Imperferct Partner

Imperferct Partner
Kontrak


__ADS_3

Naya terbangun saat sayup-sayup ia mendengar adzan berkumandang. Ia hendak meregangkan otot tubuhnya, namun ia merasa sebelah tangannya digenggam dengan begitu erat.


Kilasan kejadian semalam membuatnya reflek menarik tangannya dan memundurkan tubuhnya hingga membentur kepala ranjang. Matanya menyapu seluruh ruangan yang terasa begitu asing baginya. Tubuhnya bergetar ketakutan.


Namun ketakutannya luruh tak bersisa melihat siapa yang tertidur dengan pulasnya disamping ranjang yang ia tempati. Sesungging senyum tipis menghiasi bibir mungilnya.


Beruntung gerakannya yang tiba-tiba tidak mengganggu dan membangunkan lelaki tampan yang masih terlena dengan dunia mimpinya.


Tangannya terulur mengusap rambut hitam itu. Hatinya menghangat mendapati dirinya di tempat lelaki itu. Ia merasa jauh lebih aman kini.


Sekelebat bayangan semalam membuat hatinya sedikit takut. Bagaimana kondisi lelaki itu, masih hidup atau sudah pergi ke alam lain. Hal terakhir yang ia ingat pada lelaki itu adalah wajah penuh luka dan darah yang mengalir diwajah itu. Naya bergidik mengingat bagaimana gilanya Al semalam menghajar lelaki yang berusaha melecehkannya.


Naya menatap dalam-dalam wajah tampan yang masih terlelap itu. Hidung mancung, alis tebal dan rahang yang terlihat sangat kokoh itu benar-benar membuatnya kagum. Pahatan yang sempurna dari maha kuasa ada didepan matanya.


"Kamu sudah bangun Kay?". Suara serak yang terdengar sangat seksi ditelinga Naya membuatnya tersentak kaget.


Ia melihat Al yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Wajah Naya merona menyadari kekonyolannya yang diam-diam mengagumi wajah tampan Al.


" U-udah kak.." Jawab Naya gugup. Ia akan sangat malu andai kata Al mengetahui dirinya diam-diam mengamati wajah lelaki itu.


"Sudah jauh lebih baik??". Tanya Al yang sudah duduk dengan tegap disisi ranjang. Lelaki itu kembali mengambil tangan Naya dan menggenggam nya.


Naya yang terkejut hanya menganggukkan kepalanya seperti orang bodoh. Al terkekeh pelan kemudian mengelus pucuk kepala Naya yang menimbulkan gelenyar aneh yang sudah lama Hilang dari dalam hati gadis itu.


Tiba-tiba Naya memekik hingga membuat Al terkejut. Beruntung lelaki itu tidak terjungkal dan jatuh dari atas kasur ketika Naya bergerak tiba-tiba.


" Astaga...!!". Pekik Naya


"Kenapa Kay??". Tanya Al khawatir


" Diandra pasti mencariku kak. Dia akan sangat khawatir apalagi semalam aku tidak pulang". Wajah Naya berubah panik ketika mengingat teman satu kamarnya.


"Bagaimana ini kak..aku---aku harus pulang sekarang kak". Al segera mencegah Naya yang hendak melompat turun dari kasur hingga menyebabkan gadis itu jatuh duduk diatas pangkuannya.


" Semalam kakak sudah memberitahunya.."


"Ba-bagaimana bisa kak??". Tanya Naya tak bisa menutupi perasaan gugupnya. Jantungnya benar-benar tak bisa bekerja secara normal saat berada dekat dengan Al. Apalagi posisinya kini benar-benar membuat Naya harus menahan nafasnya karena terlalu gugup.


flashback on...


" *Nay.. kamu dimana?!! Kenapa belum pulang??"


"Aku dan Dimas sampai menyusulmu ke kantor. Tapi tidak ada.."


"Dan kenapa ruangan kerja kita berantakan begini Nay. Kamu baik-baik aja kan Nay???".


" Nay jawab aku. Jangan membuat aku khawatir*.. "


Al tersenyum tipis, ia bahagia Naya memiliki teman yang benar-benar tulus padanya. Setidaknya ia tak kesepian berada dikota asing ini.


"Hallo?? Nay?? Kamu masih disana??"


"Jangan buat aku khawatir Nay. Kamu dimana..aku dan Dimas akan menjemputmu".


" Hallo.." Al yakin teman Naya itu akan sangatvterkejut mendengar suaranya.


"Kamu siapa?? Kenapa ponsel teman ku ada padamu?!". Nada suara Diandra terdengar ketus dan galak bahkan cenderung berteriak.


" Siapa Di?? Hidupkan speaker nya Di.." Al mendengar suara lelaki yang Al perkirakan lelaki itulah yang bernama Dimas.


"Halloo..halloo!!!". Teriakan Diandra membuat Al menjauhkan ponsel Naya dari telinganya yang berdengung karenanya.


" Ya..saya masih disini".


"Kamu siapa?!! Kamu apakan temanku?? Dimana dia sekarang!! Jangan macam-macam ya!!!". Ancam Diandra membuat Al justru terkekeh.


" Saya tidak akan macam-macam. Maaf saya membawa Kanaya tanpa izin kalian. Tadi saya menjemputnya dikantor.." Jelas Al


"Jangan galak-galak Di.." Lagi Al mendengar suara lelaki itu, meski sangat samar.


"Lalu dimana Kanaya?? Kenapa tidak mengantar pulang ke apartemen kami?!". Nada suara Diandra masih sama, galak dan ketus. Al tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu jika tahu dirut perusahaan tempatnya bekerja yang membawa kabur temannya.


" Dia di apartemen saya. Dia baik-baik saja..saya jamin itu".


"Kenapa kamu bawa kesana?!! Awas ya jangan macam-macam!!!".


" *Di..."


"Sudahlah kamu diam aja!! Temannya ilang kok malah Da Di Da Di mulu*". Al tersenyum mendengar perdebatan diujung teleponnya.

__ADS_1


" Dimana alamat apartemen nya. Saya akan menjemputnya sekarang. Laki-laki jaman sekarang tidak bisa dipercaya". Al meringis mendengar ucapan Diandra. Tak sepenuhnya gadis itu salah, contohnya saja lelaki tadi malam yang hampir melecehkan Naya.


"Saya Al..kakak Kanaya. Apa sekarang saya tetap tidak bisa menjaga adik saya?". Tak ada cara lain, Al harus mengakui identitasnya.


" A--al??" Tak ada lagi suara ketus dan galak. Al hanya mendengar gadis galak tadi tergagap mengulang nama yang ia sebutkan.


"Kamu sih dibilangin ngeyel..itu suara pak Yohan!". Samar-samar Al mendengar nama Yohan. Itu artinya pria bernama Dimas iru mengenalinya.


" Ma-maafkan teman saya pak. Dia terlalu khawatir.. terimakasih sudah menjaga teman kami. Selamat malam..dan maaf mengganggu waktu anda pak". Panggilan terputus setelah Dimas menyelesaikan kalimatnya. Al terkekeh pelan sebelum meletakkan ponsel Naya kedalam tasnya.


Flashback off..


Naya melongo begitu Al selesai bercerita.. Naya masih belum mengerti mengapa Dimas begitu hormat pada Al. Siapa sebenarnya Al.


"Hay..kok ngelamun sih.." Al mengibaskan tangannya didepan wajah Naya.


"Eh..ehm..ak-aku tetep harus pulang kak. Aku harus kerja". Naya mencoba turun dari pangkuan Al. Namun lelaki itu justru semakin membelitkan tangannya dipinggang Naya.


" Bentar lagi ya..kakak kangen banget sama kamu Kay". Al menyembunyikan wajahnya diceruk leher Naya hingga membuat tubuh gadis itu meremang. Ia tak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun, bahkan Akbar sekalipun.


"K-kak..jangan gini.." Lirih Naya menahan geli.


"Kamu libur aja ya..nggak usah ke kantor". Suara Al terdengar berat. Dan Naya tak berani menatap wajah tampan yang sepertinya tengah menatap wajahnya. Entah sudah semerah apa wajahnya saat ini.


" Ma-mana bisa seperti itu!!". Naya berpura-pura galak untuk menutupi kegugupannya.


"Awas kak..ih. Aku harus pulang ke apartemen.." Naya mencoba mendorong kedua bahu Al.


"Tunggu bentar..kakak antar". Al menurunkan Naya dan mendudukkannya disampingnya. Ia segera bangkit dan melenggang ke kamar mandi tanpa beban. Naya tak tahu saja jika saat ini Al sedang tersiksa menahan has rat nya akibat membuat Naya duduk dipangkuannya.


Tak menunggu lama..Al sudah keluar dengan kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam. Menambah kesan dewasa lelaki mempesona itu.


" Ka-kakak mau kemana??". Tanya Naya dengan wajah terpesona menatap Al.


"Nganterin kamu pulang..sekalian kakak anter kerja. Kakak kan juga harus kerja Kay.." Al menacak rambut Naya gemas.


Dan..sepanjang perjalanan Naya hanya bisa menatap jalanan yang masih terlihat sangat sepi karena memang saat ini masih sangat pagi.


Sesampainya diapartemen Naya, Al ikut Naya masuk kedalam apartemen hingga membuat Naya mengernyit bingung.


"Kakak mau apa ikut masuk??". Tanya Naya bingung


" Mau nunggu kamu Kay..udah sana mandi. Kita juga belum sarapan.." Al mendorong tubuh Naya untuk kekamarnya. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka dari dalam. Menampakkan Diandra yang rupanya sudah rapi dengan blouse panjang yang dipadukan dengan celana bahan, menambah kesan cantik gadis itu.


" Kamu kenapa sih. Kaya nggak ketemu setahun aja.." Kekeh Naya yang geli melihat sikap lucu Diandra.


"Kamu nggak tahu..aku khawatir banget sama kamu semalam. Aku telpon nggak diangkat, dikirim pesan nggak dibalas. Aku sampe ngajakin Dimas ke kantor buat nyusulin kamu..tapi kamu nggak ada. Duh aku udah kaya orang gila deh nyari kamu..taunya kamu enak-enak tidur ditempat cowok yang tiap hari telpon kamu.." Ada nada kesal diakhir kalimat Diandra. Namun Naya tahu itu hanya gurauan gadis itu saja.


Wajah Diandra langsung pucat begitu melihat Al ada disana, duduk dengan tenang diruang tamu apartemen mereka. Dan Naya menyasari perubahan ekspresi wajah teman baiknya itu.


"Kok kamu udah rapi sih??". Tanya Naya mengalihkan kegugupan Diandra yang kepergok membicarakan Al.


" Biasa..tu emaknya se tan nyuruh gue ama Dimas ke cabang kota sebelah. Tau tu orang sensi banget kalo aku ama Dimas dikantor nemenin kamu. Pengen aku awul-awul itu rambut perempuan setengah waras.." Sudah satu minggu ini Diandra selalu emosi tiap membahas Dina.


Naya bukan tidak emosi, apalagi kejadian semalam. Jika Dina tidak melimpahinya dengan begitu banyak pekerjaan, dirinya tidak harus lembur dan mengalami kejadian mengerikan semalam.


"Yaudah..aku duluan ya Nay. Dimas udah nunggu didepan.." Diandra memeluk Naya sekilas dan berlalu meninggalkan Naya.


"Saya duluan pak..mari.." Diandra membungkuk sedikit ketika melewati ruang tamu.


"Tidak mau memarahi saya dulu??". Al sengaja bertanya untuk menggoda Diandra. Dan benae saja, gadis itu terlihat gelagapan mendapat pertanyaan yang lebih mirip sindiran untuknya.


" Eh..hehehe, maaf pak. Semalam saya kelepasan, saya khawatir sama Naya". Jawab Diandra sambil cengengesan.


"Saya paham. Terimakasih sudah menjadi teman baik Kanaya". Al tulus mengucapkannya. Diandra hanya mengangguk dan kembali berpamitan.


" Kalau begitu saya permisi pak.." Al mengangguk dan gadis itu berlalu dari hadapannya.


###****###


"Gimana sih kamu!!!! Pekerjaan mudah seperti ini saja nggak pecus ngerjainnya!!!!". Sungguh sebenarnya Naya lelah mendengar teriakan dan makian yang setiap hari tak pernah absen selama hampir dua minggu itu.


" Ngapain aja kamu semalam sampai pekerjaan mudah kaya gini nggak selesai!!!".


Naya benar-benar tak mengerti mengapa Dina begitu ingin dirinya didepak dari perusahaan itu. Seingatnya, ia benar-benar tak pernah mengusik kehidupan perempuan itu.


"Kerjain yang ini sekarang!! Tugas kamu cuma nyalin! Jangan sampai ngelakuin kesalahan. Saya rasa dua jam lebih dari cukup untuk mengerjakannya". Naya hanya menghembuskan nafas panjangnya sebelum mengangguk. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mungilnya untuk membalas cacian dan makian wanita yang selalu menyebut dirinya senior.


Rekan kerja Naya yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat perilaku Dina yang sudah kelewat batas.

__ADS_1


" Ini proyek dengan nilai milyaran. Kerjakan dengan benar!!". Bentak Dina lagi.


"Nggak usah bentak-bentak juga sih Din. Naya juga udah paham apa kerjaannya. Dia bukan anak magang yang masih belajar. Selama ini pekerjaannya selalu oke kok". Kesal karena Dina terus memaki, teman seangkatannya yang bernama Rani bangkit dan mendekati dirinya yang sedang berdiri angkuh didepan Naya


" Nggak usah dibelain deh anak baru kaya gini. Gede kepala Ran.."


"Udah ngerti belum?!!!". Dina kembali berteriak pada Naya. Ketidak hadiran pak Heru seolah dimanfaatkan Dina untuk menekan jiwa Naya.


" Ngerti mbak.. " Jawab Naya malas.


"Dua jam!! Inget dua jam!! Sebelum jam sebelas harus sudah selesai. Itu bahan untuk meeting dirut bersama klien. Ngerti?!". Ucap Dina menegaskan. Naya sudah enggan menjawabnya, toh mau dijawab berapa ribu kalipun sepertinya wanita itu tak akan membiarkannya tenang.


" Cukup Din!! Kamu udah kelewatan!! Hanpir dua minggu ini kamu selalu nimpain semua kerjaan ke Naya! Aku nggak tahu kamu punya masalah apa sama Naya, tapi setahuku Naya nggak pernah ganggu kamu. Jadi jangan berlebihan". Rani berucap dingin sambil menatap tajam Dina yang tampak acuh.


"Dua jam!". Pungkas Dina sebelum melenggang pergi meninggalkan Naya yang kembali menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.


" Sabar ya..aku nggak tahu kenapa sama Dina. Biasanya dia nggak sampai sebegini kelewatan". Seolah paham dengan perasaan Naya, Rani mengelus pundak gadis manis yang saat ini tengah tersenyum padanya.


"Makasih mbak..tapi aku gapapa kok". Rani mengangguk, tak dipungkiri ia kagum pada Naya. Bukan hanya wajahnya yang rupawan, namun kepiawaian gadis itu menyelesaikan pekerjaan benar-benar membuatnya kagum. Ditambah lagi berada dibawah tekanan wanita seperti Dina, Rani tahu itu pasti tidak mudah.


Naya sudah menyelesaikan pekerjaannya setengah jam sebelum batas waktu yang diberikan Dina. Ia berulang kali mengecek pekerjaannya sebelum mencetak dan memperbanyak untuk materi meeting nanti.


" Sudah?". Pertanyaan bernada sinis itu hanya Naya jawab dengan anggukan kepala saja.


"Bagus. Kamu bisa istirahat dulu. Maaf kalau saya terlalu kasar". Dahi Naya berkerut mendengar Dina mengucap maaf.


" Kebentur dimana ini kepala manusia? Ujug-ujug minta maaf.."


"Makasih mbak.." Naya langsung keluar dari ruangannya tanpa menoleh lagi. Saat ini dirinya benar-benar butuh kopi untuk menenangkan pikirannya yang hampir terbawa emosi karena ulah Dina. Ia tak menyadari Dina menyeringai dibelakangnya.


Sekembalinya Naya dari pantry, ia melihat wajah tegang semua orang. Dan saat dirinya masuk, semua mata langsung tertuju padanya.


Dina berjalan mendekat, dan seperti nya Naya tahu hal apa yang selanjutnya akan terjadi.


"Dasar ceroboh!!!!!". Dina membentak Naya dengan sangat keras hingga Naya tersentak. Kesalahan apalagi maksudnya.


" A-apa maksudnya mbak?". Tanya Naya sedikit terbata karena jujur dirinya tak terbiasa mendapat bentakan dan teriakan dari siapapun. Dina adalah orang pertama yang memperlakukannya sebegitu buruk.


"Saya sudah bilang!!!! Terliti!!! Sekarang bagaimana?!!!"


"Ada apa mbak?? Tolong jelasin". Pinta Naya yang memang merasa tak melakukan kesalahan pada pekerjaannya.


" Lihat hasil kerja kamu!!!". Dina melempar pekerjaan yang sebelumnya Naya kerjakan.


"Kamu kurang memasukkan satu nol Kanaya!!!! Dasar b*doh!!!". Teriak Dina membuat Naya hampir menangis. Sungguh kali ini dirinya merasa terhina dan amat dipermalukan.


" T-tapi tadi aku udah cek berkali-kali mbak. Semua sesuai kok mbak.." Naya mencoba membela diri karena meras dirinya benar-benar sudah melakukan semua dengan benar dan hati-hati.


"Udah Din!! Nggak ada waktu buat perdebatin ini semua". Rani mencoba menengahi ketegangan antara Dina dan Naya.


" Tanggung jawab!!!". Perintah Dina


"A-aku harus gimana? Mbak Dina bilang aja.." Tak ada gunanya membela diri, yang penting perusahaan tidak rugi. Hanya itu yang Naya pikirkan.


"Pergi ke ruang meetin sekarang dan cegah pak Yohan menandatangani surat perjanjian kontrak yang kamu ketik ini!!". Bentak Dina. Tanpa menjawab, Naya berlari menuju lift, karena setahunya sang direktur selalu meeting dilantai 4.


Naya kembali berlari ketika pintu lift terbuka. Ia segera menuju ruang meeting. Tepat ketika ia hendak membuka pintu, pintu ruang meeting terbuka dari dalam. Memunculkan sosok yang cukup ia kenal karena sudah beberapa kali bertemu, dia adalah Rian. Asisten sekaligus orang kepercayaan direktur perusahaan itu.


" P-pak Rian..kontraknya sudah di tanda tangani??". Tanya Naya takut.


Rian mengangkat surat perjanjian kontrak yang berada ditangannya dengan senyum lebar.


"Udah Nay.." Tubuh Naya lemas seketika. Sekarang apa lagi yang akan terjadi padanya? Apakah dirinya akan dipecat?


"Loh..kenapa Nay? Kok pucet?". Tanya Rian sedikit khawatir.


Tak lama seorang wanita dengan perut besar keluar dari ruang meeting. Ia menatal heran pada Rian dan Naya yang ada didepannya.


" Ngapain disini??". Tanya wanita yang Naya tahu bernama mbak Safira.


"Nggak apa-apa mbak. Aku kembali dulu ke ruangan aku ya.." Dengan gontai ia berjalan meninggalkan dua orang yang saling menatap dalam bingung.


"Pasrah aja udah lah..paling dipecat kamu mah Nay. Dasar ceroboh..ceroboh..ceroboh.." Naya memukul kepalanya beberapa kali. Merasa sangat ceroboh dan gagal menjadi pegawai yang baik.


####***####


Hai..hai..hai...hari ini bener-bener dikasih up yang banyak yang panjaaaaang banget ceritanya..


Soalnya mungkin besok sama lusa nggak bisa up dulu..ada kepentingan di RL yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi semoga masih bisa curi-curi waktu bikin cerita dan di up buat para readers setianya Imperfect Partner..

__ADS_1


Makasih buat dukungannya selama ini..semoga masih setia nunggu kisah selanjutnya. Jangan lupa dukungannya man-teman semuaaaa...


Makasih..Lope lope sekebon deh pokoknya...


__ADS_2