
"Apa yang kalian lakukan!!!". Tama dan Kirei segera menoleh. Mata keduanya membola kala melihat siapa yang baru saja berteriak.
"OH MY GOD". Gumam Tania yang menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Pakai bajumu dan segera temui ibu dan ayah diruang tamu". Suara tegas Riana membuat Kirei benar-benar kesulitan hanya untuk menelan salivanya.
flashback ON
"Bener-bener ya si tamia, gue udah nunggu lama juga masih belom nongol itu orang". Gerutu Kirei yang sudah menunggu Tama di meja makannya.
Sudah hampir satu jam ia menunggu Tama, dan belum ada tanda-tanda bahwa lelaki itu sudah selesai dengan ritual mandinya.
"Jangan-jangan itu kadal tidur lagi". Pikir Kirei yang sudah kesal karena menunggu sejak tadi.
Sementara diluar pintu apartemen, Tania sudah menekan code access apartemen Kirei. Keduanya memang sangat dekat, jadi bukan hal yang tidak mungkin jika Tania mengetahui kode apartemen Kirei.
Kirei yang kesal lantaran sudah terlalu lama menunggu Tama memilih menyusul Tama kedalam kamarnya.
Namun belum sempat Kirei sampai, suara teriakan Tama membuatnya berlari menuju kamarnya.
Kirei tidak melihat Tama didalam kamar, namun Kirei mendengar suara dari dalam kamar mandi. Kirei berjalan cepat menuju kamar mandi, bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Tama yang hanya melilitkan handuk dibagian bawah tubuhnya.
Kirei yang terkejut hampir terjungkal kebelakang kalau saja Tama tidak sigap menangkap pinggangnya.
Namun karena kaki Tama yang masih basah, akhirnya keduanya justru terjatuh dengan posisi Tama menindih tubuh Kirei. Mata keduanya bersirobok, saling menatap dalam manik mata satu sama lain beberapa saat.
Hingga sebuah suara melengking membuat keduanya tersadar dan segera bangkit dari posisinya saat ini.
flashback OFF
Beberapa saat kemudian, Tama dan Kirei sudah duduk didepan kedua orang tua Tama. Tentunya Tama sudah mengenakan pakaian lengkapnya.
Sedangkan Tania lebih memilih melarikan diri setelah ikut memergoki Tama dan Kirei yang membuat matanya hampir melompat keluar.
Kedua orang itu sudah seperti pasangan mesum yang tertangkap basah sedang berbuat tak senonoh.
"Jelaskan". Perintah Riana tegas menatap Kirei dan Tama bergantian.
"Apa yang harus aku jelaskan bu? Itu tadi hanya kecelakaan". Jelas Tama berusaha tenang.
"Kecelakaan? Kecelakaan macam apa seperti itu Tama?". Kini suara Akmal terdengar begitu dingin.
"Selama ini ibu selalu diam kamu bermain dengan banyak gadis. Tapi tidak dengan gadis baik-baik seperti dokter Kirei". Kedua orang tua Tama benar-benar memainkan peranannya dengan sangat apik.
"Maaf om..tante. Tapi pak Tama benar..yang anda lihat benar-benar hanya kecelakaan". Jantung Kirei sudah seperti mau lepas berhadapan dengan pasangan suami istri didepannya ini.
"Baik kalo kalian bilang ini kecelakaan. Tapi bagaimana ceritanya Tama ada disini?". Tanya Riana menatap tajam kedua orang yang duduk dihadapannya.
__ADS_1
"I..itu..."
"Semalam Tama mabuk. Dokter Kirei yang menolong Tama dan membawa Tama kesini". Tama memotong ucapan Kirei yang terlihat gugup dihadapan kedua orang tuanya.
Kirei melotot mendengar Tama menjelaskan tanpa keraguan sedikitpun. 'benar-benar gila' Batin Kirei menatap Tama tak percaya.
"Dasar anak nakal!! Sudah berapa kali ibu bilang jangan pernah sentuh minuman haram itu!!". Riana sudah memukuli lengan anak lelakinya.
"Apapun alasan kamu. Kamu harus bertanggung jawab dan menikahi dokter Kirei". Suara Akmal membuat Kirei dan Tama melotot.
"APA?!!!". Pekik keduanya dengan mata melotot sempurna.
"Ayolah yah, bu. Tidak terjadi apapun diantara kami". Penjelasan Tama langsung didukung anggukan kepala oleh Kirei.
"Ayah tidak ingin mendengar pembelaan apapun dari kamu Tama. Tidak mungkin pria dan wanita dewasa yang berada dalam satu ruangan tidak melakukan apapun". Ucap tuan Akmal tak ingin kembali dibantah.
"Ta..tapi om..tante.."
"Dia harus bertanggung jawab, Kirei. Tante tidak akan membiarkan dia berlaku seenaknya padamu". Riana duduk disamping Kirei dan menggenggam tangan Kirei yang terasa dingin.
"Ta..tapi..."
"Tenanglah nak. Dia akan bertanggung jawab atas kelakuannya". Potong tuan Akmal cepat.
Kirei merasa frustasi menghadapi situasi ini. Bagaimana bisa dirinya dipaksa menikah dengan cassanova tengil yang selalu membuatnya naik darah itu.
"Yah..bu..setidaknya dengarkan penjelasan kami dulu". Tama tak kalah frustasinya menghadapi kedua orang tuanya.
"Jika kalian sudah memutuskan, bilang pada kami. Kami akan secepatnya ke kota dimana orang tua Kirei tinggal. Kami akan melamar Kirei untuk Tama". Tuan Akmal bangkit diikuti sang istri. Keduanya keluar meninggalkan dua anak manusia yang tengah duduk dengan pikiran yang melayang entah kemana.
"Yess, kita berhasil yah". Riana memeluk lengan sang suami dengan wajah sumringah.
"Gimana acting ayah? Keren kan?". Tak kalah dari istrinya, Akmal pun menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
"Hmm..bentar lagi kita punya mantu yah..hihihi. Mantu kita Kirei lagi yah. Ibu seneng banget". Riana terkikik ketika mengingat wajah pias Kirei dan Tama.
"Kita harus kasih hadiah buat Saga sama Gery bu. Terus sama dokter Tania yang sudah membantu kita". Ucap Akmal dijawab anggukan kepala oleh Riana.
Mereka mendapat kabar dari duo sableng teman baik Tama tentang kondisi Tama. Sebenarnya saat dari club, Saga dan Gery mengikuti mobil Kirei. Memastikan bahwa Kirei tidak menelantarkan dan membuang Tama ditengah jalan.
Setelah memastikan bahwa Kirei membawa Tama ke tempat tinggalnya, keduanya menghubungi Akmal dan Riana untuk memberitahu apa yang terjadi.
Dengan sebuah rencana matang, Akmal mencari informasi tentang Kirei dan teman-teman terdekatnya. Bukan hal sulit bagi Akmal sebagai seorang direktur untuk mendapat semua informasi tentang pegawainya.
Pagi-pagi sekali Riana menghubungi Tania, meminta tolong gadis itu untuk mengantarkan mereka ketempat tinggal Kirei, dengan alasan bahwa Tama berada disana semalaman. Awalnya Tania terkejut, bahkan sempat memekik ketika mendengar bahwa Kirei berada dalam satu rumah dengan Tama. Dewa keberuntungan memang sedang memihak kedua orang tua itu. Bukan hanya tahu dimana tempat tinggal Kirei, bahkan Tania tahu kode akses apartemen Kirei. Itu benar-benar menguntungkan mereka.
Apalagi kecelakaan didalam kamar yang menimpa Kirei dan Tama, semakin memudahkan keduanya untuk memaksa Tama menikahi Kirei.
__ADS_1
Anggaplah Akmal dan Riana egois membuat keduanya terpaksa bersama karena keinginan mereka. Namun sebagai orang tua, mereka ingin Tama mendapatkan istri yang baik seperti Kirei.
Karena jujur sejak awal melihat Kirei, kedua orang tua Tama sudah jatuh hati pada paras ayu dan kesopanan Kirei. Terlebih cara Kirei menghadapi Tama yang keras kepala, semua yang mereka lihat benar-benar membuat kedua orang tua Tama mengagumi sosok Kirei. Mereka benar-benar menginginkan Kirei menjadi bagian dari keluarga besar Mahendra.
Sementara didalam apartemen, Kirei dan Tama masih sama-sama terdiam dengan pemikiran mereka. Kirei menatap hampa kursi yang baru saja ditempati oleh dua orang yang begitu ia hormati.
Ia mengacak rambutnya, bagaimana ia akan menjelaskan pada kedua orang tuanya tentang keadaannya saat ini. Dan apakah bisa ia menerima keadaan jika dirinya harus menghabiskan sisa umurnya dengan Tama.
"Sekarang kita harus gimana tamia?". Tanya Kirei lemas.
"Gue bakal bilang sama ibu sama ayah gue biar batalin keinginan mereka". Ucap Tama mencoba menenangkan Kirei. Walau dalam hatinya tak sedikitpun ada keyakinan. Tama tahu betul seperti apa watak kedua orang tuanya. Bagaimanapun caranya kedua orang yang begitu Tama sayangi itu pasti akan membuatnya menuruti keinginan mereka.
"Heuh..dari suara elo aja gue yakin kalo mau nggak mau lo pasti harus ngikutin mau beliau". Ucap Kirei melirik Tama yang tampak menatapnya.
Tama menghembuskan nafas berat, mengacak rambutnya frustasi karena memang apa yang Kirei ucapkan sepenuhnya benar.
"Jadi??? Kita harus mau? Nggak ada cara buat nolak?". Tanya Kirei semakin lemas.
"Gue bakal nyari cara biar kita bisa lepas dari masalah ini". Tama masih mencoba meyakinkan dirinya dan Kirei bahwa ia akan bisa membujuk kedua orang tuanya untuk membatalkan keinginan mereka.
Kirei menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia mengulanginya beberapa kali untuk menetralkan rasa gelisahnya akibat sidak yang dilakukan kedua orang tua Tama.
"Lo mau kemana?". Tanya Tama ketika melihat Kirei bangkit.
"Gue laper. Mau makan". Kirei berjalan menuju meja makan minimalis yang ada didalam apartemennya.
"Gue udah bikinin sup buat elo. Gue panasin bentar". Kirei kembali memanaskan sup yang sudah dingin karena terlalu lama didiamkan.
Dalam diamnya, Tama terus mengamati Kirei yang cekatan menyiapkan segala hal tentang keperluan rumah layaknya seorang istri. Diam-diam Tama tersenyum ketika membayangkan bahwa dirinya akan melihat Kirei setiap hari. Sepertinya menyenangkan.
Membayangkannya saja sudah membuat hati Tama menghangat.
"Ngapain lo cengar-cengir? Kesambet?". Sindir Kirei yang melihat Tama tersenyum manis, bahkan sangat manis. Hanya saja Kirei enggan mengakui bahwa dirinya terkadang lupa jika lelaki tampan yang saat ini menjadi kandidat kuat calon suami dadakannya itu terlampau menyebalkan.
Tama mencebik kesal. Bayangan indahnya berumah tangga dengan Kirei bubar sudah ketika mendengar nada menyebalkan dari ucapan dokter cantik itu. Ia bangkit, berjalan mendekati meja makan yang hanya muat untuk 4 orang itu. Mendaratkan bobot tubuhnya pada kursi.
"Nih makan..udah ini lo pulang. Pusing gue liat lo lama-lama". Usir Kirei tanpa tedeng aling-aling.
"Iish..lo bisa kaga sih jadi cewe rada manis dikit. Jangan kelewat galak, apalagi benci ama gue. Benci ama cinta tu bedanya tipis". Goda Tama menaik turunkan alisnya.
"Cih..bilang aja lo yang udah cinta ama gue". Kirei tersenyum sinis sambil melirik Tama yang melotot kesal padanya.
Tama terdiam kala sup buatan Kirei menyentuh indera perasanya. Hangat dan terasa begitu nikmat, membuat Tama tidak ingin berhenti memakannya.
"Gue tau masakan gue mah emang enak, tapi pelan-pelan aja kali makannya. Gue kaga bakal minta". Sindir Kirei ketika melihat Tama makan dengan terburu-buru.
'uhukk'
__ADS_1
Tama tersedak mendengar ucapan Kirei. Tawa Kirei akhirnya pecah melihat Tama tersedak mendengar ucapannya. Tangannya terulur memberikan segelas air putih pada Tama yang memelototinya kesal.
Pagi itu dihabiskan oleh Tama dan Kirei makan bersama diselingi tawa Kirei yang terlihat puas mengerjai Tama. Untuk sejenak mereka melupakan nasibnya yang harus terjebak pada permainan kedua orang tua Tama.