Imperferct Partner

Imperferct Partner
akhirnya ku menemukanmu


__ADS_3

Kirei tersenyum menatap gadis yang terlihat begitu ceria membantu sang ibu menyiram tanaman dihalaman rumah yang kini ia tempati. Hingga pikirannya kembali berputar pada kejadian dua minggu lalu.


"Mbak.."


"Mbak Kirei ih. Tak panggil dari tadi kok malah ngelamun to". Gadis yang rambutnya dikucir kuda itu tiba-tiba sudah berdiri disampingnya.


" Astagfirullah..Annisa kamu bikin mbak kaget". Kirei mengelus da da nya lantaran terkejut dengan kehadiran gadis bernama Annisa itu. Padahal sejak tadi ia memperhatikan gadis itu, lalu kenapa dirinya tak menyadari kehadirannya.


"Makanya mbak jangan ngelamun terus dong. Mikirin apa sih?". Tanya Annisa yang kini duduk disampingnya.


" Eh mbak tahu nggak..temen-temen aku tu ngefans berat sama kak Tama suaminya mbak Kirei itu loh. Nggak berhenti-berhenti ngomonginnya. Aku sampe pusing dengernya". Kirei tersenyum kecil. Mendengar nama sang suami disebut kembali membuatnya terluka. Entah mengapa dirinya menjadi seorang pendendam. Bahkan ini hampir dua minggu dirinya berada dipersembunyiannya. Namun dirinya masih enggan menemui lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


"Kok ngelamun lagi sih mbak..Mbak kangen ya sama suami mbak?". Tanya Annisa prihatin. Gadis berusia 20tahun itu diberitahu oleh sang ibu jika suami Kirei sedang berada diluar negeri. Oleh sebab itulah Kirei berada disana ditemani olehnya dan sang ibu.


Kirei hanya mengangguk dengan senyum yang ia paksakan. Dirinya berterimakasih pada Mbok Darmi yang masih menutupi permasalahan rumah tangganya.


" Sabar ya mbak. Kak Tama juga pasti kangen banget sama mbak". Annisa mencoba menghibur Kirei yang kembali bersedih.


"Tapi dia nggak akan kangen sama mbak, Nisa. Bahkan mungkin dia bahagia jauh dari mbak". Batin Kirei sedih.


"Udah ah jangan sedih-sedihan. Suka ujug-ujug laper aku tu kalo sedih mbak". Gadis itu tersenyum lebar. Menampakkan gigi gingsulnya yang membuatnya terlihat manis dan menggemaskan.


" Kamu nggak capek dari tadi ngomong terus hm?". Tanya Kirei sambil terkekeh. Bahkan ia yang mendengarkan saja lelah.


"Ih masyaallah, cantik bener mbak aku yang satu ini kalo senyum. Aku aja meleleh, apalagi laki-laki". Puji Annisa tulus membuat Kirei tak dapat menyembunyikan senyumnya. Gadis disampingnya memang paling bisa menghibur dirinya kala bersedih.


" Makan yuk mbak. Nisa capek ngoceh terus". Annisa bangkit. Mengulurkan tangannya pada Kirei yang menyambutnya dengan senyum.


"Kalo mbak punya adek laki, pasti mbak jodohin sama kamu". Ucap Kirei mengikuti Annisa yang langsung tergelak.


" Hahaha..mbak Kirei aneh-aneh aja. Mana ada anak sultan mau sama upik abu mbak..mbak". Annisa menggelengkan kepalanya sambil terus tertawa.


"Kata siapa kamu upik abu. Kamu itu adiknya mbak tau". Kini Kirei yang merangkul pundak Annisa, membuat gadis itu tersenyum bahagia. Hanya dalam kurun waktu dua minggu saja keduanya sudah seperti kakak beradik sungguhan.


" Nanti sore kita hunting foto lagi ya mbak. Mbak Kirei bikin aku tambah semangat jadi fotographer. Tiap fotoin mbak tuh serasa aku udh photographer propesional". Annisa sedikit terkikik diakhir kalimatnya.


"Iya nanti. Belajar yang bener makanya biar bisa jadi kaya idolamu". Kirei mengelus kepala Annisa lembut. Keduanya memang sering pergi bersama menggunakan sepeda motor milik Annisa untuk sekedar berfoto dan jajan.


" Simbok..Nisa lapar". Teriakan Nisa langsung dihadiahi pukulan kencang dipundaknya. Bukan Kirei, melainkan Darmi sang ibu.


"Sakit mbok". Annisa mengelus pundaknya yang terasa panas.


" Nggak sopan teriak-teriak didepan mbak Kirei! Bikin malu". Mbok Darmi tersenyum canggung menatap Kirei yang justru tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak itu.


"Nggak papa mbok. Kita makan sama-sama ya". Kirei beralih pada lengan Darmi yang selalu setia menemani dirinya. Kedua mertuanya pun hampir setiap hari selalu menengok dirinya dan membawakan makanan.


Sementara Kirei tengah makan bersama Annisa dan mbok Darmi, Tama terlihat uring-uringan diruang kerjanya. Sejak kepergian Kirei, Tama menjadi orang yang mudah emosi. Tidak ada pekerjaan yang selesai dengan baik. Alhasil kedua sahabatnya lah yang kelimpungan mengurus pekerjaan yang Tama abaikan.


" Cukup ya Tam. Lo udah kaya orang gila dua minggu ini!". Sentak Gery yang sudah jengah melihat kelakuan salah satu sahabat baiknya itu.


"Tau lo. Makanya kaga usah macem-macem! Liat diri lo. Udah kaya gembel!! Masih bagusan gembel malah". Sahut Saga cepat dengan tak kalah kesalnya dengan Gery.


" Gue harus nyari bini gue kemana lagi. Semua koneksi yang gue kenal udah gue kerahin. Tapi kaga ada yang bisa nemuin bini gue". Tama menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dan kemudian menjambak rambutnya.


"Ganti baju lo!! Lo ada jadwal ngisi seminar dikampus Xx". Saga melemparkan kemeja dan untuk Tama.


" Lo aja yang pada dateng dah. Gue males". Tama hampir merebahkan tubuhnya diatas sofa. Namun Saga dan Gery bergerak cepat menyeret Tama kedalam kamar pribadi diruang kerjanya.


"Ganti baju sendiri apa perlu kita yang gantiin bajunya?!". Itu lebih seperti perintah dibanding sebuah pertanyaan.


" Ck". Tama berdecak kesal. Namun tak urung ia melakukan apa yang diperintahkan kedua sahabatnya itu.


"Temen lo udah kaya mayat idup". Gery menghembuskan nafas berat. Selama dua minggu ini Tama benar-benar seperti orang gila.


" Dianya koplak sih. Udah dapet bini sempurna. Lupain mantan aja kaga pecus!!". Saga masih saja kesal dengan kebo dohan Tama.

__ADS_1


Tak lama Tama keluar, tampilannya sudah lebih rapi dari sebelumnya. Hanya saja kumis dan jenggotnya yang belum ia rapikan.


"Cukur napa sih Tam itu brewok! Kucel tau. Liatnya juga eneg". Ucap Saga tanpa basa basi.


" Pergi sekarang dah". Tama tak menanggapi ucapan kedua sahabatnya. Ia lebih dulu berjalan meninggalkan ruangan kerjanya.


"Biarin lah. Masih idup juga udah sukur". Gery menepuk pelan pundak Saga yang hanya bisa pasrah dan mengikuti Tama.


###---###


" Ih itu beneran Wiratama photographer terkenal itu tau".


"Aaa..aslinya ganteng banget sumpah".


" Itu bewoknya, ya ampun. Melehoy gue".


"Jadi bini nya yang kedua juga mau kalo kaya gitu bentukannya mah".


Kedatangan Tama mengundang perhatian terutama para mahasiswi yang memang mengidolakannya.


Tama mengisi seminar yang diadakan pihak kampus untuk memotivasi para mahasiswa yang berada dibidang yang sama dengannya.


" Terimakasih atas waktu dan perhatiannya. Semoga kedepannya kalian akan menjadi orang sukses". Tama menutup seminar siang sore itu dengan senyum ramah.


Sementara dipojok ruangan, terlihat seorang gadis yang beberapa kali mengucek matanya dan menggelengkan kepalanya. Seolah tak yakin dengan apa yang ia lihat didepannya saat ini.


"Beneran Wiratama yang ini kan ya?". Gumamnya


Beberapa saat kemudian ia bangkit dan berlari mengejar Tama yang berjalan keluar bersama Saga dan Gery. Mereka cukup kesulitan untuk keluar dari sana karena banyaknya gadis yang meminta berfoto dengannya.


" Kak Tama..Kak!!". Panggil Annisa yang membelah kerumunan mahasiswi yang mengantri berfoto dengan Tama. Makian dan umpatan yang ia terima seolah tak didengarnya. Yang ada dio taknya saat ini hanya mempertemukan Kirei dan Tama agar perempuan cantik yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnyan itu tak bersedih.


"Kak Tama!!". Tama menoleh saat seseorang memanggilnya begitu keras. Alisnya hampir menyatu melihat gadis yang tak ia kenal memanggilnya, seolah sudah lama mengenalnya.


"Siapa yang mau minta foto. Aku mah udah bosen liat foto kak Tama di hp nya mbak Kirei". Ketiga nya langsung diam dan saling pandang mendengar nama Kirei disebut.


" Kok kak Tama nggak langsung nemuin mbak Kirei kalo udah pulang dari luar negeri sih. Kasian tau mbak Kirei". Sungut Annisa membuat ketiganya semakin membuka lebar matanya.


Permintaan foto dan tanda tangan sudah tak menarik lagi bagi Tama. Tanpa basa basi, Tama menarik tangan Annisa menjauh dari kerumunan. Jika benar gadis itu tahu dimana istrinya, maka pencariannya akan berakhir hari ini.


"Aduh..kok main tarik sih". Seru Annisa yang hampir berlari mengimbangi langkah lebar Tama.


" Kirei siapa yang kamu maksud?". Tanya Tama to the point.


"Kamu ada fotonya?". Belum sempat Annisa menjawabnya, Tama sudah kembali bertanya.


" Dimana dia sekarang?? ".


" Ish..ini beneran Wiratama suaminya mbak Kirei apa bukan sih?!". Mata Annisa memicing curiga menatap Tama dan kedua temannya bergantian.


Annisa mengeluarkan kamera barunya yang dibelikan oleh Kirei sebagai hadiah ulang tahunnya satu minggu lalu. Didalam kamera itu banyak foto Kirei yang Annisa ambil secara sembunyi-sembunyi dan juga yang secara terang-terangan ia ambil ketika Kirei menyadari nya.


"Tapi kakak beneran Wiratama kan?". Annisa seolah tak percaya. Bagaimana mungkin Tama bertanya dimana Kirei. Sungguh aneh.


" Dia beneran Wiratama kok dek. Boleh lihat fotonya mbak Kirei kamu itu?". Sebelum Tama kehabisan kesabaran dan membentak gadis itu, Saga langsung maju. Bisa repot jika gadis itu tidak mau memberitahu dimana Kirei berada.


"Ini". Annisa menyodorkan kamera nya pada Saga yang langsung direbut oleh Tama.


" Ih..ati-ati kak. Itu kamera kesayangan aku. Hadiah dari mbak Kirei". Seru Annisa ketika melihat Tama merebut paksa kamera dari tangan Saga.


"Kirei.." Lirih Tama mengelus layar kamera yang menampakkan wajah ayu Kirei yang dihiasi senyuman manis yang begitu ia rindukan.


"Eh iya beneran Kirei, Ga". Seru Gery kegirangan. Seolah yang baru saja mereka temukan adalah istrinya.


" Bawa saya kesana sekarang". Tama masih memegang kamera Annisa sebagai jaminan agar gadis itu mau membawanya pada sang istri yang dua minggu ini hampir membuatnya gila.

__ADS_1


"Balikin dulu kamera aku kak. Nanti mbak Kirei nanyain kameranya". Annisa berusaha mengambil kameranya. Namun Tama sengaja mengangkat tangannya tinggi agar gadis yang tingginya hanya sebatas pundaknya itu tak bisa mengambilnya.


" Ish..suami mbak Kirei kok ngeselin sih!!". Sengit Annisa. Namun tak urung ia membawa Tama dan kedua temannya menuju rumah dimana Kirei berada.


"Akhirnya aku menemukanmu sayang". Batin Tama girang.


" Ger, Cepetan bawa mobilnya". Tama sudah tak sabar ingin bertemu Kirei.


"ck..Mata lo belom rabun kan. Noh liat! Lampu merah". Gery berdecak kesal. Sejak tadi Tama berisik memintanya menambah laju kendaraannya.


" Itu kak Gery". Annisa menunjuk sebuah rumah joglo berpagar kayu yang terlihat sangat nyaman.


Annisa turun dan membukakan gerbang yang terbuat dari kayu, hingga nampaklah rumah joglo yang dikelilingi pepohonan dan banyak tanaman hias didepannya.


"Adem banget Ger. Pantes si Kirei betah". Ucap Saga saat mereka turun dari mobil


" Dia disini?". Tanya Tama pada Annisa yang dijawab anggukan kepala oleh gadis itu.


"Kakak semua tunggu disini. Aku panggil mbak Kirei dulu". Annisa mempersilakan ketiganya duduk sebelum berteriak yang membuat ketiga orang lelaki itu melongo mendengar teriakannya.


" Wa'alaikum salam..Mbaaaaaak. Adek mbak yang paling cantik pulaaaang". Teriak Annisa dengan senyum ceria.


"Assalamualaikum Annisa!!!". Kirei balas berteriak dari dalam kamar.


Jantung Tama berdetak semakin kencang mendengar suara yang sudah dua minggu ini tak dapat ia dengar.


" Mbaaaaak..ada tamu. Aku bawa suprise buat mbak Kirei". Annisa kembali berteriak.


"Kamu ini anak perempuan senengnya teriak-teriak! Kebiasaan!!". Mbok Darmi mengomeli anak gadisnya.


" Mbok seneng banget ngomelin anaknya sih". Gerutu Annisa dengan bibir mengerucut.


"Ya makanya kam---" Mbok Darmi tidak meneruskan kalimatnya lantaran terkejut melihat sosok yang duduk dikursi rotan yang ada diruang tamu itu.


Tama mengangguk sebentar dan memberi senyum pada mbok Darmi yang jadi serba salah.


"Nakal ya adeknya mbak. Tiap pulang ngucap salamnya kebalik terus sama jawab salam". Kirei menjembel pipi chubby Annisa yang langsung mengaduh kesakitan.


" Sakit mbaaak". Rengek Annisa membuat Kirei tersenyum dan mengelus pipi itu.


Sementara Tama dan kedua temannya langsung berdiri melihat keberadaan Kirei disana.


"Mbak, aku bawa tamu spesial loh buat mbak". Senyum Annisa kembali merekah menatap Tama yang terpaku menatap istrinya.


" Sia--" Kirei tak dapat meneruskan ucapan melihat sosok yang sudah dua minggu ini ia hindari berada didepan matanya. Senyuman manisnya musnah seketika.


Apa yang terjadi pada suaminya. Tampilannya tak serapi dan se segar biasanya. Bahkan kumisnya belum dirapikan.


"Mbak..Mbak.." Annisa menggoyangkan lengan Kirei yang mematung dengan mata mulai memerah.


"Sini..kamu ikut simbok". Mbok Darmi menarik putrinya. Meninggalkan Tama dan Kirei. Meski penasaran, namun tak urung Annisa mengikuti ibunya.


Gery menepuk bahu Saga, memberinya kode untuk meninggalkan pasangan suami istri itu untuk menyelesaikan masalahnya.


" Ki.." Lirih Tama. Matanya pun sama memerah seperti Kirei. Kirei mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghalau air mata yang siapa menetes.


"Mau apa lagi kamu kesini". Suara dingin Kirei membuat langkah Tama terhenti. Sakit..hatinya benar-benar sakit melihat tatapan dingin istrinya.


"Saya rasa urusan kita sudah selesai". Baru Tama membuka mulutnya. Kirei sudah kembali bersuara yang menambah sakit hatinya. Dirinya tak pernah menyangka jika akan sesakit ini diacuhkan oleh Kirei. Apakah kini dirinya benar-benar jatuh cinta pada istrinya itu.


Kirei tersentak kala tubuhnya didekap erat oleh Tama. Tubuhnya mematung dalam pelukan Tama. Tak sedikitpun bergerak meski otaknya sudah menginstruksikan tubuhnya untuk berontak.


" Mas kangen sama kamu Ki.." Lirih Tama semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan tinggalin mas Ki. Mas sayang sama kamu". Kirei semakin terhenyak kala punggung lelaki yang memeluknya bergetar hebat. Apakah suaminya menangis? Tapi menangisi apa?

__ADS_1


__ADS_2