Imperferct Partner

Imperferct Partner
kembali sekolah


__ADS_3

Naya mengerjapkan matanya beberapa kali ketika ia mendengar suara keributan yang mengusik tidur nyenyaknya.


"Nay..kamu udah bangun? Gimana sekarang rasanya? Masih sakit?". Rupanya Aisha masih setia menemani temannya. Tak sedikitpun beranjak dari sisi Naya.


" Minum dulu ya.." Aisha dengan telaten membantu Naya minum.


"Makasih Sha.." Ucap Naya dijawab anggukan kepala oleh Aisha.


"Sha.."


"Ya? Kamu butuh sesuatu?". Tanya Aisha.


" Ini dimana?". Tanya Naya yang memang belum pernah datang ke apartemen Ken.


"Apartemen kak Ken..tadi kak Akbar yang bawa kamu kesini". Jelas Aisha.


" Apartemen abang?". Beo Naya membuat Aisha mengangguk.


"Aaww..sshhh". Naya meringis merasakan kaku disudut bibirnya. Pukulan dan tamparan Monika benar-benar tak main-main.


" Sakit ya?? Kata dokter mungkin sakitnya bisa beberapa hari". Ucap Aisha prihatin.


"Perih dikit Sha.." Naya mencoba tersenyum untuk menenangkan Aisha. Namun ia kembali meringis merasa sakit diseluruh wajah dan tubuhnya. Monika dan kedua temannya benar-benar membuatnya babak belur.


"KALIAN INI BERDUA BANG!! BAGAIMANA BISA KALIAN NGGAK BISA JAGA ADEK?!!" Dari dalam kamar, Naya bisa mendengar teriakan dari orang yang sangat ia kenal.


"KALAU DADDY SAMPE TAU ADEK KAYA GITU. ABIS KALIAN BANG". Kembali teriakan sang ibu terdengar.


" Maafin kita mom..kita salah".


Naya hanya mendengar kedua kakaknya mengucapkan maaf dan maaf. Hanya kata maaf yang terus mereka ulang, mereka menyadari kecerobohannya yang kurang awas menjaga adiknya.


"Loh Nay..kamu mau kemana? Istirahat dulu aja ya". Aisha menahan tubuh Naya yang mencoba bangkit.


" Kasian abang gue Sha. Ini salah gue.." Ucap Naya membuat Aisha diam.


"Mereka beneran kakak kandung kamu Nay?". Tanya Aisha sedikit ragu.


" Iya lah..kenapa?? Kaget ya pasti".


"Terus kenapa kamu diem aja diganggu kak Monika? Kalau kamu bilang sama dia, pasti kak Monika nggak akan ganggu kamu Nay". Ucap Aisha membuat Naya tersenyum tipis.


" Iya..dia bakal cari muka depan gue. Males banget". Naya berdiri diikuti Aisha.


"Lah..sapa yang gantiin baju gue Sha?".


" Tadi aku gantiin dibantu sama dokter Mala". Jelas Aisha membuat Naya mengangguk paham.


"Dokter Mala siapa Sha?". Tanya Naya kemudian.


" Aku nggak tahu..kak Akbar yang hubungi dokternya Nay".


"Kak Akbar ya.." Gumam Naya.


"Yaudah yok keluar". Naya menggandeng tangan Aisha keluar dari kamar.


" Mommy bener-bener kecewa sama kalian bang".


"Sekarang bilang sama mommy. Siapa?? Jawab mommy siapa yang bikin anak gadis mommy babak belur?!". Tanya Kirei galak. Sementara kedua abangnya hanya menunduk dihadapan ibunya.


"Kalo nggak inget mereka sayang ama selalu belain gue mah seru sebenernya ngeliat mereka diunyeng-unyeng mommy kaya sekarang". Ucap Naya membuat Aisha melongo tak percaya.


" Ya berhubung gue lagi jadi adek sholeha, gue bantu lah".


"Ish..kamu ini Nay. Kasian itu kakak-kakak kamu Nay". Ucap Aisha membuat Naya terkekeh.


" Ini juga mau dibantu Sha". Naya berjalan semakin mendekat pada ketiga orang tersayangnya itu.


"Mommy.." Panggilan Naya membuat Kirei langsung berhenti mengomel dan menoleh pada putrinya.


"Ya Allah..anak mommy. Muka kamu sayang..astaga". Cerocos Kirei memperhatikan wajah Naya.


Ken dan Kai bangkit hendak melihat keadaan adiknya. Namun dengan galaknya Kirei menyuruh mereka untuk kembali duduk.

__ADS_1


" Mau apa kalian?!". Tanya Kirei garang.


"Kita cuma mau liat kondisi Nay, mom". Cicit keduanya membuat Naya bersusah payah menahan senyumnya.


" Diem disitu!! Sidang kalian belom kelar!". Dengan patuh keduanya duduk kembali di sofa. Memperhatikan wajah adiknya yang babak belur dengan perasaan bersalah. Jika tadi Akbar terlambat sedikit lagi, sudah pasti adiknya akan lebih dipermalukan dan pasti kondisinya lebih buruk dari saat ini.


Tangan Ken dan Kai terkepal kuat setiap mengingat perbuatan Monika terhadap adiknya. Mereka bersumpah akan membalas perbuatan Monika.


"Sakit sayang?? Apa obatnya sudah kamu minum?". Tanya Kirei menuntun Naya duduk disampingnya. Berhadapan dengan kedua abangnya.


" Udah mendingan mom..Aisha ngurusin aku nya hebat. Jadi nggak terlalu sakit lagi". Ucap Naya melirik Aisha yang kembali menundukkan kepalanya.


"Ini temen kamu?". Tanya Kirei menatap Aisha dengan senyum lembut.


." Iya..temen sekelas aku mom".


"Aisha..sini nak duduk sebelah mommy". Kirei menepuk sofa disebelah kirinya.


" Terimakasih sudah menolong anak mommy". Kirei mengelus lembut kepala Aisha yang tertutup hijab.


"Sama-sama tante".


" Panggil aja mommy..mulai sekarang kamu juga anak mommy. Kalo bisa mommy tuker tambah ama ini anak laki berdua. Nggak becus jagain adeknya". Kai dan Ken langsung mengangkat kepalanya. Melihat Kirei tengah melirik tajam pada keduanya hingga akhirnya keduanya kembali menunduk.


Sementara Satria yang duduk di sofa lain bersama Akbar sudah terkikik geli sejak tadi. Sudah lama ia tak melihat si kembar didamprat habis oleh Kirei. Dulu ia sering melihat moment seperti ini saat mereka masih duduk dibangku sekolah dasar. Kedua anak lelaki itu akan disemprot habis-habisan seperti saat ini jika gagal menjaga princess satu-satunya dikeluarga mereka.


Lain halnya dengan Akbar yang melongo tak percaya melihat Ken dan Kai yang biasa menjadi pujaan para gadis takhluk dan tunduk dihadapan Kirei tanpa berani melawan ataupun membela dirinya sedikitpun.


"Mommy rasa hal ini perlu diketahui oleh daddy". Ucap Kirei membuat anak-anaknya berteriak bersamaan.


" JANGAAAAAN!!!". Kirei langsung menoleh pada Naya yang ikut berteriak mendengar ucapannya. Ia yang melihat Naya meringis memegangi kedua pipinya langsung menghampiri putrinya itu.


"Sakit ya sayang??". Tanya Kirei dengan wajah sedih. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


Naya menggelengkan kepalanya, tangannya terulur menghapus air yang jatuh membasahi pipi ibunya.


" Jangan marahin abang ya mom..abang nggak salah. Abang selalu ada buat Nay kok. Abang juga selalu jagain aku. Tadi mah lagi apes aja aku nya mom". Ucap Naya tulus membuat Ken dan Kai menatap adiknya penuh kasih sayang.


"Ini salah Nay nggak bisa jaga diri. Bukan salah abang mom.." Ucap Naya membuat Kirei menghela nafasnya panjang. Ia terlalu khawatir hingga meluapkan kekhawatirannya dengan memarahi kedua putranya.


" Tapi janji..jangan sampai seperti ini lagi. Mommy nggak akan diem aja lain kali ". Ancam Kirei langsung dijawab anggukan kepala oleh Naya.


"Tapi tunggu..kalian sampai disini bareng sama mommy. Jadi siapa yang bawa Naya kesini?". Tanya Kirei menatap dua putranya.


" Noh..calon mantu mommy". Bukan si kembar ataupun Naya yang menjawab, melainkan Satria.


"Hah?". Kirei mengikuti arah pandang Satria. Ia bahkan baru menyadari jika disana ada makhluk lain selain dirinya dan kedua putranya.


" Loh..sejak kapan kalian disini?". Tanya Kirei menatap Satria dan Akbar bergantian.


"Makanya mom..kalo ngamok liat-liat sikon. Orang segede ini aja ampe kaga keliatan". Ucap Satria membuat Kirei melotot.


" Damai mom..nggak capek apa udah ngedamprat anak-anak mommy yang itu". Satria mengangkat dua jarinya membentuk V ketika melihat Kirei akan memarahinya juga.


"Dasar kamu ya.."


"Mommy nggak mau bilang makasih sama calon mantu mommy ini? Kalo nggak ada dia, tambah bonyok itu inces mommy". Ucap Satria lagi membuat Kirei menatap Akbar.


" Mommy bisa tuker tambahin anak-anak mommy nggak sih?". Kirei menatap Satria.


"Bisa lah mom..bisa banget. Mau dituker ama yang ini kan?". Satria menyenggol lengan Akbar.


" Iya..ini yang kakaknya siapa yang jagain siapa". Gerutu Kirei membuat kedua putranya mendelik kesal.


"Akbar..sini nak". Kirei menepuk sofa yang tadi ditempati Aisha. Gadis itu cukup cekatan, melihat ibu dari temannya sedikit emosi, ia memilih mencari dapur dan membuat minuman disana untuk diberikan pada orang-orang yang masih terlihat tegang itu.


Perlahan Akbar mendekat pada Kirei dan duduk disampingnya sesuai instruksi Kirei.


" Terimakasih kamu sudah menolong Naya..terimakasih banyak Bar". Ucap Kirei menggenggam tangan Akbar yang tersenyum lembut mendengar ucapan terimakasih Kirei.


"Tante nggak perlu sungkan. Harusnya saya yang minta maaf karena terlambat menolong Naya". Akbar menghela nafasnya panjang kemudian melirik Naya yang tengah mencoba tersenyum padanya.


" Diminum dulu tante..Nay, kakak semua silahkan diminum. Maaf lancang masuk kedapur". Ucap Aisha setelah meletakkan nampan berisi beberapa gelas teh hangat diatas meja.

__ADS_1


"Oh..yaampun, terimakasih sayang". Ucap Kirei yang langsung meminum teh buatan Aisha. Sementara Ken beberapa kali terlihat mencuri pandang pada Aisha yang selalu menundukkan kepalanya.


####


Berita tentang Naya yang ternyata adalah adik kandung dari si kembar most wanted sekolah benar-benar menghebohkan seisi gedung. Bagaimana mungkin tak ada yang mengetahuinya selama ini.


"Gila ya..selama ini Naya diem aja dibully, dikatain cewek nggak bener karna pergi bareng Ken sama Kai gantian. Taunya dia adeknya".


" Iya..gimana kabarnya si Monika ya?".


"Gue denger sih dia ama dua temennya dipindah sekolah. Tapi nggak tau deh".


" Masih untung kaga dipenjarain tuh..kan emaknya si kembar donatur terbesar disekolah".


Sudah beberapa hari setelah kejadian Monika dan Naya berduel. Namun berita tentang Naya dan Monika masih begitu hangat dikalangan siswa. Bukan hanya para murid saja, para guru pun tak banyak yang mengetahui siapa Kanaya si pembuat onar yang sudah sering dihukum itu.


Hari ini Naya kembali bersekolah setelah beberapa hari memilih beristirahat diapartemen sang kakak. Hari ini pun dirinya masih menjadi pusat perhatian seperti yang sudah berlalu. Hanya saja kini tatapan mata para murid terlihat berbeda. Jika dulu mereka menatapnya sinis dan jijik, kini terlihat sekali jika mereka ingin mendekati dirinya dan seolah mereka sudah mengenal Naya dengan baik.


"Cih..dasar orang-orang munafik". Gumam Naya berlalu tanpa menghiraukan orang-orang yang masih menatapnya kagum.


" Nay..kamu udah masuk?". Aisha yang juga tengah berjalan mempercepat langkahnya kala melihat Naya didepannya.


"Hai Sha..udah nih buktinya gue didepan elo". Ucap Naya sudah bisa tersenyum lebar.


" Udah nggak sakit??". Tanya Aisha yang masih bisa melihat bekas luka ataupun memar diwajah polos Naya.


"Dikit". Bisiknya membuat Aisha sedikit lega.


" Alhamdulillah kalo gitu.." Keduanya berjalan bersisian kedalam kelas. Sepanjang perjalanan, banyak gadis yang menyapa Naya dengan ramah. Sangat berbesa ketika mereka belum mengetahui kenyataannya.


"Gini nih malesnya kalo pada tau. Sok kenal". Ucap Naya pada Aisha yang hanya menanggapinya dengan senyum.


" Kemaren-kemaren aja pada bilang gue cewek gampangan. Apalah ini lah itu lah..ish dasar". Sepanjang perjalanan menuju kelas mulut Naya tak hentinya menggerutu


"Lo mah mesam mesem aja sih Sha. Apa kek ngomong". Ucap Naya kesal karena Aisha yang terus tersenyum menatap dirinya yang sejak tadi mengomel.


" Cukup didiemin aja kalau kita nggak suka Nay.. Kita ambil aja hikmah dari kejadian kemarin". Ucap Aisha membuat Naya diam.


"Kalau kamu tanggepin kan kamu sendiri yang capek. Buang-buang energi buat sesuatu yang nggak ada faedahnya buat kita". Ucap Aisha panjang lebar membuat Naya semakin diam.


" Iya sih.." Gumam Naya yang membuat senyum Aisha semakin lebar. Bahkan gadis berhijab itu terkekeh membuat Naya langsung menoleh.


Hampir 3bulan berteman dengan Aisha, ia tak pernah sekalipun melihat Aisha tertawa keras. Hanya senyum kecil dan kekehan-kekehan kecil seperti saat ini.


"Lo kaga pernah ketawa Sha?". Tanya Naya membuat Aisha menoleh kembali tersenyum.


" Nggak baik kan apa-apa yang berlebihan Nay".


"Sha..gue pengen maen kerumah elo dong". Celetuk Naya tiba-tiba membuat Aisha diam sesaat.


" Boleh..nanti aku kenalin sama bunda sama adik-adik aku". Ucap Aisha kemudian membuat senyum Naya mengembang.


"Emang lo masih punya adek?". Pertanyaan Naya dijawab anggukan kepala oleh Aisha.


" Kelas berapa?". Tanya Naya penasaran.


"Ada yang SMP tapi ada yang SD juga..ada yang masih kecil, bayi juga ada". Jelas Aisha membuat Naya melongo.


" Lah buset..adek lo berapa Sha??".


"Ada banyak Nay..makanya aku harus kerja buat bantu bunda biayain adek-adek aku di panti". Naya terdiam mencerna kata demi kata yang Aisha ucapkan.


" Aku tinggal di panti asuhan Nay..orang tua kandung aku nggak tahu dimana. Aku dirawat bunda sejak bayi.." Aisha tersenyum lembut. Namun Naya bisa melihat kesedihan dimata teduh milik sahabatnya itu.


"Pulang sekolah kita ke panti ya..gue nggak sabar pengen ketemu bunda sama adek-adek elo". Naya merangkul bahu Aisha yang nampak terkejut mendengar ucapan Naya. Selama ini temannya selalu menjauh saat mengetahui asal-usulnya yang hanya berasal dari panti.


" Kamu nggak malu temenan sama aku? Kamu anak orang kaya Nay..sedangkan aku? Sekolah disini aja cuma karena beasiswa". Aisha menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihan yang belum pernah Naya lihat sebelumnya.


"Justru gue bangga punya temen kaya elo, Aisha. Mungkin gue nggak akan sekuat elo pas diposisi lo sekarang Sha". Naya menggandeng lengan Aisha dengan senyum meyakinkan.


" Makasih ya Nay.." Ucap Aisha tulus.


Keduanya tak menyadari jika sejak tadi percakapan mereka didengarkan oleh dua lelaki yang mengagumi sosok keduanya. Mereka adalah Ken dan Akbar.

__ADS_1


"Kakak tahu kamu perempuan tulus Nay..pantas kamu bisa bikin hati kakak bergetar sejak pertama bertemu". Batin Akbar yang matanya tak sedikitpun beralih dari gadis ceria yang sedang berjalan didepannya.


" Sekuat apa lo sebenernya? Aisha?? Lo bener-bener menarik. Bahkan lo nggak sedikit pun ngelirik gue atau temen-temen gue saat gadis lain lomba buat dapet perhatian gue". Mata Ken masih fokus menatap gadis berhijab yang tengah digandeng oleh adiknya itu.


__ADS_2