
Kembali ke ruangannya, kaki Naya seolah sudah tak mampu menapak bumi. Entah apa yang akan dilakukan oleh wanita gila jika tahu direktur mereka sudah menandatangani surat yang bermasalah itu. Dan sialnya, dirinya lah yang membuat surat s*alan itu.
"Bagaimana??". Baru saja masuk, Naya sudah ditodong pertanyaan yang membuatnya semakin resah. Bukan karena nominalnya, namun karna etos kerjanya yang akan dipertanyakan. Ke profesionalan kerja nya akan diragukan setelah kejadian yang merugikan perusahaan sampai sebegininya ini.
Jika hanya karna nominalnya, bukan Naya sombong..namun kedua orang tua dan kedua kakaknya tidak akan mempermasalahkan hal itu. Mereka pasti akan mengganti kerugian yang dialami perusahaan karena kelalaiannya. Meski ia tak yakin jika ia keliru.
" Sudah ditandatangi mbak.. " Cicit Naya
"APA??!!!". Bukan hanya Dina yang memekik, teman yang lain pun sama. Karir mereka terancam hancur karena hal ini.
" Aku minta maaf mbak.." Naya tak berani mengangkat wajahnya.
"Apa katamu?? Maaf?? Apa menurutmu dengan minta maaf kamu akan bisa mengembalikan kerugian perusahaan yang begitu besar??". Sentak Dina penuh emosi.
" A-aku akan bertanggung jawab mbak.." Cicit Naya lagi.
"Heuh..bertanggung jawab?? Bertanggung jawab dengan apa??". Sinis Dina menatap remeh pada Naya.
" Dengan melemparkan tubuhmu pada direktur? Agar kesalahanmu bisa diampuni?". Cukup sudah!! Naya masih bisa menerima cacian dan makian Dina. Tapi tidak kali ini. Dina sudah kelewatan dengan merendahkan harga dirinya.
"Jaga mulut mbak Dina! Selama ini aku diam bukan karna aku tidak berani. Aku menghargai mbak sebagai senior aku!!". Naya mencoba menekan suaranya agar tidak sampai berteriak.
" Atas dasar apa mbak Dina menuduhku serendah itu??". Tanya Naya tak kalah sinis menatap tajam pada Dina.
"Karena kamu memang perempuan seperti itu". Sahut Dina cepat.
Rani yang melihat situasi semakin tak terkendali mencoba menengahi keduanya. Meski dirinya juga sama takutnya jika kariernya berakhir karena kekeliruan Naya.
" Din..nggak gini caranya".
"Nggak gini gimana?? Kamu nggak takut dipecat karena kecerobohan gadis ini!!!". Dina menunjuk wajah Naya.
" Ya tapi semua sudah terjadi. Apalagi yang bisa kita lakukan selain menghadapi kemarahan direktur?? ".
" Seharusnya kita juga memeriksanya dulu sebelum diserahkan pada peserta meeting tadi". Rani berusaha se netral mungkin. Ia sadar ini tak sepenuhnya salah Naya. Jika mereka yang merasa senior mau mengecek pekerjaan gadis itu, mungkin ini tidak terjadi.
"Memang otaknya saja yang bodoh!!!! Mengerjakan hal semudah ini saja dia tidak mampu!!". Dina masih meluapkan amarahnya pada Naya yang mati-matian menahan mulutnya untuk tidak membalas ucapan pedas yang dilayangkan Dina padanya.
" Lalu..tidakkah kalian lebih bodoh?!". Suara bariton itu membuat semua menoleh.
"P-pak Rian.." Gumam Dina dan yang lain.
"Kenapa?? Apa kedatanganku mengganggu waktu marahmu??". Tanya Rian dengan seringai sinis. Naya belum pernah melihat sisi lain dari Rian, bertemu beberapa kali dengan Rian, Naya merasa Rian adalah orang yang baik dan ramah. Tak Naya sangka jika Rian memiliki sisi menyeramkan seperti ini.
" S-sama sekali tidak pak". Dina terlihat gelagapan mendapat pertanyaan yang lebih cenderung menyindir itu.
"Siapa yang bernama Kanaya?". Wanita yang tadi Naya lihat keluar dari ruang meeting.
" Sa-saya bu.." Naya maju selangkah.
"Kamu..ikut aku ya". Safira berbalik hendak meninggalkan ruangan yang terasa panas itu. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali berbalik menghadap Kanaya.
" Bereskan semua barangmu. Kamu tidak akan bekerja disini lagi.." Safira memberikan senyum ramahnya. Senyum yang justru membuat tubuh Naya lemah tak bertenaga.
Sementara Dina, gadis itu diam-diam menyeringai puas mendengar Naya tidak akan lagi bekerja disana. Ia merasa semua yang ia lakukan tak sia-sia. Ia berhasil mendepak gadis yang sejak awal tak ia sukai itu.
"B-baik bu.." Jawab Naya lemah. Ia berjalan gontai menuju mejanya dan membereskan semua barangnya kedalam kardus. Sementara Safira dengan setia menunggunya. Ia sempat melirik Dina yang tersenyum puas membuatnya tersenyum sinis menyadari bagaimana liciknya wanita itu.
"Sudah??". Tanya Safira yang melihat Naya mendekat dengan membawa dus.
" Jang..bantu bawakan ya". Seorang OB yang sedang berada disana diperintahkan Safira untuk membantu Naya.
"Tidak perlu bu..saya kuat". Naya berusaha keras mencegah air matanya mengalir. Akan sangat memalukan jika dia sampai menangis didepan banyak orang. .
Ia kecewa pada dirinya, mengapa ia tak lebih teliti. Gajinya disana memang tak lebih besar dari uang jajan bulanan yang diberikan kedua kakak dan ayahnya. Namun Naya sudah merasa nyaman dan senang bekerja disana. Ditambah ia memiliki teman seperti Diandra dan Dimas.
__ADS_1
" Biar saya bantu mbak Kanaya.." Pak Ujang memang sangat mengenal Naya. Selain karna parasnya, kebaikan dan ketulusan Naya pada pekerja yang statusnya ada jauh dibawahnya membuat gadis itu dikenal banyak orang.
"Makasih pak Ujang.." Naya tersenyum tipis sebagai rasa hormatnya pada pak Ujang yang sudah mau membantunya.
"Ikut aku ya..jangan sampai tertinggal". Naya tersenyum getir, haruskah kariernya berakhir disini.
" Baik bu.." Dengan kepala menunduk, Naya mengikuti langkah Safira. Dina semakin tersenyum puas melihat kehancuran karier Naya.
"Apakah sangat menyenangkan melihat kehancuran rekan kerjamu Din??". Dina tersentak mendengar Rian kembali berbicara. Terlalu senang bisa menyingkirkan Naya membuatnya lupa mengontrol ekspresi wajahnya hingga Rian melihatnya.
" Tidak pak.." Dina menunduk, meski kini ia hanya tersenyum dalam hati.
"Maaf pak..lalu bagaimana dengan proyek yang sudah ditanda tangani pak Yohan?". Rani memberanikan diri bertanya.
" Apa kamu juga merasa bersalah? Atau justru ikut merasa jika gadis tadi adalah sumber masalahnya??". Rian melirik Rani yang sejak tadi menatap iba pada Naya.
"S-sama sekali tidak pak, s-saya minta maaf pak..harusnya saya yang lebih lama bekerja disini mengecek pekerjaan Naya dulu sebelum menyerahkannya pada anda dan pak Yohan". Rani menunduk, sungguh ia sangat menyesal.
" Ya..memang harusnya kamu menyesal. Tidak seharusnya kalian yang jauh lebih berpengalaman daripada Kanaya melimpahkan segala pekerjaan padanya".
"Terutama kamu, DINA". Rian menekankan nama Dina hingga membuat seisi ruangan semakin terasa membeku.
" Apa sebenarnya isi kepalamu itu. Membiarkan pegawai yang tergolong baru mengerjakan segala pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawabmu. Bahkan kamu membiarkan dia setiap malam pulang paling terakhir hanya untuk memenuhi perintah gilamu itu". Suara Dinaa tercekat ditenggorokan. Ia tak pernah menyangka semua kelakuannya diketahui asisten direkturnya.
"Apa kamu pikir saya dan pak Yohan tidak mengetahuinya?? Kami bahkan harus menunda kepulangan kami untuk meyakinkan bahwa Kanaya tidak mengalami hal yang tidak diinginkan. Dia seorang perempuan, dan pulang sangat larut. Apa tidak ada perasaan bersalah padanya sedikitpun sebagai sesama perempuan?? Saya rasa kamu sangat keterlaluan". Rian berusaha mati-matian agar tidak membentak Dina.
" Beruntung direktur adalah orang yang sangat teliti, beliau tahu jika ada kekurangan nominal dalam surat kontrak kerjasama itu. Jadi kami bisa memperbaikinya sebelum bertemu dengan client". Suara Rian benar-benar mampu membuat Dina mati kutu.
" Bu-bukan begitu pak.."
"Saya..saya sengaja melakukannya agar Naya semakin profesional". Elak Dina yakin, namun Rian justru mendecih sebal.
" Alasan gila macam apa itu? Apa dulu waktu kamu menjadi karyawan baru, kamu diperlakukan demikian?". Sinis Rian
Tak ada yang berani bersuara, mereka hanya menjadi pendengar dari keributan yang sudah tercipta.
" Direktur memintanya secara pribadi karna tau hasil kerja Kanaya selalu memuaskan. Sayang sekali di divisi ini dia diremehkan dan direndahkan". Rian berjalan mendekat pada Dina yang seolah tak bernyawa. Wajahnya pias, pucat seputih kapas.
"Berhati-hatilah. Kamu berurusan dengan gadis yang salah". Bisik Rian dengan senyum mengejek.
" Saya harap kejadian memalukan ini hanya terjadi sekali di divisi ini. Jangan ada yang melakukan kebodohan seperti Dina dengan mengatasnamakan profesionalitas kerja dan kata senior. Sangat MEMALUKAN".
"Saya permisi..silahkan lanjutkan pekerjaan kalian". Rian berlalu, namun Dina masih berdiri kaku di tengah ruangan. Ia masih belum mempercayai apa yang ia dengar barusan.
Sementara Naya terus mengikuti Safira dengan kepala tertunduk dalam. Sejujurnya ia sedikit berharap akan diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya menjadi lebih teliti dan lebih baik lagi.
Mata Naya melebar saat menyadari dirinya berada didepan ruang direktur saat ini. Mungkinkah ia akan disidang lagi untuk kesalahan yang ia sendiri tak meyakininya?
" Oke Kanaya..."
"Bu..saya mohon maaf atas kesalahan dan kelalaian saya sehingga merugikan perusahaan. Saya berjanji akan mengganti kerugian perusahaan. Tapi tolong beri saya satu kesempatan lagi untuk menjadi orang yang lebih baik". Naya menangkupkan kedua tangannya didepan dada dengan mata terpejam. Ia tak melihat reaksi seperti apa yang ada diwajah Safira.
Sementara Safira tengah menahan senyumnya melihat apa yang Naya lakukan. Pantas saja lelaki dingin dan galak seperti atasannya bisa jatuh hati pada gadis itu.
Tiba-tiba terbersit ide untuk menjahili gadis manis yang masih menutup rapat matanya itu. Ia berdehem sebentar sebelum melancarkan aksinya.
" Ya..kamu memang salah dan harus dihukum Kanaya". Safira berusaha mati-matian menahan tawanya.
"Iya bu..saya siap dihukum apa saja. Asal saya diberi kesempatan untuk tetap bekerja disini". Naya tak mengubah posisinya, ia tetap menutup rapat matanya hingga tak menyadari kedatangan Rian yang mengangkat alisnya seolah bertanya pada Safira ada apa gerangan.
" Kamu yakin siap dihukum?". Tanya Safira galak membuat Naya mengangguk cepat. Sementara Rian yang melihat nya hanya terkekeh pelan lalu duduk di sofa yang ada disamping meja kerja Safira.
"Kamu dengarkan baik-baik hukuman kamu ya". Naya lagi-lagi mengangguk cepat membuat Safira dan Rian gemas dan tak tahan ingin tertawa.
" Pertama.."
__ADS_1
"Eh hukumannya banyak ya bu?". Celetuk Naya, namun sedetik kemudian ia memukul pelan mulutnya yang susah dikontrol.
Sumpah demi apapun, Safira setengah mati menahan tawanya hingga wajahnya terasa kram. Sementara Rian membekap mulutnya sambil berguling diatas sofa.
Ah kenapa gadis ini begitu manis, mungkin itu isi pikiran keduanya.
" Maaf bu..mulut saya suka nggak ke kontrol. Silahkan lanjutkan bu.." Sungguh Safira ingin memeluk dan mengacak rambut gadis manis itu.
"Dengarkan ucapan saya ya.." Naya mengangguk
"Hukuman pertama kamu..jangan panggil saya ibu Kanaya. Saya nggak setua itu". Perlahan Naya membuka matanya untuk sedikit mengintip. Melihat wajah serius Safira, Naya kembali memejamkan matanya.
" Yang kedua..mulai sekarang kamu akan berhenti bekerja didivisi keuangan". Safira mengangkat tangannya saat melihat Naya hendak protes. Naya hanya menelan kembali menelan pertanyaan dan permohonan yang sudah ia siapkan.
"Ketiga----"
"kok banyak banget hukumannya". Gumam Naya lesu. Kedua orang yang ada didepan Naya hanya bisa mengulum senyum.
" Kamu nggak suka saya memberi hukuman?". Naya langsung menggeleng sambil mengibaskan tangannya beberapa kali.
"Yang ketiga..mulai besok, kamu bekerja sebagai asisten saya. Kamu akan menggantikan pekerjaan saya ketika saya cuti untuk melahirkan". Naya diam sesaat, matanya terbuka lebar setelah mencerna hukuman untuk dirinya.
" Apa ada pertanyaan??". Tanya Safira yang melihat wajah terkejut Naya.
"S-saya belum paham bu.." cicit Naya
"Kamu sudah melanggar hukuman pertama kamu Kanaya.."
"Ah..eh maaf saya lupa bu--eh kak, eh anu mbak". Naya jadi bingung sendiri mau memanggil apa pada Safira yang ia kenal sebagai sekretaris direktur itu.
" Duh saya kok jadi oon gini ya.." Naya menggetok dahinya sendiri. Malu dengan sikapnya sendiri yang terlihat konyol.
"Hahahahahhhahahha..kenapa kamu lucu sekali sih". Safira yang sejak tadi berusaha mati-matian menahan tawanya sudah tak lagi bisa menahannya.
" Jadi saya enggak dipecat bu? Eh mbak.." Tanya Naya polos dan berhasil membuat Safira maupun Rian terbahak.
"Memang kamu ingin dipecat?". Tanya Rian menggoda hingga Naya menggeleng kuat.
" Jangan pak..saya masih mau kerja". Ucap Naya mengiba.
"Ini permintaan langsung dari direktur, beliau akan mengawasi langsung kerja kamu". Jelas Safira membuat bola mata Naya seolah melompat keluar.
" Sekarang direktur sedang melakukan kunjungan ke kantor pusat di negara S. Jadi beliau tidak bisa langsung memberi arahan pada kamu". Rian ikut menimpali.
Ya, keduanya memang tak berbohong. Keduanya melakukan semua ini atas perintah langsung dari Al. Al merasa Naya tifak diperlakukan dengan selayaknya didivisinya. Ia tidak bisa leluasa menjaga gadis itu.
"Lalu sekarang harus bagaimana Han??". Tanya Rian beberapa waktu setelah meeting.
" Caranya hanya satu..Kalau kamu ingin memastikan gadis berada dalam pengawasanmu. Maka pastikan ia berada didalam jangkauanmu". Safira memberi usul.
"Apa maksudmu Ra??". Tanya Al belum paham.
" Ck..dasar laki-laki kaku". Safira berdecak sinis.
"Ayolah Ra..sahabat kita ini jomblo selama bertahun-tahun. Jadi wajar dia tidak mengerti cara menjaga gadisnya". Ejek Rian.
" Bisakah kalian katakan apa maksud kalian?? Aku sudah harus cepat pergi". Al harus memastikan Naya aman sebelum dirinya pergi ke kantor pusatnya di negara S.
"Jadikan dia asistenku. Ada alasan masuk akal, selain aku memang akan segera cuti untuk melahirkan, pekerjaannya juga selalu memuaskan selama ini". Al seolah mendapat hadiah besar mendengar usulan Safira yang sangat membantunya saat ini.
" Dengan begitu tidak akan ada siapapun yang akan mengusiknya. Karna dia berada langsung dibawah kewenanganmu". Rian menimpali.
" Kamu bisa percayakan keselamatan dan kenyamanannya pada kami selama kamu pergi". Imbuh Rian dan semakin menambah rasa tenang Al.
"Aku percayakan dia pada kalian..tolong jaga dia. Jauhkan dia dari Dina, wanita itu terlalu berbahaya". Ucap Al dijawab anggukan kepala keduanya.
__ADS_1
Dan inilah yang sedang terjadi. Naya akan dijadikan asisten Safira untuk menjauhkan gadis itu dari jangkauan Dina yang memang seperti memiliki dendam kesumat pada Naya.