
"Muka kenapa mas? Lesu gitu". Tanya Juan yang melihat wajah Tama pucat. Dibelakang Tama ada Kirei yang berjalan santai dengan wajah segar. Sangat berbanding terbalik dengan Tama.
" Kaya elo yang hamil mas". Cibir Juan karena tak mendapat tanggapan dari sang kakak.
Ketiganya berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Semalam Kirei dan Tama memang menginap dirumah Riana dan Akmal.
"Kamu kenapa mas? Kok pucet?". Tanya Akmal yang melihat wajah Tama pucat.
Tama hanya menggelengkan kepalanya dengan lemas. Pagi ini ia kembali muntah parah seperti pagi-pagi sebelumnya yang sudah ia lalui selama hampir 1bulan ini.
"Mas mau makan apa? Aku ambilin ya". Kirei mengambil piring Tama dan mengisinya dengan nasi goreng.
" Baunya enak banget. Ibu yang masak ya?". Tanya Kirei senang. Sementara Tama, lelaki itu sudah menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi yang dekat dengan dapur.
"Ish..pasti muntah lagi". Dengan perlahan Kirei beranjak mengikuti sang suami yang tengah berjuang mengluarkan isi perutnya.
" Lo kenapa sih mas?". Tanya Juan sedikit khawatir.
"Gapapa Ju. Biasa kalo istrinya lagi hamil". Bukan Kirei, namun Riana yang menjawab membuat Akmal dan Juan menoleh padanya dengan alis terangkat.
" Kan yang hamil Kirei bu. Kok anakmu yang lemes". Tanya Akmal bingung.
"Hahaha..lo mabok gini tiap pagi mas?". Tanya Juan meledek.
" Diem lu. Bawel". Sengit Tama
"Kan enaknya bareng, mas. Kirei kan udah bawa perut besarnya yang didalemnya ada anak-anak kamu. Mualnya bagiin buat kamu lah". Ledek Riana, membuat Juan dan sang ayah tertawa.
"Sayang..mau deket-deket kamu". Rengek Tama membuat Juan memutar bola matanya malas.
" Lebay". Cibir Juan membuat Tama melotot.
"Makan ya..mas harus tetep makan". Bujuk Kirei mengelus kepala Tama yang bersandar pada bahunya
" Mual sayang.." Sahut Tama cepat sambil menggeleng.
"Aku suapin kaya biasanya ya". Kirei tetap memaksa Tama untuk makan. Toh sudah hampir 1bulan ini kegiatan itu terus berlangsung. Tama langsung mengangguk semangat dan menerima suapan demi suapan dari sang istri.
Selama 1bulan ini Tama benar-benar tersiksa jika berjauhan dengan Kirei. Pasalnya jika ia jauh dari sang istri, maka ia akan terus menerus mual. Oleh karenanya, hampur selama 1bulan itu juga Kirei selalu ikut dengan Tama saat bekerja.
Usia kehamilan yang sudah menginjak 7bulan tak memberi pengaruh pada Tama. Sedangkan yang hamil, ia hanya merasa mual pada bulan pertama kehamilannya. Selanjutnya dirinya tidak merasakan apapun selain pada perutnya yang semakin membesar.
" Bagaimana kondisi cucu-cucu ibu, nduk?". Tanya Riana yang tengah duduk disamping Kirei. Jangan tanyakan dimana Tama, karena sudah pasti calon ayah itu menempel pada Kirei.
"Alhamdulillah mereka baik bu..sangat baik". Kirei mengelus lembut perutnya, diikuti Riana yang juga melakukan hal yang sama.
" Alhamdulillah..mereka anak-anak baik. Bapaknya aja yang kaga baik. Nempel mulu kamu ini mas. Sana gih, ibu mau ngobrol sama mantu ibu". Usir Riana yang tak didengar oleh Tama.
"Aku kalo jauh-jauh dari mommy nya baby mual terus bu". Jawab Tama yang tak sedikitpun bergeser dari samping Kirei. Lelaki itu masih memeluk erat ibu dari anak-anaknya yang masih ada didalam kandungan.
" Heleh..dasar manja. Ayahmu dulu juga seperti kamu, tapi nggak manja kaya kamu". Cibir Riana membuat Kirei tersenyum lucu melihat perdebatan ibu mertua dan suaminya.
"Saga sama Gery kok nggak keliatan mas?". Tanya Kirei membuat Tama was-was. Pasalnya tiap kali istrinya itu menanyakan kedua sahabatnya itu berarti ia akan meminta sesuatu yang membuat duo sableng sahabat nya keder.
" Ehmm..mungkin banyak kerjaan sayang". Jawab Tama ketar-ketir. Pasalnya si sableng Saga baru saja menghubunginya jika keduanya akan sampai dikediaman orang tua Tama sebentar lagi.
Tama segera menggeser tubuhnya dan mengambil ponselnya. Memberi pesan pada dua sahabatnya agar menunda kedatangan nya jika tak ingin berakhir dengan keinginan ajaib istrinya. Namun nihil, pesannya bahkan tak dibaca oleh salah satu sahabatnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, suara salam dari Saga membuat binar kebahagiaan diwajah Kirei jelas terlihat. Riana sudah terkekeh geli melihatnya. Ia ingin tahu hal aneh apalagi yang diinginkan menantu kesayangannya itu dari dua sahabat Tama yang memang selalu mendapat keistimewaan dari ngidamnya Kirei.
Keduanya berhenti didepan pintu saat wajah Kirei yang tengah tersenyum menatap mereka dengan antusias.
"Kayanya kita salah waktu dah Ger. Kita balik aja yuk". Saga menarik lengan Gery. Namun semua terlambat, Kirei sudah lebih dulu memanggil keduanya dengan merdunya.
" Uncle-uncle yang baik hati". Keduanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Sudah pasti ibu hamil yang sati itu menginginkan sesuatu jika sudah memakai embel-embel uncle yang baik.
"Mau apalagi mak bayi?". Tanya Gery to the point.
" Pengen apa lagi sekarang? Mau belimbing wuluh manis? Mau dibikinin sambel yang cabenya banyak tapi nggak boleh pedes? Apa mau ditangkepin soang yang lagi ngeremin telor?". Tanya Saga beruntun dengan menyebutkan beberapa ngidam Kirei yang membuat mereka pusing sejuta keliling.
Kirei menggelengkan kepalanya. Menatap kesal pada dua orang yang menyindir dirinya dan segala permintaan anehnya.
"Aku cuma minta dibikinin sambel rujak ama uncle Gery". Kirei menatap Gery yang masih diam. Pun dengan Saga. Keduanya yakin tak hanya itu permintaan istri dari sahabatnya itu.
" Terus??" Tanya Tama yang sudah hafal dengan keinginan unik istrinya.
"Terus minta uncle Saga ambilin mangga yang ada dikebun punya ibu". Kirei menunjuk sebuah pohon mangga besar dihalaman rumah mertuanya. Buahnya sangat banyak namun pohonnya tinggi.
" Gue yang bikin sambel, uncle Geger yang manjat ya". Tawar Saga membuat Gery langsung menolaknya.
"Kaga ada kaya gitu. Gue bikin sambelnya. Lo yang manjat". Final Gery dan segera berlalu ke dapur demi memenuhi keinginan Kirei.
" Cabenya mau berapa?". Tanya Gery yang sudah memegang alat untuk membuat sambal.
"Berapa aja..gimana uncle Gery aja". Jawab Kirei membuat Gery bernafas lega.
" Kenapa gue yang kebagian susahnya sih Ki. Lo ada dendam apa ama gue" . Gerutu Saga, namun tak urung lelaki itu menuruti keinginan Kirei dan mulai memanjat pohon.
"Mau yang itu.." Teriak Kirei dari bawah memberi arahan pada Saga yang tengah memegang buah mangga.
"Bukan..sebelahnya". Balas Kirei berteriak.
Setelah perjuangan yang tak mudah, Saga turun dengan dibantu tangga dengan membawa 5buah mangga dengan susah payah. Karena sesuai permintaan sang ibu hamil, mangga nya hanya boleh dipetik, dipegang dan dikupas oleh Saga.
Sementara didalam dapur, Juan tengah tertawa melihat Gery yang berkeringat karena harus berkutat dengan benda yang sama sekali tak pernah menjadi keahliannya.
" Semangat kak. Demi calon ponakan". Ucap Juan sambil tertawa
"Semangat-semangat dengkulmu, Ju. Yang unclenya beneran kan elo. Napa gue ama Saga yang diporak porandain kaya gini. Ada aja ngidamnya kakak ipar lo. Bisa sableng gue lama-lama". Gery terus mengulek sambal yang sebentar lagi akan jadi.
" Sayang kamu tunggu diruang makan aja ya. Biar disiapij Gery ama Saga ". Tama menuntun Kirei menuju meja makan. Meski awalnya menolak dan ingin melihat dari dekat Saga yang mengupas mangga, namun akhirnya Kirei mengalah dan duduk sambil memperhatikan dari jauh. Toh masih keliatan, pikirnya.
" Jangan lama-lama ya mas". Ucap Kirei sebelum Tama beranjak mendekati dua sableng sahabat nya.
"Sory ya Ga, Ger. Gue juga kaga tau napa bini gue hobi banget nyiksa lo berdua ama ngidam anehnya". Ucap Tama tak enak.
" Nyantai aja. Emang lo berdua hobi bikin kita keder. Ya nggak Ger?". Ucap Saga yang dijawab anggukan kepala oleh Gery.
"Jangan dicicipin. Aku yang harus makan duluan". Teriak Kirei ketika melihat Saga dan Gery hendak mencicipi sambal yang sudah Gery buat.
" Takut nggak enak Ki". Jawab Gery jujur. Karena memang dirinya tak pernah sekalipun membuat bumbu rujak.seperti saat ini.
"Nggak mau..bawa sini". Kirei sudah melambaikan tangannya, tak sabar menikmati rujak buatan duo sableng.
" Gue nggak tanggung resiko kalo.kaga enak. Gue bukan kang rujak". Ucap Gery sambil meletakkan bumbu rujaknya didepan Kirei yang nampak antusias menerimanya.
__ADS_1
Semua orang yang ada disana hanya menjadi penonton, melihat Kirei yang dengan lahabnya memakan buah mangga yang dicocol sambal.
"Nyicip lah. Kaya yang enak". Celetuk Juan diikuti yang lain, termasuk Riana dan Akmal yang juga penasaran dengan sambal buatan Gery.
Dan baru satu suapan, mereka semua melepeh mangga beserta sambal yang rasanya entah seperti apa. Mereka menatap heran pada Kirei yang masih terlihat menikmatinya.
" Ini lu kasih apaan aja sih Ger. Rasanya nano-nano kaga jelas gini ". Gerutu Saga yang langsung meminum air putih.
" Iyah Ger..tante mau muntah makannya. Aneh rasanya". Riana pun sama, entah rasa apa yang baru saja dirasakan oleh lidahnya.
Semua orang bergidik melihat Kirei yang masih lahap menyantap rujak yang rasanya terlewat aneh itu.
"Yang penting bini gue seneng lah". Ucap Tama kemudian
Semua orang tersenyum menatap Kirei yang masih setia dengan rujak hasil karya Gery. Setidaknya sang ibu hamil bahagia dengan apa yang Gery dan Saga berikan.
#####
" Oke..kita liat dulu ya ponakan kembar gue lagi ngapain". Seperti biasa, jadwal pemeriksaan Kirei selalu dengan Tania. Tama tak pernah melewatkan satu kalipun pemeriksaan istrinya. Ia selalu setia mendampinginya.
"Banyakin jalan ya Ki. Perkiraan lahirnya sih seminggu lagi. Tapi bisa maju bisa mundur. Jadi lo harus banyak gerak. Banyakin olahraga malamnya juga". Tania menutup penuturannya dengan tergelak.
" Itu sih kudu. Tiap malem juga *****-gre---" Belum sempat Kirei menyelesaikan ucapannya. Tama sudah membungkam bibir mungil yang sejak hamil seperti tak ada filternya itu. Sering ceplas ceplos hingga kadang membuatnya kalang kabut.
"Hahahaha..nggak apa-apa pak Tama. Rem nya emang sedikit blong sejak hamil ya". Seloroh Tania membuat Tama tersenyum kikuk.
Hamil besar tak menghalangi Kirei dan Tama untuk melakukan hubungan suami istri, justru dengan alasan agar mudah saat melahirkan, daddy Tama sering menengok anak kembar yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki itu.
" Sudah saya resepkan vitamin ya pak. Silahkan ditebus diapotek". Tania memberikan selembar resep yang harus Tama ambil ke apotek, sama seperti bulan-bulan sebelumnya.
Seperti biasa, Kirei akan menunggu Tama di lobby rumah sakit saat suaminya itu mengambil kendaraannya.
Sementara tak jauh dari Kirei berdiri, ada sebuah mobil yang sejak tadi terus mengawasi gerakan Kirei. Hingga saat Kirei berjalan hendak melewati jalan didepannya, mobil sedan dengan warna hitam itu langsung melaju kencang mengarah pada ibu hamil yang diperkirakan seminggu lagi akan melahirkan itu.
"AWAAAASSSS!!!". Teriakan dari orang-orang disekelilingnya membuat Kirei menoleh. Matanya melebar, secepat kilat ia menghindar. Namun apa daya, laju mobil itu tak sebanding dengan kecepatan seorang wanita hamil tua.
Tubuh Kirei terpental, diantara dua kakinya mengalir darah segar. Pun dengan kepalanya yang mengeluarkan darah segar. Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya, Kirei memeluk perutnya dengan berurai air mata.
" Maafkan mommy sayang". Ucapnya lirih sebelum dunia benar-benar gelap dan ia kehilangan kesadarannya.
Nyawa Tama seolah tercabut paksa melihat kejadian mengerikan didepannya. Istri yang begitu ia cintai tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.
" KIREII!!!!". Teriak Tama dan secepat kilat berlari menghampiri istrinya. Ia segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya kembali masuk kedalam rumah sakit.
"Cepat tolong istri saya!!". Teriak Tama pada petugas di IGD. Dokter dan perawat bergerak cepat memeriksa kondisi Kirei dan bayinya.
" Panggil dokter Tania sekarang. Kita harus mengoperasi pasien secepatnya". Teriak seorang dokter yang membuat seorang perawat berlari cepat mencari Tania.
"Mohon bapak tunggu diluar. Kami akan melakukan yang terbaik untuk dokter Kirei". Meskipun kalut, Tama tetap mengikuti perintah dokter dan perawat demi keselamatan istrinya.
" Kamu harus baik-baik saja Ki. Harus..kamu dan anak-anak kita akan baik-baik saja". Monolog Tama pada dirinya sendiri, seolah berusaha memberi tubuhnya kekuatan dan keyakinan agar tak ikut roboh juga.
Melihat Tania berlari membuat Tama menghadangnya sesaat.
"Saya mohon selamatkan istri dan anak-anak saya. Saya mohon". Tama bahkan menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Tania lah harapan terakhirnya untuk keselamatan istri dan anak-anak nya.
Tania terhenyak melihat wajah berderai air mata itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh dari seorang Wiratama. Ia mengangkat tangannya dan menepuk pelan pundak suami dari sahabatnya itu.
__ADS_1
" Kirei juga berharga untuk saya pak Tama. Apapun akan saya lakukan untuk dirinya. Bapak bantu saya dengan berdoa". Ucap Tania mantap membuat Tama mengangguk dan menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada Tania.
Tama kembali duduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan air matanya yang trrus mengalir tanpa bisa dihentikan. Ia terus merapalkan doa untuk istri dan anak-anak nya didalam sana. Berdoa untuk wanita yang ia cintai, wanita yang tengah berjuang antara hidup dan mati didalam sana.