Imperferct Partner

Imperferct Partner
Keluarga


__ADS_3

"Assalamualaikum.." Kirei mengucap salam ketika memasuki kediaman mertuanya.


"Wa'alaikumsalam.." Sahut suara dari dalam rumah.


"Kireiii..nak". Riana sedikit berlari menghampiri menantu tersayangnya itu.


"Ibu---Kirei kangen". Kirei memeluk tubuh ibu mertuanya dengan erat. Menyalurkan rasa rindunya pada wanita yang menyandang status sebagai ibu mertuanya itu.


"Ibu juga kangen sama kamu. Kemana saja kalian ini, tidak pernah datang kesini". Riana mencebik kesal karena Kirei dan Tama memang jarang datang mengunjunginya dan sang suami.


"Maaf bu..Kirei harus jagain bayik tua biar nggak digondol ondel-ondel". Bisik Kirei memeluk perut mertuanya yang masih terasa kencang.


"Ondel-ondel?". Beo Riana menatap menantunya bingung.


"Inneke". Bisik Kirei membuat Riana melotot.


"Iyaaaa..Inneke yang itu bu". Jelas Kirei ketika melihat tatapan ragu Riana.


"Dia kembali lagi? Lalu Tama?". Tanya Riana beruntun membuat Kirei tersenyum. Ia menggandeng Riana dan berjalan menuju sofa ruang keluarga rumah besar itu.


"Aman bu..bukan lawan Kirei". Kirei mengedipkan sebelah matanya untuk meyakinkan ibu mertuanya. Meski dalam hatinya masih ada sedikit keraguan tentang akan seperti apa kelanjutan hubungannya dan Tama dengan adanya orang-orang dari masa lalu mereka berdua.


"Kamu emang mantu ibu yang paling the best". Riana memeluk Kirei.


"Ada apa ini? Peluk-pelukan kaya nggak pernah ketemu tahun-tahunan". Suara berat Akmal membuat Kirei dan Riana menoleh bersamaan.


"Dimana suamimu Ki?". Tanya Akmal lagi ketika netranya tak melihat sosok putra sulungnya.


"Ki dari rumah sakit yah, mas Tama masih di studio. Mungkin sebentar lagi sampai". Jelas Kirei sambil mencium punggung tangan ayah mertuanya dengan takzim.


"Apa ini?". Tanya Akmal lagi melirik paperbag diatas meja yang mencuri perhatiannya. Biasanya menantu tersayangnya itu akan membuatkan cheesecake kesukaannya jika datang kerumahnya.


"Kesukaan ayah". Dugaan Akmal tepat sasaran. Menantunya memang paling mengerti kesukaannya.


"Waaaah..kamu memang terbaik". Puji Akmal tulus membuat Kirei terkekeh.


Suara hentakan kaki dari tangga mengalihkan perhatian semua orang. Kirei menoleh untuk melihat siapa yang sedang menuruni tangga. Matanya melebar melihat siapa yang ada ditengah tangga, pun dengan lelaki yang berhenti menuruni anak tangga ketika melihat Kirei.


"Xavier!!".


"Mbak Rei!!". Seru keduanya bersamaan membuat Riana dan Akmal mengernyit bingung melihat reaksi keduanya.


Lelaki yang Kirei panggil Xavier itu mempercepat langkahnya menuruni tangga untuk mendekat pada Kirei yang menunjukkan wajah sumringah.


"Mbak Rei apa kabar?? Lama nggak ketemu".


"Ju..kamu kenal Kirei??". Tanya Riana penasaran.


"Jelas kenal dong bu. Ibu ingat, Juan pernah bercerita tentang seorang gadis tangguh dan pintar. Dia ini orangnya bu..orang yang bikin Juan pengen jadi dokter". Jelas Juan bersemangat.


"Kamu berlebihan sekali". Kirei menepuk pelan lengan Juan yang berdiri didepannya.


"Dia ini kakak iparmu Ju". Jelas Akmal membuat mata Juan dan Kirei membola.


"Jadi Xavier ini?". Tanya Kirei menggantung.


"Iya..dia Juan. Adik satu-satunya Tama". Jelas Riana senang karena anak bungsu dan menantunya sudah saling mengenal.

__ADS_1


"Jadi mbak Rei ini yang jadi istrinya mas Tama?? Kok mau sih mbak?". Tanya Juan menggoda dan langsung mendapat geplakan dari ibunda ratu.


"Aduh..sakit bu. Juan cuma becanda bu". Ringis Juan membuat Kirei semakin melebarkan senyumnya.


"Waaaah..nggak nyangka ternyata mba Rei jadi bagian keluarga aku". Wajah Juan terlihat sumringah.


Juan dan Kirei duduk bersebelahan, saling menceritakan kisah hidupnya, diselingi dengan canda dan tawa yang semakin memeriahkan suasana rumah yang biasanya sepi itu. Hingga kehadiran Tama membuat semua semakin riuh.


"Weeeiiii, apaan ni mepet-mepet bini gue. Syuh--syuh". Tama tiba-tiba duduk diantara Kirei dan Juan.


"Yaelah mas, sama kakak ipar sendiri ini". Sungut Juan yang tak dihiraukan oleh Tama. Ia merangkul pundak Kirei yang hanya bisa menggeleng melihat kelakuan suaminya.


"Kakak ipar elo cantik. Bisa-bisa elo naksir". Ucap Tama membuat Kirei mencubit keras perut Tama.


"Aw..sakit Ki". Ringis Tama mengelus perutnya yang terasa panas akibat capitan tajam isttinya.


"Kalo ngomong suka nggak disaring". Omel Kirei membuat Tama nyengir.


"Dih..gue mah suka sama mbak Kirei udah dari kapan tahun". Jawaban Juna sukses membuat Tama menyemburkan kembali minuman yang baru saja masuk kedalam mulutnya.


"Heh lo bocah, belom pernah gue cincang lo". Tama melotot horor pada adiknya yang tertawa melihat kakaknya kebakaran jenggot mendengar pengakuannya.


"Apa sih mas..jorok ih disembur-semburin". Omel Kirei mengusap lengannya yang terkena semburan Tama.


"Ni bocah kalo ngomong kaga ada saringannya Ki. Bilang suka sama kamu. Minta digorok dia, berani-beraninya suka ama kakak ipar sendiri". Cerocos Tama, membuat Riana dan Akmal terkikik geli melihat kecemburuan Tama pada adiknya.


"Aku juga suka sama Juan mas. Dia dewasa, baik, sopan pula mas. Yang pasti nggak selengean". Ucap Kirei menggoda Tama yang sudah memelototinya.


"Heh, kamu ya kalo ngomong! Mau aku kunciin dikamar hah?. Dia ini adik ipar kamu Ki. Kamu mau selingkuh sama adik ipar kamu sendiri hah?". Kembali Tama mencak-mencak membuat kedua orang tuanya tertawa puas melihat anaknya merasakan kecemburuan pada seorang wanita.


"Terus maunya mas gimana? Mas maunya Juan benci sama aku gitu?? Mas maunya juga aku benci sama Juan gitu??". Pancing Kirei membuat Tama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung sendiri dengan pertanyaan sang istri.


"Makanya cemburu tu liat-liat mas. Suka nggak pas tempatnya kalo cemburu". Goda Kirei menoel dagu Tama yang melengos karena malu.


Suara tawa menggema didalam ruang keluarga itu. Para asisten rumah tangga ikut tersenyum mendengar keceriaan yang tercipta setelah berkumpulnya seluruh anggota keluarga.


"Kamu sudah memiliki calon istri Ju?? Kakakmu sudah insaf sekarang. Ibu tinggal mikirin kamu". Dan akhirnya pertanyaan yang dinantikan Tama keluar dari mulut sang ibu.


"Itu pertanyaan keramat, akhirnya si Juan ngerasain". Gumam Tama tertawa puas.


"Ish..amit kamu mah mas". Desis Kirei membuat Tama semakin puas tertawa.


"Juan baru selesai belajar bu. Belum mau mikirin nikah". Jawab Juan tenang, meski dalam hati ia berdebar karena lelaki itu tahu persis seperti apa ibunya.


"Kamu sama kakak kamu sama saja. Tiap ditanya kapan nikahnya bilang belum mikirin belum mikirin". Riana mendengus kesal. Tidak puas dengan jawaban putra bungsunya.


"Eits..Tama udah nikah bu. Tama mah anak berbakti bu, nurut disuruh nikah sama ibu". Seolah menyiramkan bensin pada kobaran api, Tama sengaja memancing sang ibu agar terus mendesak sang adik menikah. Sama seperti dirinya beberapa bulan lalu.


"Mulutmu mas, seneng banget kayanya ya kalo gue disuruh cepet kawin ama ibu". Sinis Juan membuat Tama tergelak.


"Nikah Ju..nikah. Kawin kawin palamu". Sentak Kirei dan Riana bersamaan membuat tawa Tama semakin membahana. Bahkan kini Akmal ikut tertawa melihat kekompakan istri dan menantunya memarahi putra bungsunya.


"Hahaha..nikmat kali hidup lu Ju. Sekarang nambah satu lagi yang bakal ngomelin elo tiap hari". Ledek Tama masih dengan tawanya. Sementara Juan hanya bisa memijit pangkal hidungnya. Kepalanya terasa berdenyut melihat sikap menyebalkan kakaknya itu.


"Dasar abang kaga ada akhlak". Dengus Juan.


"Jadi? Kapan kamu akan memperkenalkan calon istrimu ke ibu?". Seolah tak mengenal kata menyerah, Riana terus menanyakan kekasih yang akan Juan jadikan istri.

__ADS_1


"Juan benar-benar belum memikirkan pernikahan bu. Juan ingin menikmati waktu dulu bu". Pinta Juan dengan wajah memelas.


"Nikah juga bisa menikmati hidup Ju. Liat aja gue". Sombong Tama merangkul pundak Kirei yang hanya bisa memutar bola matanya jengah.


"Benar kata kakak kamu. Atau kamu mau ibu carikan jodoh? Teman-teman ibu memiliki putri yang cantik". Riana menawarkan pilihan pada Juan yang langsung menggeleng kuat.


"Bilang saja pada ibu. Kamu ingin wanita yang seperti apa?". Riana tak hentinya mengganggu Juan.


"Buuu..." Rengek Juan.


"Tenang saja Ju. Ibu paling the best memilihkan pendamping". Ucapan Tama mendapat lirikan tajam dari Juan.


"Mas bisa bilang begitu soalnya dapetnya mbak Kirei. Kalo dapetnya modelan ondel-ondel mana mau bilang ibu the best". Dengus Juan membuat Riana tergelak.


"Mas mu memang ketiban untung gede dijodohin sama mbak mu ini Ju. Untung saja Kirei mau sama mas mu". Kini gantian Tama yang melotot mendengar ucapan ibunya.


"Tama ganteng bu. Ya pasti Kirei mau lah". Jiwa kenarsisan Tama memberontak mendengar ledekan sang ibu.


"Pasti dulu kepaksa kan mbak? Kayanya mbak Kirei masih cukup waras, jadi nggak mungkin langsung jatuh cinta sama mas Tama". Juan membalikkan keadaan. Kini Tama yang menjadi bulan-bulanannya.


"Heh lo bocah. Punya mulut sembarangan kalo ngomong. Kirei tu dari pertama emang cinta sama mas. Iya kan sayang?". Tama mencoba mencari pembelaan dari Kirei. Namun melihat senyum Kirei, perasaan Tama langsung tidak enak.


"Kata siapa? Dulu kalo bukan ibu yang minta juga aku nggak mau sama cassanova tengil kaya kamu mas". Jawab Kirei membuat mata Tama hampir melompat keluar.


Sementara Juan bersorak kegirangan mendengar jawaban Kirei yang sesuai harapannya.


"Kata gue juga kan. Mbak Kirei masih waras mas". Ledek Juan balik.


"Kamu bukannya belain aku, Ki. Malah menjatuhkan aku". Cebik Tama


"Yang penting kan sekarang mas. Gitu aja kok ngambek. Kaya anak kecil". Goda Kirei


"Sudah-sudah, kita makan dulu. Ayah sudah lapar dari tadi melihat kalian berdebat". Akmal menengahi perdebatan semua orang.


"Ibu sudah masak makanan kesukaanmu Ki. Kita makan sekarang saja ya". Riana langsung menggandeng tangan Kirei yang tersenyum senang mendengar ibu mertuanya memasak makanan favoritnya. Mereka melupakan tiga lelaki yang melongo melihat Riana tidak sedikitpun menawari mereka.


"Kita makhluk kaga kasat mata kali ya. Kaga diajakin makan kita". Celetuk Tama dijawab anggukan kepala oleh Juan dan sang ayah.


"Waaaah..Kirei jadi tambah laper liat masakan ibu. Pasti ini enak banget". Kirei hampir meneteskan air liurnya melihat ikan bakar dan tumis kangkung kesukaannya diatas meja, ditambah sambal yang terlihat menggoda sebagai pelengkapnya.


"Ayo kita makan". Riana dan Kirei duduk berdampingan Mereka benar-benar lupa memiliki suami yang bibirnya sudah maju 10cm karena sejak tadi diacuhkan.


"Jadi sekarang apa bedanya yang sudah menikah dan belum menikah. Ibu dan mbak Kirei sepertinya lupa punya suami". Ledek Juan berjalan melewati ayah dan kakaknya yang semakin memanyunkan bibirnya.


"Juan mau ikannya mbak". Juan mengangkat piringnya yang masih kosong. Dengan senyumnya, Kirei mengambil piring itu dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang Juan inginkan. Sementara Tama semakin kesal melihat Kirei mengambilkan makanan untuk Juan yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Kamu lupa punya suami?". Tanya Tama membuat Kirei menoleh, dan mendapati wajah masam Tama. Ia tersenyum melihat tingkah Tama yang menurutnya lucu.


"Aku kira kamu masih ngobrol sama ayah". Jawab Kirei santai.


"Emang dasarnya aja kamu lupa punya suami". Cebik Tama membuat Kirei terkekeh.


"Dasar manja. Dulu aja bilang nggak mau sama dokter galak. Sekarang apa-apa manja, apa-apa Kirei". Sindir Riana yang berhasil mengundang tawa Juan.


"Hahahaha. mas--mas. Gayanya aja playboy, tapi manja nya ngelebihin bocah". Timpal Juan tertawa puas membuat Tama mendengus kesal.


"Sudah..lanjutkan makannya. Nggak liat itu, muka mas mu udah kaya kepiting rebus gara-gara malu". Bukannya membela Tama, Akmal justru semakin membuat Tama kesal.

__ADS_1


Makan malam itu terasa begitu hangat. Keluarga yang sudah lama tidak berkumpul akhirnya bisa bersama. Ditambah kini Kirei ada didalamnya, semakin menyempurnakan kebahagiaan mereka.


Kirei pun dapat merasakan kehangatan keluarga disana. Meski jauh dari kedua orang tuanya, namun ia bahagia memiliki keluarga baru yang begitu menyayanginya.


__ADS_2