Imperferct Partner

Imperferct Partner
Luka masa lalu


__ADS_3

Hari ini Kirei terlihat lesu, tidak secerah biasanya. Makeup yang ia aplikasikan hari ini pun terlihat lebih menonjol dari biasanya, terutama diarea bawah matanya. Tentu saja sebagai orang yang sudah mengenal Kirei bertahun-tahun, Juna dan Tania tahu jika temannya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi mengingat kejadian semalam yang membuat Kirei menjadi lebih pendiam hari ini.


"Ki..lo kaga napa napa kan?". Tanya Tania memegang pundak Kirei.


Kirei mengangkat wajahnya yang sejak tadi ia sembunyikan diatas mejanya.


"Gue kaga kaya zombie kan? Masih cantik kan gue?". Tanya Kirei membuat Tania dan Juna saling menatap bingung.


"Lo ganteng. Apalagi kalo diem mulu kaya gini. Damai hidup gue". Celetukan Juna berhasil mendapat hadiah sambitan sebuah buku yang ada diatas meja Kirei.


"Gue semaleman kaga bisa tidur..udah gue cuci, udah gue gosok tapi kaga ilang rasanya". Keluh Kirei membuat kedua temannya semakin pusing saja.


"Lo ngomongin apaan dah. Gue ama si kucrut kaga ngarti". Juna menggaruk keningnya pusing mendengar ucapan Kirei.


"Aish..bibir gue masih berasa nempel ama itu bibir tamia s*alan! Lo bedua kaga peka banget ama yang gue omongin sih!". Ucap Kirei kesal karena kedua temannya tak kunjung paham maksud pembicaraannya.


Mendengar ucapan Kirei, sontak saja membuat Juna dan Tania tertawa hingga memegangi perutnya.


"Jadi..lo dari tadi cembetut, manyun, uring-uringan ke perawat gara-gara dicium pak Tama semalem?". Tanya Tania masih dengan tawanya.


"Doi sih beda ama lo Tan..lo mah udah penjelajah, kaga perlu diraguin. Lah yang ini..aduuuh Kirei, Kirei..." Juna pun masih menertawakannya.


Kirei mendengus kesal. Bukannya mendapat saran, justru dirinya menjadi bulan-bulanan kedua teman semprulnya itu.


"Berisik lo berdua. Gue sambit juga lo lama-lama!". Ketus Kirei melotot.


"Permisi dokter Kirei..maaf mengganggu waktunya". Seorang perempuan dengan baju perawat mendekati Kirei yang sedang mengobrol bersama Juna dan Tania.


"Kenapa suster Dinda?". Tanya Kirei pada perempuan bernama Dinda.


"Maaf..diluar ada yang mencari dokter". Jelas suster Dinda dengan wajah bersemu. Kirei mengernyitkan dahinya.


"Siapa sus? Laki apa perempuan?". Tanya Tania antusias. Ia menduga pasti Tama yang datang mencari Kirei.


"Laki-laki dok..ganteng lagi". Suster yang bernama Dinda tersipu malu mengatakan lelaki yang menunggu Kirei begitu rupawan.


"Gue yakin ini mah yang semalem". Ucap Tania penuh keyakinan yang langsung didukung Juna dengan anggukan kepala.


"Sok tau lo berdua. Gue keluar dulu ye". Kirei melambaikan tangan pada dua teman gesreknya yang sudah siap mengikuti langkah Kirei.


"Bentaran curut, kalo kita ikutin sekarang bisa-bisa kita dilempar pake sepatu". Tania menahan tangan Juna ketika lelaki itu bangkit.


Juna menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Tania. Bisa-bisa kepalanya benjol jika Kirei tahu dirinya dan Tania mengikuti Kirei.


Sementara Kirei mempercepat langkahnya ketika melihat siluet tubuh lelaki yang sudah begitu ia kenali. Dan benar saja, ketika pria itu berbalik, Kirei mempercepat langkahnya. Bahkan berlari kecil menghampiri orang itu.


"Abaaang". Seru Kirei kegirangan. Gadis itu segera masuk kedalam pelukan orang yang ia sebut abang.


"Kangeeen". Ucapnya manja.


Sementara lelaki yang ia peluk dengan erat hanya terkekeh melihat tingkah manja Kirei, mempererat pelukannya. Karena sejujurnya ia pun merindukan adik sepupunya itu.


"Untung bini gue sahabat elo dek. Kalo kaga udah gua jamin lo dilabrak terus dijambak, main peluk laki orang". Kekeh Arka, kakak sepupu Kirei.


"Masih lama kelar tugas lo?". Tanya Arka mengurai pelukannya dengan Kirei. Kirei menggeleng cepat.

__ADS_1


"Udah kelar. Cuma males balik..makanya main di IGD". Cengir Kirei membuat Arka gemas dan mencubit hidung mancung adiknya.


"Yaudah gih ambil tas lo. Dirga bisa ngamuk nunggu diparkiran kelamaan. Kasian juga Alma dimobil kepanasan". Mendengar ucapan kakak sepupunya semakin membuat mata Kirei berbinar. Ternyata Arka tidak sendiri.


Kirei segera masuk kedalam IGD lagi dan mengambil tas serta kunci mobilnya. Ia berpamitan pada semua yang saat ini tengah memandang dirinya dengan tatapan aneh. Namun Kirei tidak peduli dan memilih segera meninggalkan IGD. Tadinya ia ingin berpamitan dengan dua teman gesreknya, namun entah kemana perginya dua makhluk yang sering membuatnya naik darah itu.


"Itu sapa ya Jun?". Tanya Tania yang mengintip bersama Juna dibalik tembok IGD. Keduanya sudah mengenal Arka dan Dirga, namun karena saat ini posisi Arka membelakangi mereka, jadilah keduanya tidak bisa mengenalinya.


"Ya gue mana tau onah. Lo kata gue cenayang". Sengit Juna yang masih fokus pada Arka.


Tidak lama Kirei keluar dari IGD dengan membawa tasnya. Juna dan Tania segera bersembunyi, takut singa betina itu akan mengamuk jika mengetahui kelakuan mereka.


"Oke..let's go". Kirei segera bergelayut manja dilengan kokoh Arka tanpa mempedulikan sekelilingnya. Saat ini banyak dokter dan perawat yang mengenal dirinya tengah menatap interaksinya dengan Arka. Mereka pikir itu adalah kekasih Kirei.


Arka mengacak gemas rambut adik sepupunya yang sudah cukup lama tidak ia temui. Sejujurnya ia ingin Kirei kembali ke kota mereka dilahirkan, namun Arka sadar bahwa Kirei yang keras kepala akan menolaknya.


Sementara diujung lorong menuju IGD, ada mata tajam yang mengawasi segala yang Kirei lakukan. Bahkan ia sudah berdiri disana cukup lama hanya untuk melihat apa yang akan dilakukan Kirei setelahnya.


Tangannya terkepal kuat dengan rahang mengeras, hatinya terasa terbakar entah karena apa. Dirinya pun tak mengerti mengapa tubuhnya memberikan respon yang sebegitunya setelah melihat Kirei memeluk seorang pria. Bahkan kini, gadis itu terlihat bergelayut manja dilengan lelaki yang ia tidak kenali.


"Maaf tuan, tuan besar sudah menunggu diruangannya?". Suara dari seseorang yang tiba-tiba sudah ada disampingnya membuat dirinya terlonjak kaget. Ternyata dirinya terlalu fokus pada Kirei hingga tak menyadari ada seseorang yang berdiri disampingnya.


"Kita kesana sekarang". Sahutnya dingin. Mood nya benar-benar hancur hanya dengan melihat Kirei bersama lelaki lain. Pikirannya berkelana entah kemana.


******


"Almaaaaaaaaa". Teriak Kirei membuat Arka dan Dirga menutup rapat telinga mereka.


"Gila lo. Budeg abang". Sengit Arka yang tak dihiraukan oleh Kirei. Gadis itu memilih mendekati Alma dan memeluk gadis itu, eh ralat..mantan gadis. Karena saat ini Alma sedang mengandung buah hatinya dan Arka.


"Lo kata mochi mau lo gigit". Sungut Arka tak terima. Sementara Dirga dan Alma hanya terkekeh.


"Lo sirik aja sih bang. Gue ngomong ama Alma ama calon anaknya. Kok lo yang sewot". Balas Kirei tak kalah sengit.


"Itu bini ama anak gue kalo-kalo elo lupa markonah". Sahut Arka cepat membuat Alma menggeleng heran. Jika tidak bertemu, suaminya itu selalu mengkhawatirkan adik sepupu yang jauh darinya. Namun saat bertemu, keduanya selalu adu mulut dan bertengkar.


"Lo mah ya Ki, tadi aja peluk-peluk gue bilang kangen. Giliran ketemu Alma aja gue langsung dijadiin musuh". Sungut Arka sambil memasangkan seatbeltnya.


"Bosen liat lo junedi". Ucap Kirei cepat dan kembali fokus pada perut Alma.


"Lo kaga mau nanya kabar gue? Emang kaga punya akhlak punya sepupu cewe satu doang juga". Dirga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kirei yang bahkan sepertinya tak menyadari keberadaannya karena sibuk dengan perut buncit Alma.


"Astagfirullah..maapin Ga. Kaga keliatan". Ucap Kirei tanpa dosa membuat Dirga mendelik tak percaya.


"Emang dasar sepupu sableng". Gumam Dirga yang masih bisa didengar oleh Kirei.


"Sableng-sableng gini juga kakak sepupu elo ni". Goda Kirei menaik turunkan alisnya.


"Nanti kita jalan-jalan ya..deket sini ada tempat yang pemandangannya baguuuus banget. Kebetulan besok juga libur". Ucap Kirei bersemangat.


"Oke". Sahut Alma cepat. Gadis yang dulu pemalu itu kini sudah menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang sebentar lagi akan menjadi ibu. Kirei ikut bahagia untuk itu.


####


"Kamu tidak mendengarkan ayah dari tadi? Ayah sudah lelah berbicara dan kamu tidak mendengarkan? ck.." Akmal berdecak kesal melihat putra sulungnya yang sejak awal diajak bicara sudah tidak fokus. Entah sedang memikirkan apa putranya itu.

__ADS_1


"Maaf yah..kan Tama udah bilang besok aja kita ngobrolnya. Tama lagi nggak fokus". Kilah Tama.


"Alaah..nggak fokus mikirin apa kamu? Pacar-pacar kamu yang nggak jelas itu?". Dari nada suaranya, terdengar jelas ketidaksukaan tuan Akmal membicarakan kekasih Tama yang tidak bisa dihitung dengan jari.


"Bukan yah. Tama udah nggak pernah lagi pergi sama mereka". Sengit Tama yang tak terima dengan tuduhan sang ayah.


"Kamu sudah dewasa Tama..kamu harus menggantikan posisi ayah memimpin rumah sakit ini". Jelas Akmal membuat Tama menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tajamnya.


"Sudah berapa kali Tama bilang. Tama nggak akan pernah mau ambil alih rumah sakit ini yah. Tama sudah punya dunia sendiri. Hanya satu tahun lagi. Juan sudah bisa menggantikan ayah. Jangan paksa Tama yah, tolong". Pinta Tama memohon.


Akmal menghela nafas panjang, percuma memaksa Tama karena putra sulungnya itu memang sudah memiliki usaha sendiri dibidang photography.


"Ayah tidak pernah meminta apapun darimu, sekarang bisakah ayah meminta sesuatu?". Tanya Akmal dengan wajah sendu.


"Jika Tama bisa, pasti Tama berikan apapun yang ayah minta". Jawab Tama kurang yakin, karena perasaannya tiba-tiba tidak enak mendengar ayahnya menginginkan sesuatu.


"Ayah ingin segera menimang cucu". Jelas Akmal dengan mata berbinar. Ia membayangkan Tama menikah dengan Kirei dan memiliki banyak anak yang akan meramaikan rumahnya.


"HAH??!!". Seru Tama membuat Akmal menatapnya heran. Apa yang salah dari permintaannya, kenapa reaksi anaknya sangat berlebihan.


"Hah heh hah heh..ayah minta cucu. Kamu denger kan..AYAH MINTA CU-CU". Ulang Akmal menegaskan keinginannya.


"Astagfirullah yah..ayah kira ngasih cucu nggak segampang itu. Tama harus nikah dulu, terus baru bisa ngasih ayah cucu. Tama nggak bisa nyetak cucu sendiri yah. Tama nggak punya calon istri yah..Tama nggak mau nikah sama mantan-mantan Tama". Ucap Tama frustasi. Kenapa permintaan ayahnya sangat ngawur.


"Makanya hidup jangan seneng main-main aja. Umur udah tua, kelakuan kaya bocah". Sengit Akmal membuat Tama semakin pusing.


"Tama harus pergi yah..hari ini Tama ada pekerjaan. Ayah jangan lupa makan". Tama memilih pergi daripada harus menghadapi keinginan nyeleneh ayahnya. Meskipun playboy, Tama adalah anak yang menyayangi kedua orang tuanya sepenuh hati. Ia tidak ingin menyakiti hati dan perasaan kedua orang tuanya.


"Segera bawa calon istri kehadapan ayah, atau ayah sama ibu yang akan carikan kamu istri". Perintah ayah tegas tak terbantahkan lagi. Tama meng'iya'kan ucapan ayahnya agar bisa cepat pergi dari ruangan yang membuat kepalanya berasap.


****


Saat ini Kirei membawa para tamunya pergi ke pantai diselatan kota Jogja. Terlihat jelas kebahagiaan terpancar dari wajah Alma dan Arka. Keduanya tengah bermain dengan ombak pantai yang tidak terlalu besar.


"Lo harus pulang 1bulan lagi. Kaga pake nawar". Kirei menoleh pada Dirga yang duduk disampingnya.


"Ngapain? Gue kaga janji Ga". Kirei kembali fokus memperhatikan Alma yang terlihat begitu bahagia.


"Bulan depan gue tunangan".


"HAAAAH!!". Pekik Kirei dengan mata melotot tak percaya.


"Becanda lo garing sumpah". Kirei tertawa, namun tawanya reda kala menatap mata Dirga yang menyiratkan keseriusan.


"Beneran lo mau tunangan?? Mamp*s gue". Gumam Kirei. Bukan tidak bahagia dengan kebahagiaan Dirga, pasalnya ia berjanji akan membawa seorang pacar jika adik sepupunya itu bertunangan, jika tidak..maka dirinya harus menerima resiko untuk dijodohkan oleh kedua orang tuanya.


"Sekarang gue mau dateng ama sapa Ga. Bisa-bisa disambit ama buna". Kirei menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya.


"Lo udah harus serius Ki. Lupain masa lalu. Lo harus bangkit..liat kedepan. Jangan kecewain orang-orang yang tulus ama elo". Nasehat Dirga membuat Kirei terdiam. Selama ini dirinya terlalu larut dalam luka yang digoreskan Daniel 6tahun silam. Sudah banyak lelaki yang mendekatinya, namun masa lalu membuatnya enggan membuka hati untuk lelaki manapun. Terlalu takut jika nantinya harus kembali merasakan kecewa dan sakit.


"Gue cuma takut sakit lagi Ga". Lirih Kirei


Dirga membawa Kirei kedalam pelukannya. Memberikan kekuatan pada Kirei yang selalu sedih jika membahas Daniel dan masa lalu mereka.


Namun Dirga juga tidak bisa diam melihat Kirei yang masih terus menutup diri dari pria manapun.

__ADS_1


__ADS_2