
"Gimana ceritanya mommy sama daddy nyampe sini? Kenapa aku nggak tahu??". Tanya Naya yang saat ini tengah duduk diantara kedua orang tuanya.
" Al yang menyiapkan ini semua.." Kirei membelai lembut rambut panjang Naya.
"Kamu cantik banget malam ini sayang.." Kirei menatap kagum putrinya yang nampak sangat anggun malam ini.
"Kakak yang siapin semua mom.." Kirei menatap Al, menatap nya penuh rasa terimakasih. Karena lelaki itulah, putri semata wayangnya bisa melanjutkan hidup. Bahkan menggapai bahagianya bersama pria itu juga. Kirei bersyukur..sangat bersyukur karena Al hadir dikehidupan Naya, putrinya.
"Abang!!". Naya berlari menghambur kedalam pelukan kedua kakaknya. Kemudian bergantian menyapa kedua kakak iparnya dan keponakan tercintanya.
" Aaaa..onty kangen banget sama kamu". Naya sudah menciumi seluruh wajah bayi mungil berusia 7bulan itu hingga kegelian.
"Kamu kok tambah lucu sih..gemes banget".
" Ini perut juga udah gede ih..Gemesin. Mbak kaya lagi ngumpetin bola". Naya terkikik sendiri mendengar ucapan konyolnya.
"Cepet nikahnya, biar bisa cepet punya sendiri yang kaya Rere". Goda Aisha yang membuat wajah Naya bersemu.
" Iya Nay..nggak usah ditunda-tunda". Khanza ikut menimpali. Sementara Naya hanya mengiyakan saja apa yang diucapkan kedua kakak iparnya, matanya melebar melihat seseorang yang berjalan mendekatinya.
"Diii..." Teriak Naya yang melihat temannya juga ada disana.
"Selamat ya sayang aku..aku ikut bahagia untuk kamu". Diandra memeluk Naya.
" Makasih Di.." Naya tersenyum membalas pelukan Diandra.
"Tapi kok kamu disini??". Tanya Naya heran. Diandra menatap Al dan tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya.
" Permintaan khusus dari bos. Mana berani aku nolak.. lagipula aku mau lihat orang yang berharga buat aku bahagia". Diandra menggenggam tangan Naya dengan senyuman hangat tersungging dibibirnya.
"Terus kamu gimana??". Naya senang sekaligus sedih memikirkan nasib Diandra.
" Kamu tenang aja..masih ada hari besok". Diandra menenangkan Naya yang terlihat khawatir.
"Makasih ya Di..kamu teman terbaik". Naya kembali memeluk Diandra.
" Diandra doang nih temen terbaiknya? Aku enggak?". Naya melepaskan pelukannya dan menoleh. Ia menatap Dimas yang berjalan mendekatinya dengan sebucket bunga ditangannya.
"Khusus untuk princess malam ini..saya persembahkan bunga ini sebagai bentuk rasa sayang saya pada anda.." Bak seorang pangeran yang menghampiri putrinya, Dimas membungkuk dan memberikan bunga pada Naya yang mengulum senyum senang.
Betapa beruntungnya ia mendapat dua teman yang sangat mengerti dirinya dan menyayanginya seperti mereka.
"Peluuuuk.." Naya merentangkan kedua tangannya. Malam ini benar-benar menjadi malam yang tak akan pernah ia lupakan, semua kebahagiaan nya seolah kembali sempurna malam ini. Dalam hati ia berdoa, semoga saja tidak akan ada lagi air mata kesedihan setelah ini.
"Mau kemana heuh.." Rian memegangi kerah kemeja yang dikenakan Al ketika melihat lelaki itu hendak menghampiri Naya.
"Itu..enak aja main peluk-peluk calon istri aku". Sungut Al yang tidak terima Dimas juga memeluk Naya.
" biarin aja. Dia masih calon istri..belum sah jadi istri. Kaga usah posesip!". Omel Rian membuat Al mendengus kesal.
"Biarin aja kali Al..Toh lamaran lo juga udah diterima". Kai ikut menimpali.
" Ya tapi.."
"Biarin aja. Lo larang-larang malah kabur tu bocah". Peringat Ken membuat Al akhirnya pasrah.
" Dasar bucin". Cibir ketiga orang itu melihat wajah masam Al yang menatap tak suka pada Naya yang masih berpelukan dengan Dimas dan Diandra.
Malam itu keluarga besar itu makan dalam suasana bahagia, Al yang hanya anak tunggal juga sudah memberitahu kedua orang tuanya. Namun karena kesibukan, kedua orang tua Al yang memang sudah berpisah itu tidak dapat hadir malam ini.
******
Beberapa hari setelah lamaran malam itu, Al beserta kedua orang tuanya dan sang nenek datang ke kediaman Tama dan Kirei untuk melamar lagi sekaligus membicarakan perihal pernikahan keduanya.
Dan dari hasil kesepakatan, pernikahan mereka akan dilaksanakan tiga bulan lagi didua lokasi berbeda. Akad nikah akan dilaksanakan di kota kelahiran Naya, tempat Naya dibesarkan. Disana akan diadakan resepsi juga untuk teman-teman sekolah Naya juga kolega bisnis sang ayah juga kedua kakaknya.
__ADS_1
Satu minggu setelah akad nikah, mereka akan kembali mengadakan resepsi di kota tempat Naya dan Al bekerja saat ini, karena banyak kolega bisnis Al yang berasal dari kota itu.
"Kamu bahagia nggak sama aku Kay?". Tanya Al menatap dalam manik mata indah Naya. Keduanya sedang duduk bersama dengan Naya duduk dipangkuan Al. Saat ini keduanya sedang ada diapartemen milik Al setelah tadi makan siang bersama.
" Apa harus dijawab kak?". Naya balik bertanya.
"Ya..aku ingin memastikan jika kamu bahagia bersamaku. Aku tidak ingin kamu terpaksa menerimaku Kay.." Sejujurnya Al masih belum sepenuhnya yakin jika Naya benar-benar sudah menerimanya.
"Kakak meragukan perasaanku?". Tanya Naya tidak senang.
" Bu-bukan begitu sayang.." Al kebingungan melihat wajah Naya memberengut. Sungguh Al tidak bermaksud menyinggung perasaan Naya.
"Kakak berpikir aku masih terpaut dengan almarhum kak Biru?". Tanya Naya dengan suara bergetar.
" Bukan Kay.."
"Kenapa kakak melamarku kalau kakak masih meragukan keyakinanku dan perasaanku". Naya merasa kecewa dengan pikiran Al. Ia bangkit dari pangkuan Al dan berjalan meninggalkan lelaki itu dengan perasaan kecewa.
" Kay..aku nggak bermaksud begitu". Al mendekap tubuh Naya dari belakang. Ia tidak ingin Naya pergi dalam keadaan seperti ini.
"Lepas kak. Aku mau pulang". Naya mencoba melepaskan tangan Al yang melingkar kuat diperutnya.
" Nggak..aku nggak akan lepasin kamu Kay".
"Maaf sayang..aku nggak bermaksud meragukan perasaan kamu. Aku..aku---"
"Kakak hanya nggak percaya kalau aku sudah bener-bener lepas dari bayang-bayangnya kak Biru. Gitu?". Naya menghentakkan tangan Al kuat hingga terlepas. Naya berbalik, menatap tak percaya pada Al.
" kalau kakak masih ragu. Kita masih punya waktu buat batalin semua rencana kita". Naya berkata dengan tegas, walau hatinya remuk redam saat mengatakannya.
"Nggak!!". Al langsung memeluk Naya, Sungguh dirinya akan benar-benar gila jika Kanaya nya meninggalkan nya lagi.
" Jangan ngomong gitu Kay..aku bener-bener bakal mati kalo kamu ninggalin aku. Aku cinta sama kamu.." Naya dapat merasakan pelukan Al semakin erat.
"Aku minta maaf..aku terlalu takut kehilangan kamu sayang. Jangan pernah tinggalkan aku lagi Kay..jangan.." Tubuh Al bergetar, lelaki itu kembali menangis.
"Kak Biru punya tempatnya sendiri disini kak.." Naya menunjuk dadanya.
"Aku nggak akan pernah bisa hapus dia dari kenangan aku kak". Naya kembali menghela nafas sebelum meneruskan ucapannya.
" Tapi sekarang pemiliknya udah kakak..kak Biru hanya sebagian kenangan iindah yang ingin selalu aku kenang tanpa menganggu kehidupan baru yang akan kita jalani nanti. Jadi aku mohon kak.." Naya menangkup wajah Al dan menatapnya dalam.
"Aku mohon jangan pernah raguin perasaan aku ke kakak.." Naya mengakhiri ucapannya dan hendak melepaskan tangannya dari wajah Al.
Namun gerakan Al lebih cepat. Lelaki itu sudah meraih tengkuk Naya dan kembali menikmati manisnya madu dibibir mungil yang sudah menjadi candunya itu.
Awalnya Naya hanya diam, tidak menolak namun juga tidak membalas ciuman lembut Al. Semakin lama Naya semakin terbuai hingga membalas ciuman Al, bahkan tangannya sudah mengalung sempurna dileher Al. Sementara tangan Al memeluk erat pinggang ramping gadis itu.
Lama keduanya berciuman hingga pasokan oksigen diparu-paru masing-masing hampir habis. Al melepaskan ciumannya, menempelkan keningnya dengan Naya dengan nafas yang terputus-putus karena panasnya ciuman mereka.
"Makasih Kay..aku sangat sangat mencintaimu". Al mendaratkan ciuman lembut dikening Naya hingga gadisnya itu memejamkan mata menikmati hangatnya ciuman Al.
****####****
" APA??!!!!". Naya berteriak mendengar kabar yang disampaikan seseorang disambungan telponnya.
"Jangan becanda ya Di!!". Suara Naya masih meninggi lantaran terlampau kaget.
"............."
"Gimana ceritanya sih?? Kok bisa.." Naya menatap Dimas yang tersenyum kecut didepannya.
"............."
"Iya..aku pasti dateng". Ucap Naya akhirnya.
__ADS_1
" Gimana sih..yang ada rencana nikah aku kok malah kamu duluan yang nikah". Gerutu Naya membuat penelpon diujung sana terkekeh geli.
"Yaudah..Iya. Wa'alaikumsalam.." Naya menatap layar ponselnya yang gelap. Kemudian ia menatap Dimas yang sejak tadi hanya memainkan makanan yang sudah dipesannya.
"Kamu tahu??". Tanya Naya menatap Dimas yang mengangguk lemah.
" Gimana ceritanya Dim??". Tanya Naya menuntut.
Naya menghela nafas saat Dimas menggeleng. Dari wajah lelaki itu, Naya tahu pasti jika hati temannya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Aku yakin kamu bisa Dim.." Naya menepuk pelan pundak Dimas yang kembali memberikan senyum kecut padanya.
Naya masih tidak menyangka, dalam waktu dua minggu saja Diandra bisa memberikan kabar yang hampir membuat jantungnya melompat keluar.
Bagaimana tidak, gadis itu memberi kabar pernikahan dengan orang yang tidak pernah Naya bayangkan sebelumnya. Dan apa alasan sahabatnya itu hingga memutuskan hal sebesar itu dalam waktu sesingkat itu. Naya dan Dimas sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. Keduanya memikirkan Diandra yang membuat mereka sangat terkejut.
####
"Kakak beneran gapapa nemenin aku??". Tanya Naya menatap Al yang sedang duduk disampingnya. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju gedung resepsi Diandra. Semalam mereka baru sampai dan menginap dihotel.
" Kakak juga dapet undangan sayang..kayanya mempelai perempuannya sih temen kamu". Mata Al melirik dashboard mobil yang ada didepan Naya.
Gadis itu mengerti dengan kode yang diberikan Al, dengan cepat Naya membuka dashboard mobil dan mendapatkan sebuah undangan berwarna ungu. Tangannya gesit membuka bungkus undangan itu. Matanya melebar saat membaca nama calon mempelai wanita dan melihat fotonya. Itu Diandra temannya, lalu apakah Al mengenal calon suaminya??
"Rekan bisnis kakak sayang.." Seolah mengerti tatapan Naya, Al langsung menjelaskannya.
"Kakak kenal dekat??". Tanya Naya dijawab gelengan kepala oleh Al.
" Hanya sekedar rekan bisnis.."
"Kenapa kamu yang pusing memikirkannya sih.." Al jadi gemas sendiri karena sejak tadi Naya terlihat tidak tenang.
"Aku kasian sama dia kak.." Naya menghembuskan nafasnya kasar. Teringat olehnya cerita Diandra tentang siapa lelaki yang akan menjadi suaminya itu.
"Itu sudah jalan takdirnya Kay. Diandra pasti sudah memikirkannya baik-baik sebelum mengambil keputusan besar seperti ini". Al mengelus pucuk kepala Naya yang akhirnya mengangguk paham.
Tak lama keduanya sampai di sebuah rumah megah berwarna putih. Naya berdecak kagum melihat rumah besar yang ia perkirakan milik calon suaminya itu. Dirinya berasal dari kalangan berada, namun rumah dihadapannya benar-benar megah dan indah.
" Udah nanti lagi kagumnya. Bentar lagi akad nikahnya dimulai". Al menyadarkan Naya dari kekagumannya.
"calon suami Diandra kaya banget ya kak". Bisik Naya yang memeluk lengan Al.
" Bisa dibilang gitu..dia pengusaha sukses dikota ini sayang.." Jelas Al.
Keduanya berjalan masuk kedalam rumah, tidak terlalu banyak tamu. Sepertinya acara ijab qabulnya memang hanya dihadiri kerabat dekatnya saja.
Naya dan Al duduk disalah satu kursi yang sudah disediakan. Dari jauh Naya melihat lelaki berperawakan tinggi tegap dengan garis rahang yang kokoh serta alis hitam lebat. Satu kata untuk lelaki itu, tampan.
"Matanya dijaga ya..mau kakak cium disini". Bisik Al yang menyadari tatapan Naya terfokus pada calon pengantin pria itu.
" Ganteng ya kak.." Naya balas berbisik hingga membuat Al melotot tak senang mendengar Naya memuji lelaki lain.
"Tetep gantengan kakak..nggak udah melotot gitu. Aku takut.." Naya tersenyum geli melihat reaksi Al yang menyeramkan menurut nya.
"Jangan coba macem-macem ya nyonya Alexander". Peringat Al mengecup singkat pipi Naya yang langsung bersemu.
Tak lama setelah kedatangan keduanya, penghulu mulai membaca doa sebelum menjabat tangan lelaki yang akan menjadi suami Diandra itu.
Dalam satu kali tarikan nafas, lelaki itu berhasil mengucapkan ijab dengan lancar dan tegas. Naya melihat wanita paruh baya yang waktu itu datang ke apartemen nya tengah menangis tersedu dengan menggendong seorang bayi yang mungkin usianya baru satu atau dua bulan.
" Cantik.."
"Ya, tapi kasian sekali dia.."
"Malang sekali nasib gadis itu.."
__ADS_1
Naya mendengar bisik-bisik dibelakangnya, ia menoleh dan mendapati beberapa wanita tengah menatap penuh iba pada satu titik fokus. Karena penasaran, Naya mengikuti arah pandang mereka. Naya dapat melihat sahabatnya terlihat anggun dan cantik dalam balutan kebaya berwarna putih dengan rambut disanggul modern. Sungguh cantik sekali sahabatnya itu.
Namun ia kembali meringis mendengar kata yang keluar dari mulut para tamu undangan. Ia tahu betapa besar pengorbanan Diandra, sakit dan kesusahan yang dialami temannya itu, Naya ikut merasakan bagaimana sulitnya Diandra. Namun dirinya tak bisa berbuat apapun untuk membantu Diandra.