
Hari ini Naya sudah diizinkan untuk pulang. Ken dan Kai sangat lega mendengar penjelasan dokter Ardo tentang kondisi Naya yang sudah sangat stabil.
"Lain kali uncle tidak ingin melihat ada kejadian seperti ini. Kali ini uncle maafkan dan merahasiakan kejadian ini dari daddy dan mommy kalian. Tapi tidak ada lain kali". Peringat dokter Ardo yang dijawab anggukan kepala mantap oleh Ken dan Kai.
Sementara Naya, seperti biasa gadis itu akan menikmati saat-saat kedua kakaknya tak berdaya seperti saat ini.
" Marahin aja uncle..emang abang berdua perlu diomelin". Naya ikut memanaskan suasana dengan kompornya. Dasar si Naya.
"Hussstt..." Akbar menatap Naya yang nyengir tanpa dosa.
"Kamu tidak terkecuali, Kanaya". Ucap dokter Ardo menekankan nama Naya.
" Lain kali tidak ada keteledoran seperti ini. Kamu hampir kehilangan nyawa". Dokter Ardo menatap Naya serius hingga membuat Naya menunduk dan mengangguk.
"Maaf uncle.." Cicit Naya.
"Lain kali berhati-hatilah. Uncle menyayangimu sama seperti mommy dan daddy mu. Uncle tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Mengerti?". Dokter Ardo mendekat dan mengelus pucuk kepala Naya yang mengangguk patuh mendengar nasehatnya.
" Kalian pulanglah sekarang. Jaga adik kalian baik-baik dan pastikan dia tidak mengulang kesalahannya". Ucap dokter Ardo sebelum meninggalkan ruangan Naya.
Ken dan Kai membawa barang-barang milik Naya. Sementara Naya duduk di kursi roda yang didorong oleh Akbar.
"Kak Biru kok nggak sekolah?". Tanya Naya melirik Akbar yang sedang mendorong kursi rodanya.
" Hari ini kamu keluar dari rumah sakit, kakak ingin menjemputmu". Jelas Akbar membuat senyum Naya semakin mengembang sempurna.
"Makasih kak.." Ucap Naya tulus.
Naya merasakan sentuhan lembut dikepalanya. Rupanya Akbar tengah mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Lo udah denger belom?". Ucap Kai yang berjalan cukup jauh dibelakang dua manusia yang tengah mabuk cinta itu.
" Apaan?". Tanya Ken
"Si Al katanya mau kuliah di LN". Jelas Kai membuat Ken terkejut.
" Bukannya dia udah daftar dikampus yang sama kaya kita?". Tanya Ken masih tak percaya.
"Gue denger dari si bang Sat". Jelas Kai.
" Menurut lo..ada hubungannya ama itu kaga". Kai menatap dua orang yang sedang tertawa didepannya sana.
"Hah..semoga aja kaga". Ucap Ken mengembuskan nafas berat.
" Adek lo pake apaan si yak..dua-duanya kaga pernah nyantol ama cewe mana-mana. Sekalinya suka ama cewek yang sama. Mana bar-bar, petakilannya kaga ketulungan pula". Kai sampai geleng-geleng kepala membayangkan kekonyolan dua temannya yang jatuh hati pada Naya.
"Gitu-gitu adek lo juga anj*r!! Adek sendiri lo katain". Ken menempeleng pelan kepala saudara kembarnya yang terkekeh. Jujur ia masih belum bisa memahami mengapa dua sahabatnya bisa jatuh hati pada adik bar-barnya itu.
Mereka melanjutkan langkahnya dengan ot*k yang masih berfikir keras tentang apa alasan Al tiba-tiba mengubah haluan dan melanjutkan pendidikan ke LN. Ken dan Kai berharap semoga semua itu tak ada kaitannya dengan kedekatan Akbar dan Naya.
Al dan Akbar sama-sama lelaki baik dan beetanggung jawab, Ken dan Kai sangat yakin itu. Namun keduanya tak bisa memilih siapa yang pantas dan tak pantas untuk adiknya. Mereka ingin Naya bahagia, dan mereka tahu saat ini kebahagiaan Naya ada pada Akbar.
Keduanya kembali menghela nafas panjang, mengapa jadi rumit seperti ini. Sementara pangkal permasalahan yang mereka pikirkan tak sedikitpun menyadari jika ada hati lain yang terluka saat dirinya bersama satu yang lain.
Seperti yang Ken dan Kai prediksi. Naya lebih memilih untuk naik di mobil Akbar daripada ikut bersama dua kakaknya. Dan seperti biasa pula, Ken dan Kai hanya akan mengikuti keinginan adiknya saja.
"Gue masih kepikiran si Al, Ken". Kai yang duduk disamping Ken yang tengah fokus mengemudi tiba-tiba teringat dengan Al.
" Kita kaga bisa ngapa-ngapain Kai. Naya nyaman sama Akbar". Ucap Ken membuat Kai mengangguk.
Tinggal beberapa bulan lagi mereka menjadi siswa SMA, mereka tidak ingin perpisahan dengan teman baiknya tidak meninggalkan kesan baik. Mereka tak ingin Al memutuskan persahabatan dengan mereka.
"Kita kudu ngobrol ama Al ntar". Ucap Ken dijawab anggukan kepala oleh Kai.
__ADS_1
Ken kembali fokus pada kemudinya, ia dengan sabar mengikuti mobil Akbar yang melaju pelan didepannya.
" Kalian berdua laki-laki baik. Gue yakin itu..gue harap nggak akan ada yang terluka karena adek gue". Batin Ken
####
Sementara di lain tempat, Tama dan Kirei masih bergelung dibawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Pertemuan bisnis yang mereka katakan itu sebenarnya hanya alasan keduanya untuk menghabiskan waktu bersama. Memang benar ada pertemuan bisnis antara Tama dan rekanannya, namun itu hanya memakan waktu satu hari saja untuk acaranya. Sedangkan kedua orang tua yang menolak tua itu sudah berada disana hampir satu minggu lamanya.
"Kita pulang ya mas..aku khawatir sama anak-anak". Ucap Kirei yang bersandar manja didada Tama. Jemarinya menari-nari diatas dada bidang yang selalu nyaman untuk dirinya bersandar.
" Satu hari lagi sayang. Lagipula anak-anak sudah dewasa. Kenapa kamu selalu mengkhawatirkan dan memikirkan mereka. Lalu kapan aku dipikirkan". Kirei melotot mendengar ucapan Tama. Yang benar saja suaminya ini, bahkan dengan darah dagingnya sendiri saja ia tak mau kalah.
"Aku kepikiran Naya mas..dia terlalu manja untuk ditinggal terlalu lama. Beberapa hari ini juga aku terus bermimpi tentang Nay mas. Aku tidak tenang". Kirei terus membujuk suaminya.
" Ada kedua abangnya, Ki. Sudahlah..kamu hanya terlalu memikirkan mereka". Tama kembali mendekap tubuh isttinya yang sudah menjadi candu baginya selama belasan tahun lamanya.
"Jelas aku memikirkan mereka mas..mereka anak-anak ku. Gimana sih". Sungut Kirei
" Iya..mereka anakmu dan aku suamimu. Jadi bersikap adillah pada kami". Tama tetap tak mau mengalah membuat Kirei menghela nafasnya panjang. Suaminya benar benar kekanakan. Tak tahukah suaminya ini jika saat ini dirinya sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya.
"Dasar abg tua". Cibir Kirei membuat Tama tergelak.
Keduanya kembali berpelukan, saling menyalurkan perasaan hangat bagi satu sama lain.
" Makasih udah dampingin mas selama ini Ki..makasih udah sabar sama aku selama ini. Aku benar-benar beruntung memiliki kamu". Tama semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
"Aku yang makasih mas..makasih karna kamu udah jadiin aku istri dan ibu dari anak-anak kamu". Kirei membalas pelukan Tama tak kalah erat.
Sudah lama keduanya tak bisa bermesraan seperti ini. Apalagi alasannya jika bukan karena kehadiran si rusuh, putri bungsu mereka. Naya selalu masuk kedalam kamar orang tuanya saat kedua orang tuanya tengah bersiap memulai ritual suci mereka. Alhasil Tama selalu berakhir dikamar mandi dengan para sabun kesayangannya. Benar-benar kasian bapak yang satu ini.
Oleh karenanya, Tama berinisiatif mengajak Kirei untuk berlibur hanya berdua. Tanpa putra putrinya yang selalu membuat kepala mereka pusing karena terus berdebat dan bertengkar.
" Kamu cinta sama aku mas?". Tanya Kirei. Tama menatapnya dalam sebelum senyuman seksi itu tersungging dibibirnya.
" Apa menurutmu selama ini aku hidup denganmu bukan karena cinta? Lalu bocah-bocah rusuh yang sedang kita tinggal dirumah itu apa??". Imbuh Tama membuat Kirei diam sambil tersenyum.
"Bahkan jika aku harus memilih antara kamu atau orang tua dan anak-anak kita, maka aku akan tetap memilihmu Ki".
" Mas..." Lirih Kirei. Ia terharu mendengar ucapan Tama.
"Kamu separuh hidupku Ki..suatu saat anak-anak akan meninggalkan aku untuk kehidupan baru mereka. Sama seperti aku meninggalkan ayah dan ibu untuk hidup bersamamu". Tama menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
" Tapi denganmu? Denganmu aku ingin menghabiskan sisa hidup ini Ki. Aku hanya akan melepaskan dirimu saat ragaku ini sudah tak bernyawa lagi". Tama merasakan pelukan Kirei semakin erat.
"Kamu tahu Ki..aku bahkan tidak pernah berani bermimpi hidup bahagia denganmu seperti ini. Aku kira waktu kamu sembunyi, kamu akan meninggalkan aku sendiri. Aku sudah seperti orang gila waktu itu". Mata Tama menerawang ke langit-langit kamar hotel tempat mereka menginap. Ia mengingat kejadian belasan tahun lalu saat istrinya pergi meninggalkannya dan bersembunyi darinya selama beberapa minggu. Nyawanya sudah melayang entah kemana, takut jika istrinya tak pernah kembali.
" Tapi sekarang..kalaupun kamu meminta untuk berpisah, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi selangkah pun. Bahkan jika kamu pergi, aku akan mencarimu kemanapun". Ucap Tama penuh keyakinan. Kirei hanya mendengarkan dengan seksama semua ucapan Tama tanpa melepaskan pelukannya.
"Kalau tiba-tiba aku menghilang gimana mas?". Tanya Kirei coba menggoda Tama.
" Emang kamu jin, bisa ngilang". Tama balas menggoda Kirei. Keduanya tertawa bersama, mereka menghabiskan waktu dengan saling bercerita mengenang masa lalu mereka yang cukup sulit dilalui hingga kini mereka bisa bahagia seperti saat ini.
Mereka tak tahu saja jika beberapa hari setelah kepergian mereka, putri bungsunya hampir meregang nyawa karena sikap tak hati-hatinya dalam segala hal. Jika mereka tahu, mungkin saat itu juga mereka akan terbang kembali ke kota asalnya untuk menemui putri tersayangnya itu.
####
"Dari mana saja nduk? Simbok khawatir sudah 3hari kamu ndak pulang-pulang. Mana mas Ken sama mas Kai juga ndak pulang-pulang". Seorang wanita paruh baya menyambut kepulangan Naya dengan sukacita. Ia lah wanuta tua yang sudah membantu Kirei untuk mengasuh Naya sejak bayi. Namanya Bu Nining.
" Nay nggak kemana-mana mbok. Cuma maen sama abang.." Jawab Naya berbohong.
Tak ada seorangpun yang tahu kejadian dirinya hanpir meregang nyawa itu. Bahkan Ken dan Kai mewanti-wanti Mayra untuk tetap diam.
"Kamu mau makan apa? Simbok buatkan.." Wanita yang sering dipanggil Naya mbok Ning itu menggandeng lengan anak majikannya.
__ADS_1
"Simbok udah masak apa??". Tanya Naya manja
" Ada tumis kangkung, goreng ikan sama bikin sambel". Air liut Naya seolah sudah menetes mendengar makanan yang sudah disiapkan mbok Ning untuknya.
"Nay mau itu aja ah mbok..Nay mau makan sekarang". Mbok Ning tersenyum, ia membawa gadis yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya itu ke meja makan.
" Makan yang banyak ya.." Mbok Ning memperlakukan Naya layaknya putri raja. Segala keinginan gadis itu selalu ia penuhi sebisanya. Meskipun begitu, gadis manis itu tidak pernah sekalipun bertingkah yang membuat semua asisten rumah tangga yang bekerja pada kedua orang tuanya sakit hati. Anak-anak Kirei terdidik menjadi pribadi baik yang tidak pernah menyombongkan hartanya dan merendahkan orang-orang yang tak seberuntung mereka.
Akbar dan si kembar bergabung dengan Naya dimeja makan. Dengan telaten Akbar mengambilkan apa yang Naya inginkan. Wajah ayu Naya semakin nampak ayu ketika binar kebahagiaan tak luntur dari wajahnya itu.
"Pelan-pelan Nay.." Akbar menepuk halus punggung Naya ketika gadis itu tersedak. Tangan satunya mengulurkan segelas air putih yang langsung diterima Naya.
"Enak abisnya kak..udah lama nggak makan dirumah". Ucap Naya yang sudah mampu meredakan batuknya.
" Bosen makanan rumah sakit". Bisik Naya kemudian.
Siang itu mereka habiskan waktunya dengan makan diselingi canda tawa yang lebih didominasi suara Naya dan Kai yang sudah kembali berdebat. Ken sudah kembali pusing dibuatnya.
Akbar mengantar Naya ke kamarnya untuk beristirahat. Meski dengan berbagai alasan menolak untuk istirahat, namun berbagai bujukan pula Akbar lancarkan agar gadis itu beristirahat.
"Kanayaaaaaa....adek gue yang paling jelek". Teriakan dari depan pintu membuat Ken dan Kai menoleh kesana.
Nampak disana Satria datang bersama Al dan teman-teman Naya yang lain.
" Mana ketek??". Tanya Satria yang sudah tidak sabar menemui Naya.
"Tidur dikamar". Sahut Ken yang sibuk dengan game di ponselnya. Sementara Kai menatap teman Naya tanpa berkedip. Kemana saja ia selama ini, mengapa ia tak menyadari jika dibalik wajah menunduk itu tersimpan wajah cantik yang sangat alami.
" Lah si Akbar mana??". Tanya Rendra kemudian.
"Nganterin Naya ke kamar". Kembali Ken menyahuti karena Kai sedang fokus pada Aisha yang terus menunduk.
" HAAAAAH?!!! GILA LO!!!". Seru Satria heboh membuat Ken dan Kai menatapnya.
"Si Naya ama Akbar tidur bareng?". Tanya Satria semakin heboh.
" Aduuuhh!!". Satria memegangi kepalanya yang terasa tersambit sesuatu.
"Pantes Naya manggil nya bang Sat. Pikiran lu kejauhan!". Rupanya Akbar sudah turun, ketika mendengar ucapan Satria yang ngawur, ia melepas sendal yang ia pakai dan melemparnya pada Satria.
" Gila lu. Kalo gue amnesia gimana?!". Mulut Satria terus mengomel tanpa lelah.
"Bagusan lo amnesia". Celetuk Al membuat Satria melotot.
" Lo dari tadi ditanya diem bae. Sekalinya ngomong pedes bet dah tu mulut". Cibir Satria yang hanya ditanggapi Al dengan mengendikkan bahunya.
"Kalian masuk aja..tapi jangan berisik". Ucap Akbar yang melihat Aisha dan Mayra serta Ibra terbengong melihat perdebatannya dan yang lainnya.
" Kita pulang dulu aja kak..besok kita kesini lagi aja". Ucap Mayra didukung Aisha dan Ibra.
Ketiganya memutuskan pamit pulang dan segera meninggalkan rumah Naya. Mereka berencana akan kembali esok hari. Apalagi esok adalah hari libur, mereka akan datang sejak pagi dan menemani Naya.
Selama dirumah sakit pun mereka bertiga tak pernah absen mengunjungi Naya. Setiap pulang sekolah, mereka selalu menyempatkan diri melihat kondisi temannya itu.
Sepeninggal teman-teman Naya. Kai, Satria, Rendra beserta Akbar memilih bermain game diruang keluarga. Meninggalkan Al dan Ken berdua. Ken menatap Al yang sedang melamun memperhatikan foto keluarga Ken yang terpampang besar diruang tamu.
"Al.."
######
Hai hai haii semuaaaa...kasih double up lagi yaaa..semoga nggak bosen ya...
Biar cepet selesai juga ceritanya..othor mau bikin cerita baru soalnya..
__ADS_1