Imperferct Partner

Imperferct Partner
Lamaran sesungguhnya


__ADS_3

"Di...!!!". Pekik Naya yang melihat Diandra terduduk dilantai sambil menangis meraung.


" Kenapa Nay..kenapa mereka begitu kejam!!". Teriak Diandra memukul dadanya berkali-kali.


"Sssttt..tenang Di". Naya memeluk Diandra yang masih terduduk dilantai.


" Sakit Nay...sakit". Tangis Diandra semakin pilu. Naya bahkan sudah menangis sedari tadi.


Apa keputusannya salah dengan meninggalkan Diandra dengan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu?? Kini Naya menyesali perbuatannya yang meninggalkan Diandra berdua dengan orang yang dirinya saja tidak yakin jika itu memang keluarga temannya itu.


"Ada apa Di?? Cerita Di.." Naya mengelus punggung Diandra yang naik turun akibat tangisannya.


"aaaaaakkh..Kenapa kalian tega!!". Diandra berteriak tanpa melepaskan diri dari pelukan Naya.


Sungguh Naya taj mengerti ada apa dengan teman nya ini?? Sebesar apa luka yang sudah ditorehkan orang-orang itu pada gadis kuat seperti Diandra hingga bisa serapuh ini??


" Sstt..sstt.."


"Kamu yang tenang ya, aku disini Di..Aku disini, ada aku.." Hanya itu yang bisa Naya katakan. Ia hanya bisa menenangkan dan memeluk Diandra. Ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan permasalahan apa yang dihadapi oleh Diandra.


Lama keduanya berpelukan dilantai, entah berapa lama karena Naya merasa kakinya kram. Ia membawa Diandra untuk duduk diatas sofa. Kemudian ia meninggalkan Diandra dan mengambilkan air putih untuk gadis yang terlihat kacau itu.


"Minum dulu ya.." Naya mengasongkan segelas air putih didepan Diandra yang sudah lebih tenang.


"Harusnya aku seneng kan Nay.." Naya tak mengerti apa yang dimaksud Diandra.


"Harusnya aku seneng kan kalau dia mati?". Diandra menatap Naya dengan mata yang kembali basah oleh air mata.


Naya hanya diam, kini yang dibutuhkan Diandra hanya pendengar yang baik yang tidak menyela ungkapan hatinya yang rapuh itu.


" Tapi kenapa sakit banget disini Nay.." Diandra memukul dadanya berkali-kali.


"Harusnya aku bahagia. Ini yang aku mau..liat mereka menderita. Ngeliat dia mati..tapi kenapa aku ngerasa sakit Nay.." Naya hanya bisa mengelus pundak Diandra, berharap dengan begitu bisa mengurangi sesak dan beban temannya.


"Dia udah rebut kebahagiaan aku----"


Diandra menceritakan semua hal yang ia alami hingga dirinya bisa sampai dikota ini dan bekerja dikantor Al. Berkali-kali Naya terkejut, bahkan berulang kali gadis itu membekap mulutnya saat Diandra menceritakan semua hal yang dialaminya.


Entahlah, mungkin Naya akan mati jika berads diposisi seperti Diandra. Jangankan untuk bisa menjalani hidup normal seperti yang dilakukan Diandra, bahkan mungkin untuk sekedar menelan seteguk air pun Naya tak akan mampu.


Rupanya inilah yang selama ini disembunyikan Diandra. Pantas saja Diandra tak pernah bisa terbuka padanya dan juga Dimas. Kisah nya begitu rumit dan pelik.


Naya kembali memeluk Diandra, saling menangis. Entah lah, Naya tak bisa membendung air matanya mendengar semua kisah cinta Diandra


"Aku nggak tahu harus bilang apa Di. Tapi aku yakin kamu wanita kuat..wanita paling kuat yang pernah aku temui". Naya menangkup wajah Diandra dan menghapus air mata sahabatnya. Ia kemudian memeluk Diandra lagi.


" Aku yakin kamu mampu menghadapi mereka Di. Dia udah pergi, jangan simpan dendam kamu terlalu lama. Bukankah kamu tidak akan bisa melanjutkan hidup dengan tenang kalau kamu masih mendendam??". Naya memberi pendapatnya disela pelukannya dengan Diandra.


Lewat tengah malam keduanya baru kembali kedalam kamar dan membaringkan tubuh mereka dengan pikiran yang masih berkelana entah kemana.


Entah jam berapa keduanya benar-benar terlelap. Yang pasti, pagi ini keduanya kembali kesiangan dan terlambat ke kantor.


" Kamu nggak usah ke kantor. Nanti aku mintain izin langsung sama pak Heru deh.." Bujuk Naya. Ia tak tega melihat Diandra yang masih terlihat terpukul.


"Gapapa Nay.. kamu tenang aja ya". Diandra memberikan senyumannya. Senyum yang sedikit ia paksa kan untuk meyakinkan Naya.


" Aku mau sekalian minta cuti Nay.." Naya langsung menoleh.


"Kamu bener..aku nggak bisa terus lari. Dia juga udah pergi Nay.." Diandra tersenyum kecut


"Aku akan menemui mereka. Menyelesaikan apa yang belum selesai, setelah itu..aku akan melanjutkan kehidupanku tanpa bayang-bayang mereka". Naya melebarkan senyumnya mendengar Diandra mau mengikuti sarannya.


" Aku seneng dengernya Di. Aku yakin kamu bisa.." Naya memeluk Diandra dengan semangat hingga tak menyadari jika kini keduanya tengah menjadi tontonan bebrrapa orang yang sedang berlalu lalang dilobby kantor.


"Nggak usah dipeluk juga Nay. Ntar dikira kita ada something". Naya langsung melepas pelukannya dan melihat sekitar. Benar saja, banyak mata yang menatap mereka dengan tatapan aneh.


Naya dan Diandra hanya bisa nyengir kemudian kabur keruangannya masing-masing.

__ADS_1


######


" Hati-hati ya Di. Kasih kabar ke kita ya kalo udah nyampe.." Naya dan Dimas mengantarkan Diandra ke bandara.


"Iya tenang aja. Aku cuma Bentar terus balik kok.." Diandra mencoba menenangkan Naya dan Dimas.


"Baik-baik disana Di. Aku menunggumu". Dimas memeluk Diandra dan mendaratkan kecupan lembut dipucuk kepalanya.


Ini adalah hari keempat setelah kedatangan mama Diandra ke apartemen Naya dan Diandra. Diandra memutuskan untuk menuntaskan semua permasalahan yang masih mengganjal dihatinya.


" Aku pergi ya.." Diandra melambaikan tangannya pada Dimas dan Naya yang juga tengah melakukan hal yang sama dengannya.


"Sudah??". Sebuah suara bariton membuat Naya menoleh. Rupanya Al sudah menunggu nya sejak tadi. Bahkan saat Naya dan kedua temannya berpelukan.


Sebenarnya Al ingin melarang ketika Dimas juga ikut berpelukan, namun Al menahan diri untuk tidak melakukannya. Takut Naya merasa dikekang.


" Udah kak.."


Dimas menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya pada bos ditempatnya bekerja itu


"Pulang??". Tanya Al dijawab anggukan kepala oleh Naya.


" Bareng yuk Dim.."


Dimas langsung melotot, apa Naya ingin membunuhnya?? Bissa-bisanya mengajak dirinya pulang bersama.


"Enggak..aku naik taksi aja. Mobil aku juga udah kelar kok. Orang bengkel barusan udah telpon". Dimas tersenyum canggung menatap Al yang juga menatapnya dingin. Tatapan itu seolah memberi tahukan padanya 'Jika kamu pulang bersama kami, maka tamatlah riwayat karirmu' Dimas bergidik membayangkan tatapan ngeri Al.


" Mari pak..saya duluan". Dimas langsung kabur setelah Al mengangguk.


"Dimas kenapa sih?". Gumam Naya


" Kebelet kali". Sahut Al cuek sambil merangkul pundak Naya.


"Ada-ada aja sih.." Naya terkekeh pelan


"Nanti malem keluar yuk.." Ajak Al


" Rahasia..kamu dandan yang Cantik aja". Al mengecup pipi Naya lembut.


"Ish..kebiasaan. Ini tempat umum kak.."


"Biarin. Sama calon istri sendiri ini.." Sahut Al cuek. Dan Naya memilih diam tak menimpali ucapan Al.


*******


"Cocok enggak??". Tanya Naya menunduk. Saat ini Al menatapnya penuh kekaguman. Gaun yang ia pilihkan sangat pas ditubuh ramping Naya.


" Cocok banget..kamu tambah cantik pake itu". Puji Al jujur.


"Kakak berlebihan". Naya semakin menunduk malu


" Lagian kenapa harus dipilihin sih gaunnya kak, ampe sepatu ama tasnya juga disiapin".


"Pengen aja sekali-sekali pilihin baju buat calon istri. Ternyata pas.." Al memberikan senyum menawannya yang membuat Naya kelimpungan.


Meski sudah berkali-kali Al mengatakan jika dirinya lah calon istri lelaki itu, tetap saja setiap kalimat itu meluncur mulus dari mulut Al, selalu ada desiran halus dihati Naya.


"kita pergi yuk.." Al menyodorkan lengannya pada Naya yang tersenyum dan menyambut lengan kekar itu. Lengan yang selalu siaga menjaga dan melindungi dirinya.


Naya tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya. Pikirannya terbagi, dirinya bahagia pergi bersama Al, namun dilain sisi dirinya mengkhawatirkan Diandra yang belum juga memberinya kabar. Berkali-kali ia menatap ponselnya, namun belum ada pesan atau panggilan dari Diandra.


"Nunggu telpon dari siapa sih??". Al menatap curiga pada Naya yang juga menatapnya.


" Diandra kak. Dari tadi belum ada kabar..padahal harusnya sore tadi dia udah nyampe". Naya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Coba telpon aja". Al yang mengerti betapa dekat Naya dan Diandra menyarankan agar Naya menghubunginya lebih dulu.

__ADS_1


" Nggak aktif. Tadi udah dicobain". Jawab Naya lesu.


"Yaudah nanti dicoba lagi aja". Al mengelus pucuk kepala Naya.


" Loh kok berhenti sih kak??". Tanya Naya saat Al tiba-tiba menepikan mobilnya.


"Kakak mau apa??". Tanya Naya waspada saat Al mendekat padanya.


" Ke-kenapa mata aku ditutup sih kak?". Protes Naya yang matanya ditutup oleh Al dengan sebuah kain.


"Kejutan". Bisik Al mendaratkan sebuah kecupan di pipi gadis itu.


" Ish..modus terus". Al terkekeh mendengar gerutuan Naya.


"Pelan-pelan sayang.." Al menjaga kepala Naya agar tidak terbentur mobil.


"Ini dimana sih?? Kakak nggak akan macem-macem kan??". Tanya Naya membuat Al semakin terkekeh.


" Kakak mah cuma semacem Kay.." Naya mencebik mendengar jawaban Al.


"Tapi ini dimana sih kak". Mulut Naya tak hentinya berbicara membuat Al gemas dan mengecupnya singkat.


" Tuh kan modus lagi". Naya semakin mengerucutkan bibir nya. Andai tidak ingat rencananya, mungkin Al sudah mel*mat habis bibir mungil itu.


"Masih lama enggak sih kak. Kok nggak nyampe-nyampe sih".


" Kakak nggak lagi bawa aku ke tepi jurang kan?? Jangan-jangan ini dipinggir jurang, terus pas aku buka mata aku langsung didorong". Naya bergidik membayangkan hal ngeri itu.


"Makanya jangan suka nonton film nggak jelas. Pikiran kamu jadi ikut-ikutan ngawur gitu". Al mendengus kesal mendengar penuturan aneh Naya.


" Hihihi..siapa tau kaya di film yang suka aku tonton". Naya terkikik sendiri, tak terbayang bagaimana kesalnya wajah Al saat ini.


"Kita udah sampe.." Ucap Al


"Akhirnyaaa.." Ucap Naya lega.


"Jangan buka dulu matanya ya. Nanti kalo kakak bilang buka, baru boleh dibuka.." Peringat Al


"Kenapa sih? Banyak peraturan deh kakak..mau main petak umpet ya??". Tanya Naya membuat Al gemas bukan main dengan gadisnya ini.


" Cerewet banget siiih.." saking gemasnya Al, lelaki itu sampai mencubit bibir mungil yang sejak tadi banyak bicara dan banyak protes itu.


"Ish.." Naya mencebik, ia merasakan kain yang menutup matanya perlahan terbuka. Namun sesuai perintah Al, dirinya tetap menutup mata.


"Oke..kamu boleh buka sekarang.." Perlahan Naya membuka matanya, menyesuaikan cahaya temaram yang ada disana.


Matanya terbuka lebar saat melihat orang-orang yang ada dihadapannya kini. Ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Sungguh ia tidak menyangka akan melihat semua orang itu disini, saat ini.


Belum usai rasa terkejut yang Naya rasakan, Al kembali membuatnya semakin kaget ketika lelaki itu tiba-tiba bersimpuh dihadapannya dengan kotak kecil berwarna merah yang sempat ia lihat beberapa waktu lalu.


"K-kak..." Lirih Naya yang matanya sudah mulai berembun.


"Hari ini..dihadapan semua orang. Dihadapan kedua orang tuamu juga keluargamu..dengan segala kesungguhan yang aku miliki..Sekali lagi aku akan memintamu, Kanaya Laika Mahendra..maukah kau menjadi istriku..pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anak ku dan menemaniku hingga akhir hidupku. Menikahlah denganku Kay.."


Naya tak bisa lagi berkata-kata, hatinya terenyuh mendengar permintaan Al. Sungguh ia tidak menyangka lelaki ini akan menyiapkan kejutan sedemikian rupa untuk dirinya.


Naya hanya bisa menangis dan menganggukkan kepalanya hingga membuat semua orang mengucap syukur.


"YESSSS!!!!". Seru Al kegirangan. Sungguh ini adalah impian terbesarnya, tak ada hal lain yang lebih membahagiakan untuk dirinya saat ini selain karena Naya menerima lamarannya. Akhirnya.. Akhirnya cinta yang ia miliki untuk Naya selama 6tahun lebih ini terbalas.


Bukan hanya Al yang merasa lega, kelegaan terlihat jelas dari raut wajah kedua orang tua dan kedua kakak Naya. Mereka bahagia melihat Kanayanya melanjutkan hidupnya setelah kepergian Akbar.


Kirei bahkan sudah menangis didalam pelukan Tama. Bahagia rasanya melihat Naya akan melanjutkan hidupnya dengan lelaki yang selalu setia menemaninya setelah keterpurukannya.


" Makasih Kay..makasih". Al memasangkan cincin yang beberapa waktu lalu pernah ditolak Naya. Setelahnya ia memeluk Naya begitu erat. Menyalurkan perasaan bahagianya saat ini, ia ingin Naya tahu betapa beruntungnya dirinya dan betapa bahagianya ia kini karena Naya mau menerima lamarannya.


"Makasih kak..aku bahagia". Naya membalas pelukan Al. Membenamkan wajahnya didada bidang Al tanpa menghiraukan yang lain. Malam ini, ia dan Al saling menyalurkan perasaan bahagia dihati mereka.

__ADS_1


####


Oke..dikit lagi end ya manteman..makasih yang masih setia baca..


__ADS_2