Imperferct Partner

Imperferct Partner
ternyata aku, mencintaimu


__ADS_3

Kirei melepaskan paksa pelukan Tama. Mendorong pelan da da bidang sang suami hingga memberikan jarak diantara mereka. Ada sesuatu yang hilang saat pelukan hangat itu terlepas. Apalagi Kirei merasakan suhu tubuh sang suami lebih tinggi.


"Ki..." Lirih Tama. Ucapan lembut Tama selalu bisa membuat semua pendiriannya roboh. Tapi tidak kali ini.


"Maafin mas Ki.."


"Mas baru sadar kalo mas nggak bisa jauh dari kamu". Tama berusaha meraih tangan Kirei yang langsung menjauhkan tangannya.


" Aku tau kamu masih sangat mencintai wanita itu. Aku akan melepaskanmu". Bibirnya mungkin bisa berucap dengan tegas, namun percayalah jika hatinya kembali remuk seperti kejadian bertahun-tahun lalu, bahkan lebih.


"Nggak..mas nggak mau sayang". Tama menggeleng kuat. Jauh dari Kirei saja sudah menyiksa jiwa dan raganya. Apalagi jika ditinggalkan Kirei pergi selamanya. Mungkin dirinya bisa gila.


" Mas bisa mati Ki. Mas mohon..hukum mas apapun asal jangan pernah minta pisah. Kamu boleh pukul mas, mau ngehajar mas juga gapapa. Asal jangan pernah ngomong pisah". Tama memaksa menggenggam tangan Kirei meski Kirei terus melawan.


"Kamu akan bahagia bersama masa lalu yang begitu kamu cintai itu". Kirei memaksakan senyum walau terluka.


Tama terus menggeleng. Sejak pagi kepalanya sudah seperti akan meledak. Tubuhnya pun tak baik-baik saja. Semenjak ditinggalkan Kirei, Tama tidak pernah makan dengan teratur dan sering mengkonsumsi cafein berlebih hingga keadaan lambungnya tak baik-baik saja.


" Lebih baik kamu pulang. Aku akan segera mengurus segalanya". Kirei berbalik, berjalan dengan susah payah menahan air matanya yang sejak tadi terus mendesak untuk keluar.


braakk


Suara benda terjatuh yang begitu keras mengenai kursi membuat Kirei menoleh. Matanya melebar melihat Tama tergeletak tak berdaya diatas lantai. Pelipisnya terlihat berdarah, mungkin terkena kursi atau mungkin meja.


"MAS!!!". Teriak Kirei berlari menghampiri Tama.


" Mas..bangun". Kirei menepuk pelan pipi Tama yang mulai kehilangan kesadarannya. Ternyata rasa cintanya jauh lebih besar dibanding kekecewaan dan kemarahannya pada Tama.


"Jangan tinggalin mas, Ki.." Suara Tama begitu lirih terdengar. Tangannya menggenggam tangan Kirei yang ada dipipinya. Namun sedetik kemudian tangannya sudah tergeletak lemas di lantai.


"MAS!!! Buka matanya.." Kirei terus menepuk pelan pipi Tama.


"GERY!!! SAGA!!! MBOOOOOK!!". Teriakan Kirei membuat semua orang segera menghampirinya. Saga dan yang lain terkejut melihat Tama tak sadarkan diri dilantai dengan pelipis berdarah.


" Tam!! Tama!! Bangun woy!". Gery menepuk keras pipi Tama hingga membuat Kirei melotot.


"Kaga usah becanda go blok!!". Saga melakukan hal yang sama dengan Gery.


" Kaga lo banting kan ini orang Ki?!". Tanya Saga dengan mata memicing membuat Kirei berdecak kesal melihat kesomplakan Saga dan Gery.


"Mas Tama kenapa mbak?". Tanya mbok Darmi khawatir.


" Loh..loh. Kok kak Tama malah tidur dilantai sih mbak. Suruh tidur dikamar mbak. Nanti masuk angin". Annisa langsung nimbrung tanpa tahu permasalahannya. Tadi setelah diseret ibunya masuk ke dapur, Annisa ditugaskan membeli gula dan kopi oleh sang ibu.


"Dia pingsan bocah. Kaga tidur". Kesal Saga menatap Annisa yang hanya ber oh ria.


" Ah oh ah oh". Cibir Saga membuat Kirei jengah.


"Hah? Apa?? Pingsan? Pingsan kenapa mbak?!". Teriak Annisa panik.


" Malah pada ribut! Angkat!!". Sentak Kirei yang kesal karena melihat perdebatan unfaedah orang-orang. Dirinya sudah khawatir setengah hidup melihat Tama terkapar seperti ini.


"Gara-gara elo sih pake kabur segala. Jadi aja ni bocah jadi mayat idup kaya gini". Gerutu Gery. Namun tak urung ia mengangkat tubuh jangkung Tama kedalam kamar sesuai instruksi Kirei.


" Eh bentaran. Napa dibawa masuk ogeb!! Bawa kerumah sakit woiii!!". Teriak Saga nyaring membuat semuanya menutup telinganya.


"Mbak Kirei aku itu dokter kak!! Ish!!!". Annisa yang kesal tanpa sadar mendaratkan geplakan dipundak Saga dengan kencang.


Sementara yang lain ribut ini itu, Kirei terus fokus memeriksa keadaan suaminya.


" Annisa.." Panggil Kirei yang langsung membuat Annisa menghentikan ocehannya.


"Mbak boleh minta tolong?". Tanya Kirei lemah.


" Apa mbak? Mbak bilang aja". Ucap Annisa semangat.


"Tolong ambilkan peralatan punya mbak yang kemarin mbak pake untuk ngerawat simbok". Beberapa hari lalu Mbok Darmi sakit hingga harus diinfus. Ayah dan ibu mertuanya mengirim peralatan lengkap kesana untuk dirinya bisa merawat mbok Darmi dengan baik.


" Asiiap mbak. Laksanakan". Annisa bergegas mengambil segala sesuatu yang dibutuhkan Kirei.


"Ini mbak". Tak lama Annisa kembali dengan segala yang dibutuhkan Kirei.

__ADS_1


" Mau lu apain ni bocah Ki?". Tanya Gery penasaran melihat Kirei mengeluarkan cairan infus beserta jarum suntik.


"Kaga bakal lo suntik mati kan?". Celetuk Saga membuat Kirei menoleh tajam.


" Ih..mulut temennya kak Tama kok remnya blong sih. Nggak ada saringannya itu mulut. Mana ada istri mau bunuh suaminya". Cibir Annisa tak terima Kirei dikatai akan membunuh Tama.


"Eh tapi ada juga ya". Gumamnya kemudian.


" Kita keluar ya nduk. Biar mbak Kirei bisa menangani mas Tama dengan baik". Suara lembut mbok Darmi membuat Annisa menurut.


"Kalo butuh apa-apa panggil Nisa aja mbak". Ucapnya sebelum meninggalkan Kirei bersama dua sahabat sableng Tama.


" Kenapa dia bisa kaya gini?". Tanya Kirei tanpa mengalihkan perhatiannya dari lelaki yang masih menutup rapat matanya.


"Dia tu udah kaya orang gila Ki dua minggu ini". Terdengar helaan nafas panjang dari Gery dan Saga.


" Kita tahu ni kunyuk salah ama elo. Tapi dia bener-bener kaya orang sinting ditinggal ama elo Ki". Ucap Saga pelan. Meskipun sahabatnya bersalah, namun melihat Tama tak berdaya membuatnya tak tega.


"Sehari nggak tau berapa gelas kopi yang masuk ke lambung tu orang. Makan selalu telat, bahkan kadang kaga makan. Untung kaga mo dar". Kirei melotot tak terima mendengar akhir kalimat yang keluar dari bibir lemes Gery.


"Kita titip dia Ki. Kita berdua kudu ngeberesin kerjaan ni sableng". Saga masih sempat menoyor kepala orang yang tak sadarkan diri itu.


" Ish!! Lo berdua---" Geram Kirei mengacungkan telunjuknya pada dua lelaki yang tergelak melihat wajah kesal Kirei.


"Hah..pusing gue Ger liat ni pasangan sableng. Yang pingsan bilang belom cinta. Tapi ditinggal minggat dua minggu udah kaya ditinggal wafat". Saga mendramatisir suaranya.


" Yaaa!!!" Teriak Kirei kesal.


"Gue juga bingung, Ga. Bilang kaga peduli, bilang mau dilepas. Tapi liat pingsan nyawanya udah kaya ditarik ulur dimainin ama malaikat Izrail". Gery geleng-geleng. Sedetik kemudian tawa keduanya pecah melihat Kirei membuang muka dan mendengus kesal mendengar godaan keduanya.


" Kita cabut dulu Ki. Jaga dia. Dia cinta banget ama elo. Percaya ama gue". Saga menepuk pundak Kirei beberapa kali sebelum berlalu maninggalkan Kirei yang terpaku menatap wajah pucat Tama.


"Dia cuma kelewatan aja go bloknya ampe kaga nyadar cinta mam pus ama elo". Timpal Gery kemudian tergelak. Ada rasa hangat menjalar didalam hatinya mendengar ucapan dua manusia sableng yang mungkin saja lebih mengenal seperti apa Tama yang sebenarnya Tama.


"Jangan kasih aku harapan palsu lagi mas. Aku udah capek". Air matanya luruh. Beberapa kali ia mengelus wajah yang sejujurnya ia rindukan dua minggu ini.


" Kamu ganteng kalo kaya gini mas. Macho..tapi aku nggak suka". Kirei mengelus rahang Tama yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


" Kenapa harus sesakit ini mas mencintaimu". Lirih Kirei.


"Yang sabar ya mbak. Mbak Kirei orang baik..aku yakin mbak akan selalu bahagia". Lirih Annisa. Ia merasa ikut sesak melihat wanita sebaik Kirei menangis.


Tak sedetikpun Kirei meninggalkan Tama. Bahkan ia tertidur dengan posisi duduk dikursi samping ranjang dengan kepala berada disisi ranjang.


" Sejak kapan dia tidur seperti itu Mbok? ". Tanya Riana yang sore itu memang datang untuk melihat anak dan menantunya. Pun dengan Akmal yang berdiri disamping istrinya.


" Sudah dua jam, bu". Jawab mbok Darmi sopan. Ia tidak berani membangunkan Kirei meski kasian melihat Kirei tertidur dengan posisi tidak nyaman.


"Biarkan saja mbok. Kita tinggalkan mereka saja dulu. Biar mereka selesaikan permasalahan mereka".


" Kita pulang aja yah. Mereka akan baik-baik saja". Riana menggandeng lengan sang suami diikuti mbok Darmi dan Annisa.


"Nanti kalo mbak Kirei butuh sesuatu gimana, bu?". Tanya Annisa pelan yang membuat Riana tersenyum.


" Mbak mu itu perempuan hebat, Nisa. Dia tidak akan kenapa napa. Nyalakan saja lampunya. Sebentar lagi gelap. Biarkan mereka tetap seperti itu". Riana merangkul gadis cantik yang ia incar sebagai jodoh putra bungsunya.


****


Tama mengerjapkan matanya beberapa kali. Melihat sekeliling yang terasa asing untuknya. Ia langsung bangkit ketika mengingat Kirei.


"Aaassh.." Tama memegang kepalanya. Perutnya pun tak kalah perih karena selalu telat makan.


Tama menatap punggung tangannya yang tertancap jarum infus. Kemudian matanya beralih pada sosok yang terlelap disampingnya. Tangan gemetarnya terulur mengelus rambut lembut istrinya.


"Maafin mas Ki. Maafin mas yang selalu buat kamu sedih". Lirih Tama.


"Ternyata aku, mencintaimu". Tama lalu terkekeh sendiri seusai mengatakannya. Tangannya tak berhenti mengelus kepala Kirei yang kelihatannya masih terlelap.


" Aku terlalu bodoh nggak menyadari perasaan ini Ki..mas mohon kamu mau kasih kesempatan buat mas". Tama menundukkan kepalanya. Namun belum sempat bibirnya sampi dikepala istrinya, ulu hati nya terasa sangat sakit hingga tanpa sadar ia memekik dan membuat Kirei langsung bangun, dan mengakibatkan kepalanya dan kepala Tama saling berbenturan cukup keras.


"Aaww!!" Teriak keduanya bersamaan. Pun dengan kedua tangan dua sejoli itu. Tangan mereka saling terulur untuk mengelus kepala pasangannya yang terkena benturan.

__ADS_1


"Sakit sayang??"


"Sakit mas?".


Bahkan sekedar menanyakan kondisinya pun mereka seperti anak TK yang sedang menyanyi bersama. Tama tersenyum bahagia melihat wajah yang begitu ia rindu selama dua minggu ini, berbeda dengan Kirei yang langsung menarik tangannya dari kening Tama yang terlihat memerah.


" Sayang.." Tama menahan pergelangan tangan Kirei yang hendak bangkit. Kirei memejamkan matanya mendengar suara lembut Tama.


"Jangan ulangi ke go blokan lo Ki. Jangan!!". Batin Kirei mengingatkan.


" Aku permisi". Kirei kembali menghentikan langkahnya mendengar ucapan Tama.


"Boleh mas minta minum Ki?". Tanya Tama pelan. Kirei merutuki kecerobohannya karena lupa memberi Tama minum.


" Sebentar". Kirei segera berlalu meninggalkan Tama.


"Mbok..Annisa?". Panggil Kirei, namun tak ada jawaban. Rumah yang biasanya ramai oleh celotehan Annisa kini terasa sunyi.


" Pada kemana sih? Masa jam segini udah tidur". Gumam Kirei melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam.


"Pada capek mungkin ya". imbuhnya


Kirei mengambil segelas air dan bergegas membawanya ke kamarnya yang kini tengah ditempati oleh Tama.


" Eh..kok dicopot". Kirei sedikit berlari mendekati Tama yang sudah berhasil melepas jarum infusnya, hingga membuat darah menetes.


"Kenapa dilepas sih mas! Kamu masih butuh infus. Kamu dehidrasi, kekurangan cairan". Tangannya menekan tangan yang masih mengeluarkan darah dengan kapas.


Tama tersenyum melihat perhatian Kirei padanya. Jika dengan sakit bisa membuat Kirei menganggapnya ada, ia rela sepanjang sisa hidupnya sakit.


" Mas rela sakit sepanjang hidup kalo dengan sakit bisa bikin kamu balik sama mas, sayang". Ucapan Tama membuat Kirei meninggalkan Tama.


Kirei memejamkan matanya merasakan tangan Tama yang mendekapnya erat dari belakang. Hembusan nafas Tama menerpa lehernya.


"Jangan pergi lagi Ki. Mas mohon". Kirei merasakan bajunya basah.


" Mas mohon". Lirih Tama mengeratkan pelukannya.


"Maaf". Kirei melepaskan tangan Tama yang melingkar diperutnya.


" Ki.."


"Kirei.." Panggil Tama. Namun Kirei terus melanjutkan langkahnya.


"Maafin mas, Ki". Tubuh Tama hampir tumbang jika tidak.ditahan lagi oleh Kirei.


" Udah aku bilang kamu masih butuh infus. Istirahat sekarang". Kirei membawa Tama kembali ke ranjangnya. Membaringkan tubuh yang belum sepenuhnya pulih itu.


Tama menarik tubuh Kirei hingga terjatuh diatas tubuhnya. Kirei mencoba berontak. Namun Tama memeluk tubuhnya erat.


"Lepas". Ucap Kirei


" Mas nggak akan lepasin kamu lagi Ki. Nggak akan". Tama menciumi wajah Kirei yang berusaha menghindarinya.


Tama menggulingkan tubuh Kirei hingga terbaring disampingnya. Ia segera mengungkung tubuh Kirei yang berusaha bangkit. Kirei menahan da da bidang Tama dengan kedua tangannya.


Sudut mata Kirei sudah basah. Ia merasa seperti wanita murahan yang hanya dibutuhkan untuk memuaskan segala hasrat Tama diatas ranjang.


"Ki.." Tama menghapus air mata yang mengalir dikedua mata Kirei.


"Apa ini yang kamu butuhin dari aku? Buat lampiasin nafsu kamu?". Tanya Kirei dengan suara bergetar.


" Bahkan saat kamu bilang nggak cinta sama aku? Kenapa kamu ambil sesuatu yang berharga dariku kalau akhirnya bukan karena cinta".


"Kalo emang kamu nggak cinta sama aku harusnya kamu tolak permintaan ayah dan ibu!!". Nada suara Kirei sudah naik satu oktaf. Ia benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan dan kekecewaan nya.


" Sayang maafin mas". Tama menghapus setiap titik air yang jatuh membasahi wajah ayu Kirei.


"Harusnya kamu kejar Inneke kalo kamu emang cuma bisa mencintai satu wanita!!". Kirei semakin kencang menangis.


Tama yang sudaj tidak tahan melihat Kirei menangis akhirnya memeluk erat tubuh istrinya yang bergetar hebat.

__ADS_1


" Maaf..maaf sayang". Tama hanya bisa terus mengucapkan kata maaf. Tidak ada yang lain.


Kirei menangis dalam pelukan Tama hingga akhirnya terlelap dengan posisi yang masih sama. Tama tak sedikitpun memberikan celah untuk Kirei pergi meski berkali-kali Kirei berontak untuk melepaskan diri.


__ADS_2