
Ara menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah sederhana dipinggiran kota Jogja.
"Tante..tapi rumahnya bukan disini". Ucap Gery pelan. Melihat aura mengerikan yang keluar dari seorang Ara saja sudah mampu membuat dua lelaki kekar itu merinding.
" Heuh..kalian pikir dia akan benar-benar disana?". Tanya Ara yang kemudian turun dari mobil.
Gery dan Saga saling berpandangan. Belum paham dengan maksud ucapan Ara.
"Buka pintunya". Perintah Ara pada duo sableng yang masih bengong.
" Dikunci tante". Dengan polosnya, Saga mencoba membuka pintu kayu itu dengan pelan hingga membuat Ara menepuk keningnya melihat kelakuan konyol Saga
"Kamu kira kita sedang bertamu". Cibir Ara
" Dobrak!" Perintahnya lagi hingga membuat Saga dan Gery segera melakukan perintah Ara.
Ara langsung menerobos masuk kedalam begitu pintu terbuka. Seseorang didalam rumah terlihat begitu terkejut melihat Ara dan dua sahabat Tama itu ada disana.
Tanpa basa-basi, Ara maju dan langsung menjambak rambut panjang wanita yang sudah membuat putri kesayangannya hampir meregang nyawa.
"A--ada apa ini?". Tanya perempuan yang tak lain adalah Inneke. Ya, pelaku yang membuat Kirei hampir kehilangan nyawa adalah Inneke. Beberapa hari lalu wanita itu baru saja keluar dari jeruji besi dengan jaminan dari kedua orang tuanya. Namun rupanya berada didalam penjara selama beberapa bulan tak juga mengubah sifat dan sikap konyolnya.
" Rupanya berada didalam penjara tidak membuatmu jera". Desis Ara semakin mencengkeram rambut panjang Inneke. Sementara Gery dan Saga hanya bengong melihat keganasan Ara yang biasanya begitu lemah lembut.
"Apa maksudmu?". Tanya Inneke mencoba tenang. Padahal ia benar-benar takut melihat Ara.
" Haruskah aku membuatmu merasakan apa yang anak dan cucuku rasakan?!".
"Atau kau ingin langsung menemui malaikat mautmu?". Tanya Ara membuat Inneke menggeleng kuat. Tak pernah ia bayangkan jika ternyata ibu dari wanita yang begitu ia benci bisa sebringas ini.
" Aku tidak melakukan apapun". Elak Inneke yang membuat Ara tersenyum mengerikan.
Tamparan dan pukulan keras langsung Ara hadiahkan pada wanita yang terlihat menjijikkan dimata Ara. Sudut bibir Inneke langsung robek akibat tamparan keras yang Ara berikan.
"Kau ingin bermain-main denganku? Baiklah. Mari kita bermain-main". Sinis Ara menatap sengit wanita yang tersungkur dilantai.
Didepan pintu, Gery dan Saga hanya menjadi penonton atas kengerian Ara membalaskan sakit yang dirasakan anaknya.
" Masuk!". Perintah Ara lewat sambungan telepon.
Tak berselang lama, beberapa pria berpakaian preman masuk kedalam rumah.
"Bawa dia ketempat biasa. Aku akan menyusul saat putriku sadar nanti. Dia yang akan putuskan hukuman apa yang pantas untuk ja lang gila sepertinya". Perintah Ara pada dua orang pria berbadan besar dihadapannya.
Kini Gery dan Saga baru menyadari jika mertua dari sahabat nya itu bukanlah wanita biasa. Pantas saja jika Kirei menjadi wanita tangguh dan kuat seperti yang mereka kenal saat ini. Rupanya ibunya lebih tangguh dan mengerikan.
" Tolong..jangan lakukan ini". Teriak Inneke.
"Harusnya kau berpikir sebelum melakukan hal konyol seperti kemarin. Sekarang malaikat pun tidak akan bisa menolongmu, nona". Ucap Ara berjalan meninggalkan Inneke yang terus meronta dan berteriak meminta ampun.
Sebenarnya Ara masih ingin memberi pelajaran pada Inneke. Namun telepon dari suaminya yang meminta dirinya kembali membuatnya mengurungkan niat untuk membuat Inneke lebih parah dari kondisinya saat ini. Cukuplah membuat gadis itu babak belur dan lebam diwajahnya.
" Bawa mobilnya. Tante mau tidur dulu". Ara memberikan kunci mobil pada Gery dan ia langsung masuk dibangku belakang.
Ara memejamkan matanya, mencoba menguasai diri dan emosinya. Ia tak ingin saat sampai dirumah sakit nanti, suaminya melihat dirinya yang kembali seperti dulu. Mudah marah dan menghajar orang.
"Gila..ngeri". Batin Saga bergidik.
" Kaga kebayang itu sakitnya kaya apa si Inneke. Untung kaga mam pus". Gery pun masih ngeri melihat bagaimana ganasnya Ara saat dihadapan Inneke tadi.
Sementara dirumah sakit, Tama masih terlelap. Hingga ia tidak meyadari jika ibu mertuanya pergi. Sedangkan Riana dan Akmal pun pergi ke kamar yang disiapkan khusus untuk keluarga, keduanya beristirahat. Disana hanya menyisakan Dev yang masih setia menemani menantunya yang terlihat sangat rapuh dan kelelahan. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 5 pagi, dan istrinya baru kembali dikawal oleh dua sahabat dari menantunya.
Mendengar langkah kaki membuat Tama terbangun dari tidurnya. Ia melihat ibu mertuanya baru saja datang dengan diikuti dua sahabatnya.
"Buna dari mana?". Tanya Tama dengan suara serak khas orang bangun tidur.
" Dari masjid depan. Buna baru selesai shalat subuh dengan teman-temanmu. Lekas bersihkan dirimu dan shalat". Ucap Ara menyerahkan sebuah paperbag berisi pakaian ganti untuk Tama.
"Bersihkan dirimu. Kita shalat bersama.." Dev menepuk pelan pundak menantunya yang perlahan beranjak dari kursinya.
"Apa belum ada kabar dari dokter?". Tama berbalik dan menatap mertua lelakinya.
__ADS_1
" Kondisinya semakin stabil. Tenanglah". Ucap Dev menenangkan. Tama mengangguk dan segera berlalu dari sana.
"Kamu tidak membunuh wanita itu kan?". Tanya Dev pada istrinya yang langsung mendengus. Kesal dengan pertanyaan suaminya. Atau lebih tepatnya sang suami tengah menyindirnya.
" Putriku yang akan menentukan hukuman apa untuk wanita gila itu". Ara menghempaskan bobot tubuhnya pada kursi yang semalam menjadi kasur untuk Tama.
####
Detik demi detik terasa begitu lama berlalu. Tama masih setia menunggu istrinya didepan ruang icu. Pun dengan kedua orang tua dan mertuanya yang setia menemaninya.
Pagi tadi, selepas shalat subuh, Tama kembali menengok kedua buah hatinya. Air matanya kembali menetes mengingat kedua putranya belum bisa menemui ibunya.
Pintu ruang icu terbuka, membuat Tama dan semua orang langsung berdiri. Sama seperti Tama dan yang lain, para dokter tak sedetikpun memejamkan matanya dan terus memantau perkembangan Kirei.
"Bagaimana istri saya dok?". Tanya Tama langsung pada seorang dokter yang baru saja keluar.
Sang dokter tersenyum, memberi angin segar pada seluruh keluarga.
" Syukurlah..dokter Kirei sudah melewati masa kritisnya ". Ucap sang dokter yang tidak bisa menyembunyikan perasaan lega nya.
" Alhamdulillah". Seluruh keluarga mengucap syukur atas apa yang disampaikan oleh dokter.
"Tanda vitalnya pun sudah membaik. Kita hanya perlu menunggu dokter Kirei sadar". Sang dokter mengakhiri penjelasannya hingga membuat seluruh keluarga semakin lega mendengarnya.
" Boleh saya menemui istri saya? ". Tanya Tama lagi yang langsung diangguki oleh dokter.
" Silahkan. Sebentar saja ya". Ucap dokter pada Tama.
"Kami bisa ikut melihatnya dok?". Tanya Riana dan Ara.
"Tunggu kami memindahkan dokter Kirei keruang rawat ya. Nanti anda semua bisa menemuinya disana. Untuk saat ini, satu orang dulu ya". Terang dokter kemudian pamit undur diri.
" Sayang.." Tama kembali menemui istri yang masih belum membuka matanya.
"Aku tahu kamu kuat Ki. Anak-anak pasti sudah sangat lapar sekarang. Kamu nggak pengen cepet bangun terus nemuin mereka?". Tanya Tama menggenggam tangan Kirei.
Beberapa saat diam, Tama hanya terus memperhatikan wajah cantik istrinya yang penuh dengan luka gores. Rahangnya mengeras, ia benar-benar mengutuk orang yang sudah membuat istrinya hampir kehilangan nyawa.
"Kamu sadar Ki..kamu bangun". Ucap Tama senang melihat Kirei mulai membuka matanya perlahan. Dengan cepat ia memencet tombol darurat untuk memanggil dokter dan perawat.
" Istri saya sudah sadar dok". Ucap Tama ketika seorang dokter masuk kedalam ruangan istrinya.
Sang dokter mendekat. Ia memeriksa semua kondisi Kirei. Dan syukurlah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Kirei. Hanya menunggu kondisi tubuhnya pulih saja.
"Kita akan pindahkan dokter Kirei keruang rawat biasa. Beliau sudah membaik". Ucap dokter membuat Tama tersenyum lega.
Tak berselang lama, brangkar berisi tubuh istrinya didorong oleh dua perawat. Kirei akan dipindahkan keruang rawat biasa. Tama dan semua orang berjalan mengikuti dibelakangnya.
Kamar rawat yang digunakan Tama dulu, kini digunakan oleh istrinya. Kamar yang menjadi saksi bagaimana tak akurnya seorang dokter dan pasiennya kala itu.
" Saya tinggal dulu. Bapak bisa memencet tombol ini jika terjadi sesuatu dengan dokter Kirei ". Setelahnya sang dokter meninggalkan ruang rawat Kirei yang sudah dipenuhi oleh keluarganya.
Tama segera mendekat, duduk disamping ranjang sang istri dan menggenggam tangannya. Wajahnya penuh binar kebahagiaan mendapati sang istri sudah sadar. Bahkan kini Kirei benar-benar sudah membuka matanya.
" Sayang..mas seneng kamu baik-baik aja". Ucap Tama menahan tangisnya.
Kirei menatap lekat Tama yang duduk disamping ranjangnya sebelum sebuah pertanyaan dari mulutnya mampu membuat dunia Tama runtuh untuk kedua kalinya.
"Maaf..anda siapa?". Tanya Kirei lirih, namun masih bisa didengar oleh semua orang. Betapa terkejutnya semua keluarga mendapati Kirei tak mengingat Tama. Tapi tidak dengan Akmal dan Juan, keduanya terlihat biasa dan tak ada reaksi berlebih seperti yang lain.
" Sayang..jangan becanda. Aku suami kamu". Ucap Tama mengeratkan genggamannya pada tangan Kirei.
"Ki..kamu baik-baik saja kan nak?". Ara mendekat pada ranjang putrinya.
" Dia siapa bun?". Tanya Kirei pelan pada Ara yang semakin membuat Tama seolah kehilangan dunianya.
"Dia suami kamu Ki". Jawab Ara membuat dahi Kirei berkerut.
" Aku belum nikah bun". Jawaban Kirei semakin membuat semua orang kalang kabut.
"Aku akan panggilkan dokter". Ucapan Dev membuat Kirei menoleh. Ia dapat melihat wajah tegang semua orang. Kecuali dua lelaki yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
__ADS_1
" Buat apa yah? Aku baik-baik aja". Meskipun masih lemah, Kirei masih terus menjawab setiap ucapan yang keluar dari bibir orang-orang disana.
"Gundulmu baik-baik. Kamu nggak inget sama suamimu, kamu bilang baik-baik aja?". Tanya Ara sedikit kesal.
Kirei tak dapat lagi menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia bahkan terkekeh pelan melihat semua orang kalang kabut karena ulahnya. Terkecuali ayah mertua dan adik iparnya yang nampaknya sudah tahu kelakuannya.
" Bun..Kirei kenapa sih? Sekarang malah senyum-senyum. Kita panggil dokter aja". Tama semakin belingsatan melihat kelakuan aneh istrinya.
"Gausah bun. Aku gapapa kok". Cegah Kirei
" Liat buna Ki". Ucap Ara serius membuat Kirei menatap ibunya.
"Itu siapa?". Ucap Ara menunjuk Dev.
" Ayah aku lah". Jawab Kirei enteng
"Yang itu?". Kini telunjuk Ara menunjuk Riana dan Akmal.
" Ibu sama ayah mertua aku". Jawabnya.
"Yang disana". Juan sudah tersenyum menyadari kelakuan kakak iparnya.
" Adik ipar aku yang paling ganteng". Lirih Kirei sambil terkekeh.
"Kalo dia?!". Tama yang duduk disamping Kirei bengong mendengar setiap ucapan Kirei. Ia masih belum menyadari jika sejak tadi ia dikerjai oleh istrinya.
" Dia? Ya jelas suami aku yang paling ganteng sealam semesta bun. Yang paling cinta sama aku. Iya kan mas?". Kirei menyenggol pelan lengan Tama yang langsung tersadar.
"Kamu---". Tanya Ara menggantung sambil menunjuk putrinya.
" Aku inget semua buna..bercanda aja tadi biar suprise, hehe". Kirei mengakhiri drama amnesianya karena merasa sudah cukup mengerjai suami dan orang tuanya.
"Anak nakal ya kamu. Untung sakit, kalo engga udah buna getok kepala kamu". Geram Ara membuat Kirei terkekeh.
Sementara Tama, lelaki itu tak sedikitpun marah. Ia justru langsung memeluk Kirei sambil menangis. Ia begitu lega karena ternyata istrinya baik-baik saja. Tak ada satupun yang kurang dari istrinya, termasuk kesablengannya yang masih berpikir mengerjai orang ketika kondisinya masih lemah.
" Makasih sayang..makasih karena kamu udah baik-baik aja". Tama memeluk Kirei seolah enggan melepasnya.
"Mbak..mbak. Baru sadar kok udah kepikiran bikin orang lain senewen sih". Juan sampai geleng-geleng kepala. Sejak awal ia sudah tahu jika kakak iparnya hanya akting saja.
Keriuhan keluarga itu teralihkan kala pintu ruang rawat Kirei terbuka. Dua orang perawat dengan masing-masing mendorong satu box bayi masuk kedalam ruangan itu.
Mata Kirei sudah berkaca-kaca melihat dari jauh kedua putranya yang sepertinya tengah terlelap.
" Anak-anak kita sayang". Tama menatap Kirei, menggenggam jemari istrinya yang tengah menangis haru.
"Boleh aku gendong mas?". Tanya Kirei pelan.
" Jangan dulu..kamu masih terlalu lemah. Nanti cucu-cucu buna malah kamu jatuhin". Bukan Tama, namun Ara yang melarang. Melihat kondisi Kirei yang masih lemah membuat nya takut memberikan kedua cucunya untuk digendong langsung oleh anaknya.
"Biar mas bawa kesini. Kamu pengen liat kan". Tama beranjak dan menggendong salah satu anaknya, sementara satu yang lain digendong oleh Ara dan didekatkan pada Kirei yang masih terbaring lemah diatas ranjang.
" Ganteng banget mas". Tangan lemah Kirei terulur mengelus lembut pipi kedua putranya yang tak terganggu dengan yang ibunya lakukan.
"Kaya daddy nya kan?". Goda Tama membuat Kirei terkekeh.
" Kamu cuma kebagian bibirnya aja mas". Kekeh Kirei membuat Tama mengangguk.
"Siapa nama cucu nenek ini?". Riana yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Karena sedari kemarin mereka terlalu sedih memikirkan nasib Kirei hingga lupa pada dua bayi mungil itu.
" Kaivan Putra Mahendra".
"Kenzo Putra Mahendra".
Ucap Tama dan Kirei bergantian. Kedua nya saling berpandangan dan kemudian tersenyum.
" Kaivan.."
"Kenzo.."
"Cucu oma sama nenek ganteng. Kelak jadilah anak yang berguna bagi semua orang nak. Jadilah anak soleh dan pandai". Ara mengecup sayang kening kedua cucunya bergantian.
__ADS_1
" Makasih mas..makasih buat semua yang mas lakuin buat aku dan anak-anak kita". Ucap Kirei menatap dalam mata suaminya yang mengangguk sambil tersenyum. Tama mengecup lama kening istrinya. Menyalurkan rasa bahagia yang memenuhi hatinya saat ini.