Imperferct Partner

Imperferct Partner
hukuman Tama


__ADS_3

Kirei menghentikan laju mobilnya setelah memastikan jika Tama tak lagi mengikutinya. Ia membenamkan wajahnya diantara stir mobil. Kembali menangis, meratapi kisah cintanya yang selalu menyakitkan.


"Kenapa mas..kenapa setelah semuanya aku kasih ke kamu". Lirih Kirei berderai air mata.


" Lo breng sek Wiratama!!!". Teriak Kirei kemudian


"Sekarang gue musti apa? Gue harus gimana?". Kirei terus bermonolog dengan dirinya. Lama ia terdiam didalam mobilnya, berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang begitu menyebalkan. Karena sepertinya otaknya sudah konslet karena terus memutar memori saat sang suami dengan lancarnya mengatakan jika tak sepenuhnya mencintai dirinya. Dan lebih menyakitkan kala mengetahui jika tidak hamilnya dia bukan karena dirinya yang tak subur, tapi karena vitamin yang Tama berikan yang nyatanya adalah pil penunda kehamilan. Otaknya sudah benar-benar seperti kaset lama yang sudah rusak.


" AAAARRRRRRGHHH!!!!". Teriakannya begitu menggema dalam mobil itu. Untung saja jalanan kosong. Bahkan terlihat sepi.


Segala yang terjadi antara Tama dan Kirei tidak luput dari pengawasan Akmal dan Riana. Sejak mengetahui mantan kekasih Tama kembali, keduanya sudah dibuat was-was dengan hati anaknya yang mereka tak sepenuhnya percaya. Akmal selalu menempatkan orang untuk mengawasi sang putra sulung. Dan kekhawatirannya dan sang istri siang ini terbukti. Orang kepercayaannya melaporkan apa yang terjadi beserta bukti video ketika Kirei dan Tama bercakap. Atau lebih pas dibilang bersitegang.


"Anakmu kok bodho (bodoh) to bu. Pusing ayah sama kelakuannya". Akmal memijit pelipisnya. Sedangkan sang istri tengah menangis sesenggukan memikirkan menantunya yang saat ini masih aman dalam pantauan orang suruhan Akmal.


" Udah dikasih istri segitu cantik, baik, pinter pula. Mana sopan lagi menantu ayah itu. Matanya kok masih jelalatan. Bener-bener pengen ayah karungin terus tak lempar ke kali progo bu". Akmal benar-benar tidak bisa menutupi kekesalannya pada putra sulungnya.


"Lama-lama ibu pensiunin itu anak ayah jadi anak. Pikirannya kemana sih itu anak. Apa kepala anak ayah abis kepentok tronton?". Geram Sari yang menyusut air matanya dilengan baju sang suami. Sedangkan Akmal hanya bisa pasrah melihat dan mendengar semua yang istrinya lakukan.


" Kirei gimana yah?". Tanya Riana khawatir. Dibanding memikirkan putra bo dohnya, Riana lebih mengkhawatirkan menantu cantiknya.


"Dia masih aman bu. Ayah nggak akan lepas pengawasan buat Kirei". Jawab Akmal menenangkan.


" Awas aja itu anak kalo pulang kesini. Ibu pukulin pake panci ibu yang baru!". Niatan Riana sudah bulat untuk menghukum putranya.


"Tapi mantu ibu gimana yah?". Air mata itu kembali menetes mengingat nasib menantunya yang bersedih karena ulah anak nakalnya.


" Dia dewasa bu. Pasti dia akan bisa menyelesaikan masalahnya". Akmal mengelus punggung istrinya yang naik turun karena menangis.


"Ibu juga takut kalo Kirei bilang sama jeng Ara sama mas Devan yah. Mau ditaruh dimana muka kita". Semakin kalut saja Riana dalam pelukan Akmal.


" Ibu mikirnya kejauhan. Daripada menelpon atau menemui kedua orang tuanya. Ayah yakin anak itu akan lebih memilih menelpon atau menemui ibu". Baru saja mulut Akmal tertutup, ponsel Riana berdering. Nama yang terpampang dilayarnya membuat Riana segera menghapus air matanya.


Akmal memberi kode pada istrinya untuk tenang. Berpura-pura tidak mengetahui apapun yang terjadi pada anak dan menantunya. Berulang kali menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan, ikon telepon berwarna hijau itu ia geser, dan segera menempelkan benda pipih itu ketelinganya.


"Assalam---" Belum sempat Riana selesai mengucapkan salam, Riana sudah mendengar isak tangis diseberang sana.


"Ibuuu..."


"Kamu kenapa nduk? Bilang sama ibu sayang". Riana mencoba menenangkan Kirei.


"------"


"Ibu kirim alamatnya. Kita ketemu disana sayang, ibu sama ayah pergi sekarang". Telepon ditutup oleh Kirei tanpa mengucapkan salam.


Akmal sudah terlihat penasaran, namun belum sempat bertanya, tangannya sudah ditarik lebih dulu oleh sang istri menuju mobilnya.


" Pak Man, kita ke rumah joglo sekarang". Perintah Riana cepat setelah duduk manis.


"Kita kemana bu? Kok malah kerumah joglo to?". Tanya Akmal penasaran.


" Menantumu mau ketemu. Tapi nggak mau dirumah. Takut anakmu yang nyebelin itu nyusulin kerumah". Ketus Riana membuat Akmal bungkam. Melihat istrinya seperti itu sudah jelas ia akan kena imbas dari kelakuan anaknya.


"Awas kamu Tam. Kalo ketemu ayah, tak getok gundulmu. Yang salah kamu, jadi ayah kena imbas". Batin Akmal kesal.


Perjalanan yang Akmal dan Riana tempuh tidak memakan waktu lama. Keduanya sampai lebih dulu sebelum Kirei. Keduanya memutuskan menunggu Kirei diteras yang halamannya penuh dengan tanaman bunga dan pepohonan.

__ADS_1


Tidak berselang lama setelah keduanya sampai, Kirei pun sampai. Turun dari mobil dengan mata sembab yang masih memerah dan langsung menghambur kedalam pelukan Riana. Menangis sesenggukan didalam pelukan hangat ibu mertuanya.


" Kita masuk dulu ya. Kita bicara didalam". Akmal mengelus kepala Kirei penuh kasih sayang. Sementara Riana menuntun Kirei masuk kedalam rumah yang baru pertama kali Kirei datangi tanpa melepaskan pelukan.


"Minum dulu nak..biar lebih tenang". Bahkan Akmal mengambilkan sendiri minuman untuk Kirei. Perlahan Kirei menerima gelas berisi cairan bening itu, meneguknya hingga hanya tersisa setengahnya.


" Sudah lebih baik sayang?". Riana menatap wajah sembab menantunya, menghapus jejak air mata yang terus membasahi pipi mulus wanita cantik itu.


Kirei menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyum yang ia paksakan. Air matanya si alan nya tidak berhenti mengalir setiap mengingat kalimat demi kalimat yang membuatnya sesak.


Dirinya masih bisa menerima jika Tama belum sepenuhnya mencintai dirinya. Namun membodohi dirinya dengan memberi pil penunda kehamilan benar-benar membuatnya kecewa.


"Terimakasih, bu, yah. Maafin Kirei bikin ayah sama ibu khawatir". Ucap Kirei tak enak.


" Sama sekali enggak". Riana mengulas senyum hangat.


"Sekarang cerita sama ibu dan ayah. Kenapa mantu ibu yang cantik ini nangis?". Tanya Riana lembut.


Kirei menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya. Akmal dan Riana hanya tahu jika karena Inneke lah keduanya bertengkar. Tak tahu jika putranya melakukan kebodohan. Hingga kalimat Kirei yang membahas tentang vitamin yang selalu Tama berikan ternyata adalah pil penunda kehamilan. Bukan hanya Kirei, Akmal dan Riana tak dapat menutupi kesedihan dan kekecewaan mereka. Kenapa anaknya sampai berpikir gila semacam itu.


" Sakit bu..disini sakit banget". Kirei memukul da da nya dengan kepalan tangannya. Da da nya selalu terasa sesak mengingat apa yang dikatakan Tama.


"Anak nakal. Ayah akan hukum dia sekarang!". Geram Akmal yang langsung ditahan oleh Kirei.


" Aku nggak mau ketemu mas Tama dulu yah". Lirih Kirei penuh permohonan.


"Kita akan tetap hukum dia sayang. Kita lihat, anak labil itu akan seperti apa ditinggal sama kamu". Melihat dari senyum istrinya, Akmal meyakini jika yang akan dilakukan Riana lebih kejam daripada hukumannya.


" Ngaku belum cinta sepenuhnya aja udah kelimpungan kalo ada yang deketin, cih". Riana berdecak kesal.


"Kirei nggak mau pulang bu. Kirei tahu kalau dosa nggak nurut suami, tapi Kirei belum siap ketemu mas Tama". Kepala Kirei tertunduk dihadapan kedua mertuanya. Ia takut diminta pulang. Namun jawaban Riana membuat dirinya mengangkat wajah.


"Semua keperluanmu akan ibu antarkan nanti. Nanti juga akan ada yang nemenin kamu disini. Ini cara paling manis buat hukum bocah sableng itu. Biar kelimpungan itu bocah!". Kesal Riana mengingat cerita Kirei. Cucu yang ia tunggu-tunggu rupanya sengaja dicegat dijalan oleh Tama, hingga membuat cucunya tak kunjung sampai. Sudah macam begal saja dicegat sebelum sampai, dan dirampas.


" Tapi--" Riana dan Akmal langsung menoleh.


"Tapi apa nduk?". Tanya Akmal lembut.


" Sudah hampir 1bulan Kirei tidak mengkonsumsi obat itu". Suara Kirei hampir tidak terdengar.


"Bagus kalau kamu hamil sayang. Biar itu bocah sableng makin guling-guling". Akmal sampai geleng-geleng kepala melihat senyum jahat istrinya.


" Tapi mas Tama---"


"Nggak usah pikirin dia sayang. Yang penting kamu tenang dulu". Riana maju dan memeluk Kirei dengan penuh kasih sayang.


Sementara Kirei sudah mulai tenang, Tama terlihat frustasi menyusuri jalanan seharian demi mencari istrinya. Namun tak ada hasilnya. Bahkan sepertinya Kirei sudah memblokir nomor ponselnya.


Tama melajukan mobilnya menuju apartemen Tania, pernah sekali dibohongi sahabat istrinya itu membuatnya langsung nyelonong masuk kedalam ketika pintu terbuka.


" Dimana Kirei?". Tanya Tama to thr point hingga membuat Tania melongo.


"Ki-Kirei pak?". Tanya Tania tergagap, gugup sekaligus bingung.


" Lah, Kirei pan bini lo bam bank!! Lo ngapain nyari kesini? Dasar kaga laki kaga bini semuanya sableng!!". Umpat Tania, tentu hanya dalam hatinya. Ia masih sangat mencintai profesinya sebagai dokter.

__ADS_1


"Iya Kirei. Dia ngumpet disini lagi kan??". Tanya Tama curiga.


" Nggak ada pak. Sumpah". Tania sampai mengangat kedua jarinya membentuk huruf v. menandakan keseriusannya terhadap apa yang ia ucapkan.


"Yowes bapak cek aja kalo nggak percaya". Melihat tatapan Tama membuat Tania membiarkan suami sahabatnya itu mengecek seluruh ruangan didalam apartemennya itu.


" Nggak ada kan pak. Emang Kirei kemana pak?". Tanya Tania kepo.


"Kalo saya tau dia kemana ngapain saya nyari kesini. Dasar..nggak Kirei nggak temennya, sama-sama sableng". Batin Tama


" Saya permisi". Tama berlalu tanpa menjawab pertanyaan Tania.


"Untung lo anak yang punya rumah sakit. Kalo kaga, udah gue sambit lo dari kapan taun!!". Sengit Tania mengangkat sebelah sandalnya yang sudah ia lepas. Seolah ia benar-benar melemparkannya pada Tama.


" Ya Allah sayang..kamu kemana Ki". Tama menjambak rambutnya lantaran frustasi. Dari semua tempat yang ia datangi tak ada satupun yang membuahkan hasil. Dari cafe milik sang istri, rumah sakit, hingga rumah sahabatnya tak ada tanda-tanda Kirei disana. Bahkan Tama tak sadar jika bibirnya sudah telalu terbiasa dengan panggilan 'sayang' untuk Kirei.


"Pulang Ki..kamu mau hukum mas apa aja gapapa. Asal kamu pulang sayang". Lirih Tama. Sesaat kemudian matanya yang baru saja tertutup kembali terbuka.


" Ibu!!". Seru Tama penuh harap. Mengingat bagaimana kedekatan Kirei dengan sang ibu membuat Tama yakin jika saat ini istrinya tengah berada di rumah orang tuanya. Tanpa menuggu lama, Tama segera melajukan kuda besinya menuju rumah orang tuanya.


Menarik nafas panjang sebelum turun dari mobil. Ia bersiap akan terkena semburan api dari kedua orang tuanya karena membuat menantu kesayangan mereka bersedih.


"Assalamualaikum.." Tama mengucap salam. Dilihatnya kedua orang tuanya tengah duduk santai didepan televisi diruang keluarga.


"Wa'alaikum salam. Sini masuk mas.." Riana begitu ramah menyambut putranya. Padahal sejak mendengar deru suara mobil, ia sudah siap melemparkan majalah tebal yang tengah ia baca.


"Kok malah celingak celinguk sih mas. Nggak salim". Ucap Riana..jelas ia tahu apa yang putranya cari. Tapi jangan harap Tama akan mendapatkannya dengan mudah.


" Kaga bakal ada mau celingukan sampe leher kamu sakit juga mas. Mantu ibu udah ibu umpetin. Sukurin kamu!!". Teriak Riana.


"Kirei dikamar ya bu?". Tanya Tama polos membuat Akmal menyunggingkan senyum dibalik korannya. Akting istrinya memang tak perlu diragukan lagi.


" Kirei?? ". Beo Riana membuat jantung Tama seolah berhenti bekerja.


" Iya bu..Kirei disini kan???". Tanya Tama tak sabar. Sedikit menggoyang lengan sang ibu yang pura-pura memasang wajah bingung. Hampir saja Akmal menyemburkan tawanya melihat kelihaian istrinya dalam berakting.


"Kamu ini bercanda. Dia istrimu mas..masa nyari disini". Riana tertawa. Menutupi rasa kesal dan kecewanya pada Tama.


Tama bangkit, berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Ia yakin istrinya ada disana. Membuka pintu dengan tak sabar, Tama harus menelan pil pahit. Kamarnya masih sama seperti saat terakhir dirinya dan Kirei menginap disana.


" Cih, bilang belum cinta beneran. Ditinggal belum genap 4jam udah kelimpungan. Sampe botak juga nggak akan ketemu!!". Ucap Riana ketika melihat Tama berlari menaiki tangga.


Tama kembali turun dengan lesu. Ia kembali duduk disamping Riana dan menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam.


"Kamu berantem lagi sama Kirei?". Tanya Akmal dingin membuat Tama kembali membuka matanya.


" Salah paham yah, tadi aku ketemu Inneke. Terus Kirei sal--" Belum sempat Tama menyelesaikan kalimatnya. Majalah tebal yang sedari tadi sudah Riana gulung berhasil mendarat dengan cantik dikepala dan badan Tama.


"Sudah ibu bilang berkali-kali!!! Jauhi perempuan itu!!!". Sentak Riana yang sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.


" Aduh bu...sakit bu. Ampun". Tama mencoba menghindar. Namun Riana tetap memukulinya dengan sepenuh hati. Mewakili Kirei untuk memberikan hukuman pada Tama.


"Mas harus cari kemana lagi sayang. Pulang Ki". Batin Tama. Meski tubuhnya dipukuli oleh sang ibu, namun tak sefikitpun terasa sakit. Karena kini ia merasakan rasa sakit menyadari istrinya tak dapat ia temukan.


****-----****

__ADS_1


Kapok Tama ditinggal kan. Suruh sopo sama masa lalu aja masih baper. Hih kesel sendiri to aku jadinya, lama-lama tak sentil ginjalmu mas.


Semoga masih bisa menghibur ya readers. Mas Tama nya lagi rada oleng dikit. Dihukum-hukum dikit gapapa lah ya biat kapok hihihi


__ADS_2