Imperferct Partner

Imperferct Partner
perhatian


__ADS_3

Kirei terus menangis dan memeluk Naya yang sudah siap sejak pagi untuk pergi dan mencoba memulai kebangkitannya. Kirei seperti enggan melepas pelukannya pada sang anak, seolah Naya pergi meninggalkannya ke belahan bumi yang sulit ia jangkau.


"Mom..aku nggak ke antartika. Cuma ke kota J aja..mommy naik pesawat 2jam juga nyampe. Naik kereta nggak nyampe sehari juga nyampe.." Ucap Naya yang saat ini tengah dipeluk erat oleh Kirei. Pakaian yang sudah rapi dan rambut yang tadinya tertata rapi itu kini sudah awut-awutan karena Kirei memeluknya cukup erat dan berkali-kali ia menciumi pucuk kepala Naya.


"Ya tetep aja mommy gak bisa ketemu tiap hari sama kamu.."


"Mommy bisa telpon atau video call tiap hari kalo kangen". Dan Naya merutuki ide gilanya itu yang secara spontan keluar dari mulutnya karena Kirei tak juga melepas pelukannya.


" Bener ya?? Kalo mommy telpon harus diangkat". Akhirnya Kirei melepaskan pelukannya pada Naya yang langsung bernafas lega.


"Iya..kalo Nay lagi nggak kerja udah pasti Nay angkat. Sekarang Nay pergi dulu ya.." Dan meskipun berat, akhirnya Kirei dan Tama membiarkan Naya pergi dengan diantar Ken dan Kai.


"Tunggu sayang..sampai disana bagaimana?". Tanya Tama tiba-tiba


" Akan ada jemputan dari perusahaan dad..nanti Nay akan langsung diantar ke apartemen. Disana juga ada teman yang akan tinggal bersama di apartemen.." Jelas Naya membuat Tama mengangguk paham. Namun tidak dengan Kirei.


"Teman?? Tinggal bersama?? Laki-laki atau perempuan??". Naya memutar bola matanya jengah. Bagaimana ibu cerdasnya itu berpikir yang jauh dari nalar.


" Mom..perusahaan pasti punya ketentuannya sendiri, lagipula mana mungkin mereka membuat laki-laki dan perempuan tinggal bersama meski bekerja di satu perusahaan??". Tanya Naya gemas. Ia jadi ragu, benarkah cerita kakek dan neneknya jika sang ibu merupakan wanita cerdas dengan segudang prestasi. Naya tak tahu saja jika kekhawatiran seorang ibu sering membuatnya menjadi orang konyol dan b*doh.


"Iya juga ya.." Gumam Kirei membuat yang lain tersenyum geli.


"Sering pulang ya..Rere pasti kangen onty bawelnya". Aisha memeluk Naya bergantian dengan Khanza.


" Pasti..onty juga pasti kangen sama tembem satu ini". Naya mencuri satu ciuman dipipi gembul keponakannya yang baru berusia 3bulan itu.


"Mbak pasti kangen sama kamu Nay.." Khanza memeluk Naya erat. Hidup sebagai anak tunggal membuat Khanza begitu senang memiliki sosok adik seperti Naya.


"Jaga keponakan aku ya mbak..nanti kalo mbak lahiran aku langsung pulang deh.." Naya mengelus perut Khanza yang masih terlihat rata.


"Jaga diri baik-baik ya.." Kirei dan Tama melambaikan tangannya pada Naya yang sudah masuk kedalam mobil milik kakaknya.


"Kabarin mommy begitu sampai sayang.." Teriak Kirei menahan laju air matanya.


"Pasti mom.. Nay pergi yaaa. Assalamualaikum.." Naya terus melambaikan tangannya pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Tama memang melarang Kirei ikut mengantarkan Naya, ia takut istrinya berubah pikiran dan menahan putri mereka untuk pergi.


"Kamu yakin dek??". Tanya Ken yang saat ini tengah memeluk adiknya. Ia merasakan sang adik mengangguk dalam pelukannya.


Kai bergantian memeluk adiknya. Ia mengecup pucuk kepala sang adik beberapa kali. Mau seperti apapun mereka jika sedang dekat, namun ada rasa tak rela dihati kedua abang itu membiarkan adiknya jauh dari pantauan mereka. Ini adalah kali pertama Naya pergi jauh dari keluarganya seorang diri.


" Sekarang gantian Nay yang titip ke abang. Jagain mommy sama kakak-kakak ipar aku, apalagi keponakan-keponakan aku. Awas kalo pada bikin kakak ipar aku sedih..aku langsung pulang buat damprat abang berdua". Ancam Naya disertai senyuman manis.


"Kamu bisa andalin abang sama Ken.." Ucap Kai mengelus pucuk kepala Naya.


"Nay masuk dulu ya bang.." Naya berpamitan pada kedua kakaknya sekali lagi. Ia berjalan menuju pintu keberangkatan, beberapa kali ia menoleh dan melambaikan tangannya pada kedua lelaki tampan yang selama ini menjaga dan melindunginya dengan segenap jiwa.


Naya duduk, menatap kota kelahirannya yang terlihat kecil dibawah sana karena pesawat yang sudah mengudara. Ia berkali-kali menghela nafas panjang untuk melegakan hatinya yang sejujurnya terasa berat meninggalkan kota dengan sejuta kenangan indah itu.


"Nay pergi kak..Nay akan menjalani hidup tanpa kakak. Nay nggak akan pernah lupain kakak, Nya juga selalu berdoa semoga kakak tenang disana, semoga kakak selalu bahagia..Nay juga akan mencoba untuk melanjutkan hidup dan berbahagia seperti keinginan kakak.."


Naya terbangun saat mendengar pengumuman bahwa pesawat sebentar lagi akan landing. Dirinya tidur selepas perawat take off, hingga tanpa ia sadari pesawat yang ditumpanginya sudah mendarat dibandara kota J.


Naya turun dan menunggu bagasi untuk mengambil barang-barangnya. Perlahan kaki jenjang itu melangkah keluar menuju pintu kedatangan. Naya menghembuskan nafasnya dengan tangan terkepal seiring senyum tipis yang ia sunggingkan dibibir mungilnya.


"Ayo Kanaya..semangat!!! Lo pasti bisa..dan harus bisa!!". Naya menyemangati dirinya sendiri.


Ia mengedarkan pandangannya, mencari orang yang bertugas menjemput dan mengantarkannya ke apartemen yang akan ia tinggali selama bekerja. Perusahaan pangan baru yang namanya melejit hanya dalam kurun waktu kurang dari 6bulan itu sedang membuka lowongan kerja besar-besaran untuk mengisi kekosongan disetiap bagiannya, karena memang perusahaannya masih baru. Beruntung dirinya termasuk dalam orang yang diterima diperusahaan itu dari sekian ribu banyak pesaing.


Tak lama matanya menangkap sosok lelaki sepuh yang membawa plang berisikan namanya. Entah ini memang prosedur perusahaan atau memang dirinya saja yang merasa diistimewakan hingga dijemput dan mendapat fasilitas berupa apartemen yang menurutnya merupakan fasilitas yang mewah untuk ukuran perusahaan yang baru dibuka itu. Namun ia tak mau ambil pusing, yang ia pikirkan kini hanya bekerja dan melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


" Non Kanaya ya??". Tanya pria sepuh itu ketika Naya sudah berdiri didepannya.


"Iya..bapak dari perusahaan Y.K Food??". Tanya Naya balik dan dijawab anggukan kepala oleh si bapak.


" Mari non..saya bawakan kopernya". Naya langsung menolak ketika pria yang usianya mungkin lebih tua dari ayahnya itu hendak membawakan kopernya. Rasanya tak pantas jika Naya membiarkan lelaki tua itu membawa barangnya sementara dirinya sendiri masih mampu.


"Tapi non.."


"Nggak apa-apa pak. Saya masih bisa sendiri, saya masih kuat. Mari pak.." Naya tersenyum sopan hingga membuat si bapak ikut tersenyum.


Lelaki tua yang belum Naya tahu namanya itu membawanya menuju mobil. Lelaki itu lantas membuka bagasi mobil dan memasukkan koper Naya dan kemudian menutupnya kembali.


"Nama bapak siapa??". Tanya Naya ketika sudah berada dalam mobil.


" Nama saya Rahman non. Panggil saja pak Man".


"Terimakasih pak Man..maaf sudah merepotkan bapak untuk menjemput dan mengantar saya". Ucap Naya tulus.


" Sama-sama non. Sudah tugas saya.."


"Ehm..maaf pak. Boleh saya tanya sesuatu??". Tanya Naya ragu


" Boleh non..boleh. Kalo saya bisa jawab pasti dijawab. Tapi jangan dikasih soal matematika ya non, saya ndak bisa". Naya terkekeh memdengar guyonan pria paruh baya itu.


"Enggak pak..kan nggak lagi ujian". Pak Man tertawa membuat Naya juga tersenyum.


" Mau tanya apa non??".


"Ehm..apa memang ketentuan perusahaan kalau karyawan baru seperti saya ini dijemput dan difasilitasi tempat tinggal pak??". Tanya Naya


" Nggak semua non..saya ada beberapa kali jemput karyawan yang memang memiliki posisi yang..apa ya namanya. Kalo kata saya yang orang awam ini, posisinya tinggi lah non. Tapi kalo yang karyawan biasa ya ndak dijemput begini non. Hehehe.." Pak Man kembali tertawa,sementara Naya hanya menggut-manggut saja.


"Sudah sampai non.."


"Oh..nggak berasa diajak ngobrol sama bapak tau-tau sampe". Naya mencoba beramah tamah pada lelaki tua yang juga sangat ramah itu.


" Oh saya ada kelupaan non. Ini kunci apartemen nya non.." Pak Man menyerahkan sebuah kunci yang langsung diterima oleh Naya.


"Mari non saya antar..sekarang tolong ijinin saya bawakan kopernya ya.." Tanpa menunggu jawaban Naya, pak Man sudsh lebih dulu mengambil dan membawa koper Naya yang akhirnya hanya pasrah. Mungkin pak Man merasa bertanggung jawab membantu dirinya, pikir Naya.


Pak Man berjalan lebih dulu didepan Naya, diikuti gadis yang sesekali melihat sekelilingnya seolah menghafal tata letak tempat tinggal barunya.


"Nah..yang ini rumah barunya non Naya. Silahkan non.." Pak Man berhenti didepan pintu coklat. Dilihat dari lingkungan sekelilingnya, apartemen yang akan Naya tinggali masuk dalam golongan apartemen yang cukup bagus. Meski tak mewah, namun Naya merasa nyaman dan aman.


"Terimakasih ya pak..ini ada sedikit rejeki untuk bapak. Tolong jangan ditolak.." Naya memaksa lelaki paruh baya itu menerima beberapa lembar uang merah yang ia selipkan ditangan yang mulai keriput itu.


"Loh non..ndak usah. Bapak hanya menjalankan pekerjaan bapak.." Pak Man mencoba menolak namun Naya tetap memaksa.


"Yasudah..Terimakasih banyak ya non. Bapak pamit dulu". Naya masuk setelah pak Man menghilang dari pandangannya.


" Selamat datang hidup baru.." Naya mencoba tersenyum. Namun sekelebat bayangan Akbar yang tersenyum justru membuat senyumannya surut.


Naya dikejutkan dengan pintu salah satu ruangan yang tiba-tiba terbuka. Menampakkan seorang gadis muda yang mungkin seusia dengan dirinya. Keduanya sama-sama mematung sesaat sebelum Naya tersenyum sopan padanya dan dibalas dengan senyuman oleh orang yang Naya prediksi akan menjadi teman kerja nya.


"Ehm..kenalkan. Aku Kanaya..kamu bisa Panggil aku Naya.." Naya mengenalkan dirinya. Ia berharap semoga teman barunya ini orang yang tidak terlalu kepo dengan urusan pribadi orang.


"Hai..aku Diandra. Senang bertemu denganmu.." Naya menatap gadis bernama Diandra itu, sepertinya mereka akan cocok. Pikir Naya sambil tersenyum.


Setelah beberapa waktu beramah tamah dengan teman barunya, Naya ditunjukkan kamar yang akan ia tempati. Apartemen itu sangat sederhana, hanya ada satu kamar. Itu artinya ia akan berada satu kamar dengan Diandra.

__ADS_1


Didalam kamar terdapat dua kasur yang tak terlalu kecil menurut Naya, pun ada satu kamar mandi didalam kamar mereka. Ini Cukup bersih dan nyaman bagi Naya. Ia hanya perlu menyesuaikan dirinya. Apartemen sederhana itu terdapat dapur yang menyatu dengan ruang makan, ruang tamu, kamar mandi luar dekat dapur.


"Aku akan disebelah sini..kamu disana. Apa tidak keberatan??". Suara Diandra membuat Naya menoleh. Ia menggeleng dan tersenyum ramah pada gadis itu.


" Dimanapun tidak masalah..sama saja". Diandra mengangguk.


"Ehmm..aku akan istirahat dulu. Nanti kita bicara lagi.." Diandra merebahkan tubuhnya diatas kasur yang menjadi bagiannya.


"Baiklah..aku akan membersihkan diri dulu". Naya berlalu kedalam kamar mandi. Kamar mandi yang tak terlalu luas itu terdapat shower didalamnya. Cukup bagi Naya selagi ada air panasnya.


Merasa lelah, Naya kembali merebahkan dirinya saat selesai membersihkan diri. Padahal ia sudah tertidur selama didalam pesawat tadi.


Baru saja matanya akan terpejam, ponselnya sudah berdering sangat nyaring. Naya buru-buru mengambilnya dan mengangkat telepon sebelum teman satu kamarnya terganggu dan terbangun karena bunyi ponselnya. Ia berjalan dan membuka pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak mengganggu Diandra yang sepertinya sudah terlelap.


" Kay..kenapa gelap.." Mendengar suara itu, Naya segera menjauhkan ponselnya. Ah, rupanya bukan panggilan telepon biasa, ternyata video call.


"Aku kira telepon biasa kak.." Naya nyengir hingga menampakkan gigi rapinya yang membuatnya semakin terlihat manis.


"Makanya lihat dulu sebelum mengangkat telepon Kay.." Naya kembali nyengir ketika Al mengomel.


"Kenapa sekarang kakak cerewet sekali sih?". Tanya Naya yang membuat Al mencebik. Lama Naya menatap wajah tampan yang terlihat jelas seperti orang bangun tidur itu.


" Kenapa liatinnya gitu?? Aku ganteng??". Kini giliran Naya yang mencibir.


"Sejak kapan kakak jadi lelaki narsis". Cibir Naya membuat Al tergelak. Naya tercenung sesaat, betapa tampannya lelaki yang berjasa besar atas kondisi dirinya saat ini, itu jika sedang tersenyum.


Naya segera menggelengkan kepalanya ketika otaknya mulai berpikir hal yang tak boleh ia pikirkan.


" Dia kak Al Nay. Dia sama kaya abang". Naya mensugeesti dirinya untuk tak jauh terperosok dalam pesona Al.


"Kenapa geleng-geleng Kay?? Kamu baik-baik aja kan?? Nggak pusing kan?? Atau kamu sakit??" Naya tersenyum kecut,kenapa lelaki ini sangat perhatian padanya. Ia takut akan jatuh cinta jika seperti ini.


"Enggak kak..heran aja sama kakak. Cerewet kaya mommy". Naya terkikik tiap kali mengingat ibu bawelnya.


" Yaaa!!! Aku laporin mommy kamu ya kalo bilang tante Kirei cerewet! Pengen dikutuk jadi Cinderella kamu ya.." Naya semakin tergelak mendengar ucapan Al.


"Ampun kak..nanti aku disuruh pulang sama mommy.." Naya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf v.


"Oia..jam berapa kamu sampai?? Sudah makan??". Tanya Al dijawab gelengan kepala oleh Naya.


" Baru satu jam lalu aku sampai kak..aku belum sempat makan". Sebenarnya Naya lapar, tapi ia malas keluar.


"*Kenapa belum makan Kay..nanti kamu sakit".


" Dimana alamat apartemenmu*??". Tanya Al


"Mau apa kak??"


"Biar aku pesankan makanan untukmu". Nada suara Al terdengar serius.


" Aku akan pesan sendiri kak.."


"Kamu selalu bohong. Cepat mana alamatnya". Ucap Al tak ingin dibantah.


" Apartemen xyz unit xx". Akhirnya Naya mengalah dan membiarkan Al melakukan apa yang diinginkannya.


"Jangan terlalu perhatian kak..aku takut. Aku takut jatuh cinta lagi..aku takut kehilangan lagi". Naya sudah tak mendengar lelaki diseberang sana itu mengoceh kesana sini, pikirannya sudah entah kemana meninggalkan raganya.


Naya tak menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan nya dan sepasang telinga yang mendengarkan pembicaraannya dari balik pintu kamar yang sedikut terbuka.

__ADS_1


__ADS_2