Imperferct Partner

Imperferct Partner
Harapan


__ADS_3

Kirei sengaja mengambil cuti selama 1minggu. Dirinya pikir Dirga dan Nabilla akan bertunangan 3hari dari sejak kedatangannya. Namun untuk kedua kalinya dirinya merasa dibohongi oleh semua orang hingga kekecewaannya sudah tidak dapat ia bendung lagi.


Bagaimana tidak, dirinya datang jauh dari Jogja,.mengambil cuti panjang untuk menghadiri pesta pertunangan sepupunya yang ternyata sudah terlaksana tepat 1hari sebelum Dirga dan Arka menengoknya ke Jogja.


Kirei benar-benar merasa bodoh karena tidak sedikitpun mencurigai gelagat aneh dari semua orang. Benar-benar menyebalkan!


Tidak ada satupun orang yang bisa membujuknya. Bahkan Ara dan Dev sekalipun tidak mampu membujuknya.


"Yang bener aja, gue dikibulin ama semua orang. Ditipu mentah-mentah buat yang kedua kalinya. Lo bener-bener b*go Ki". Umpat Kirei yang sudah sejak pagi mengurung diri didalam kamar.


Pagi tadi saat sarapan berlangsung dengan personil kumplit, masih beserta Tama pula disana. Kirei mengetahui bahwa sepupu sablengnya sudah bertunangan sejak 2minggu lalu sebelum dirinya datang kekota kelahirannya.


Dev dan Ara mencoba menjelaskan, bahkan semua orang mencoba menjelaskan. Namun kekecewaan Kirei terhadap keluarganya sudah terlalu besar kali ini. Dirinya benar-benar merasa ditipu oleh semua orang.


"Ki...sayang nak. Kita bisa jelasin semua ke kamu nak". Suara lembut Ara tak sedikitpun membuat Kirei beranjak dari posisinya.


Dirinya sungguh kecewa dengan semua anggota keluarganya. Orang-orang yang begitu ia percaya tega menipunya hanya untuk membuatnya bertunangan dengan Tama. Mengapa tidak memintanya secara baik-baik saja? Kenapa harus dengan cara membohonginya? Mungkin kejujuran yang Kirei inginkan.


"Kirei..buka pintunya nak. Ayah mau bicara sama kamu. Ayah akan menjelaskan semuanya. Ayah dan buna mu punya alasan melakukan ini. Percayalah kami melakukannya untuk kebahagiaanmu nak". Dev mengetuk pintu kamar itu pelan. Hatinya sakit melihat mata putri semata wayangnya dipenuhi kekecewaan. Menatap kecewa padanya dan sang istri. Tatapan yang selama ini tidak pernah Kirei tunjukkan pada kedua orang tuanya.


"Maafkan ayah dan buna sayang..kami punya penjelasan untuk ini nak". Suara Ara sudah terdengar parau.


Sejak tadi Tama hanya mendengarkan saja apa yang diucapkan kedua orang tua Kirei. Dia bisa mengerti kekecewaan Kirei pada kedua orang tuanya. Dirinya pun merasa terkejut mendengar kenyataan tentang segala hal mengenai pertunangannya dengan Kirei.


"Bagaimana ini yah". Cairan bening itu akhirnya luruh juga dari mata Ara. Terlalu menyakitkan melihat Kirei kecewa padanya.


Dev hanya bisa memeluk istrinya erat, dirinya sama sakitnya dengan sang istri ketika melihat tatapan kecewa putri tersayangnya.


"Ayah dan buna tunggu saja dibawah. Tama akan mencoba membujuk Kirei". Tama yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.


Dev menepuk pelan pundak lebar Tama, mencoba memberi waktu pada Kirei dan Tama untuk saling bercerita dan membuka diri. Dev berharap Tama bisa membujuk putrinya agar bisa memaafkan dirinya dan Ara.


Tama melihat Dev menuntun Ara yang terlihat lemas karena usahanya membujuk Kirei tak membuahkan hasil sama sekali.


"Ki..buka pintunya. Gue udah sendiri..ayah ama buna udah turun". Tama mengetuk pelan pintu kamar Kirei. Masih belum ada jawaban membuat Tama menghela nafas.


"Buka Ki..gue cape ni bediri. Jangan bikin gue jadi kaya bapak-bapak lagi dihukum istrinya kaga boleh masuk kamar deh". Seru Tama dari depan pintu.


"Berisik. Pergi sono lo". Ketus Kirei dari dalam kamar. Tama tersenyum, setidaknya Kirei menanggapi ucapannya meski ketus.

__ADS_1


"Buka dulu. Ayah sama buna udah turun". Bujuk Tama yang sudah pegal berdiri didepan pintu. Persis seperti suami yang sedang dihukum istri kejamnya.


"Kiiii...." Rengek Tama mengetuk pintu berulang. Mulutnya tak hentinya memanggil nama Kirei.


"Kalo kaga dibuka juga, gue dobrak ni lama-lama pintu kamar elo". Ancam Tama.


"Coba aja, paling badan lo remuk". Balas Kirei dari dalam kamarnya.


"Ya kalo tau gitu bukain pintu napa sih, gue pegel beneran ini Ki bediri disini dari kapan taun". Ucap Tama memelas.


"Kalo pegel sana pergi". Sungut Kirei kesal karena terus mendengar suara Tama.


"Iya ntar gue perginya abis lo bukain pintu". Balas Tama tak ingin kalah. Hening beberapa saat sampai terdengar..


'ceklek'


Suara kunci diputar dari dalam membuat kedua sudut bibir Tama terangkat sempurna. Ia segera bangkit dari posisi jongkoknya dan membuka pintu cepat. Ia tidak ingin membuat Kirei kembali mengunci pintu jika ia tidak segera masuk. Setelahnya ia kembali menutup pintu kamar Kirei.


"Lama banget bukain pintunya. Kaki gue ampe kaku". Keluh Tama menghempaskan tubuhnya diranjang Kirei. Gadis itu melirik Tama yang membaringkan tubuhnya diatas kasur kesayangannya tanpa berniat menegur atau memarahinya. Padahal biasanya dia akan mengamuk jika dua sepupunya membuat kasurnya berantakan.


"Lo mau nyampe kapan ngurung diri disini? Mau nyampe taun depan juga kaga ada bedanya Ki". Tama merubah posisi berbaringnya menjadi miring menghadap Kirei yang duduk ditepian ranjang.


Kirei menoleh, namun tak sedikitpun mengeluarkan suara. Tama menghela nafas panjang melihat bungkamnya Kirei. Sejujurnya ia juga bingung bagaimana cara membujuk gadis seperti Kirei. Karena selama berpacaran dengan banyak gadis, Tama hanya akan memberikan kartu kreditnya dan membiarkan gadis yang sedang merajuk berbelanja sepuas mereka hingga lupa jika mereka sedang marah. Tapi ini Kirei, tidak akan mungkin bisa diluluhkan hanya dengan uang.


"Lo marah karena secara nggak langsung dipaksa tunangan sama gue?". Tanya Tama pelan. Kirei masih diam dan membuang pandangannya ke arah lain, tak ingin menatap wajah Tama.


Kirei sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Dirinya kecewa, namun bukan kecewa karena bertunangan dengan Tama. Dirinya kecewa pada orang-orang yang ia percayai, kecewa dengan cara orang tuanya menyatukan dirinya dan Tama. Kecewa karena ternyata dirinya belum bisa membuat kedua orang tuanya tenang hingga harus melakukan kebohongan-kebohongan hanya untuk membuatnya bertunangan. Ingin Kirei mengungkapkan semuanya. Namun lidahnya kelu hanya untuk menjawab ucapan Tama.


Tama menangkup kedua pipi Kirei. Membuat gadis itu mau tak mau menatap kearahnya. Mata tajam keduanya bersirobok, saling menatap dalam menyelami perasaan masing-masing yang entah mereka sendiri tak mengerti saat ini seperti apa perasaan mereka.


"Kalo emang lo nggak suka dengan pertunangan ini. Gue bakal bilang sama ayah sama buna dan orang tua gue buat batali---" Belum sempat Tama menyelesaikan ucapannya, Kirei sudah meletakkan telapak tangannya dibibir Tama. Kirei tahu kemana arah pembicaraan Tama. Dan dia tak menyukainya, Kirei benci mendengar Tama ingin membatalkan pertunangan mereka.


Tama mengambil tangan Kirei yang menutup mulutnya. Menggenggamnya erat sambil terus menatap dalam mata gadis yang entah sejak kapan mampu membuat jantungnya berdetak tak beraturan jika berdekatan seperti ini.


"Gue nggak tau kenapa lo nggak suka deket laki-laki. Gue nggak tau masa lalu apa yang pernah elo lewatin sampe elo kaya gini. Tapi yang pasti, gue yakin ayah sama buna ngelakuin segala sesuatu buat kebaikan elo. Gue tau caranya salah, tapi semua yang mereka lakuin buat kebaikan elo". Tama mengelus pipi Kirei yang entah sejak kapan basah oleh air mata.


"Gue kecewa sama diri gue sendiri". Lirih Kirei. Tama membawa Kirei kedalam pelukannya. Mencoba memberi ketenangan pada gadis yang saat ini terlihat lemah. Sangat berbeda dengan dokter Kirei yang ia temui pertama kali saat ia mengalami kecelakaan.


"Segitu nggak bisanya gue bikin orang tua gue bahagia, ampe mereka harus susah-susah ngelakuin ini buat gue". Kirei menangis sesenggukan dalam pelukan Tama. Ia menggenggam erat sisi kaos Tama. Untuk pertama kalinya Kirei memperlihatkan sisi rapuhnya pada orang luar selain kepada keluarga dekatnya.

__ADS_1


"Mereka sayang sama elo Ki. Gue yakin itu..siapapun yang liat ayah sama buna pasti tau kalo mereka orang tua terbaik". Tama mengelus punggung bergetar Kirei yang masih menyembunyikan wajahnya didada bidang pria tampan itu.


"Gue akan lepasin elo kalo emang lo keberatan sama hubungan terpaksa kita ini Ki. Gue bakal ngomong sendiri tanpa ngelibatin elo. Asal lo seneng dan nggak kaya gini". Tama semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kirei. Sementara Kirei semakin terisak mendengar ucapan Tama. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Tama. Mungkinkah Tama terpaksa bertunangan dengannya?


Tama melonggarkan pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari Kirei, menghapus air mata yang lolos dari mata indah yang sudah berhasil membuatnya selalu terngiang wajah cantik itu.


"Makan ya..lo bisa sakit". Tama mengulas senyum tulus pada Kirei yang akhirnya menurut pada Tama. Apa yang Tama katakan benar, orang tuanya melakukan ini untuk kebahagiaannya. Tidak ada salahnya dirinya membahagiakan orang tuanya dengan mengikuti kemauan mereka. Tama tidak seburuk pikirannya selama ini.


Tama bangkit, mengulurkan tangannya dan disambut oleh Kirei dengan sebuah senyum tipis.


Melihat Tama menggandeng Kirei keluar, Dev dan Ara bangkit. Sementara anggota keluarga yang lain memilih meninggalkan Dev dan keluarganya untuk menyelesaikan permasalahan yang cukup rumit ini.


Ara mendekat, sejurus kemudian ia memeluk putrinya erat. Terlalu sakit diacuhkan oleh Kirei seperti pagi tadi. Tama melepaskan genggaman tangannya, mundur satu langkah untuk memberi ruang pada Kirei dan kedua orang tuanya.


Dev datang bergabung dan memeluk Kirei dan Ara dengan erat. Kedua wanita itu adalah kekuatannya. Namun jika mereka marah, itulah kelemahan terbesar Dev. Dev tidak bisa melihat kedua wanita tercintanya membenci dan marah padanya. Ia tak akan sanggup.


"Maafkan buna...maaf". Tangis Ara pecah saat memeluk putrinya. Rasa bersalahnya mencuat melihat wajah sembab putrinya, dapat ia pastikan putri kesayangannya itu menangis cukup lama.


"Ayah yang harusnya minta maaf..harusnya ayah bicarakan dulu semua padamu nak. Ayah terlalu egois hingga tidak mempertimbangkan perasaanmu". Dev memeluk erat Kirei dan Ara.


Dalam pelukan ibu dan ayahnya, Kirei tersenyum bahagia. Ia bahagia dilahirkan oleh Ara, bahagia menjadi putri kesayangan ayahnya. Tama benar, kedua orang tuanya hanya menginginkan kebahagiaan untuk dirinya. Kirei menoleh, menatap Tama yang juga tengah menatapnya dengan senyum tulus yang baru pertama kali Kirei lihat. Sudut bibirnya terangkat, membalas senyum Tama sama tulusnya. Hari ini Tama menunjukkan sisi lain dari jiwa cassanovanya, dia lelaki yang sangat dewasa disaat diperlukan.


"Makasih". Bibir Kirei bergerak tanpa mengeluarkan suara. Sementara Tama hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ki juga minta maaf..Ki belum bisa bahagiain ayah sama buna". Kirei membalas pelukan kedua orang tuanya tak kalah erat. Mereka seperti teletubies yang lama tak bertemu.


"Ki laper bun..kalo dipeluk terus kapan aku makannya". Ucap Kirei membuat pelukan kedua orang tuanya terlepas.


"Ahh..buna lupa. Ayo kita makan..Tama juga belum sempat makan". Ucap Ara melirik Tama yang masih tersenyum.


Kirei melepaskan diri dari ibu dan ayahnya, berjalan perlahan mendekati Tama dan menggandeng tangan Tama yang terlihat terkejut dengan perlakuan Kirei.


"Kita makan dulu..lo juga pasti laper nungguin gue keluar kamar. Gue takut lo pingsan". Meskipun dengan nada meledek, namun Tama yakin ada ketulusan dari setiap kata yang Kirei ucapkan.


Sementara Ara dan Dev tersenyum senang melihat Kirei yang terlihat peduli pada Tama. Mereka merasa tidak salah memilih Tama sebagai calon suami Kirei.


Ara dan Dev memiliki alasan kuat mempercepat pertunangan dan rencana pernikahan Kirei dan Tama. Kedua orang tua itu sudah mengetahui bahwa Kirei sudah bertemu kembali dengan masa lalu yang membuatnya pernah membenci dan menutup hatinya untuk laki-laki. Mereka tidak ingin Kirei kembali bersedih karena lelaki yang sama. Apalagi mereka mendengar dari Tania bahwa Daniel sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah dengan salah satu teman baik putrinya itu.


"Ayah sama buna mau disana terus?". Pertanyaan Kirei membawa Ara dan Dev pada kesadarannya. Mereka tersenyum dan berjalan mendekati putrinya dan juga Tama yang sudah duduk manis dimeja makan.

__ADS_1


Dengan cekatan Kirei mengambilkan nasi dan lauk kedalam piring Tama serta menuangkan segelas air putih untuk Tama yang masih seperti orang linglung akibat perlakuan manis Kirei.


Ara dan Dev kembali menatap keduanya, berharap suatu saat keduanya akan mampu menumbuhkan cinta hingga berakhir dengan kehidupan rumah tangga yang bahagia.


__ADS_2