Imperferct Partner

Imperferct Partner
Penguntit


__ADS_3

Kirei sudah tampil cantik dengan setelan casualnya. Celana denim hitam dengan kemeja putih bergaris abu yang ia masukkan. Ditambah kacamata hitamnya membuat penampilannya semakin terlihat keren dan menarik. Siapapun yang melihat tidak akan percaya jika usianya sudah genap 24 tahun ditahun ini.


Saat ini Kirei sedang duduk di stasiun, menunggu jadwal pemberangkatan kereta menuju kota kelahirannya untuk menghadiri pesta pertunangan Dirga, sepupunya. Kirei memang lebih memilih moda transportasi itu dibandingkan naik pesawat yang sebenarnya menghemat waktu. Alasannya, dirinya tidak ingin terlalu cepat sampai. Karena jika dirinya sampai sudah pasti mami, mamah dan buna nya akan menanyakan hal-hal yang selalu ia hindari. Belum lagi sang oma yang akan mencecarnya dengan pertanyaan 'dimana pacarmu? Atau dimana calon suamimu'. Kirei benar-benar enggan menjawabnya.


"Calon makmum kaga ada akhlak emang lo tu ya. Calon laki main tinggal-tinggal aja. Kalo digondol orang mau nyari dimana yang gantengnya kaga ketulungan kaya gue gini?". Kirei menoleh, matanya menatap tak percaya pada lelaki yang sudah berdiri didepannya dengan berkacak pinggang.


"Kedip! Gue tau gantengnya gue emang kelewatan. Kaga usah pake acara ngiler". Seru Tama membuat beberapa orang melihat ke arah mereka berdua.


"Cucuk mu iku lho mas. Berisik banget!". Sengit Kirei menggunakan logat jawa. Ia kemudian menarik Tama agar duduk disebelahnya, karena saat ini banyak orang yang memperhatikan mereka.


"Lo ngapain disini?". Tanya Kirei bingung.


"Lo kebanyakan jahit orang sih, makanya lo pikun".


"Apa urusan jahit luka orang ama pikun junedi?!". Kirei benar-benar selalu dibuat kesal jika berdekatan dengan Tama.


"Ya ora ono..pengen aja ngomong gitu". Sahut Tama santai membuat Kirei benar-benar pusing memikirkan Tama.


"Dasar wong sableng". Ucap Kirei menggelengkan kepala.


"Tunggu. Lo dari mana bisa tau kalo gue pergi hari ini pake kereta?". Tanya Kirei menyelidik. Pasalnya tidak ada yang tahu kepergiannya selain...


"Tama gitu..apa sih yang nggak bisa". Tama membusungkan d***nya bangga.


"Halaaah..sok-sokan lo". Kirei menoyor kepala Tama.


"Eh..nggak sopan ya ama calon suami". Tama melotot namun tak dihiraukan oleh Kirei.


Beberapa saat kemudian terdengar pengumuman jika kereta yang akan mereka naiki siap diberangkatkan.


Kirei bangkit, menarik kopernya yang tidak terlalu dekat menuju gerbong. Kirei melirik Tama yang masih mengikutinya. Namun Kirei memilih diam daripada harus bertanya dan berakhir berdebat dengan si sableng.


Kirei mencari nomor tempat duduknya, saat hendak mengangkat kopernya tiba-tiba sebuah tangan mengambil alih koper dari tangan Kirei.


"Awas..biar gue yang simpen". Ucap Tama membuat Kirei menggeser tubuhnya. Tama menyimpan koper milik Kirei dan miliknya bersebelahan.


"Nah lo ngapain duduk disini?". Tanya Kirei ketika melihat Tama duduk disebelahnya. Tama mengeluarkan tiketnya dan menunjukkannya pada Kirei.


Mata Kirei menatap tak percaya dengan apa yang Tama tunjukkan. Bagaimana mungkin bisa kebetulan seperti ini.


"Gue bisa lakuin semuanya tanpa lo tau Ki". Tama mengedipkan sebelah matanya membuat Kirei mengerjap beberapa kali. Ah s*al..jika terus begini, Kirei yakin dirinya akan terjerat dengan pesona Tama. Tama menyunggingkan senyumnya melihat Kirei membuang muka tak mau menatap wajahnya.


Perjalanan panjang mereka.baru saja dimulai, Kirei memainkan ponselnya begitupun dengan Tama. Beberapa kali Tama melirik Kirei yang tampak asyik bermain game diponselnya itu.


"Kaga usah diliatin mulu. Gue emang cantik". Merasa sejak tadi diperhatikan, Kirei ganti menatap Tama dengan senyum mengejek.


"Iya sih..emang lo cantik. Banget malah..sayang aja". Ucap Tama menggantung membuat Kirei penasaran.


"Sayang aja kenapa?". Tanya Kirei cepat.

__ADS_1


"Sayang aja kurang waras..hahahaha". Tama terbahak melihat Kirei melotot dengan mulut terbuka. Kebahagiaan tersendiri bagi Tama mengganggu Kirei.


Keduanya terus saling mengejek satu sama lain sampai mereka akhirnya terlelap dengan posisi kepala Kirei bersandar dibahu Tama. Bahkan sebelum Tama tertidur, lelaki itu merelakan jaketnya untuk menutup tubuh Kirei yang bajunya sedikit menerawang. Kini keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih, bahkan mungkin ada yang mengira mereka sudah menikah.


Kirei dan Tama tidak menyadari jika sejak mereka memasuki gerbong kereta, sudah ada sepasang mata yang mengawasi mereka dengan mata tajamnya. Mata itu tidak pernah lepas menatap interaksi Kirei dan Tama. Beruntungnya keduanya tidak membahas hal yang menyangkut hubungan palsu mereka.


"Aku tau kamu hanya berpura-pura mencintai kak Tama, Ki. Dan akan aku pastikan kamu menjadi milikku lagi". Desis lelaki bermasker yang tak lain adalah Daniel.


Daniel benar-benar terobsesi mendapatkan Kirei, dirinya sudah seperti penguntit yang mengikuti kemanapun Kirei pergi. Benar-benar gila.


######


Setelah hampir 10jam keduanya duduk, akhirnya keduanya bisa meregangkan ototnya yang terasa kaku.


"Eh..kemana. Lo main tarik-tarik aja".


"Itu mobil gue udah ada didepan. Buna pesen kalo gue musti anter lo nyampe rumah dengan selamat. Atau kalo engga, gue kaga boleh kawin ama lo". Tama menjawab sambil terus berjalan menarik tangan Kirei.


Meskipun dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan, namun kakinya tetap mengikuti langkah Tama yang berjalan keluar dari stasiun.


"Selamat pagi den Tama, non Kirei". Spaa seorang pria paruh baya yang Kirei perkirakan adalah supir Tama.


"Selamat pagi mang Asep". Balas Tama tak kalah ramah.


"Mari saya bantu non". Orang yang Tama panggil mang Asep mengambil alih koper dari tangan Kirei dan menyimpannya ke bagasi.


"Masuk". Kirei menoleh, mendapati Tama sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Calon suami aku co cweet banget siiiih. Maakasih". Ucap Kirei dengan nada manja kemudian mencubit pipi Tama dengan keras hingga membuat Tama mengaduh kesakitan.


Tama mendengus kesal, mengelus pipinya yang terasa panas akibat cubitan Kirei. Berkali-kali Tama mengumpati Kirei dalam hatinya. Bagaimana bisa ibu dan ayahnya begitu membanggakan Kirei, yang katanya gadis lembut, gadis yang sangat sempurna. Kelembutan dari sebelah mananya yang dimaksud kedua orang tuanya itu.


Tama masuk kedalam mobil, duduk disebelah Kirei yang masih tersenyum menatap Tama yang terlihat kesal karena ulahnya. Saling mengganggu dan tidak membiarkan salah satu diantaranya tenang, bagaimana bisa orang seperti mereka dinikahkan? Akan seperti apa rumah tangganya jika setiap hari mereka hanya akan berdebat dan saling menjahili.


Mobil melaju, membelah jalanan yang belum terlalu padat karena masih pagi. Belum banyak orang yang pergi bekerja dan ke sekolah. Memudahkan dan mempercepat mereka sampai dirumah kedua orang tua Kirei.


Terlihat binar kebahagiaan dimata gadis cantik yang tengah duduk disebelah Tama. Kirei membuka pintu mobil dan segera berlari keluar, kerinduannya pada ibu dan ayahnya sudah sangat besar. Sudah beberapa bulan dirinya tidak pulang karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


"ASSALAMU'ALAIKUM..BUNAAAAAA". Teriak Kirei dari depan pintu. Inginnya dirinya langsung masuk, namun saat memutar knop pintu, ternyata pintu terkunci. Sehingga Kirei berteriak mengucap salam dan memanggil sang ibu.


Tama yang melihat dan mendengar teriakan Kirei hanya menggeleng, tidak percaya jika gadis yang biasanya galak dan judes itu bisa seperti sekarang.


"Lagi pada pergi ke taman komplek. Bentar lagi juga balik". Tama mendaratkan bok*ngnya dibangku yang ada diteras rumah Ara dan Dev. Lelaki itu seperti sudah terbiasa berada dirumah itu.


"Dari mana elo tau? Kenapa gue nggak tau??". Tanya Kirei dengan tatapan curiga.


"Yang anaknya buna kan gue sekarang, bukan elo". Tama menjulurkan lidahnya membuat Kirei kesal dan mengerucutkan bibirnya.


"Jangan dimonyongin, ntar gue cium lo nangis lagi". Ucap Tama mengalihkan pandangannya dari bibir Kirei. Berlama-lama menatap bibir tipis itu bisa membuatnya khilaf.

__ADS_1


"Maunya elo itu mah". Sungut Kirei ikut duduk disebelah Tama.


Tidak lama, Kirei melihat ayah dan ibunya yang sedang menggandeng oma dan opanya berjalan memasuki gerbang rumah, diikuti oleh dua asisten rumah tangganya yang sudah terlihat tua.


"Bunaaaaaa". Teriak Kirei bangkit dari kursi dan berlari menghambur kedalam pelukan Ara.


Namun belum sempat gadis itu memeluk Ara, telinganya sudah lebih dulu ditarik oleh Ara yang kesal karena putri satu-satunya itu sangat jarang pulang kerumah.


"A..a.a..aaw, sakit buna". Rintih Kirei memegang tangan Ara yang tengah memelintir telinganya.


"Anak nakal. Masih ingat jalan pulang kamu rupanya? Buna kira kamu lupa jika memiliki orang tua". Omel Ara melepas tangannya dari telinga Kirei.


"Maafin Ki, buna..Ki terlalu banyak pekerjaan". Kirei memeluk Ara dan Oma Anika bersamaan.


"Kirei kangeeeen banget sama oma. Oam makin cantik". Kirei mengecup sayang pipi nenek tercintanya.


Kemudian Kirei beralih pada lelaki tampan,cinta pertamanya didunia ini. Lelaki yang tidak pernah menyakiti dan membuatnya menangis.


"Ayaaaaah". Kirei menghambur kedalam pelukan hangat sang ayah. Menumpahkan segala kerinduan yang begitu lama ia pendam.


Tama dapat melihat sisi lain dari seorang Kirei yang ia kenal begitu tangguh. Ternyata gadis itu akan menjadi gadis manis yang manja jika berada didekat keluarganya.


Tama mendekat, mencium punggung tangan para orang tua satu persatu dengan takzim. Membuat Kirei semakin bingung dengan kedekatan Tama dan keluarganya. Bagaimana bisa keluarganya begitu ramah dan menyambut baik Tama. Ini adalah kali pertama Tama datang kerumah orang tuanya.


Dev memeluk bahu Tama, tinggi keduanya hampir sama. Sebelah tangan Dev memeluk tubuh putrinya, sementara sebelahnya berada dibahu Tama. Dev mengajak semua orang masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri dan sarapan bersama.


Sementara diseberang jalan, Daniel yang seja tadi mengikuti Kirei mencengkeram dan memukul stir mobilnya berkali-kali. Melihat Tama disambut baik oleh keluarga Kirei membuat Daniel sangat murka. Ia tidak ingin Kirei benar-benar menjadi milik Tama. Baginya, Kirei hanya miliknya. Daniel melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman gadis yang masih sangat ia cintai dengan perasaan hancur. Ia bersumpah akan melakukan apapun untuk mendapatkan Kirei kembali.


________


"Makan yang banyak Tama..kamu terlihat kelelahan". Ara menambahkan lauk kedalam piring Tama yang masih terdapat bamyak lauk. Bibir Kirei mengerucut, kenapa ibunya lebih perhatian pada Tama? Menyebalkan!


"Bunaaa...Ki mau ayamnya". Kirei menyodirkan piringnya didepan Ara. Namun jawaban Ara benar-benar membuat Kirei kesal.


"Ambil sendiri Ki..bukankah ada didelanmu?". Jawab Ara kemudian melanjutkan makannya.


Kirei mencebik kesal, sedangkan Tama tersenyum melihat wajah Kirei kesal. Tama mengambil sepotong ayam lalu menaruhnya diatas piring Kirei.


Kirei menoleh dan mendapati Tama tengah tersenyum sangat manis padanya. Dengan perasaan kesal, Kirei memakan nasi dan lauk yang ada dipiringnya dengan cepat.


"Hati-hati nak". Peringat Dev ketika melihat Kirei makan dengan cepat. Baru saja Dev selesai bicara, Kirei sudah tersedak.


Tama segera menyodorkan air putih miliknya pada Kirei yang terlihat kepayahan. Ia juga mengelus punggung Kirei untuj membantu meredakan batuknya. Ara dan Dev tersenyum melihat perhatian Tama pada Kirei. Mereka harap apa yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk Kirei, putrinya.


"Kamu ini perempuan kalau makan suka grasa grusu. Nggak malu dilihat calon suami". Perkataan Ara sukses membuat Kirei semakin terbatuk. Apa maksud ibunya dengan menyebut Tama calon suaminya? Apakah ibu dan ayahnya benar-benar sudah bertemu dengan orang tua Tama? Kirei berperang dengan pikirannya.


"Kirei udah selesai. Abis ini Kirei mau ngomong sama ayah sama buna". Kirei bangkit, meninggalkan meja makan dan berjalan ke taman yang ada dibelakang rumah. Tempat favoritnya selama ini.


Ia termenung, memikirkan setiap ucapan Ara. Apakah dirinya benar-benar akan menikah dengan Tama?? Apakah dirinya sudah yakin dengan keputusan ini? Apakah tidak ada lagi yang akan tersakiti jika dirinya menikah? Apakah adil bagi Tama jika dia menikahi Kirei namun Kirei tidak mencintainya? Dan apakah dirinya akan bisa melupakan pahit masa lalunya jika dirinya menikahi Tama? Banyam pertanyaan yang ada dalam hati Kirei. Ternyata memantapkan hatinya untuk melupakan masa lalu dan melangkah maju tidak semudah yang ia bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2