Imperferct Partner

Imperferct Partner
hempas bibit pelakor


__ADS_3

Saat ini Kirei sedang duduk disamping Tama. Didepannya sudah ada seorang gadis yang beberapa kali Kirei lihat berusaha mendekati Tama., dan itu lumayan membuatnya tak nyaman.


"Ada keperluan apa anda kesini pagi-pagi seperti ini nona?". Tanya Kirei sinis pada gadis yang tak lain adalah mantan kekasih Tama, Inneke.


"Aku ada keperluan sama Aksa. Bisa tinggalkan kami berdua?". Tanya Inneke tanpa malu yang membuat Kirei langsung tersenyum miring.


"Gede juga nyali ni cewe. Eh, apa malah putus urat malunya? Gila aja mau ngomong ama laki yang disampingnya ada calon bininya. Bener-bener gila". Batin Kirei menatap sinis Inneke.


"Kenapa tidak dibicarakan selagi ada saya?". Tanya Kirei berusaha sesopan mungkin. Walau sebenarnya ia ingin sekali cepat menendang wanita itu keluar dari apartemen Tama.


"Siapa kamu? Sampai ingin tahu urusanku dengan Aksa. Ini urusan pribadi kami". Jawab Inneke tak kalah sinis.


Kirei kembali tersenyum, namun senyumnya mengandung sejuta makna yang membuat Tama sedikit was-was.


"Mas mau ngomong sama dia? Aku akan ke kamar kalau begitu". Mode akting keduanya langsung on dalam kondisi seperti ini.


Kirei hendak bangkit dari posisi duduknya disamping Tama, namun dengan cepat Tama menariknya hingga akhirnya justru Kirei terjatuh diatas pangkuan Tama.


Inneke yang melihatnya langsung membelalakkan matanya melihat Tama memeluk erat pinggang ramping wanita yang ia ketahui sebagai calon istri Tama. Setidaknya itu yang pernah ia dengar dari Gery dan juga dari Kirei langsung.


"Kamu nggak akan kemana-mana. Apapun yang mau dia bicarain sama mas, kamu harus denger juga". Tama mengecup singkat bibir Kirei. Percayalah, Kirei teramat sangat ini mengikat mulut kurang*jar Tama yang selalu seenaknya mencium dirinya dimanapun.


Inneke semakin melebarkan matanya melihat apa yang Tama lakukan pada Kirei. Dirinya sejak awal tidak mempercayai bahwa Tama akan menikah. Dirinya terlalu percaya diri bahwa Tama tidak akan bisa melupakan dirinya. Selama ini yang Inneke tahu, Tama hanya sering berganti pacar dan mempermainkan setiap wanita yang menjadi kekasihnya. Namun sekarang apa ini? Benarkah Tama akan menikah dengan gadis lain??


"Aksa.." Lirih Inneke, matanya sudah berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening dari sana.


"Sepertinya ada urusan antara mas dan perempuan ini yang masih belum selesai. Selesaikan saja dulu mas..aku akan menunggu dikamar saja". Kirei memberikan sennyum manisnya pada Tama, namun tatapan matanya mengisyaratkan peringatan keras untuk Tama.


Tama tersenyum, ia tahu Kirei sedang mengumpatinya dalam hati atas kekurang*jaran nya mencium bibir manis Kirei.


Kirei bangkit dari pangkuan Tama, melirik sekilas gadis yang ternyata pipinya sudah basah melihat interaksi antara dirinya dan Tama barusan. Dan Kirei suka melihatnya terluka seperti itu, anggap saja Kirei jahat. Namun menghadapi bibit pelakor seperti itu memang tidak perlu menggunakan hati nurani bukan?


"Mas akan segera selesai". Kirei mengangguk dengan senyumnya. Tama menatap punggung Kirei yang berjalan memasuki kamarnya. Seulas senyum terpampang nyata di wajah tampannya.


"Kamu bahagia?". Pertanyaan itu membuat senyum Tama memudar, ia memutar kepalanya untuk melihat gadis yang kini terisak didepannya.


"Kaya yang elo liat aja". Jawab Tama acuh


"Kamu udah lupain aku Sa?? Secepat itu?". Tanya Inneke dengan suara bergetar.


"Secepat itu? Kamu kira 5tahun waktu yang sebentar?". Sinis Tama dengan senyum miring.


"Aku masih mencintai kamu Sa". Air mata Inneke semakin mengalir deras.


"Simpan kata cinta mu itu Nge. Gue udah nemuin cinta yang bisa nerima gue apa adanya. Bahkan sekalipun gue bukan pewaris rumah sakit besar sekalipun". Sinis Tama membuat Inneke semakin terisak.

__ADS_1


"Aku..aku minta maaf Sa. Dulu aku nggak menyadari kalo aku cinta banget sama kamu. Aku nggak bisa..ternyata aku nggak bisa nggak sama kamu". Ucapan Inneke membuat Tama memutar bola matanya.


"Kenapa sekarang? Kemana lo 5tahun lalu heh?". Pertanyaan Tama membuat Inneke semakin bungkam.


Tama menatap pergelangan tangannya, kepalanya masih sedikit pusing. Dan sekarang kedatangan gadis dari masa lalunya semakin membuatnya pusing.


"Minum obatnya dulu mas.." Entah sejak kapan Kirei datang, tiba-tiba gadis itu sudah menyodorkan segelas air yang obat untuk Tama.


"Kamu sakit Sa? Sakit apa?". Tanya Inneke membuat Kirei menoleh. Tama tak menjawab, ia lebih memilih menerima obat dari Kirei dan segera meminumnya.


"Mas harus istirahat..atau ibu akan memarahi aku karena tidak bisa mengurus mas dengan baik". Suara Kirei lembut namun terdengar tegas.


Tama tersenyum, dan tanpa berniat menoleh pada Inneke, ia mengecup mesra kening Kirei dan berlalu dari sana setelah mengucapkan terimakasih.


"Hati-hati jalannya mas". Kirei segera membantu Tama berjalan ketika melihat tubuh Tama hampir oleng.


"Makasih sayang". Ucap Tama tulus. Kirei dapat melihat ketulusan dari ucapan terimakasih Tama. Kirei hanya tersenyum menanggapi dan membantu Tama berjalan.


Semua yang terjadi tidak luput dari tatapan sendu Inneke yang terlihat begitu terluka melihat bagaimana interaksi mesra Tama dan Kirei.


"Kenapa kamu tega Sa". Lirih Inneke memegangi d***nya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Lo utang banyak ya ama gue". Bisik Kirei ketika berjalan menjauh dari Inneke.


"Tunggu sini, gue lempar dulu tu perempuan diluar". Ucap Kirei tanpa beban membuat Tama terkekeh.


"Lo kata sampah".


"Lebih dari sampah. Mana ada cewe baik-baik dateng ke apartemen laki yang bentar lagi bakal kawin". Sengit Kirei membuat Tama tergelak.


"Nikah Ki..ni-kah". Balasan Tama membuat Kirei nyengir. Saking kesalnya pada Inneke, Kirei sampai tidak memperhatikan ucapannya.


Beberapa saat kemudian Kirei kembali keluar, Kirei mendengus melihat Inneke masih duduk disofa ruang tamu. Ia merapikan blouse yang ia kenakan, lalu berjalan anggun menghampiri Inneke yang langsung menatapnya dengan aura permusuhan.


"Kamu calon istri Aksa?". Tanya Inneke menatap Kirei dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai Kirei.


Kirei memilih diam dan terus menatap Inneke dengan tenang. Ia ingin melihat gadis tak tahu malu itu akan berkata apa lagi.


"Bisa-bisanya Aksa memilih perempuan seperti kamu. Sangat jauh dari kriterianya". Sinis Inneke membuat sudut bibir Kirie sedikit terangkat.


"Kamu tidak tahu kan, dulu Aksa sangat memujaku. Bahkan sangat mencintaiku". Ucap Inneke dengan wajah sombong.


"Percayalah, kamu hanya pelarian untuknya. Aku yakin dia masih sangat mencintaiku". Imbuhnya dengan sangat percaya diri.


"Lalu?". Tanya Kirei singkat. Ia menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya did***.

__ADS_1


"Kamu tidak akan sanggup jika mendengarnya. Apa kamu yakin ingin mengetahuinya?". Pancing Inneke. Kirei tahu kemana arah pembicaraan perempuan yang duduk santai didepannya ini. Namun Kirei masih mencoba bersabar menghadapinya.


Kirei diam, membuat Inneke menyeringai. Gadis itu sudah sangat percaya diri bahwa apa yang akan ia katakan akan membuat hubungan Kirei dan Tama hancur tanpa bekas.


"Bahkan dulu Aksa sangat memuja tubuhku. Apakah dia pernah menyentuhmu? Pastinya tidak. Karena aku yakin Aksa masih sangat menginginkan diriku". Inneke mengakhiri ucapannya dengan raut wajah bahagia.


"Anda bangga nona?". Tanya Kirei sinis menghilangkan senyuman di wajah Inneke.


"Bukankah harusnya anda malu? Menyerahkan sesuatu yang harusnya anda serahkan pada suami anda nanti. Anda tahu, kenapa mas Tama tidak pernah menyentuhku?". Kirei menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi wajah Inneke yang sedikit memucat. Dalam hati, Kirei bersorak bahagia melihat wajah Inneke.


"Mas Tama sangat mencintaiku, terlepas dari segala kelam masa lalunya. Dia sangat menjaga diriku. Tidak pernah menyentuhku bukan berarti mas Tama tidak mencintaiku. Dia mencintaiku, bahkan sangat. Apa anda tidak mengerti hal sepele seperti itu? Apakah anda pikir dengan lelaki menyentuh bahkan meniduri seorang wanita itu menandakan lelaki itu begitu mencintai wanita yang mereka tiduri? Apa seperti itu keyakinan anda nona INNEKE? Kalau begitu menurut anda, bahkan saat ini..detik ini saya akan bisa membuktikan bahwa calon suami saya begitu mencintaiku. Dia tidak akan menolak wanita manapun yang mau dia tiduri. Karena apa??". Kirei menarik nafas panjang, ini adalah kalimat terpanjangnya selama ini. Benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.


"Karena semua itu kebutuhan biologisnya. Dia laki-laki normal nona. Mana ada lelaki normal yang akan menolak jika diberikan kepuasan cuma-cuma. Itu artinya anda yang terlalu bod*h hingga menganggap pria yang meniduri dirimu itu mencintaimu". Kirei mengakhiri tausyah panjangnya yang membuat Inneke bungkam. Jangankan untuk menjawab dirinya. Sekedar mengangkat wajahnya untuk menatap Kirei saja, gadis itu sudah tidak berani.


"Saya rasa pembahasan kita sudah selesai. Silahkan, pintu ada disebelah sana". Kirei berdiri, melirik pintu apartemen dengan ekor matanya.


"Kamu akan tau kalau Aksa tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mencintaiku, dulu..dan sampai kapanpun". Inneke mengangkat wajahnya. Menatap Kirei penuh kebencian yang hanya dibalas Kirei dengan senyum tipis.


"Silahkan.." Kirei mengulurkan tangannya, menunjukkan jalan keluar pada wanita yang hampir membuatnya lepas kendali dan melempari wamita itu dengan vas bunga yang ada diatas meja.


Sementara dibalik pintu yang tidak tertutup rapat, Tama mematung mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir mungil yang sudah sering ia kecup itu. Hatinya menghangat mendengar Kirei yang berbicara tanpa keraguan terhadap dirinya. Dirinya memang b*jingan, namun Tama tidak pernah menyentuh wanita hingga melampaui batas. Dirinya tidak munafik, ia pernah menc**bu wanita yang baru saja mengaku pernah ia tiduri. Namun hanya sekedar berciuman, tidak lebih.


Tama sempat ingin keluar mendengar pengakuan Inneke yang mengatakan bahwa ia pernah dituduri oleh Tama. Namun langkah Tama terhenti oleh ucapan Kirei yang mampu menenangkan hatinya yang sempat terbakar oleh ucapan dusta Inneke.


"Dasar sinting!". Sungut Kirei memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut menghadapi perempuan gila semacam Inneke. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika ia akan menghadapi hal menggelikan semacam ini dalam kehidupan damainya. Kirei memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Kepalanya menengadah sambil bibirnya terus mengumpati kelakuan bibit pelakor sinting yang baru saja ia hempaskan.


"Ki.." Suara Tama terdengar sangat dekat hingga membuat Kirei terjingkat karena kaget. Bahkan Kirei langsung berdiri tepat didepan Tama.


"Lo mau bikin gue jantungan hah? Dateng udah kaya ja--" Kirei mengatupkan bibirnya kala tubuhnya didekap erat oleh Tama.


"Makasih.." Ucap Tama tulus membuat Kirei mengernyit bingung.


"Gue berani sumpah, gue nggak pernah nidurin cewe manapun. Gue emang b**ingan tapi gue nggak pernah nidurin cewe manapun". Jelas Tama tanpa diminta oleh Kirei. Sejujurnya Kirei merasa lega mendengar pengakuan Tama. Namun gadis itu berusaha biasa saja didepan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Tama melonggarkan pelukannya, menatap tepat pada netra indah milik Kirei. Entah mengapa setiap menatap wajah itu, Tama selalu tenang dan nyaman. Tama mendekatkan wajahnya, perlahan menempelkan bibirnya pada bibir manis Kirei. Setelah beberapa saat menempel, dan tidak ada penolakan dari Kirei, Tama semakin memperdalam ciumannya. Menghis*p dan me****t bibir Kirei dengan lembut. Kirei hanya diam, tidak menolak namun juga tidak membalas ciuman Tama. Tapi Kirei menikmatinya. Tangan Tama sudah memeluk erat tubuh Kirei hingga tubuh keduanya menempel sempurna.


"Wooooiiiii..gilaaaaa siaran langsung brooo!!!". Seruan seseroang dari pintu apartemen membuat Kirei dan Tama langsung melepaskan ciuman mereka. Didepan pintu sudah ada dua orang sengklek yang tersenyum penuh arti menatap Tama dan Kirei yang terlihat salah tingkah.


"Temen se-tan!!!!!!". Teriak Tama keras membuat kedua teman sablengnya terbahak. Sementara Kirei sudah memalingkan wajahnya ke arah lain. Malu..bahkan sangat-sangat malu. Mau ditaruh dimana mukanya jika bertemu dengan dua manusia koplak itu.


"Sabar Tam..tinggal nunggu hari doang. Udah main sosor aja lo". Saga kembali tertawa setelah mengatakannya. Sementara Gery masih terus tertawa melihat Tama begitu menikmati ciumannya dengan Kirei hingga tak menyadari kedatangan dua manusia minim iman itu.


Tanpa sungkan, Saga dan Gery duduk didepan Kirei dan Tama yang masih berdiri. Wajah Kirei sudah semerah tomat mendapat tatapan meledek dari kedua teman Tama.


"Breng-sek lo berdua emang!!". Tama melempari kedua temannya dengan bantal sofa. Hingga membuat keduanya terpingkal melihat kekesalan Tama.

__ADS_1


__ADS_2