
Kirei mematung didepan pintu kamar sebuah apartemen yang sering ia kunjungi belakangan ini. Tubuhnya seolah kaku setelah melihat apa yang saat ini terjadi didepan matanya.
Tas yang sejak tadi ia jinjing terjatuh hingga menimbulkan bunyi yang membuat dua orang yang saat ini tengah saling memandang itu beralih menatap dirinya.
Mata Tama melebar melihat Kirei berada disana. Pasti Kirei akan salah paham dengan apa yang saat ini tengah terjadi.
"Sorry.." Ucap Kirei. Gadis itu lantas menyambar tas nya yang terjatuh dan segera pergi dari sana secepat yang ia bisa.
Setengah jam lalu, pria itu menghubungi Kirei dan meminta Kirei untuk cepat datang ke unit apartemennya karena ada sesuatu hal yang sangat penting dan mendesak. Kirei yang masih berada dirumah sakit panik mendengar suara Tama yang terdengar lemah. Ia bergegas ke apartemen Tama hanya untuk memastikan kondisi lelaki itu baik-baik saja.
Namun yang ia saksikan justru membuatnya merutuki kebodohannya yang mengkhawatirkan Tama yang sama sekali tidak perlu ia khawatirkan.
"Kirei!!". Teriakan Tama seolah tak ia dengar. Dengan susah payah Tama mengejar Kirei dengan tubuh lemasnya.
Beruntung, sebelum Kirei berhasil menjangkau lift, Tama sudah mencekal lengan gadis yang wajahnya tiba-tiba sedingin bongkahan es.
"Ini nggak kaya yang elo liat. Gue bisa jelasin". Tama masih setia mencekal tangan Kirei dengan lembut. Wajah lelaki tampan itu terlihat lebih pucat dari biasanya.
Seulas senyum miring Kirei berikan pada Tama. Harusnya dia tahu bahwa calon suaminya itu adalah seorang cassanova, harusnya dirinya tahu batasan untuk mempercayai seorang lelaki seperti Tama. Namun dirinya terlalu terbuai dengan keadaan belakangan ini hingga membuatnya mulai mempercayai Tama.
"Nggak ada yang perlu dijelasin". Kirei menarik tangannya dari genggaman Tama. Entah perasaan apa yang kini ia rasakan. Namun yang pasti, dirinya marah saat ini. Entah karena apa.
"Ki..plis dengerin gue kali ini". Suara Tama semakin terdengar lirih.
Kirei menggeleng, memilih berbalik dan berjalan meninggalkan Tama yang tengah menatapnya.
"Ki.." Lirih Tama.
"Aksa!!". Teriakan seorang gadis yang tadi Kirei lihat didalam apartemen Tama membuat Kirei segera berbalik.
Mata indahnya melebar ketika melihat tubuh Tama oleng dan hampir jatuh. Kirei berlari menyongsong tubuh gagah Tama yang hampir mencium lantai hingga akhirnya tubuh itu jatuh kedalam pelukannya.
"Dengerin gue dulu Ki.." Racau Tama antara sadar dan tidak.
"Demam". Batin Kirei terkejut. Mungkinkah Tama memang benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Aksa.." Gadis yang Kirei tahu bernama Inneke itu mendekat. Hendak membantu Kirei memapah tubuh tak berdaya Tama. Namun langkahnya terhenti saat Kirei memperingatinya untuk tidak menyentuh Tama.
"Berhenti disana nona. Jangan sentuh calon suami saya". Desis Kirei menatap tajam gadis yang matanya sudah berkaca-kaca. Entah mengapa Kirei tidak menyukai gadis itu sejak pertama melihatnya.
"Tapi.." Kirei mengangkat sebelah tangannya. Meminta gadis itu untuk diam.
"Silahkan pergi dari sini. Saya akan mengurus calon suami saya sendiri". Ucap Kirei tegas membuat Inneke mengeraskan rahangnya lantaran marah.
Dengan susah payah, Kirei membawa tubuh Tama masuk kembali kedalam apartemennya. Untung saja dirinya dan Tama belum terlalu jauh keluar dari apartemen lelaki itu. Akan menguras tenaga jika dirinya memapah Tama dari tempat yang lebih jauh.
"Lo berat banget sih". Gerutu Kirei yang terlihat kesusahan membawa tubuh Tama kedalam kamarnya.
__ADS_1
Kirei yang akan membaringkan tubuh Tama ke ranjang akhirnya ikut terjatuh karena tidak sanggup menahan beban tubuh Tama. Saat ini wajahnya dan Tama hampir tak berjarak. Kirei dapat melihat dengan jelas pahatan sempurna sang maha kuasa di wajah Tama. Sangat tampan bahkan nyaris sempurna, meski saat ini wajahnya terlihat begitu pucat.
"Astaga! Fokus Ki..fokus!". Kirei memukul pelan kepalanya beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya yang sempat hilang akibat mengagumi pesona seorang Wiratama.
Dengan cekatan Kirei merawat Tama yang masih belum sadar dari pingsannya. Mengompres kening Tama dengan telaten. Kini gadis itu sudah seperti istri sungguhan dari seorang putra sulung keluarga Mahendra. Rupanya suara lemah pria itu ketika menelponnya bukanlah sebuah candaan. Kondisi calon suaminya itu memang sedang tak baik-baik saja.
Kirei duduk disisi ranjang, menatap intens wajah tampan Tama yang sudah tidak sepucat tadi. Demamnya pun sudah mulai turun. Beberapa kali Tama mengigau memanggil nama Kirei.
"Lo manis kalo tidur gini. Tapi kalo bangun, lo nyebelinnya ngelebih-lebihin bang Arka". Kirei mengelus rahang kokoh Tama. Membuat hatinya berdesir hebat hanya dengan menyentuh wajah rupawan itu.
Kirei menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mengembalikan kewarasan otaknya dan segera menjauh dari ranjang. Menatap wajah itu terlalu lama akan sangat berbahaya untuk otak dan hatinya. Pesona Tama tak bisa ia anggap sepele. Hanya dengan menatapnya saja, jantung Kirei sudah bekerja dua kali lipat dari kenormalannya.
Kirei berjalan kedalam kamar mandi yang ada dikamar Tama. Tubuhnya sudah sangat lengket dan Kirei sudah merasa sangat tidak nyaman. Dirinya belum sempat pulang untuk mandi atau sekedar berganti pakaian. Kirei menyegarkan diri didalam kamar mandi. Tidak butuh waktu lama dan gadis itu sudah selesai dengan ritual mandinya.
"Sekarang gue pake apaan. Ya kali gue pake baju yang tadi". Ucap Kirei pada dirinya sendiri.
"Gapapa lah ya. Pinjem doang ini. Lagian gue terdampar disini juga kan gara-gara ngurusin dia". Setelah berpikir beberapa saat, Kirei memutuskan untuk meminjam baju Tama. Sepertinya lelaki itu tidak akan keberatan jika ia meminjam salah satu kaosnya untuk tidur malam ini. Toh dirinya terjebak disini juga akibat Tama yang pingsan.
Kirei membuka lemari pakaian Tama, mencari kaos dan celana yang mungkin bisa ia pakai untuk tidurnya malam ini. Jangan berpikir Kirei akan memakai kemeja putih Tama seperti didalam cerita novel yang sering Kirei baca. Kirei tidak cukup b*doh untuk memancing sang buaya keluar dari sarangnya.
Setelah mencari beberapa saat, pilihannya jatuh pada sebuah kaos abu dan celana pendek berwarna putih milik Tama.
"Lumayanlah, daripada nggak ganti". Kirei mematut penampilannya didepan cermin didalam kamar mandi.
Kaos Tama terlihat kebesaran ditubuhnya yang langsing. Namun lebih nyaman dibandingkan bajunya yang sudah seharian ia pakai untuk bekerja. Kirei melirik jam diatas nakas. Waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam, bahkan ini sudah dini hari. Tubuhnya sudah memberikan alarm untuk segera beristirahat. Atau dirinya yang akan ambruk jika tidak segera tidur. Setelah mengecek kondisi Tama sekali lagi, Kirei merebahkan tubuhnya disofa yang ada dalam kamar Tama. Dirinya masih memiliki kewarasan untuk tidak tidur seranjang dengan Tama.
Kedua alisnya menukik tajam, menandakan bahwa saat ini lelaki itu tengah bingung. Mengapa ada kain didahinya. Tama mengedarkan pandangannya. Tatapannya berhenti pada sosok yang masih meringkuk seperti seorang anak kucing yang sangat manis. Wajah polos gadis itu berhasil membuat kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
"Pagi yang indah". Gumamnya masih terus menatap wajah Kirei yang nampak pulas dan damai.
Perlahan Tama turun dari ranjang. Tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik daripada kemarin. Kakinya melangkah mendekati gadis yang masih berpetualang dialam mimpinya. Entah sedang memimpikan apa hingga bibir mungil itu tersenyum tipis.
"Cantik". Gumam Tama dengan mata yang masih terfokus pada wajah damai Kirei. Tangannya terulur merapikan helaian rambut yang jatuh diwajah ayunya. Tama kembali tersenyum saat Kirei tak sedikitpun merasa terganggu dengan segala yang ia lakukan.
Tama mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan hangat dikening gadis itu. Melihat Kirei yang masih nyenyak, Tama mendekatkan bibirnya pada bibir mungil yang menjadi candu untuknya. Mengecup perlahan, menikmati setiap rasa manis yang ada dibibir mungil itu.
"Manis..." Tama membelai bibir Kirei dengan ibu jarinya hingga membuat Kirei meleng*h, merasa terganggu dengan apa yang Tama lakukan.
Tama kembali tersenyum saat Kirei tetap melanjutkan tidurnya, padahal dirinya sudah mengganggunya. Namun sepertinya gadis itu terlalu lelah untuk bangun pagi ini.
"Makasih Ki". Tama kembali mendaratkan ciuman mesra di kening Kirei sebagai tanda terimakasihnya pada gadis yang semalaman merawatnya hingga pulih.
Melihat Kirei yang tidur disofa, Tama berinisiatif memindahkan Kirei ke ranjang agar badannya tidak sakit dan juga lebih nyaman tentunya. Tama kembali tersenyum saat melihat pakaian yang Kirei kenakan. Apapun yang gadis itu pakai selalu terlihat cocok, walau saat ini pakaian yang Kirei pakai jauh dari kata cantik.
Setelahnya Tama membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Baru setelahnya lelaki itu memasak untuk dirinya dan Kirei. Ia akan membangunkan Kirei saat masakannya sudah selesai ia buat.
Kirei menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah tidur di sofa. Matanya masih terpejam saat kemudian ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada disofa. Matanya terbuka sempurna saat dirinya merasa tidur diatas ranjang, rasa kantuknya musnah seketika.
__ADS_1
"Masih utuh. Terus kenapa gue disini?". Kirei meneliti pakaiannya, semua masih utuh. Tapi mengapa dirinya bisa berpindah ke ranjang? Apakah dirinya mengigau semalam dan berjalan ke ranjang milik Tama?
Tapi tunggu...dimana Tama?? Kenapa dia menghilang?
"Lo udah bangun??". Suara itu membuat Kirei tersentak. Ia menoleh dan mendapati Tama berdiri diambang pintu dengan bersandar pada bingkai pintu.
"Cuci muka lo sama gosok gigi. Gue tunggu diruang makan". Setelah mengatakannya, Tama berlalu keluar. Membiarkan Kirei berperang dengan pikirannya sendiri.
Kirei tidak hanya mencuci muka dan menggosok giginya. Gadis itu mandi, ia berpikir untuk memakai pakaian yang kemarin ia kenakan. Biarlah sedikit kotor dan bau. Toh dirinya juga akan segera pulang setelah ini.
Keluar dari kamar mandi, Kirei mematung melihat pakaian wanita berada diatas kasur. Lengkap dengan d******nnya, wajahnya terasa panas melihat semua yang ada. Ia yakin Tama yang menyiapkannya.
Kirei bergegas memakai pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Sangat pas dan nyaman. Bagaimana bisa Tama mengetahui ukuran d******nnya. Wajahnya semakin memerah membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi semalam.
"Pas, cantik". Puji Tama tulus ketika melihat Kirei berjalan mendekat padanya.
"Makasih". Cicit Kirei hampir tak terdengar. Tama tersenyum,.ia tahu bahwa Kirei pasti sangat malu karena dirinya menyiapkan pakaian untuknya. Padahal itu semua sudah disiapkan ibunya, katanya untuk berjaga sewaktu-waktu Kirei mampir dan butuh pakaian.
Keduanya makan dalam diam, ini bukan pertama kali Kirei memakan masakan Tama. Awalnya Kirei kaget mengetahui seorang Wiratama bisa memasak, bahkan rasanya sangat enak. Keduanya terus diam hingga makanan dipiring keduanya sudah habis.
Kirei meneguk air minumnya hingga habis, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Ia menatap Tama yang nampak santai tanpa beban apapun.
"Tam.." Panggil Kirei pelan membuat Tama menoleh dengan kening berkerut.
"Semalem..." Kirei menggantungkan kalimatnya. Bingung harus memulainya dari mana.
"Semalem???" Beo Tama bertanya.
"Semalem..'Kirei menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya'. Semalem kenapa gue bisa di kasur elo?". Tanya Kirei menatap Tama.
Kedua alis Tama terangkat. Ternyata Kirei benar-benar tidak mengingat apapun pagi tadi.
"Lo nggak inget?". Pancing Tama yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Kirei. Jantung Kirei sudah berdetak kencang, ia takut jika dirinya benar-benar mengigau dan berjalan.
"Semalem lo ngigo..tau-tau tidur disebelah gue. Karna gue nggak tega, ya...gue biarin lo tidur peluk gue". Jelas semua itu hanya cerita karangan Tama yang senang melihat wajah Kirei memucat dan panik.
"Ta..tapi----"
"Tadinya sih lo ndusel-ndusel ke gue, gue hampir khilaf. Tapi karna gue baik, akhirnya gue ngalah terus pindah ke sofa". Ucap Tama mendramatisir. Seolah dirinya adalah pahlawan yang baru saja menolong Kirei.
"So..sorry". Lirih Kirei tanpa berani menatap Tama. Sedangkan Tama berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.
Dirinya yakin jika sampai Kirei tau cerita sebenarnya, gadis itu akan menghajar dan kemudian menendangnya jauh ke planet luar sana.
Bunyi bel apartemen membuat obrolan Tama dan Kirei terhenti. Keduanya nampak bingung, siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah bertamu. Rasanya tidak mungkin jika si sableng Gery dan Saga yang datang. Karena jika itu adalah mereka, sudah Tama pastikan keduanya tidak akan sesopan itu untuk menekan bel. Mereka akan lebih memilih menekan angka untuk membuka pintu apartemen Tama dan langsung masuk tanpa menunggu pemiliknya membukakan pintu.
"Biar gue yang bukain". Kirei bangkit, berjalan mendekati pintu. Perlahan pintu terbuka, menampakkan seseorang yang membuat tubuh Kirei mematung dengan wajah dingin menahan kekesalan.
__ADS_1
####