Imperferct Partner

Imperferct Partner
Kembalinya masa lalu


__ADS_3

"Wooiii bro, bengong aja lo. Kenapa? Otak lo kaga kececer kan pas kemaren kecelakaan?". Saga, salah seorang sahabat baik Tama menginterupsi lamunannya.


"Kadal si*lan!". Tama mengelus d***nya lantaran terkejut mendapati sahabatnya sudah ada disampingnya.


"Dari tadi ni kunyuk ngelamun. Gue disuruh kesini cuma buat nemenin kunyuk galau". Gery yang sudah sejak tadi menemani Tama mendengus kesal.


Kini ketiga pria yang memiliki rupa diatas rata-rata itu tengah duduk di sebuah cafe yang sudah menjadi tempat nongkrong favorit mereka 1tahun terakhir ini.


"Napa lo? Galau putusin si Nathalie?". Celetuk Saga membuat Tama menghadiahi pukulan dikepala pria itu.


"Haram hukumnya nyebut nama mantan". Sungut Tama membuat kedua temannya tergelak.


"Itu si Nathalie nya aja masih ngerasa pacar elo, Tam. Pusing gue tiap hari ditelpon, nanyain Tama mana? Lagi apa? Kamu sama dia engga?. Ya kali tu lampir ngira gue emak lo". Gery nampak bern**su membicarakan mantan kekasih Tama yang baru 2minggu lalu diputuskan oleh lelaki playboy itu.


"Tau nih kampret atu! Temen dijadiin korban, yang salah sapa yang tiap hari kena omel sapa. Sinting!". Kesal Saga yang juga menjadi salah satu korban teror mantan kekasih sahabatnya itu.


"Yaaa..resiko lo berdua punya temen yang pesonanya ngalahin dewa Yunani. Ya mau gimana lagi dong, pesona gue emang susah ditolak". Memang dasar Tama minim akhlak, saat temannya kesulitan karena dirinya, lelaki itu justru membanggakan ketampanannya.


"Sableng!". Kedua pria yang sudah kesal itu mendorong kepala Tama keras.


"Dia?". Saat mata Tama menoleh kearah lain, tanpa sengaja ia melihat gadis yang sejak seminggu lalu mengganggu pikirannya. Entah karena apa, sejak kepulangannya dari rumah sakit itu, Tama selalu terbayang wajah ketus Kirei.


"Ooh..itu yang punya ni cafe. Cantik man..pen gue jadiin istri". Mata Gery dan Saga sudah fokus pada gadis yang sedang tersenyum ramah pada pel*ngg*n cafe nya.


"Hah?". Seru Tama membuat fokus kedua temannya buyar.


"Napa sih ni bocah. Hah heh hah heh". Sungut Saga dan kembali fokus menatap Kirei.


"Eh..eh..eh, ngapain tu kunyuk datengin yang punya cafe?". Saga mengangkat kepalanya dan mengikuti arah pandang Gery. Disana terlihat Tama yang sedang berjalan mendekati Kirei yang masih memberi instruksi pada karyawan cafenya.


"Selamat sore dokter Kirei". Sapa Tama dengan senyuman penuh pesona.


"Selamat so.." Kirei tidak melanjutkan sapaannya kala melihat siapa yang tadi menyapa dirinya dengan begitu ramah.


"Ngapain si Tamia rata disini?". Batin Kirei


"Senang bertemu dengan anda lagi dokter". Tama mengulurkan tangannya, berharap Kirei akan membalasnya. Namun Kirei masih diam tanpa pergerakan sedikitpun.


"Bukankah mengacuhkan pel*ngg*n itu sungguh tidak sopan, nona Kirei?". Tama menekankan kata pel*ngg*n didepan karyawan Kirei.


Kirei melirik sekitar, saat ini ada beberapa pasang mata tamu yang juga ada didalam cafe nya sedang memperhatikan dirinya dan Tama. Setelah menghela nafasnya, perlahan Kirei mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan Tama yang langsung tersenyum.penuh kemenangan.


"Senang juga bertemu dengan anda tuan Wi-RATA-ma". Kirei menekankan kata rata, seolah nama lelaki itu bukanlah Tama, namun Rata.


Kedua sahabat sablengnya jelas saja tertawa melihat bagaimana Kirei menanggapi Tama. Selama ini kedua pria itu tahu persis bagaimana para wanita bertekuk lutut dengan pesona seorang Tama. Namun hari ini, mereka melihat bahwa ternyata ada seorang gadis yang bahkan melirikpun tidak pada temannya itu.


"Lo keliatan seksi kalo galak". Bisik Tama membuat Kirei mengeraskan rahangnya mendengar ucapan pria yang sejak pertama bertemu dengannya memang sudah membuatnya kesal.setengah mati.


"TAMA!!!". Suara cempreng seorang perempuan membuat Tama menegakkan tubuhnya. Dipintu masuk terlihat seorang wanita dengan pakaian minim dan dandanan yang menor tengah menatapnya tajam.


"Waaah..rame nih Ger. Videoin gih cepet, ntar kita kasih liat tante Riana sama om Akmal. Lumayan tambah uang jajan". Saga segera meminta Gery untuk memvideo drama yang akan terjadi dihadapan mereka.


"Cocok..emang otak lo juara kalo nyari peluang". Gery segera mengeluarkan ponselnya dan mulai mem video apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kamu keterlaluan ya! Jadi kamu putusin aku cuma buat j*lang kecil ini?!". Suara perempuan yang Kirei tidak tahu siapa namanya itu terdengar memekakkan telinga.


Mata Kirei melotot tak percaya mendengar dirinya disebut j*lang oleh orang yang bahkan tidak ia kenali.

__ADS_1


"Lo ngapain sih disini Nath?". Tanya Tama santai membuat wanita itu semakin murka.


"Kalo aku nggak kesini, aku nggak akan tahu kalo kamu selingkuh dibelakang aku!". Hardik wanita yang Tama panggih Nath itu.


"Maaf tuan, nona..sepertinya disini ada kesalahpahaman. Saya tidak mengenal kekasih anda, dia hanya p*l*nggan di cafe saya ini". Jelas Kirei menahan amarah.


"Cih..mana ada maling mengaku".


"Nathalie! Cukup!". Geram Tama melihat gadis yang bernama Nathalie semakin tak terkontrol


"Anda berdua bisa menggunakan ruangan VIP jika ingin menyelesaikan permasalahan. Jangan sampai mengganggu tamu kami yang lain". Saran Kirei melihat beberapa pembeli melihat kearah mereka.


"Diem!!!". Sentak Nathalie mendorong keras tubuh Kirei hingga limbung. Untung saja Tama segera menangkap pinggang rampingnya. Jadilah keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan.


"TAMAAAAA!!!! Tuh kan kamu peluk dia!!!". Jerit Natahalie histeris.


Kirei segera menegakkan tubuhnya, kondisi saat ini benar-benar sudah diluar kendali.


"Maaf nona, tuan. Saya tidak ingin ada keributan di cafe saya. Silahkan keluar". Kirei menunjuk pintu keluar cafenya.


Meskipun berat, Tama mengalah dan menyeret keluar Nathalie yang masih terus mengumpati dirinya. Kirei berkali-kali menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan untuk mengurangi amarah didadanya.


"Maafkan saya atas ketidaknyamanan anda semua". Kirei membungkukkan badannya pada beberapa orang yang masih berada didalam cafe. Untung ini masih cukup pagi, jadi belum banyak pel*ngg*nnya yang datang.


"Mbak Kirei ndak kenapa-kenapa?". Seorang gadis berlari menghampiri Kirei yang sudah duduk dibelakang bangku kasir.


Kirei menoleh dan tersenyum tipis


"Gapapa Nad..kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Sebentar lagi saya akan berangkat kerumah sakit". Kirei menepuk punggung tangan gadis bernama Nadia yang berada dibahunya.


______


"Lo ngapain sih. Gue udah bilang kalo kita udah putus. Gue nggak mau ada urusan lagi sama lo!". Lelah rasanya menghadapi Nathalie. Dari sekian banyak gadis yang ia kencani, hanya Nathalie yang sulit melepaskan dirinya. Biasanya gadis lain hanya akan mengumpatinya dan menghadiahi wajah tampannya dengan sebuah tamparan, dan masalah selesai.


Namun berurusan dengan wanita bernama Nathalie tak semudah yang Tama pikirkan. Wanita yang ia pacari tidak lebih dari waktu dua minggu itu seolah seperti perangko yang selalu menempel padanya


Sudah berbagai cara ia lakukan namun gadis itu masih gigih mengejar dirinya tanpa mempedulikan sikap cuek Tama.


"Kamu itu pacar aku, aku nggak mau kamu diganggu j*lang-j*lang s*al*n itu". Tanpa rasa malu, Nathalie bergelayut manja dilengan kekar Tama.


Tama menatap Gery dan Saga yang hanya cekikikan melihatnya kesusahan melepaskan diri dari Nathalie.


Sebuah senyuman licik tersungging dibibir Tama, membuat Saga dan Gery menghentikan tawanya. Tiba-tiba perasaan keduanya tidak enak melihat senyum Tama.


"Nath..tadi kata Saga sama Gery, mereka mau nemenin lo shopping, mereka mau bawain barang-barang belanjaan lo". Senyuman Tama semakin lebar kala melihat dua temannya melotot.


"Nih kartunya, lo bebas belanja apa aja". Tama menyodorkan kartunya yang membuat mata Nathalie berbinar.


"Makasih Tama". Tanpa dikomando, tangan yang sejak tadi bergelayut dilengannya terlepas hingga membuatnya bebas. Dan tanpa menunggu lama, Tama segera meninggalkan cafe milik Kirei.


"TAMA S*ALAAAAAAN!!!". Teriakan kedua temannya membuat Tama terbahak. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran cafe itu. Bisa ia bayangkan bagaimana kesalnya Saga dan Gery atas ulahnya. Namun dirinya tidak ingin ambil pusing, yang penting dirinya bisa bebas dari gadis bernama Nathalie.


####


"Br*ngs*k lo Tam!!". Setibanya Saga dan Gery di apartemen milik Tama, keduanya langsung melempar wajah Tama dengan bantal sofa yang ada diruang tamu apartemen itu.


"Kalem bro..gue nggak maksud". Meski begitu, Tama masih tertawa melihat wajah kesal kedua temannya. Dia tahu apa yang dialami kedua teman baiknya itu.

__ADS_1


"Emang kunyuk br*ngs*k lo. Numbalin kita ama tu lampir". Rupanya kekesalan Gery dan Saga masih belum reda. Keduanya kembali melempari wajah tampan Tama dengan bantal sofa.


Akhirnya ketiga pria dewasa itu menghabiskan waktu dengan membicarakan tentang kes*alan Gery dan Saga yang harus menjadi kacung untuk Nathalie.


_____


"Muka lo ditekuk mulu Ki. Heran gue". Ucap Tania ketika melihat teman sejawatnya terlihat murung.


"Kesel gue, tadi ketemu tamia di cafe gue". Kirei mengaduk-aduk jus jeruk yang ia pesan beberapa waktu lalu.


"Tamia?". Beo ketiga teman Kirei bersamaan.


"Hah? Pak Tama maksud lo? Serius??. Pekik Tania kegirangan. Sementara Kirei memutar bola matanya.


"Lebay lo". Juna menempeleng kepala Tania yang membuat gadis itu mengaduh.


"Juna s*alan!!!!". Pekik Tania kesal.


"Sssttt..berisik lo berdua. Pusing gue!!". Omel Kirei membuat keduanya hanya saling menatap tajam.


"Jangan terlalu benci Ki..nanti jatohnya cinta". Kekeh Arindhi membuat Kirei mendelik.


"Amit-amit". Kirei mengetukkan kepalan tangannya beberapa kali ke meja.


"Ehm..guys, aku duluan ya. Udah dijemput". Terlihat jelas wajah Arin bersemu.


"Cieee..yang dijemput calon imamnya". Goda Tania yang langsung didukung oleh Juna.


"Iya..kalo lo calon almarhum". Kekeh Kirei membuat Tania melotot kesal. Tentu saja Juna dengan bahagia menertawakan Tania.


"Dan.." Arin tampak melambaikan tangannya pada seorang pria yang berjalan dengan gagahnya.


"Kita pulang sekarang". Suara dingin itu membuat tawa Kirei terhenti seketika. Jantungnya berdetak tak terkendali.


"Kaga mau kenalan dulu mas". Goda Tania membuat Juna menyambit lengannya.


"Dan..kenalin ini temen-temen aku". Arin mulai mengenalkan teman-temannya dimulai dari Juna, kemudian Tania.


"Ki..kenalin, ini Daniel..calon suami aku". Kirei bangkit, dengan jantung berdebar Kirei membalikkan tubuhnya.


deg


Tubuh Kirei membeku, lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan sepatah kata. Begitupun dengan lelaki yang baru saja diperkenalkan oleh Arin sebagai calon suaminya itu.


Keduanya saling menatap dengan tatapan berbeda, Daniel menatap Kirei penuh kerinduan, sementara Kirei, dia menatap Daniel penuh kecewa.


"Ehmm.." Deheman dari Juna menyadarkan Kirei dari rasa terkejutnya.


"Kirei". Kirei mengulurkan tangannya pada Daniel dengan senyuman tipis. Berusaha menutupi perasaan sakitnya yang kembali terbuka akibat bertemu dengan masa lalu yang membuatnya sempat terpuruk.


"Da..Daniel". Daniel menerima uluran tangan Kirei dengan gemetar.


"Gue balik duluan ya..gue kudu visite nih". Kirei segera berlalu tanpa menghiraukan tatapan bingung ketiga temannya.


"Akhirnya aku nemuin kamu lagi Ki..perasaan itu masih sama Ki, bahkan semakin besar. Kamu semakin cantik Kirei". Batin Daniel dengan mata fokus menatap punggung Kirei yang semakin menjauh.


"Kenapa Dan..kenapa gue harus ketemu lo lagi..gue udah setengah mati lupain elo. Kenapa kita harus ketemu lagi". Kirei mempercepat langkahnya, menahan sesak yang seolah menghimpit dadanya.

__ADS_1


__ADS_2