
Tama menggandeng tangan Kirei, berjalan penuh percaya diri menghampiri Daniel dan Arin yang berdiri berdampingan diatas panggung kecil yang baru saja menjadi saksi bahwa keduanya baru saja bertunangan. Wajah keduanya tampak berlawanan, jika Arin selalu tersenyum bahagia, maka Daniel hanya menampakkan wajah datarnya. Tidak sedikitpun terlihat raut kebahagiaan dari wajah Daniel.
"Lo nyari kesempatan banget sih. Kaga usah pegang-pegang juga kali". Bisik Kirei yang berjalan disamping Tama.
"Biar meyakinkan. Kan elo tadi yang udah mau gue kawinin". Sahut Tama ikut berbisik.
"Kawin kawin pala lo pitak. Nikah koplak!". Sungut Kirei mencubit perut Tama dengan sebelah tangannya yang masih bebas.
"Aw aw aw..sakit markonah!". Sengit Tama mengencangkan genggaman tangannya.
Kirei tersenyum mendengar Tama mengaduh dan memanggilnya markonah.
Sampai didepan Daniel dan Arin, Tama dan Kirei bersikap begitu mesra. Bahkan mengalahkan pasangan asli yang benar-benar saling mencintai.
"Hai bro..selamat ya. Akhirnya setelah 6tahun, lo berdua tunangan juga. Cepet-cepet nikah sebelum gue salip". Tama menyalami Daniel kemudian memeluk lelaki itu sesaat.
"Nggak usah salaman, bukan muhrim". Tama menarik Kirei ke sebelahnya agar tidak menerima uluran tangan Daniel.
Tampak jelas wajah Daniel menahan amarahnya melihat Tama yang bisa terus berdekatan dengan Kirei. Bahkan Tama sudah pernah mencium Kirei. Membayangkannya saja membuat Daniel merasa sesak.
"Selamat ya Rin..gue ikut seneng atas pertunangan elo". Kirei memeluk Arin yang balas memeluknya.
"Aku mohon jangan rebut kebahagiaan aku Ki". Bisik Arin membuat Kirei membeku. Apakah Arin tahu kisah masa lalu antara dirinya dan Daniel?
"Rin.." Suara Kirei tercekat ditenggorokan.
"Tapi aku percaya kok sama kamu Ki". Arin melepaskan pelukannya dan memberi senyum hangat seperti biasa.
"Selamat ya Rin". Ucap Tama menyalami tangan Arin.
"Jangan lama-lama, bukan muhrim". Kini gantian Kirei memainkan peranannya. Ia menarik tangan Tama yang masih menggenggam tangan Arin, kemudian menggandeng mesra lengan Tama. Arin tersenyum melihat Tama dan Kirei begitu mesra, ada sedikit kelegaan dalam hatinya melihat Kirei dan Tama semakin dekat.
Sejujurnya hati Tama menghangat, andai semua ini bukan hanya sandiwara. Pasti dirinya akan sangat bahagia.
"Mereka cocok banget ya Dan? Kirei cantik, kak Tama ganteng". Ucap Arin memecah lamunan Daniel yang masih fokus menatap Kirei yang terus bergelayut manja pada Tama.
"Hm". Daniel hanya berdehem menjawab ucapan Arin.
_________
"Minggu depan gue temenin ke acara pertunangannya mantan pacar elo". Ucap Tama ketika sampai didepan pintu apartemen Kirei.
"Mantan pacar?". Beo Kirei bingung.
"Iya..waktu itu Dirga bilang kalo dia pacar elo". Sahut Tama cepat.
"Ooouhh..ya gue mana tau". Kirei mengendikkan bahunya acuh.
"Kaga tau sih lo abis denger dia pacar elo gue jadi mabok". Gumam Tama.
"Apaan?". Tanya Kirei yang tidak mendengar jelas gumaman Tama.
"Nggak ada. Yaudah gue pamit".
"Eh tamia..Makasih". Ucap Kirei memberi senyum tulus pada Tama yang terpaku melihat senyuman Kirei.
Tama balas tersenyum dan melambaikan tangannya setelah berbalik badan.
"Keputusan elo udah bener Ki, nggak ada salahnya mencoba sebuah hubungan yang baru". Ucap Kirei mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan sudah benar.
__ADS_1
Sedangkan Tama, lelaki tampan itu terus tersenyum setelah mengantarkan Kirei. Entah mengapa perasaannya menjadi tenang dan juga bahagia setelah mendengar kesediaan Kirei untuk ia peristri.
Ponsel Tama berbunyi, muncul nama sahabat somplaknya dilayar benda pipih itu. Dengan malas Tama menggeser ikon telepon berwarna hijau dan menempelkannya ditelinga.
"Gileeee beneeeeer, yang bakal calon kawin". Suara Saga sudah memenuhi telinga Tama, hingga lelaki itu sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Gercep juga lo Tam, takut gue tikung ya lo". Kini suara Gery terdengar membuat Tama mencebik.
"Selera Kirei bukan lo berdua". Ucap Tama bangga membuat kedua teman sablengnya terbahak diujung telepon sana.
"Dia juga kepaksa ama elo, sableng". Sengit Gery dengan tawa semakin keras.
"Ni kunyuk udah PD tingkat kabupaten, padahal dokter Kirei mau juga kan berkat emak bapaknya". Saga ikut menimpali, membuat taws dua sableng teman baik Tama semakin terdengar menyebalkan ditelinga Tama.
"Dasar s*tan lo berdua". Teriak Tama kesal dan kemudian mematikan ponselnya.
_______
"Lo ngapain pagi-pagi disini?". Alis Kirei hampir menyatu kala melihat Tama sudah berdiri didepan pintu apartemennya pagi buta seperti ini.
"Laper..pengen makan". Tama menerobos masuk sebelum Kirei mempersilakan.
"Yaaaak..siapa yang nyuruh elo masuk". Teriak Kirei dari depan pintu. Sementara Tama sudah duduk manis dimeja makan. Kirei memang selalu menyempatkan diri memasak untuk sarapannya jika berada dirumah seperti sekarang.
"Sssttt..jangan teriak-teriak Ki. Sini duduk, kita makan". Ucap Tama santai tak memperdulikan ekspresi kesal calon tunangannya itu.
"Ish..lo lama-lama nyebelin ya. Sejak kapan kita deket nyampe lo ikut sarapan diapartemen gue?". Sinis Kirei membuat Tama yang hendak memasukkan makanan kedalam mulutnya menghentikan gerakan tangannya.
"Kita calon suami istri kalo-kalo elo lupa onah". Sahut Tama kemudian memasukkan makanan kedalam mulutnya.
Kirei mencebik kesal, namun akhirnya ia juga duduk didepan Tama dan memulai sarapannya. Ini kali kedua bagi Kirei dan Tama sarapan bersama. Dan jika mereka benar-benar menikah, itu artinya kegiatan ini akan mereka lalui setiap hari. Kirei tidak bisa membayangkan menghabiskan waktu dengan orang menyebalkan seperti Tama.
"Gue kaga mau ya..punya laki pengangguran". Imbuh Kirei membuat Tama melotot kesal.
"Sembarangan banget elo kalo punya mulut Ki. Lo tinggal di planet mana sih nyampe nggak kenal siapa gue?". Tanya Tama heran. Ia sudah menandaskan makanan dipiringnya.
"Gue tu photographer terkenal seantero negeri. Lo kaya orang primitiv tau kaga sih. Orang sehebat ama seganteng gue aja lo kaga kenal". Ucap Tama bangga, namun Kirei hanya mengendikkan bahunya acuh.
"Iya dah iyaaa pak Wiratamia yang paling ganteng seantero hutan". Sahut Kirei sambil tersenyum kala melihat Tama sudah memelototinya.
"Sssttt..udah siang. Gue kudu kerumah sakit sekarang. Jadi lo..syuh, syuh..pulang sono". Kirei segera berbicara kala melihat Tama sudah membuka mulutnya hendak melayangkan protes padanya.
"Makanya gue kesini nyubuh gini tu..gue disuruh ama emak gue buat anter jemput elo hari ini. Kita disuruh fitting baju buat tunangan sekalian nyari cincin". Jelas Tama panjang lebar membuat Kirei mematung sesaat. Apakah keputusannya menikah dengan Tama sudah benar? Atau justru nantinya akan lebih banyak hati yang tersakiti karena keputusannya? Kirei berperang dengan hati dan pikirannya hingga tak sadar Tama sudah berdiri didepannya.
"Masih pagi Ki, mati bediri lo kalo kaya gini. Kan kaga lucu, didatengin ama calon suami malah mati kaku". Ucapan Tama menyadarkan Kirei dari lamunan sesaatnya.
Kirei mencebik kesal membuat Tama terkekeh melihat wajah kesal Kirei dan bibirnya yang cemberut. Ingin rasanya Tama kembali menciumnya, namun ia sadar jika dirinya berani melakukan hal gila itu, maka bisa ia pastikan wajah dan tubuhnya tidak akan baik-baik saja ketika keluar dari apartemen calon istri dadakannya itu.
"Gue udah kelar..gue tunggu depan". Tama bangkit, meninggalkan piring kotornya begitu saja membuat Kirei semakin kesal. Kini dirinya sudah benar-benar seperti seorang istri.
"Ayo pergi..gue udah kesiangan gara-gara elo". Kirei sudah rapi dengan baju dinasnya. Tama tersenyum kemudian bangkit.
"Ternyata kalo gini calon bini gue beneran kaya cewe". Bisik Tama kemudian melenggang pergi meninggalkan Kirei yang tengah mendengus kesal.
"Ayo cepet calon makmum". Teriak Tama.
"Iya bentaran calon almarhum". Kirei balas berteriak. Tama tergelak mendengar panggilan Kirei. Memang dasar mereka sama-sama tidak waras.
Tepat ketika pintu dibuka oleh Tama, didepannya sudah berdiri Daniel yang mengangkat sebelah tangannya. Sepertinya lelaki itu berniat mengetuk pintu.
__ADS_1
"Lo kenap----". Kirei tidak melanjutkan ucapannya kala melihat siapa yang berdiri didepan Tama.
"Lo ngapain disini Dan?". Tanya Tama tidak suka. Entah sejak kapan Tama tidak menyukai sepupunya itu. Mungkin sejak melihat Daniel terus menatap Kirei penuh damba.
Kirei menatap dua lelaki didepannya yang saling menghunuskan tatapan tajam, seolah mereka sedang menghadapi musuh besarnya.
"Saya ada perlu dengan dokter Kirei". Jawab Daniel dingin sambil menatap Kirei yang mematung disamping Tama.
"Calon istri gue buru-buru, gabisa diganggu". Ketus Tama. Kirei segera menggandeng lengan Tama, bergelayut manja dilengan kokoh pria cassanova yang terkenal dengan segala pesonanya itu.
"Maaf tuan Daniel, mungkin jika anda ingin berkonsultasi, anda bisa datang kerumah sakit. Kebetulan sekali saya sedang terburu-buru dan calon suami saya paling tidak suka jika saya bersama dengan pria lain". Kirei memberi senyum termanis untuk Tama yang juga membalas senyumnya. Melihat ada kesempatan bagus, Tama langsung mengecup mesra pipi Kirei didepan Daniel.
Kirei tetap mencoba tersenyum setulus mungkin meski dalam hatinya ia mengutuk kelakuan Tama yang selalu mencuri kesempatan.
"Cukup Ki! Aku udah nggak bisa pura-pura baik-baik aja sekarang". Suara Daniel meninggi membuat Tama menatap Daniel heran. Ada apa dengan lelaki ini?
"Apa maksud anda tuan DANIEL?". Kirei menekan setiap katanya, memperingati Daniel untuk tidak melakukan dan membicarakan hal konyol didepan Tama.
"Aku nggak bisa Ki..aku nggak bisa liat kamu kaya gini". Suara Daniel melemah.
"Maksud lo apaan sih Dan? Lo ngomong apaan sama calon istri gue?". Tanya Tama dengan mata menyipit.
"Nggak ada apa-apa sayang. Kita pergi sekarang". Kirei berusaha menarik Tama menjauh dari Daniel.
"Dia gadis yang selama ini gue ceritain kak! Dia cinta yang gue tinggalin 6tahun lalu". Teriak Daniel keras membuat tubuh Kirei mematung tak percaya.
Tama diam, menatap tajam Daniel yang masih menatap Kirei dengan mata berkaca-kaca. Tama mengetatkan rahangnya, ingin rasanya ia menghantamkan tinjunya pada wajah sepupunya itu.
Setelah berhasil mengontrol amarah yang tiba-tiba memuncak, bukannya Tama marah atau memaki Daniel..Tama justru memeluk bahu Kirei dengan posesif membuat Kirei langsung menatapnya.
"Lo masa lalu Kirei Dan..sedangkan gue...gue masa depan Kirei. Jadi gue minta jangan lagi elo ganggu calon istri gue". Tegas Tama semakin mengeratkan pelukannya. Kirei tersenyum memdengar ucapan Tama yang terdengar menenangkan.
"Gue nggak akan lepasin Kirei lagi kak. Apapun bakal gue lakuin biar Kirei balik sama gue". Ucap Daniel penuh tekad. Tama sama terkejutnya seperti Kirei ketika mendengar Daniel mengatakannya. Apakah kini Daniel juga sudah kehilangan akal? Dia baru saja bertunangan dengan Arin. Lalu untuk apa dia memaksa kembali pada Kirei.
"Saya rasa anda sudah tidak waras. Anda tahu kalau saya adalah calon istri kakak sepupu anda sendiri bukan?". Tanya Kirei menatap Daniel datar.
"Ki..plis. Kamu bisa pukul aku, kamu bisa hukum aku apapun. Tapi aku mohon kembali sama aku Ki. Aku tahu aku salah, tapi aku masih sangat mencintai kamu Ki". Daniel melangkah kedepan Kirei. Sementara Tama membiarkan Daniel melakukan apapun yang ingin dilakukan. Bahkan Tama sengaja melepas pelukannya pada Kirei untuk melihat akan seperti apa tanggapan Kirei.
Tepat ketika Daniel hendak memeluk Kirei. Kirei memilih berlindung dibelakang tubuh tinggi Tama agar Daniel tidak bisa menjangkaunya.
"Ki..." Lirih Daniel menatap Kirei sendu.
"Saya buru-buru tuan. Saya mohon jangan ganggu saya dan calon suami saya".
"B****sek lo kak!!". Daniel memukul Tama tepat diwajahnya. Tama yang belum siap tidak bisa menghindari serangan Daniel. Tubuh tingginya terhuyung kebelakang, Kirei yang masih berdiri dibelakang Tama menjadi korban karena gadis itulah yang akhirnya jatuh dan terbentur meja ruang tamu.
"S**lan lo!!!". Tama balas memukul keras Daniel. Ia tidak terima Kirei terluka karena ulah Daniel yang menurutnya sangat kekanakan.
"Tamaaa..cukup". Teriak Kirei ketika melihat Daniel dan Tama baku hantam.
"B******n kaya elo nggak pantes buat Kirei. Dia bakal terluka kalo sama elo". Ucap Daniel disela perkelahiannya dengan Tama.
"Cih..elo nggak lebih baik dari gue Dan. Nggak usah munafik!". Balas Tama sengit.
Tama mencengkeram kerah baju Daniel dan siap melayangkan tinjunya pada wajah sepupunya yang tidak tahu diri itu. Namun..
Tubuh Tama mematung, kepalan tangannya melayang diudara ketika merasakan pelukan erat dibelakang tubuhnya.
"Cukup Tam..cukup". Lirih Kirei masih memeluk Tama erat dari belakang. Tama menurunkan kepalan tangannya dan melepas cengkeramannya pada kerah baju Daniel. Ia berbalik dan memeluk Kirei lebih erat. Menunjukkan pada Daniel bahwa Kirei adalah miliknya. Apapun yang terjadi, Kirei adalah miliknya..sekarang dan seterusnya.
__ADS_1