Imperferct Partner

Imperferct Partner
easy on me


__ADS_3

Hari pertama menjadi anak SMA dapat Naya lalui dengan baik. Meski beberapa kali senior perempuan terlihat memperingatinya. Namun Naya sudah biasa seperti itu.


"Duh gimana ya kak. Gue emang cakep dari lahir sih. Susah kalo pada nggak tertarik". Ucapnya sambil mengibaskan rambut sebahunya ketika seorang senior perempuan memintanya untuk tidak menggoda para senior lelaki.


" Naya mau nginep dirumah onty Nisa. Besok mau berangkat bareng Mayra sama Ibra aja". Ucapnya semalam ketika makan malam bersama orang tuanya.


Dan disinilah ia dan sepupunya yang sama-sama sableng berada. Didalam kamar dengan selimut tebal yang menggulung tubuh mereka. Padahal jam di nakas sudah menunjukkan pukul 6 lebih.


"KANAYA!!! MAYRA!!". Teriakan dan gedoran dari luar kamar seolah tak mengusik dua gadis itu.


" Ya ampun mas..anak kamu kok gitu banget sih. Ini lagi punya keponakan perempuan atu-atunya kelakuannya sama aja". Ucap Annisa frustasi.


"Pasti mereka begadang nonton drama. Kamu sih dek, pake bilang ada drama baru". Ucap Juan ikut pusing dengan kelakuan anak dan keponakannya.


" Ini gimana banguninnya?". Tanya Annisa putus asa.


"Biar ibu yang bangunin itu bocah kedul". Riana muncul dibelakang tubuh Annisa dan Juan. Keduanya langsung bergeser, memberikan jalan pada ibu Riana.


" Kanaya, Mayra bangun sayang. Nenek beliin tiket konser bts". Tak harus menunggu lama setelah terdengar bunyi benda terjatuh dengan keras, pintu kayu itu langsung terbuka lebar. Menampakkan wajah berantakan Kanaya dan Mayra.


"Beneran nek?". Tanya keduanya kompak.


" Iya..asal kalian nggak telat ke sekolahnya". Ucap Riana sambil melirik jam dinding yang ada ditembok ujung ruangan.


Kedua gadis yang ditarik paksa dari mimpi indahnya ikut melirik jam. Keduanya hanya melengos namun sedetik kemudian mereka kembali menatap jam dan saling berpandangan sebelum berteriak.


"WAAAAA!!! TELAAATT!!!". Naya langsung keluar dan berlari menuju kamar Ikbal, adik Mayra yang ada disebelah kamar Mayra, sementara Mayra langsung masuk kedalam kamar mandi dikamarnya.


Entah mandi atau hanya mencuci mukanya saja, tak sampai 15menit keduanya sudah memakai seragam sekolahnya lengkap dengan tas yang tersampir dipundak mereka.


" Onty kenapa nggak bangunin kita sih. Aaah alamat dihukum lagi ama temen-temen abang ini mah". Ucap Naya sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.


"Kalian kaya orang mati sih tidurnya". Ucap Nisa ikut kesal.


"Tau nih mama sama papa. Kamu juga! Bukannya bangunin kakak". Omel Mayra pada sang adik, Ikbal.


" Salah kakak sama kak Nay. Nonton drama kaga kira-kira". Sahutnya cuek.


"Pelan-pelan sayang makannya. Nanti keselek". Ucap Riana mengasongkan dua gelas jus pada dua gadis yang makannya pun sambil berdiri.


" Kita berangkat ya nek". Keduanya segera menyalami sang nenek dan segera berlari keluar.


"Mari non". Ucap sopir membukakan pintu untuk keduanya.


" Kunci motor pak". Naya menengadahkan tangannya. Meminta kunci motor milik sopir pribadi keluarga sang nenek.


"Buat apa non?". Meski bertanya, sang sopir tetap memberikan kunci motor matic miliknya.


" Motornya dipinjem dulu pak. Tambah telat kalo dianter bapak". Ucap Kanaya yang sudah menyalakan mesin motor. Sedang Mayra sudah nangkring dibelakang Naya.


Sebenarnya sekolah tak terlalu jauh dari rumah utama keluarga Mahendra. Namun karena ini masih masa pengenalan, seluruh siswa kelas X diwajibkan datang 15menit sebelum bel pelajaran dimulai. Dan ini sangat menyiksa untuk seorang gadis pembuat ulah seperti mereka berdua.


Naya melirik sekilas jam tangannya. Hanya tersisa waktu kurang dari 5menit jika mereka tak ingin terkena hukuman. Dan pada normalnya, mereka akan sampai disekolah masih sekitar 8menit lagi.


"Tamat riwayat kita Nay". Teriak Mayra


" Lo belom pernah dihukum. Lah gue..gue udah ditandain ama tu senior rese". Ucap Naya balas berteriak.


"Kaga usah pake kuah njir!!!" Hampir saja tangan Mayra menempeleng kepala Naya. Untung ia masih waras dan tidak melakukannya. Jika tadi ia lakukan, sudah pasti keduanya tak akan sampai kesekolah melainkan rumah sakit.


"Kaga sengaja ogeb!!". Ia semakin menambah kecepatan motornya. Sudah dapat ia pastikan jika hari ini dirinya akan kena hukuman lagi.


"Anj*ir lo Nay. Nyawa gue kesangkut trotoar depan!". Sengit Mayra ketika sampai diparkiran sekolah.


Berkat kelihaian Naya mengendarai motornya, keduanya bisa sampai tepat waktu. Walaupun penampilan keduanya sudah seperti orang yang baru saja terkena terjangan angin topan.


" Kalo kaga gitu ya kita kena hukuman". Ucap Naya merapikan tampilannya dengan berkaca pada spion motor.


"Kunci motornya bawa nj*r!!". Teriak Mayra mengingatkan.


" Oh lupa". Naya menepuk keningnya sambil nyengir.


Keduanya berjalan menuju aula tempat yang sama seperti kemarin. Dari kejauhan Naya melihat kedua abangnya yang seperti nya tengah menunggunya.


"Lo hampir telat dek". Bisik Ken pada Naya.


" Sorry..jaga jarak ya bang". Ucap Naya berlalu meninggalkan kedua kakaknya yang hanya bengong melihat adiknya makin tengil.


"Adek kalian otaknya kecer dijalan kak. Bawa motor kenceng banget tadi". Ucap Mayra membuat keduanya melotot. Selama ini keduanya sebisa mungkin melarang Naya mengendarai motor. Dan sekarang malah gadis itu mengendarai motor ugal-ugalan.


" Kalo mommy atau daddy tau, auto digantung tu bocah". Ucap Kai menatap punggung Naya yang semakin menjauh.


"Gausah bikin masalah hari ini". Ucap Monika yang sudah berdiri didepan Naya.


" Siapa yang punya masalah kak? Bantuin lah kalo bisa". Ucapnya santai tanpa menatap mata Monika yang menajam.


"Lo anak kecil gausah tengil ya!!". Bentak Monika.


" Kakak anak tua kaga usah usil ya". Sahut Naya cepat. Malas sebenarnya meladeni kakak seniornya yang sejak awal masuk sudah mengibarkan bendera perang dengannya.

__ADS_1


"Saya nggak ganggu kakak ya. Jadi nggak usah usil". Kini bahkan Naya berdiri tepat didepan Monika.


" Lo---" Ucapan Monika terpotong oleh bel tanda masuk belajar.


"Awas lo!". Ancam Monika kemudian berjalan menjauh dan duduk diantara para anggota osis lain.


" Oke selamat pagi semua.." Sapa Akbar ramah, sama seperti hari sebelumnya.


"Pagi kak.." Sahut siswa baru bersamaan.


"Hari ini masih semangat ya?". Tanya Akbar dan dijawab serentak oleh seluruh adik kelasnya.


" Masih dong..apalagi ada kakak". Teriakan Naya terdengar paling keras.


"Huuuuuu" Sorak teman-temannya.


"Urat malu lo kemana sih Nay. Gue malu jadi temen lu". Ibra membungkam mulut sahabat baiknya itu.


" Ish apaan sih lu. Gue gibeng juga lama-lama. Dasar Beha!!". Sengit Naya. Dan perdebatan sengit dua sahabat itu membuat beberapa siswa terkikik lantaran panggilan Naya pada Ibra.


"Seenak jidat lo panggil gue daleman lo!". Ucap Ibra tak terima.


" Nama lo sapa emang?". Tanya Naya


"Ibra, Nay. Otak lo kaga ketinggalan dirumah kan Nay?". Tanya Ibra menempelkan punggung tangannya dikening Naya.


" Terus apa bedanya kalo gue panggil bra? Sama aja kaya gue panggil beha bambaaaaank!". Ucapan Naya membuat Ibra berpikir sejenak sebelum menepuk keningnya.


"Nggak gitu konsepnya onaaaah!!!". Teriak Ibra kesal. Bahkan kini keduanya tengah berdiri diantara ratusan siswa. Tentu saja perdebatan keduanya menjadi pusat perhatian. Bahkan Akbar yang tadi sibuk berbicara, kini matanya terfokus pada gadis cantik yang tengah berdebat itu.


" Lo berdua nyari mam pus apa?". Tanya Mayra pelan membuat keduanya menunduk untuk melihat Mayra yang tengah menarik ujung seragam keduanya.


"Kalian berdua!!!". Teriakan melengking dari Monika membuat keduanya menoleh. Kini mereka sadar jika sejak tadi keduanya menjadi pusat perhatian.


" Kesini lo!". Bentak Monika lagi membuat Ibra langsung bersembunyi dibelakang Naya.


"Lo ngapain ngumpet nj*rr!!". Bisik Naya


" Lo ogeb apa gimana sih. Itu muka kak Monika udah serem kaya mau nelen orang idup-idup". Balas Ibra berbisik.


"Dasar cemen. Sunat lagi aja lo sana!". Naya berjalan cepat meninggalkan Ibra yang langsung berlari menyusulnya.


" Lo anak baru hobi banget ya caper". Ucap Monika sarkas.


"Siapa yang ceper kak?". Tanya Naya membuat Monika geram.


"Ya Allah kak..jangan teriak-teriak. Kasian itu urat leher kakak udah kaya mau putus". Ucap Naya menunjuk leher Monika yang menampakkan urat-uratnya yang mengeras.


" Lo nggak bisa diem hah?!". Sentak Monika.


"Susah kak". Jawabnya enteng.


"Kalo lo nggak bisa diem keluar aja sana!". Monika menunjuk pintu keluar aula.


Naya masih diam memperhatikan Monika yang terlihat berapi-api mengomelinya. Hingga Monika kembali bersuara, dan jawaban yang keluar dari bibir mungil Naya berhasil membuat semua orang menahan tawa.


" Lo atau gue yang keluar?!". Tanya Monika menatap Naya tajam.


"Kakak aja deh. Diluar nggak ada yang bening-bening kaya gitu". Ucap Naya melihat deretan pria tampan dibelakang Monika.


" What??!". Pekik Monika tak percaya dengan jawaban Naya.


"Wat wet wot wae kakak mah. Kan tadi nanya, udah dijawab malah wat wot wat wot". Ucap Naya sambil memanyunkan bibirnya.


" Udahlah Mon..nggak usah kaya gini. Nggak pantes". Ucap Akbar menengahi ketegangan diantara kedua gadis itu.


"Tuh dengerin calon imam aku kak. Masyaallah, adem banget adek denger kakak ngomong". Naya menatap Akbar dengan mata berbinar.


" Ni anak tengil banget, Bar". Ucap Monika.


"Udah-udah. Hari ini kan hari terakhir acara ini ya. Kita seneng-seneng aja gimana? Setuju??". Tanya Kai yang ikut mengalihkan amarah Monika.


Sementara Al kembali tersenyum tipis melihat Naya yang tak sedikitpun takut setelah dibentak dan diteriaki oleh Monika. Bahkan sepertinya apa yang dilakukan Monika tak sedikitpun berbekas pada gadis itu. Namun senyumnya memudar saat melihat Kenzo memegang tangan Naya dan menariknya menjauh dari keramaian.


" Dek stop. Jangan cari masalah sama Monika. Dia cewe nekat". Ucap Kenzo memperingati.


"Terus maksud abang, gue diem aja dipermaluin ama itu lampir sinting?". Tanya Naya kesal.


" Nggak gitu dek. Ya ampun". Ken mengusap kasar wajahnya. Ia tahu betul sikap keras kepala Naya.


"Kenapa? Tu cewe gila pacar abang?". Tanya Naya sengit membuat Ken langsung menggeleng.


Sementara Al hanya bisa melihat dari jauh interaksi keduanya tanpa bisa mendengar apa yang tengah dibicarakan oleh keduanya.


" Apa mungkin dia pacarnya Ken?". Gumam Al yang masih terus memperhatikan keduanya dari jauh.


"Tapi masa iya sih". Ucapnya lagi, terlalu fokus dengan pikirannya membuatnya tak sadar jika Naya sudah berdiri didepannya sambil memperhatikan wajah bingung Al.


" Mas ganteng jangan ngelamun terus. Muka gantengnya ntar pindah ke tembok". Al tergagap mendengar suara cempreng gadis yang sudah menarik perhatiannya sejak pertama melihatnya.

__ADS_1


"Lagi mikirin aku ya? Nggak usah dipikirin dalem-dalem mas ganteng. Namamu selalu disini kok". Naya menunjuk dada sebelah kirinya dengan cengiran khasnya.


" Dasar bocah sableng". Ucap Al hendak meninggalkan Naya yang justru berlari dan mensejajarkan langkahnya dengan Al.


"Jangan benci kelewat benci kak. Nanti jadinya cinta loh". Naya berjalan mundur dan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Al. Hingga jalannya oleng karena tersandung kursi yang ada dibelakang nya.


Al yang melihatnya reflek menolong Naya dengan menarik tangan gadis itu, hingga tubuh Naya berakhir didalam pelukan hangat Al. Si manusia kutub.


" Anget banget sih ya ampun". Ucap Naya membuat Al langsung melepaskannya. Jangan tanyakan perasaan Naya, jantungnya bahkan sudah bekerja dengan sangat tidak normal.


"Makanya jangan petakilan. Banyak gaya sih lo jadi bocah". Ucap Al memalingkan wajahnya. Tak ingin bersitatap dengan gadis tengil didepannya.


" Aaah..bilang aja kakak juga seneng bisa peluk-peluk aku". Goda Naya membuat Al mendelik kesal.


"Iya-iya. Nggak usah melotot. Matanya kasian, capek". Naya langsung kabur setelah meledek Al.


" Lo darimana sih Nay. Hobi banget bikin rusuh ama ngilang". Ucap Mayra yang sejak tadi mencarinya.


"Ada deh. Mau tau aja lo berdua". Ucapnya santai, kemudian ia mendudukkan dirinya disamping Mayra.


" Oke..karena diantara kalian ada yang suka jadi perhatian. Kita panggilin orangnya buat nyanyi atau nunjukin bakat dia yang lain selain bikin rusuh ya". Ucapan Monika membuat Naya mendongak. Ia yakin bahwa dirinya lah yang dimaksud kakak kelas rese nya itu.


"Kanaya. Silahkan maju. Jangan hanya bisa membuat masalah dan melawan senior, tunjukin bakat kamu". Ucap Monika sinis.


Naya mengangkat kedua bahunya lalu bangkit dan berjalan maju. Semakin lama semakin dekat, dan ia bisa melihat tatapan tajam kakak kelasnya itu. Pun dengan beberapa senior wanita yang menatapnya dengan sebelah mata.


" Belom tau mereka kalo sohib kita suaranya ngelebih-lebihin Adelle kalo udah nyanyi". Ucap Ibra membanggakan Naya.


"Lagian siapa yang bakal percaya kalo suara dia bagus Bra. Kalo ngomong aja udah kaya kaleng dibanting". Ucap Naya membuat Ibra berpikir.


" Iya juga sih. Lagian bingung gue..gimana bisa tu bocah kalo nyanyi bagusnya kaga ketulungan. Tapi kalo ngomong cemprengnya naudzubillah". Ibra sampai bingung sendiri.


Sementara didepan, Naya dan Monika saling berhadapan. Bahkan tak ada sedikitpun guratan takut diwajah Naya.


"Silahkan Naya". Monika memberikan mic yang ia pegang sejak tadi. Senyum mengejek jelas nampak diwajah Monika.


" Kakak salah nyari lawan". Seringai kecil tampak dibibir mungil Naya hingga membuat Monika sedikit terkejut.


"Kakak ganteng..minta gitar dong". Sikap manis Naya langsung kembali ketika berhadapan dengan Akbar.


" Oooo..rupanya adek cantik mau nyanyinya sama main gitar ya". Kini Akbar sudah mulai terbiasa dengan sikap humoris yang dimiliki Naya.


"Iya dong..kalo bisa sambil nyanyi sambil milikin kak Akbar. Duh jadi deg-degan". Ucap Naya lebay membuat seluruh ruangan riuh dengan suara tawa siswa.


Akbar turun dan kembali dengan sebuah gitar dan juga kursi untuk Naya duduk saat bernyanyi.


" Khusus buat adek cantik ini, kak Akbar yang pegangin mic nya". Ucap Akbar dengan senyum ramah membuat Naya ikut tersenyum.


"Aduh..adek meleleh ini kak". Memang dasar Naya, tak ada habisnya ia menggoda senior tampan. Sementara kedua kakaknya sudah memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan adiknya itu.


" Udah-udah..ayo nyanyi sekarang". Ucap Akbar menyudahi si ratu gombal beraksi.


there ain't no gold


in this river


that i've been washing


my hands in forever


Hening..semua begitu terkejut mendengar suara merdu milik Naya. Belum lagi kelihaiannya memetik senar gitar yang ada dipangkuannya.


i know there is hope, in this waters


but i can't bring my self to swim


when i am drowning in this silence baby, let me in...


go easy on me, baby


i was still a child


didn't get the chance to


Feel..the world arround me


i had no time to choose


what i chose to do


so go easy on me.


Lagu 'easy on me' dari Adelle menggema memenuhi ruangan yang tiba-tiba sepi ketika Naya mulai memetik gitarnya dengan begitu lihainya. Bahkan Monika yang berniat ingin mempermalukan Naya ikut terhanyut dengan lagu yang dibawakan Naya dengan suara lembutnya.


Akbar yang memegang mic untuk Naya hanya terfokus pada gadis bersuara cempreng yang ternyata jika menyanyi bisa semerdu ini. Tak dapat ia tampik pesona gadis cantik didepannya ini.


Sedangkan Al, bahkan matanya tak berkedip menatap Naya yang ada diatas panggung dengan gitarnya. Ia masih belum mempercayai jika suara indah itu milik gadis yang jika berbicara suaranya seperti kaleng biskuit yang diadukan.


Jangan tanyakan kedua kakak dan kedua sahabatnya. Suara itu sudah sering mereka dengar meski hingga kini mereka tak mengerti bagaimana bisa suara Naya berubah jika sedang bernyanyi.

__ADS_1


__ADS_2