Imperferct Partner

Imperferct Partner
permintaan


__ADS_3

Setelah acara semalam, semua orang memilih beristirahat dikamar hotel yang memang sudah dipesan untuk seluruh anggota keluarga dan kerabat dekat.


Pagi ini semua sudah berkumpul di resto hotel mewah itu, hanya tinggal menunggu Kirei yang sejak tadi belum menampakkan batang hidungnya. Padahal biasanya gadis itu tidak terlalu sulit bangun selama tinggal seorang diri.


Karena terlalu lama menunggu dan Kirei tak kunjung muncul, Tama berinisiatif mendatangi kamar gadis yang baru semalam menyandang status sebagai tunangannya. Tepat didepan pintu, Tama mengetuk pintu kamar Kirei, namun tak ada tanggapan apapun dari dalam. Berulang kali Tama mencoba mengetuk pintu dan berulang kali pula pria tampan itu menelpon Kirei. Namun tetap tak ada jawaban.


Takut terjadi sesuatu pada tunangannya, Tama meminta seorang petugas hotel untuk membukakan pintu kamar tunangannya. Setelah mengucapkan terimakasih pada petugas hotel dan memberinya beberapa lembar uang seratus ribuan, Tama memutar knop pintu dan masuk. Tepat saat Tama menginjakkan kaki didalam kamar, suara pintu kamar mandi terbuka membuat Tama menoleh.


Kedua mata yang sama-sama tajam itu bersirobok, saling menatap dalam diam untuk sesaat sebelum suara teriakan keras menggema memenuhi kamar yang semalam Kirei tempati.


"Aaaaaaaaargh.." Teriak keduanya bersamaan. Tama segera membalik tubuhnya, sementara Kirei yang hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuh seksinya segera menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi tubuh mulusnya yang hanya tertutup handuk kecil.


"Yaaaaaakk!! Lo ngapain masuk kamar gue!! Dasar m***m!!!". Teriak Kirei kencang.


"Lo lama..gue disuruh nyusulin elo. Gue udah ngetok pintu sama telpon berkali-kali. Gue khawatir makanya gue minta petugas buat bukain pintu". Jelas Tama yang masih memunggungi Kirei. Mencoba meredam hawa panas yang menyerang tubuhnya akibat tanpa sengaja melihat bahu dan paha mulus milik tunangannya itu.


Kirei segera mengambil pakaian gantinya dan bergegas masuk kembali kedalam kamar mandi untuk mengenakan bajunya. Wajahnya sudah semerah tomat menahan malu. Mau ditaruh dimana wajahnya jika bertemu dengan Tama.


"Aiiish..malu banget gue. Dasar tamia m***m!!". Umpat Kirei sambil terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Setelah menenangkan diri beberapa saat, Kirei memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Bisa-bisa semua orang menyusulnya ke kamar jika dirinya terlalu lama berada didalam kamar mandi. Urusan bertemu dengan Tama, ia akan memikirkannya nanti saja.


"Kenapa lama sekali? Ayah sampai khawatir jika kalian kenapa-kenapa". Suara sang ibu membuat Kirei yang baru saja keluar dari kamar mandi terkesiap. Sejak kapan ibunya ada didalam kamarnya.


"Sejak kapan buna disini?". Tanya Kirei menatap Ara yang juga tengah memperhatikannya.


"Sejak kamu masuk kedalam kamar mandi. Ngapain aja sih? Perasaan nggak nambah cantik". Ungkapan Ara yang tanpa tedeng aling-aling membuat Kirei melongo. Bagaimana bisa ibunya itu mempermalukan dirinya dihadapan pria yang digadang-gadang akan menjadi menantu ibunya itu. Kirei melirik Tama yang nampak sedang menahan senyumnya mendengar ucapan spontan Ara.


"Buna gimana sih..bukannya muji aku malah jatuhin aku". Cebik Kirei melotot pada ibundanya yang tampak acuh saja.


"Memang benar apa yang buna katakan, kamu lama dikamar mandi tapi tidak ada yang berubah". Kekeh Ara membuat Kirei semakin melongo.


"Lalu..buna pengen kalo aku keluar aku jadi apa?? wonder woman? Atau cat woman? Atau malah sailormoon?". Tanya Kirei membuat tawa Ara membahana. Mengganggu putri kecilnya memang selalu menyenangkan.


"Bagaimana kalau jadi power rangers saja?". Balas Ara sambil terbahak membuat Tama akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Sungguh keluarga menyenangkan. Ia bersyukur bisa berada diantara dua wanita berbeda usia yang sangat unik ini.


"Hahaha..kenapa kamu marah. Sepertinya kamu cocok memakai kostum power rangers sayang". Ara semakin tergelak melihat wajah masam Kirei. Ibunya benar-benar menyebalkan.


"Mungkin yang warna kuning bun". Sahut Tama membuat Ara semakin terpingkal. Kirei mendengus kemudian berlalu meninggalkan dua orang yang masih menertawakan dirinya. Membayangkan Kirei memakai kostum power Rangers berwarna kuning membuat Tama dan Ara tak kuasa menahan tawa.


"Kita susul dia, pasti dia mengadu pada ayahnya". Ara mengajak Tama menyusul Kirei yang sudah lebih dulu keluar dari dalam kamar.


Dan benar saja, sesampainya Ara dan Tama diresto hotel mereka melihat wajah Kirei yang sudah merengut sambil duduk disamping Dev yang mengelus pucuk kepalanya. Sementara Dirga dan Arka sedang tertawa. Sudah pasti dua sepupu sablengnya itu menertawakan nasib Kirei yang pagi-pagi sudah mendapat serangan dari ibunda ratu mereka.


Tama mendaratkan bobot tubuhnya tepat disebelah Kirei, mengelus pucuk kepala gadis yang resmi menjadi tunangannya sejak semalam. Kirei melirik Tama kemudian melengos. Masih terekam jelas dalam memorinya bagaimana Tama dan ibunya menertawakan dirinya beberapa saat lalu.


Sementara Dev yang mengamati segala gerak gerik Tama hanya bisa tersenyum manis menatap lembut anak gadisnya yang ternyata sudah sangat dewasa kini. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi Dev akan melepas anak tercintanya bersama dengan pria pilihannya dan sang istri.

__ADS_1


"Sudahlah Ki..kenapa marah pada buna dan Tama. Mereka hanya bercanda". Ucap Dev lembut membuat Kirei menoleh, menatap netra teduh milik sang ayah yang selalu membuatnya tenang.


"Ayah juga harus membayangkan anak singa ini memakai kostum power rangers warna kuning. Sepertinya cocok yah". Suara Arka membuat Kirei semakin memberengut.


Sebelum Dirga menimpali, lelaki itu sudah dibungkam dengan tatapan tajam calon tunangannya. Begitupun Arka yang mendapat sorotan tajam dari sang istri yang tengah mengandung buah cinta keduanya.


"Kirei yang cantik..maaf yaaaa". Ucap Dirga dan Arka bersamaan. Kirei menoleh, menatap dua sepupu sablengnya yang ternyata begitu takhluk pada wanita yang mereka cintai.


Seringai licik terbit dibibir mungil itu, kedua sepupu sablengnya yang melihat senyum licik itu menelan salivanya dengan susah payah. Sudah pasti gadis itu akan membalas perbuatan mereka dengan lebih ekstrim.


"Sepertinya mereka harus tau aib memalukan milik kalian berdua". Senyum Kirei semakin lebar saja melihat wajah pucat Dirga dan Arka.


"Sepertinya seru jika mereka semua tahu. Aku penasaran apakah mereka masih mau dengan kalian jika mendengar ceritaku ini. Bahkan ayah dan buna juga tidak tahu aib kalian yang ini". Seringai Kirei semakin menampakkan wajah penuh kemenangan.


Dirga dan Arka yang sejak tadi sudah menggelengkan kepalanya namun tak digubris oleh Kirei segera bangkit. Membekap mulut gadis itu dan segera memiting kepalanya. Pemandangan yang sudah biasa bagi keluarga besar Kirei, namun tidak bagi keluarga Tama yang baru pertama melihat pemandangan seperti saat ini.


"Aaaaa...buna toloooooong. Ayaaaaah". Teriak Kirei ketika tubuhnya diangkat oleh kedua sepupu tak berakhlaknya.


"Biarkan saja mbak..mereka selalu seperti ini jika bertemu. Melerai mereka hanya akan membuang tenaga tanpa hasil". Ara memegang tangan Riana yang hendak menolong Kirei.


"Tapi Kirei bagaimana?". Tanya Riana nampak khawatir, begitupun Akmal yang nampak terus mengawasi Kirei dan dua sepupunya yang semakin menjauh dari meja makan.


"Dia hanya akan basah. Setelahnya mereka bertiga yang akan basah kuyup mbak. Tidak perlu khawatir". Kini Putri ikut menenangkan Riana dan Akmal yang nampak risau.


"Tenang saja mas..ini sudah menjadi kegiatan rutin ketika mereka bertemu". Dev menenangkan Akmal yang nampak menghela nafas panjang.


Mata Tama melebar kala melihat tubuh Kirei yang diayunkan oleh Arka dan Dirga ditepian kolam renang hotel.


"Maaaaaass..tolongin aku!!". Teriak Kirei menatap Tama meminta pertolongan. Namun Tama justru mematung. Bukan karena tidak bisa menolong, namun panggilan Kirei padanya yang membuatnya berdiri kaku ditempatnya.


'Mas??'. Apakah dirinya tidak salah dengar? Tidak ingin terlalu percaya diri, Tama menoleh kebelakang, mungkin ada orang lain yang Kirei maksud.


"Mas Tamaaaaaa!!! Ih tolooooong!". Kirei kembali berteriak dan kali ini menyebut namanya. Tama mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berkejaran tak beraturan akibat panggilan yang terdengar begitu merdu ditelinganya.


Baru beberapa langkah Tama mendekat, tubuh langsing Kirei sudah dihempaskan kedalam kolam berisi air penuh.


'Byurrrr'


Tama menghentikan langkahnya sesaat sebelum mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah kolam. Namun hal selanjutnya membuat matanya kian melebar kala melihat Dirga dan Arka ikut terseret masuk kedalam kolam setelah kaki keduanya ditarik Kirei dari dalam air.


Tawa puas jelas terdengar dari bibir yang sudah manjadi candu untuk Tama. Terlihat jelas Kirei yang merasa puas berhasil membalas perbuatan dua sepupu somplaknya. Kini hal baru yang Tama tahu, Kirei bukanlah gadis lemah yang akan mudah ditindas oleh siapapun dalam keadaan apapun. Dua sepupu gadis itu adalah contoh nyatanya.


Sebuah senyum terbit dibibir seksi Tama, melihat wajah Kirei yang tersenyum senang. Matanya menyipit kala senyuman itu kian melebar. Perlahan langkah kaki Tama mendekat, semakin jelas terlihat kecantikan alami dari gadis yang sudah resmi menyandang status sebagai tunangannya.


Tama mencubit gemas hidung mancung Kirei hingga gadis itu mengaduh sambil mengelus pucuk hidungnya yang terlihat merah.


"Gimana sih..kan tadi minta tolong. Bukannya ditolong malah bengong". Sungut Kirei ketika matanya menangkap sosok pria tampan yang tengah berjongkok ditepian kolam.

__ADS_1


Tama menyambar sebuah jubah handuk yang terletak dikursi dekat kolam. Mengulurkan tangannya untuk membantu Kirei naik kepinggiran kolam. Sementara kedua sepupu somplaknya terus mengumpati kelakuan Kirei.


"Singa edan!!". Teriak Dirga membuat Kirei menjulurkan lidahnya mengejek kedua sepupunya yang masih berendam didalam kolam.


Tama segera menutup tubuh Kirei dengan jubah handuk, karena ia melihat beberapa pria menatap tubuh Kirei penuh n***u.


"Calon ipar kaga ada akhlak juga lo Tam..yang ditolongin Kirei doang". Sungut Arka yang sedang berusaha keluar dari kolam yang pagi ini terasa lumayan dingin.


"Aw..aw..aw..". Pekik Arka dan Dirga tepat saat tubuhnya sudah keluar dari air kolam. Pelakunya adalah pasangannya masing-masing yang sudah sangat geram melihat tingkah kekanakan kedua lelaki dewasa itu.


"Sakit yang". Keluh Arka memegang telinganya yang masih ditarik oleh Alma.


"Kamu udah mau punya anak tapi masih kaya bocah kelakuannya". Sengit Alma mengeratkan tarikan tangannya pada telinga sang suami.


"Sakit Sayang..." Rengek Dirga namun Nabilla terus menariknya menjauh dari kolam.


'wleeee'


Kirei menjulurkan lidahkan pada dua sepupunya yang langsung menunjukkan kepalan tangannya pada Kirei yang sudah berada dalam dekapan Tama.


"Udah buruan. Masuk angin lama-lama basah kaya gini. Kelakuan lo kaya bocah banget sih". Tama menarik Kirei berjalan menuju kamar tempat Kirei menginap.


___


"Langsung mandi terus ganti bajunya. Gue bawain sarapannya kesini". Tama mendorong tubuh Kirei memasuki kamar mandi dan kemudian menutup pintunya.


Tama meninggalkan kamar gadis itu untuk mengambilkan sarapan untuk Kirei. Gadisnya itu bahkan belum memasukkan sesuap nasipun kedalam mulutnya, dan pagi-pagi sudah berendam dalam kolam yang berisi air dingin. Tama masih tidak habis pikir dengan kelakuan Kirei dan kedua sepupunya. Benar-benar seperti anak kecil.


"Dimana anak-anak nakal itu Tam?". Tanya Ara yang ternyata masih duduk manis dengan kedua orang tuanya yang masih menikmati hidangan dari pihak hotel.


"Tama menyuruh Kirei mandi lagi bun, dia bisa masuk angin jika tidak mandi lagi". Tama sibuk menyiapkan makanan kedalam piring.


"Kamu masih lapar?". Tanya Riana, ibundanya. Ketika melihat Tama mengambil berbagai macam menu kedalam piring.


"Untuk Kirei, bu. Dia belum makan sama sekali. Dia akan sakit jika tidak makan". Jawab Tama yang masih sibuk menyiapkan makanan untuk Kirei.


Sudut bibir para orang tua terangkat sempurna melihat bagaimana cekatannya Tama menyiapkan sarapan untuk Kirei. Dalam hatinya Dev merasa tenang melihat bagaimana perhatiannya Tama pada putri cantiknya. Dia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk putrinya. Berharap semua pilihannya adalah yang terbaik untuk putri semata wayangnya itu.


"Tama akan segera kembali". Tama pergi membawa nampan berisi penuh makanan dan juga sajian penutup untuk Kirei.


"Ayah titip putri ayah, Tama. Ayah minta jaga dan cintai dia seperti ayah dan buna mencintai dan menjaganya. Kelak didiklah dia menjadi istri yang baik untukmu. Jika suatu saat kamu merasa bosan padanya, jangan sakiti dia. Kembalikan dia pada ayah dan bunda". Permintaan Dev yang tiba-tiba membuat Tama berhenti bergerak. Menatap dalam netra teduh milik Dev yang mengisyaratkan permohonan padanya.


"Apapun akan Tama lakukan untuk Kirei yah. Tama janji akan menjaganya, bahkan dengan nyawa Tama sendiri". Jawab Tama mantap tanpa sedikitpun keraguan.


Dev tersenyum dan mengangguk, Ara menggenggam tangan sang suami. Ia tahu betul seberapa besar arti Kirei dalam kehidupan lelaki tercintanya itu.


"Semoga apa yang ayah lakukan akan membuat dirimu bahagia Ki. Ayah berharap kebahagiaan selalu bersamamu hingga akhir nanti". Batin Dev menatap punggung Tama yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2