Imperferct Partner

Imperferct Partner
Dina


__ADS_3

"Hal gila apa lagi ini? Kecerobohanku yang membuat perusahaan hampir mengalami kerugian saja aku masih terkejut. Dan apa lagi ini?? Menjadi asisten sekretaris direktur?? Apa mereka benar-benar yakin menempatkan aku disana?? Bahkan aku tidak memiliki basic sebagai seorang sekretaris". Mulut Naya tak henti bergumam


Saat ini dirinya sedang ada didalam apartemennya. Safira dan Rian memberinya kelonggaran untuk pulang lebih dulu. Selain karena memang sang direktur sedang pergi, kedua orang itu juga paham jika Naya masih terlalu syok dengan apa yang dialaminya.


" Tapi aku sangat yakin pekerjaan ku sudah benar. Bagaimana bisa keliru.." Gumam Naya yang sedang rebahan di sofa ruang tamunya.


Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Naya mengambil laptop dan berkas yang diberikan Dina padanya tadi. Ia ingin memastikan jika dirinya memang sudah mengerjakan pekerjaannya dengan benar.


Berkali-kali Naya mengulang membaca hasil pekerjaannya. Semua sudah sama persis dengan contoh kontrak kerjasama yang diberikan Dina. Gadis itu bahkan menghitung jumlah angka nol yang ada di kertas dan yang ia ketik dilaptopnya. Jumlahnya sama, tak kurang dan tak lebih. Jadi bagaimana mungkin ia dibilang merugikan perusahaan.


Lama Naya diam dan menelaah kejadian demi kejadian yang ia alami. Jawaban nya hanya satu, Dina sengaja membuatnya terlihat bersalah dan didepak dari perusahaan.


"Ini udah kelewatan!! Aku bakal lapor sama direktur saat beliau pulang". Naya Benar-benar merasa marah, kenapa Dina bisa senekat itu hanya demi ambisinya menyingkir kan Naya.


Naya memutuskan untuk mandi, menghilangkan panas di dadanya yang terasa membakar. Naya sangat geram dengan apa yang dilakukan Dina padanya.


" Tumben nih karyawan teladan kita udah ada dirumah?? ". Diandra yang baru datang bersama Dimas menatap heran Naya yang sudah duduk manis diruang tamu sambil menonton tv.


" Karyawan teladan gundulmu!". Sungut Naya membuat kedua temannya tergelak.


"Karyawan korban bully baru Iya!". Kembali Naya bersungut-sungut hingga membuat dua temannya terbahak-bahak.


" Nay.." Panggilan Dimas membuat Naya menoleh dengan sebelah alis terangkat.


"Yang dibicarain di grup tadi siang.." Naya mengangguk sebelum Dimas selesai berkata.


"Iya..tapi aku rasa ada yang emang sengaja pengen bikin aku didepak". Naya menghembuskan nafas kasar mengingat penelurusannya tentang pekerjaan tadi pagi.


" Maksud kamu?? ". Diandra duduk disamping Naya


" Kaya biasa..mbak Dina kasih kerjaan ke aku. Tadi dia suruh aku ketik surat kontrak perjanjian ama client buat rapat pak direktur. Pas udah selesai, aku udah cek berkali-kali dan emang semuanya udah sesuai dan sama persis kaya contoh yang dikasih mbak Dina.."


"Terus--terus..." Tanya Diandra tak sabar.


"Nilainya lumayan gede..sekitar 1.5M". Naya menjeda kalimatnya untuk mengambil nafas. Mengingat semua kejadian hari ini membuatnya lelah.


" Terus???". Tanya Diandra semakin tak sabar.


"Nabrak Di..terus-terus wae". Cibir Naya membuat Diandra nyengir.


" Makanya diem dulu Di..biar Naya kelarin cerita dulu". Omel Dimas membuat Diandra mencebik kesal.


"Yaudah..terus gimana??". Tetap saja Diandra merasa tak sabar.


" Aku udah cek berkali-kali semua yang aku ketik udah bener. Nggak ada satupun yang kelewat.."


"Mbak Dina nyuruh aku istirahat pas aku udah kelar ama kerjaan yang dia kasih. Pas aku balik..semua pada pucet".


" Kenapa???". Tanya keduanya cepat.


"Ish..kan katanya di grup udah dibahas. Gimana sih". Cebik Naya.


" Biar lebih afdol Nay.." Ucap Dimas nyengir.


"Dasar.." Cibir Naya. Namun tak urung Naya melanjutkan ceritanya.


"Mbak Dina maki-maki aku kaya biasanya, bilang aku bodoh, ceroboh dan sebagai nya lah--" Naya kembali menghela nafas panjang. Segala hal tentang Dina membuatnya kesal.


"Ternyata nilai kontrak yang aku masukin kurang satu nol nya--"


"APAAAA??? BENERAN??". Pekik keduanya membuat Naya sedikit berjingkat.


" Kan udah tau..kenapa kaget gitu sih.." Naya tak habis pikir dengan kedua temannya, kelalaiannya sudah dibahas tuntas di grup divisinya. Lalu kenapa kedua temannya masih saja terkejut berlebihan.


"Kita kira itu boong Nay.." Ucapan Diandra didukung anggukan kepala Dimas.


"Engga..semua bener". Sahut Naya lesu


" Sabar ya Nay..pasti berat banget tiap hari ditekan ama manusia jelmaan lampir itu". Diandra memeluk Naya dari samping sambil mengelus pundak temannya itu.


"Itu belum seberapa Di..ada yang lebih parah. Huh". Naya menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


" Hah?? Apalagi??". Tanya Dimas kaget.


"Aku udah nggak kerja di divisi keuangan Di..Dim.." Terlihat jelas wajah lesu Naya. Kedua temannya semakin membelalakkan mata nya mendengar apa yang Naya ucapkan.


"Kamu dipecat??!!". Tanya keduanya serempak. Naya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan kedua temannya.


" Terus???". Naya terkekeh mendengar kekompakan Diandra dan Dimas.


"Kompak banget sih.." Goda Naya.


"Fokus Nay..fokus..ish". Diandra sudah tidak sabar mendengar penjelasan Naya.


" Hehehe..sabar dong ". Naya sengaja menggoda kedua temannya yang sudah sangat penasaran dengan menunda menjelaskan apa yang terjadi padanya siang tadi.


" Jadi gimana tadi? Kamu udah nggak kerja di divisi keuangan kan??". Naya mengangguk.


"Tapi kamu nggak dipecat??". Naya menggelengkan kepalanya hingga membuat kedua temannya semakin kebingungan.


"Jadi gimana sih??". Kesal Diandra


" Aku dipindahin.."


"KE..?????" Lagi dan lagi, Diandra dan Dimas menunjukkan kekompakan mereka.


Naya menghembuskan nafasnya kasar. Entah akan seperti apa lagi reaksi keduanya saat tahu kemana dirinya dipindahkan.


"Jadi asisten bu Safira. Sekretaris nya direktur". Naya menunggu reaksi kedua temannya, namun keduanya justru mematung dan menatapnya begitu dalam. Tapi hal itu tak berlangsung lama..karena keduanya langsung berteriak.


" HAHHH??? YANG BENER KAMU NAY??".


"Kalian kenapa sih..heboh banget deh. Hah heh hah heh mulu". Meski sudah tahu keduanya selalu heboh, tapi Naya tak mengira akan seheboh ini.


" Kamu beneran jadi asisten nya bu Safira??? Kok bisa???". Tanya Diandra


"Aku juga nggak tau. Aku kira bakal dipecat..tapi malah disuruh jadi asistennya bu Safira yang bentar lagi mau cuti lahiran". Keluh Naya dengan wajah lesu


" Terus kerugian perusahaan??". Tanya Dimas semakin bersemangat.


" Emang di grup nggak dibahas??". Tanya Naya dijawab gelengan kepala oleh dua temannya.


"Terus kenapa kamu malah udah dirumah duluan??". Tanya Diandra bingung. Pasalnya ini memang belum jam pulang kantor.


" Pak Rian sama bu Safira ngasih ijin buat aku pulang dulu. Tau kali mereka kalo aku tremor gara-gara kesalahan tadi".


"Mbak Dina serem engga Nay ngamuknya?". Tanya Dimas dengan wajah penasaran.


" Heuh..bukan lagi Dim. Setan se kantor masuk semua ke badan dia. Kuda lumping kesurupan juga kalah serem". Naya bergidik mengingat bagaimana Dina memaki dan meneriakinya siang tadi. Itu adalah pengalaman terburuk yang pernah Naya rasakan sepanjang 23tahun hidup didunia.


"Hahahahah.." Kedua temannya justru terbahak melihat wajah tertekan Naya.


"Tapi aku bingung deh Nay..itu orang sensi banget sama kamu. Padahal selama ini kita nggak pernah ganggu dia..boro-boro ganggu dia. Ngobrol aja hampir nggak pernah". Naya termenung mendengar ucapan Diandra. Jujur saja dia juga tidak tahu mengapa seniornya itu begitu membencinya. Padahal seingatnya, Naya tak pernah sekalipun terlibat masalaah dengan Dina.


" Kalian liat ini deh.." Naya menggeser kertas kontrak kerja sama yang diberikan Dina dan laptop Naya yang juga menampilkan tulisan yang sama dengan kertas


"Kenapa??". Diandra dan Dimas merapat pada Naya.


" Coba kamu cek Di..apa mata aku yang rusak atau emang aku udah bener nulisnya".


Naya menyerahkan contoh kontrak kerja sama yang diberikan Dina pada Diandra dan meminta gadis itu mengeceknya.


Lama Diandra fokus, matanya berpindah dari kertas ke layar laptop. Dan Diandra mengulanginya berkali-kali, sama seperti yang Naya lakukan.


"Sama..ini udah sama persis kok. Jumlahnya juga sama.." Diandra menoleh pada Naya


"Coba nih kamu Dim.." Diandra ganti meyodorkan kertas yang dipegangnya dan menggeser laptop milik Naya.


Dimas melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Diandra sebelumnya. Bahkan lelaki itu terlihat lebih serius dibanding Diandra.


"Udah bener kok..terus gimana ceritanya salah???". Tanya Dimas.


" Kalian itung aja jumlah nol nya". Yakin sudah kini Naya, senior menyebalkannya itu memang ingin menyingkirkannya dengan cara kotor ini.

__ADS_1


"Eh iya..kok kurang". Seru keduanya membuat Naya tersenyum miring.


" Ini gimana sih Nay.." Kedua temannya menatap Naya dengan tatapan bingung.


"Ya jelas kan..mbak Dina sengaja ngelakuin ini buat singkirin aku dari perusahaan". Mata kedua temannya terbelalak mendengar ucapan Naya. Mereka tak menyangka jika senior mereka itu akan melakukan cara rendah seperti ini untuk menyingkirkan orang yang tak disukainya.


" Ini sih sudah kelewatan Nay. Mbak Dina harus dikasih pelajaran". Diandra tampak geram mengetahui kebenaran dari berita yang menghebohkan seisi perusahaan.


"Iya Nay..aku setuju sama Diandra. Kali ini kita nggak bisa diam aja.." Dimas tak kalah kesal mengetahui temannya menjadi korban kelicikan seniornya dikantor.


"Iya..aku juga nggak akan diam. Besok aku akan bilang sama bu Safira dan pak Rian".


" Kenapa nggak bilang sama direktur aja sih?". Tanya Diandra berapi-api. Ia sudah gatal ingin membuat Dina menebus kesalahannya. Selain itu, Diandra juga tahu jika dirut mereka memiliki hubungan spesial dengan Naya. Meski sepertinya temannya itu tak mengetahui apapun.


"Beliau pergi..kata bu Safira beberapa hari kedepan. Jadi aku belum bisa konfirmasi masalah ini sama beliau.." Naya menyandarkan punggungnya disofa dan memejamkan matanya. Hari ini sangat-sangat melelahkan.


"Sabar ya..kita pasti ada buat kamu kapanpun kamu butuh kok". Diandra memeluk Naya dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundak Naya.


" Mau juga dong dipeluk.." Tak menunggu lama, Dimas langsung memeluk keduanya sekaligus.


Bahagianya Naya bertemu dengan dua orang baik ini, walaupun kadang keduanya aneh dan sering bertengkar. Namun Naya nyaman berada didekat mereka.


"Makasih ya..kalian emang terbaik".


######----######


Pagi ini Naya kembali bekerja seperti biasa, hanya saja kini ia tak bekerja diruangannya sebelumnya. Tak ingin mengecewakan sang direktur yang sudah memberinya kesempatan setelah semua kesalahan yang terjadi, meski Naya sudah yakin itu bukan kesalahannya. Naya berangkat lebih pagi dari biasanya ia pergi bekerja. Ini sebagai bukti keseriusannya bekerja disana.


Sepanjang lobby kantor, banyak mata yang menatapnya sinis. Bisikan-bisikan yang membuatnya hatinya kembali meradang pun tak lepas dari pendengarannya. Namun Naya berusaha bersikap acuh dan tak peduli. Toh dirinya tidak salah, dan lagi perusahaan tidak mengalami kerugian sepeserpun.


" Ini gara-gara mbak Dina. Aku bakal bales mbak..tapi pakai cara yang cantik. Maaf-maaf aja mbak, aku bukan orang sabar dan bukan orang baik. Kalau mbak Dina kira aku bakal diam aja, sorry...aku nggak sebaik itu". Diam-diam Naya menyeringai.


Naya masuk kedalam lift dan memencet angka 4, dimana ruangan direktur berada. Didalam lift ada beberapa karyawan yang sepertinya tak sadar dengan kedatangannya dan membicarakannya secara terang-terangan.


"Iya..katanya anak divisi keuangan bikin masalah besar. Perusahaan rugi besar.."


"Aku rasa dia sudah dipecat sekarang"


"Tentu..dia pantas. Bagaimana bisa dia membuat perusahaan mengalami kerugian yang begitu besar".


" Tapi selama ini dia bekerja dengan baik.."


"Kamu membelanya karna dia cantik. Dasar laki-laki, nggak bisa liat yang bening dikit langsung oleng".


ting...


Lift terbuka dilantai 3, orang-orang yang membicarakannya satu persatu keluar. Sebelum pintu lift tertutup, Naya menahannya agar tetap terbuka. Ia maju satu langkah dan memberikan senyum terbaik pada orang-orang yang berbalik karna pintu lift tidak tertutup setelah mereka keluar.


" Sekedar info aja.." Naya tersenyum sangat manis


"Perusahaan nggak mengalami kerugian sepeserpun. Dan semua baik-baik saja.." Naya hendak menutup lift, namun teringat sesuatu, Naya kembali membukanya.


"Ah..dan satu lagi. Aku nggak dipecat karna aku nggak salah.."


Setelah tersenyum sopan, Naya menutup pintu lift. Begitu pintu tertutup, bibir tersenyum nya berubah cemberut dan terus komat-kamit selama didalam lift. Bahkan saat ia sudah keluar dari lift, ia tak hentinya menggerutu hingga membuat Rian dan Safira yang sudah datang menatap nya heran.


"Dasar kang gosip..bibirnya gatel kali ya kalo nggak ngegosip"


"Mana yang digosipin didepan muka pula.."


"Kamu kenapa Nay??". Naya tersentak, ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya menatap ujung sepatunya.


" Eh..loh..kok.." Naya menunjuk kedua orang itu bersamaan.


"Lah loh lah loh..kenapa kamu?? Pagi-pagi udah ngomel-ngomel aja". Rian terkekeh pelan melihat wajah Naya yang ditekuk.


" Huft.." Naya menghembuskan nafas kasar.


"Itu pada ngomongin aku pak..mana ada aku disana lagi. Dasar nggak punya kerjaan, pagi-pagi udah gosipin orang". Naya bersungut-sungut hingga terlihat semakin menggemaskan dimata kedua orang disana.


" Jujur sih boleh..tapi ya kira-kira. Orang aku nggak salah juga.."

__ADS_1


"Oh iya pak..mbak..aku mau bilang sesuatu..."


__ADS_2