".
" Beneran ya? Kan nggak lucu udah cantik tapi ngejungkel dari atas motor". Mendengar ucapan Naya membuat Akbar tergelak, ia mengangguk dan meminta Naya berpegang pada pundaknya setelah berhasil naik. Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai disekolah.
__ADS_1
Bibir mungil Naya terus tersenyum, sementara lelaki yang berjalan disampingnya melihat Naya dengan heran.
"Kamu kenapa sih Nay?". Tanya Akbar membuat Naya menoleh.
" Senyum kan sedekah kak..jadi bagi-bagi sedekahnya orang cantik mah senyum aja". Jawab Naya enteng membuat Akbar tertawa.
"Ya ampun Nay..Nay. Kamu ada-ada aja sih Nay". Akbar mengacak gemas rambut Naya.
Tanpa keduanya sadari jika ada sepasang mata tajam yang mengawasi keduanya dengan tatapan tak suka. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
" Cewek kaya apa sebenernya lo itu, Kanaya". Gumamnya pelan.
"Jangan senyum terus juga Nay..ntar dikira sableng loh". Goda Akbar membuat Naya melotot.
" Seenaknya aja dibilang sableng. Cantik-cantik gini masa iya sableng sih kak". Cebik Naya membuat Akbar semakin gemas.
"Iya deh iya..yaudah sana masuk. Udah nyampe kelas kamu nih". Ucap Akbar melirik kelas didepannya.
" Eh..kok udah nyampe aja sih. Emang beda ya kalo jalan ama cowo ganteng mah. Jalan jauh juga nggak berasa". Dan sebuah sentilan mendarat didahi mulus Naya hingga membuatnya meringis.
"Pagi-pagi udah gombalin orang aja sih kamu tuh". Akbar yang kelewat gemas mencubit hidung mancung Naya.
" Ah bilang aja kakak mah baper ama aku". Naya kembali menggoda Akbar hingga membuat lelaki itu salah tingkah.
"Udah sana masuk..belajar yang bener ya". Setelah mengusap kepala Naya dan memastikan gadis itu masuk kedalam kelasnya, Akbar melangkah dengan riang menuju kelasnya di lantai tiga.
***
" Nay..fokus dong". Bisik Aisha yang melihat Naya justru lebih fokus menatap lapangan basket yang berada tepat disamping kelasnya.
Sejak tadi gadis berhijab itu sudah was-was karena teman baru nya itu tidak sedikitpun fokus pada pelajaran. Bahkan sudah dua kali guru yang sedang mengisi jam pelajaran memperingati Naya.
"Kanaya!". Suara tegas yang berasal dari depan membuat semua orang merinding. Bagaimana tidak, guru yang mengajar saat ini termasuk guru killer yang cukup ditakuti banyak orang.
" Aduh!! Napa sih Sha..gue lagi cuci mata ini". Ucap Naya ketika merasa keningnya diketuk dengan cukup keras.
"Mata lo kenapa sih ah. Kelilipan? Sini gue tiupin".
" Eh..bapak. Dari tadi pak?". Tanya Naya nyengir hingga membuat sang guru menggeleng.
"Astaga Kanaya..pusing saya sama kamu. Kapan kamu mau fokus sama pelajaran?!". Tanya nya garang membuat semua teman Naya kesulitan hanya untuk menelan ludahnya.
" Hehe..maap lah pak. Cuci mata dulu biar seger pak". Naya bahkan tak sedikitpun menutupi alasannya tak fokus belajar. Dengan gamblang ia menunjukkan arti cuci mata versi koplaknya.
"Tuh..tuh bapak liat. Kapan lagi mata saya disegerin ama yang bening-bening begitu pak". Naya menunjuk segerombolan anak lelaki yang tengah berlari kesana kemari mengejar dan memasukkan bola kedalam ring.
" Astaga!! Ya Tuhan Naya..kamu membuat saya snewen". Guru bernama Joko itu sampai memijit pangkal hidungnya melihat kelakuan muridnya.
"Kamu suka melihat mereka?". Tanya sang guru menatap Naya.
" Suka dong pak..tanya aja ama yang lain. Mereka juga suka, tapi takut ama bapak". Naya memgecilkan suaranya diakhir kalimatnya.
"Silahkan keluar kalo begitu". Ucap pak Joko menunjuk pintu kelas. Dan yang membuat seisi kelas melongo bukan karena pak Joko yang mengusir Naya, namun tanggapan gadis itu setelah diusir.
" Beneran pak? Boleh?? Yesss". Teriak Naya girang. Sebelum pak Joko kembali bersuara, Naya sudah ngacir keluar kelas hingga membuat pak Joko tak mampu berkata apapun lagi.
Naya berjalan sambil bersiul ria. Ia membayangkan melihat wajah-wajah tampan teman kedua kakaknya yang saat ini tengah bermain basket. Mungkin saat ini kelas sang kakak sedang jam olahraga. Entah menurun dari siapa, namun sepertinya hasil didikan onty Nisa benar-benar menerap dikepala gadis itu. Ia menjadi penggila drama korea dan lelaki berwajah tampan.
"Huh ya ampun..pada ganteng-ganteng gitu. Ama emaknya dikasih makan apa ya?". Tanya Naya pada dirinya sendiri sambil fokus menatap Ken dan teman-temannya.
" Sayang banget nggak ada kak Akbar. Dia nggak sekelas ama abang sih". Gumamnya lagi.
"Tapi lumayan deh..ada si kutub. Ganteng banget sih, tapi ngeselin". Kini tatapannya beralih pada Al yang terlihat semakin tampan dengan buliran-buliran keringat yang membasahi keningnya.
Saat sedang asyik menonton permainan basket kelas sang kakak. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya didorong kuat dari belakang.
Dan benar saja, disana Monika tengah melotot padanya dengan masih memakai seragam olahraganya. Naya diam sebentar sebelum memahami situasi jika mak lampir jadi-jadian yang kini ada didepannya ini satu kelas dengan kakaknya.
__ADS_1
" Apaan lagi sih kak Monika? Gue udah nggak gangguin lo lagi". Ucap Naya malas.
"Lo emang nyari mati ya!!". Tanpa menunda apapun, Monika maju dan segera menampar Naya yang terkejut dengan perlakuan Monika.
Tak hanya sampai disitu, Monika langsung menarik rambut Naya hingga membuatnya memekik. Tak terima dengan perlakuan Monika, Naya membalas menjambak rambut panjang Monika hingga gadis itu berteriak kesakitan.
Melihat Monika dilawan, kedua sahabatnya langsung ikut membantu dan mengeroyok Naya. Sekuat apapun Naya, tiga lawan satu tetaplah tidak seimbang.
" Lo sinting ya kak?!!! Gue udah nggak ganggu elo!!". Teriak Naya disela aktivitasnya berkelahi dengan Monika.
Naya berhasil membuat kedua teman Monika melepaskan tangan mereka dari tubuh Naya dengan cara menggigit dan mencakarnya.
"Gue udah peringatin lo buat jauhin Ken!! Lo emang nantang gue!!!". Balas Monika berteriak.
Keributan keduanya memancing perhatian semua orang yang ada disana. Hal itupun tak luput dari penglihatan teman-teman sekelas Naya, hingga membuat kelas riuh menyerukan nama Naya.
" Astaga Ken..adek lo". Kai menepuk keningnya. Pusing dengan kelakuan adiknya. Padahal adiknya itu belum genap 1bulan bersekolah. Tapi sudah dua kali duel dengan kakak seniornya.
"Pisahin!!". Ken menggeplak kepala saudara kembarnya yang justru bengong melihat duel antara Monika dan Naya.
Ken berlari mendekat diikuti Kai. Kai berusaha memisahkan keduanya, mengorbankan wajah tampannya untuk mendapat tamparan dan cakaran. Bahkan rambutnya berkali-kali dijambak oleh kedua gadis itu.
Pun dengan Ken yang tak luput terkena cakaran sang adik. Karena yang Ken pikirkan hanya Naya, ia tak perduli dengan Monika yang terus berteriak dan mengumpati sang adik.
" Cukup Nay. Lo bisa babak belur". Ucap Ken memegangi tubuh adiknya
"Ni cewek sinting kudu dikasih pelajaran bang!!!". Teriak Naya berusaha melepaskan diri dari Ken.
" Aish..lama lo Ken!". Tanpa aba-aba, Kai langsung mengangkat tubuh Naya dan menggendongnya seperti sebuah karung dipundaknya.
"Turunin bang!!!! Gue belom kelar!!!". Naya memukuli punggung Kai sambil berteriak.
" Cukup Nay. Lo bisa bonyok. Kaga liat muka lo udah kaya ayam digeprek!". Ucap Kai terus berjalan tanpa menurunkan Naya.
Sementara Monika langsung berhenti berteriak dan bergerak ketika Ken memegang tangannya kuat. Sementara mata tajam itu tak berpaling dari Naya dan Kai yang semakin menjauh.
Setelah punggung saudara kembarnya menghilang, Ken beralih menatap tajam Monika yang langsung ciut. Ken menghempaskan tangan Monika kuat. Matanya memancarkan ancaman dam amarah yang besar.
"Ini peringatan pertama dan terakhir dari gue! Jauhi dan jangan ganggu Naya. Atau..." Ken sudah mengacungkan telunjuknya diwajah Monika.
"Gue nggak akan pernah segan-segan kasih lo pelajaran tanpa mandang lo perempuan sekalipun". Ucapan Ken membuat Monika terhenyak. Sebegitu pentingkah Naya? Lalu apa dirinya selama ini yang setia menunggu cintanya?
Tanpa menunggu respon dari Monika, Ken berbalik dan berjalan meninggalkan Monika yang semakin memupuk kebenciannya pada Naya.
" Kalo gue nggak bisa milikin elo. Artinya nggak ada cewe yang bakal milikin elo Ken". Desis Monika kemudian berlalu dari lapangan dan diikuti kedua sahabatnya.
Kai menurunkan Naya dibangku taman yang ada dibelakang gedung sekolah. Ia bertolak pinggang didepan sang adik hingga membuat Naya menunduk.
Setengil dan se sableng apapun Naya, ia tetap takut pada kedua kakaknya jika sudah marah atau dalam mode ustadz seperti beberapa saat yang akan datang ini.
"Kenapa lagi Kanaya Kamaratih Mahendra adek kesayangannya abang???". Tanya Kai menekankan nama lengkap sang adik.
Naya semakin menunduk ketika kakaknya sudah menyebutkan nama lengkapnya. Itu artinya kakaknya tidak sedang dalam kondisi bisa diajak bercanda.
" Dia yang mulai bang". Cicit Naya.
Ken dari jauh berlari mendekat. Setelah mendekat ia langsung menjewer telinga adiknya. Setelahnya ia mendekap tubuh adiknya. Menangkup wajah adiknya untuk melihat seberapa parah luka adiknya pasca duel.
"Astaga Nay..abang harus bilang apa ke mommy sama daddy? Bisa digantung kita berdua". Ucap Ken frustasi melihat wajah adiknya sudah babak belur.
" Dia yang duluan. Orang gue duduk-duduk doang". Cicitnya lagi.
"Lagian lo ngapain hah ada diluar kelas pas jam pelajaran?". Tangan Kai sudah gatal sejak tadi, hingga akhirnya telinga adiknya ia tarik.
" Bosen". Gumamnya namun masih terdengar kedua kakaknya.
"APA???". Seru kedua kakaknya bersamaan membuatnya memejamkan matanya rapat-rapat.
__ADS_1
" ASTAGFIRULLAH!!! KANAYAAAAA!!!". Teriak keduanya frustasi.