
"Gila..gila..gila. Lo diem-diem udah tinggal bareng ama pak Tama? Nggak nyangka gue Ki".
"Mulut lo Tan. Gausah kenceng-kenceng ngomongnya onah!". Kirei membekap mulut ember Tania yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Seriusan lo kalo ni bocah seatap ama pak Tama?". Tanya Juna tak kalah heboh.
"Hm..gila kan?". Tania menatap Juna meminta dukungan.
Kirei yang sudah jengah mendengar segala percakapan Tania dan Juna yang terus menggodanya memilih meninggalkan keduanya.
Kirei bangkit dan meninggalkan kedua temannya yang masih terus menggodanya. Baru saja ia akan keluar dari IGD, langkah kakinya terhenti saat didepannya sudah berdiri seorang yang tidak lagi ingin Kirei temui.
Kirei berjalan melewati orang yang menghalangi jalannya. Orang yang tak lain adalah lelaki masa lalu yang pernah menggoreskan luka, menorehkan kekecewaan mendalam pada makhluk bernama laki-laki.
"Permisi tuan. Anda menghalangi jalan saya". Ucap Kirei dingin.
"Kita perlu bicara Ki. Aku bisa jelasin semua ke kamu". Daniel hendak menyentuh tangan Kirei. Namun dengan cepat Kirei menghindar.
"Tidak ada yang perlu anda jelaskan tuan Daniel". Sahut Kirei cepat. Terlihat jelas wajah Daniel yang masih begitu mendamba menatap Kirei.
"Daniel??". Suara Arin membuat Kirei membeku. Ia takut Arin akan salah paham dengannya.
"Saya permisi dulu tuan Daniel. Gue duluan ya Rin". Kirei membungkuk pada Daniel dan melambaikan tangannya pada Arin setelah berpamitan pada gadis itu. Arin membalas lambaian tangan Kirei dengan senyuman manis tersungging dibibirnya.
"Ada apa Dan?? Tumben kamu kesini?". Tanya Arin heran melihat Daniel berada ditempat kerjanya. Tidak biasanya lelaki itu mau bersusah payah menyambangi tempat kerjanya.
"Saya disuruh mama kesini untuk menjemput kamu". Jawab Daniel dingin. Sangat berbeda ketika berbicara dengan Kirei.
"Tunggu sebentar..aku akan mengambil tas". Arin melangkah meninggalkan Daniel yang masih setia menatap punggung Kirei yang semakin menjauh. Hatinya terasa sakit melihat orang yang masih begitu ia cintai sudah tidak lagi peduli padanya. Bahkan Kirei menganggapnya orang asing.
"Kita pergi sekarang?". Suara Arin membuyarkan lamunan Daniel tentang Kirei. Lelaki itu melangkah lebih dulu, meninggalkan Arin yang setia mengekor dibelakangnya.
Mereka tidak seperti orang yang akan menikah dalam waktu dekat. Mereka lebih seperti dua orang asing yang kebetulan berjalan bersama.
"Calon laki si Arin aneh ya Tan..masa ke calon istri kaku gitu". Juna berkomentar setelah melihat perbedaan interaksi antara Daniel dan Kirei yang terlihat begitu lembut. Sementara dengan Arin, Daniel begitu kaku.
"He'em. Kaya kanebo kering yak". Sahut Tania menatap punggung teman sejawatnya yang beberapa hari lagi akan bertunangan.
"Ada yang aneh kaga sih. Itu calon laki si Arin kalo ama Kirei kaya yang mendamba banget". Ucap Juna kembali mengomentari apa yang sempat ia lihat.
"Masa sih? Perasaan lo aja kali". Tania mencoba setenang mungkin menjawab semua analisa Juna tentang hubungan Kirei, Daniel dan Arin.
"Tapi beneran kok. Aneh banget". Juna masih kekeh dengan semua keyakinannya.
"Udah..udah. Nyusul emak singa ke kantin aja yuk. Laper gue". Tania mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Juna makan siang bersama.
#####
Sudah beberapa hari Kirei dan Tama tidak bertemu. Keduanya masih belum memikirkan tentang perintah orang tua Tama untuk segera menentukan tanggal pertunangan. Bahkan sepertinya mereka melupakan tentang hal itu.
Hari ini bertepatan dengan pertunangan Arin dan Daniel. Kirei yang sejak awal memang tidak ingin menghadiri acara itu akhirnya kalah dengan wajah sendu Arin yang memintanya datang untuk menyaksikan kebahagiaannya. Meski berat, akhirnya Kirei mengalah dan menyanggupi untuk datang ke acara Arin dan Daniel.
"Widiiiih cantek banget dah ah neneng Kirei". Puji Juna ketika Kirei memasuki mobilnya. Hari ini Kirei memutuskan pergi bersama dua sahabat semprulnya.
"Berisik". Sengit Kirei membuat Juna tergelak.
__ADS_1
"Udah buruan jalan. Mumpung belom berubah pikiran ini bocah". Tania menyenggol lengan Juna agar cepat melajukan mobilnya.
"Heran gue..kok bisa sih gue temenan ama cewe yang galaknya ngelebih-lebihin singa beranak kaya lo berdua". Keluh Juna membuat Kirei tersenyum tipis.
"Udah..banyak ngomongnya lo kaya emak-emak komplek". Ledek Tania yang membuat Juna mencebik kesal.
Kirei diam mendengarkan perdebatan dua teman dekatnya. Dirinya berpikir, akan seperti apa jika kedua orang itu bersatu. Ah..membayangkannya membuat Kirei teringat tentang nasib dirinya dan Tama. Akan jadi seperti apa jika dua orang yang tidak pernah akur dipaksa hidup bersama. Ingatan Kirei memutar kejadian sejak pertama bertemu dengan Tama hingga kejadian terakhir di apartemennya. Apakah dirinya benar-benar harus menikah dengan Tama pada akhirnya?
"Woi..lo mau jadi penunggu mobil??". Suara Juna menyadarkan Kirei pada lamunan panjangnya. Terlalu asyik melamun membuat Kirei tidak menyadari mobil yang dikendarai Juna sudah terparkir rapi dihalaman luas sebuah rumah megah yang Kirei tidak tahu rumah siapa.
"Eh, udah nyampe?". Tanya Kirei linglung.
"Makanya jangan ngelamun mulu lo. Kan kaga lucu kalo kesambet. Udah dandan cantik-cantik terus teriak-teriak minta kembang ama menyan". Ledek Juna membuat Kirei mencebik.
Kirei membuka pintu dan turun, menggandeng lengan Tania untuk memasuki rumah yang memang sudah mewah ditambah dekorasi yang 'wah' membuat rumah itu semakin terlihat sempurna.
"Gila..calon laki si Arin orang tajir kayanya. Sekelas tuan Akmal kali ya calon mertua si Arin". Juna berdecak kagum melihat bangunan mewah didepannya.
"Ndeso banget sih lo. Kaya ga pernah liat rumah gede". Sindir Tania.
"Beda ogeb..ini super duper gede. Kaya rumah pak Tama ama orang tuanya". Balas Juna tak mau kalah.
"Sssttt..berisik! Malu-maluin". Ucap Kirei memperingati Juna dan Tania. Keduanya kompak mengunci mulut rapat-rapat melihat Kirei dalam mode singa.
Ketiganya disambut ramah oleh kedua orang tua Arin. Sementara kedua orang tua Daniel sempat mematung melihat gadis yang sudah tidak asing lagi bagi mereka tampak hadir di acara pertunangan putranya.
"Kami permisi dulu om, tante". Pamit Kirei pada para orang tua. Kedua orang tua Daniel tahu seperti apa perasaan putra mereka pada Kirei. Bahkan mungkin hingga saat ini masih sama.
"Kirei sayang..." Kirei menoleh pada asal suara. Melihat siapa yang memanggilnya membuat Kirei memejamkan mata untuk sesaat. Dirinya benar-benar lupa jika Tama dan Daniel adalah saudara. Sudah pasti kedua orang tua Tama juga akan ada disana.
"Selamat malam om, tante.." Kirei menyalami keduanya dan mencium punggung tangan keduanya.
"Malam juga..calon menantu ibu cantik banget sih. Sini duduk sebelah ibu". Kini Riana bahkan memanggil dirinya ibu dihadapan Kirei.
Kirei hanya bisa tersenyum kaku mendengar segala ucapan Riana. Sejujurnya Kirei takut akan mengecewakan kedua orang tua Tama yang sudah sangat baik padanya.
"Dokter Tania, dokter Juna. Silahkan duduk". Akmal yang melihat Juna dan Tania mematung meminta kedua dokter itu untuk bergabung bersamanya.
"Tidak perlu dokter..kami akan duduk disebelah sana saja. Masih banyak tempat yang kosong. Kami permisi dulu". Juna meminta ijin undur diri, keduanya cukup sadar dengan situasi.
"Apakah kalian pergi bersama?". Pertanyaan Riana membuat Juna menghentikan gerakan kakinya.
"Iya nyonya Riana..kami menjemput Kirei, ah maksud saya dokter Kirei tadi". Jawab Tania sambil tersenyum melirik Kirei yang melotot padanya. Tania tahu pasti, Riana akan meminta Tama untuk membawa Kirei nantinya.
"Kalau begitu terimakasih karena sudah menjemput calon menantu tante. Tapi kalian tidak perlu repot mengantarnya pulang. Biar Tama yang mengantarnya". Ucap Riana dengan senyum penuh kemenangan kala melihat Kirei hanya bisa pasrah dengan keinganannya.
"Tentu saja nyonya..kalau begitu kami permisi". Juna dan Tania meninggalkan Kirei bersama orang tua Tama.
Dari kejauhan, Daniel terus menatap Kirei. Mengawasi setiap pergerakan yang Kirei lakukan. Tangannya terkepal kala melihat Kirei dekat dengan om dan tantenya.
"Harusnya kamu yang ada disamping aku sekarang Ki..bukan orang lain". Gumam Daniel yang masih terus menatap wajah Kirei.
Arin yang sudah berdiri dibelakang Daniel sejak tadi merasa hatinya diiris. Perih, bahkan sangat perih rasanya. Jadi selama ini, cinta masa lalu yang Daniel bicarakan adalah Kirei? Teman baiknya?
Arin benar-benar tidak menyangka jika dunia bisa begitu kejam padanya. Arin ingin melepaskan Daniel, membiarkan Daniel pergi agar hatinya tak terasa sakit merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun membayangkan dirinya tidak lagi bisa bersama Daniel lebih membuatnya merasa lebih tersiksa. Egonya tidak membiarkan Daniel pergi.
__ADS_1
Setelah menghela nafas beberapa kali, menetralkan ekpresi wajahnya. Arin menepuk pelan pundak Daniel yang masih terus fokus pada Kirei.
"Acaranya udah mau mulai Dan.." Arin tersenyum tulus seperti biasanya, walau hatinya sedang tak baik-baik saja.
Daniel melangkah meninggalkan Arin yang mengekorinya dibelakang. Arin tersenyum miris melihat Daniel yang masih tidak memperdulikannya. Namun ini sudah menjadi keputusan Arin, dirinya harus kuat meskipun terasa sakit.
"Tamaaa". Riana melambaikan tangannya pada Tama yang baru saja datang. Tama tersenyum melihat wanita tercintanya yang terlihat begitu bahagia malam ini. Bahkan Tama tidak menyadari bahwa di meja yang sama dengan orang tuanya ada seorang gadis yang sedang menundukkan kepalanya.
"Ibu..ayah". Tama mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim. Kemudian duduk disebelah Kirei yang pada akhirnya mengangkat kepalanya kala menyadari Tama duduk disebelahnya.
"Lo..kok. Kok elo disini?". Tanya Tama pada Kirei yang langsung mendapat pukulan keras dilengannya dari sang ibu.
"La lo la lo. Ibu yang minta Kirei duduk disini. Sama calon istri kok nggak ada romantis-romantisnya". Sengit Riana membuat Tama salah tingkah.
"Mereka cuma pura-pura bu. Liat aja, pakaian mereka aja udah samaan gini. Emang dasar anak muda.,pura-pura nggak tau". Ledek Akmal membuat Kirei dan Tama sama-sama melihat pakaian yang mereka kenakan malam ini.
Dan benar saja apa yang dikatakan Akmal, pakaian keduanya berwarna senada. Seperti pasangan yang sudah janjian akan memakai pakaian warna apa.
"Kebetulan aja". Jawab keduanya kompak dan semakin membuat Riana dan Akmal menggoda keduanya.
"Jadi kapan kalian akan menikah? Ya paling tidak bertunangan". Tanya Akmal tiba-tiba membuat Kirei dan Tama gelagapan.
"Ki..kita belom pikirin om, tante". Jawab Kirei gugup.
"Kita masih muda yah. Pelan-pelan aja". Sahut Tama cepat.
"Muda dari mananya? Umur kamu sudah 26 tahun ini. Muda dari mana". Gerutu Riana membuat Kirei tersenyum.
Keduanya akhirnya memilih diam dan mendengarkan setiap ledekan kedua orang tua itu. Tama hanya sesekali menimpali, jujur Tama akui, Kirei terlihat sangat cantik malam ini.
Hingga saat Tama menoleh, Tama melihat Daniel yang terus menatap Kirei. Dan Tama sangat tidak menyukainya. Hatinya terasa panas, dadanya terasa terbakar melihat tatapan memuja Daniel pada Kirei.
Tama menarik kursi Kirei hingga merapat padanya membuat Kirei tersentak kaget. Sementara kedua orang tua Tama tersenyum melihat kelakuan Tama. Mereka yakin jika sebenarnya Tama sudah mulai menyukai Kirei.
"Gue nggak suka lo diliatin orang lain kaya gitu". Desis Tama membuat Kirei mengikuti arah pandang Tama. Dan benar saja, Daniel tengah menatapnya tanpa berkedip.
Kirei menatap Tama, kemudian menatap kedua orang tua Tama yang masih terus mempertanyakan kapan mereka akan menikah. Kirei kemudian kembali menatap Daniel yang masih setia menatapnya. Padahal disampingnya sudah ada Arin yang begitu cantik.
Setelah memantapkan dirinya, Kirei menggandeng lengan Tama yang terlihat kaget dengan apa yang Kirei lakukan. Begitupun dengan orang tua Tama.
"Secepatnya kami akan menikah om, tante". Ucap Kirei mantap. Tama memelototkan matanya tak percaya. Pasalnya sejak awal, Kirei lah yang ngotot tidak ingin menikah dengannya. Tapi apa yang baru ia dengar benar-benar membuatnya kesulitan membuka mulutnya.
"Benarkah???". Tanya Riana antusias. Terlihat jelas binar kebahagiaan dimata Riana dan Akmal.
Kirei mengangguk mantap, dirinya tidak ingin mengusik kebahagiaan temannya. Biarlah dirinya bersama Tama. Meski belum saling mencintai, setidaknya tidak ada salahnya dicoba. Lagipula, mau sekuat apapun ia berusaha menolak, pada akhirnya dirinya harus menerima keputusan kedua orang tua Tama.
"Tante bisa melamar Kirei secepatnya pada orang tua Kirei". Kirei mengulas senyum manis membuat Tama terhipnotis.
"Kami sudah melakukannya. Dan mereka setuju". Jawaban Akmal benar-benar membuat Kirei maupun Tama syok. Jadi semua ini sudah direncanakan?? Mereka yang sudah terjebak??
"APA??!!". Pekik Tama dan Kirei bersamaan.
"Kenapa? Bukankah hal baik harus disegerakan?".
"Dan ya..kalian akan bertunangan 1minggu setelah Dirga bertunangan. Itu yang buna dan ayahmu sepakati bersama kami". Jelas Riana semakin membuat Kirei tak percaya. Itu artinya, hanya tinggal menghitung minggu saja dirinya dan Tama akan bertunangan? Ini benar-benar gila.
__ADS_1
"Oh ya..satu lagi. Ayah dan buna mu berpesan, kalian harus menikah lebih dulu sebelum Dirga". Imbuh Akmal semakin membuat kedua pemuda itu syok.